Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
" Inara.. Aku dengar kakekmu jatuh di kamar mandi kemarin? "
Gerakan Brian yang sedang menyesap kopi mendadak berhenti dan melirik ke arah gadis yang terlihat bersikap tenang dan sedikit ...berbeda itu.
Kening Brian sedikit berkerut dalam.
Apakah ini penyebab sikap Inara berbeda dari kemarin?
Batin Brian bertanya - tanya.
" Iya ma. Syukurnya kondisi kakek saat ini sudah membaik."
" Syukurlah kalau begitu. Brian.. Luangkan waktumu sebentar untuk menjenguk kakek Yohan hari ini."
" Maaf ma. Sepertinya hari ini aku tak bisa. Ada urusan penting yang harus ku kerjakan terlebih dahulu. Mungkin besok aku bisa menyuruh Daniel untuk mengatur ulang scheduleku agar aku bisa pergi ke sana."
" Baiklah kalau begitu. Yang penting kau harus pergi kesana untuk menjenguk." pasrah Melisa mengingat jika schedule Brian akhir - akhir ini memang sangatlah padat karena proyek baru yang putranya itu sedang kerjakan.
" Inara.. Kamu tidak apa - apa kan tentang itu? "
" Tidak apa - apa ma. Lagi pula kata dokter saat ini kakek belum di perbolehkan untuk bertemu banyak orang. Jadi kurasa jika Brian ingin berkunjung menjenguk kakek, lebih baik menunggu kondisi kakek benar - benar pulih terlebih dahulu."
" Baguslah kalau begitu." Melisa tersenyum lembut dan melanjutkan menyesap teh jasmine yang masih tersisa di dalam cangkir.
Sementara Inara dan Brian. Kedua pasangan yang sampai saat ini masih terikat mahligai pernikahan itu pun kembali menyantap hidangan yang masih tersisa di atas piring mereka.
Namun ada satu hal yang sampai saat ini masih mengganjal di hati Brian.
Kenapa Inara terlihat lebih diam dari biasanya?
Biasanya gadis itu akan terdengar cerewet dan menyendokan menu makanan ini itu ke atas piring Brian. Hingga pria itu sendiri pun sedikit merasa kesal sekaligus muak dengan perhatian berlebih yang di perlihatkan oleh Inara padanya.
Tapi kali ini..
Lihatlah.. Gadis itu terlihat diam dan terkesan cuek. Seolah tak perduli dengan apa yang saat ini Brian makan.
Apa ini semua karena kakek Yohan yang masuk rumah sakit?
Ya.. Mungkin saja ini semua karena itu.
Seperti orang gila. Brian bertanya dan menjawab sendiri dalam hati.
Dan diam - diam memperhatikan Inara yang sedari tadi tampak diam duduk di sampingnya.
" Aku sudah selesai. Aku mohon diri ma.. pa. Pagi ini aku ada janji temu dengan bibiku Ana." Inara menunduk hormat ke arah kedua mertuanya. Yang di angguki sejenak oleh pasangan paruh baya itu.
" Ya pergilah. Jangan lupa titipkan salam dari kami."
" Hmm.. " Inara berbalik pergi. Meninggalkan Brian yang masih di selimuti oleh kebingungan sendiri.
Bahkan bukan hanya Brian saja yang terlihat bingung dengan sikap dingin yang di tunjukan oleh Inara itu.
Melainkan Melisa dan Zadith pun juga turut merasa kebingungan dengan sikap dingin yang ditunjukan oleh menantunya terhadap Brian tersebut.
" Aku juga sudah selesai." ucap Brian. Ikut bangkit dari kursi dengan kondisi hati yang terasa sedikit kesal.
Entah kenapa ia merasa kesal.
Brian sendiri pun tak tahu akan hal itu.
Yang jelas sikap dingin yang di tunjukan oleh Inara membuat Brian merasa terusik. Hingga pria itu tak sengaja menunjukan serta melampiaskannya kesemua orang yang ada di sekitar.
Brian berbalik pergi. Meninggalkan Melisa dan Zadith beradu pandang sejenak. Dan menatap ke arah punggung lebar putra mereka yang mulai menghilang di balik pintu.
" Mereka kenapa? "
" Apakah mereka sedang bertengkar? " tanya Zadith dengan begitu penasaran ke arah Melisa.
Mengingat jika selama ini menantu dan putranya itu tak pernah terlihat bertengkar.
Atau mungkin bisa terbilang. Inara selama ini terlihat selalu mengalah. Dan tak mempermasalahkan sikap dingin yang di tunjukan Brian. Hingga semuanya selalu terlihat baik - baik saja. Seperti pasangan suami istri yang memiliki kehidupan harmonis lakukan.
" Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja mereka sedang bertengkar." jantung Melisa bergetar hebat.
Jujur saja dalam hati. Ia cukup takut , jika Inara sudah mengetahui tentang hubungan gelap yang selama ini Brian dan Anita lakukan di belakangnya .
" Apakah dia sudah tahu? "
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra