"Dia cinta pertamaku, dan aku ingin berjuang untuk mendapatkannya"
Irena, gadis berkacamata yang sebelumnya bahkan tidak mempunya teman pria, namun tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang pria tampan bernama Andreas. Pertama kali merasakan jatuh cinta, membuat dia antusias untuk bisa mendapatkan hati pria itu. Meski tidak jarang perjuangannya sama sekali tidak dihargai oleh Andreas. Bahkan pria itu seolah tidak menganggap kehadirannya.
"Sebaiknya kau berhenti berjuang dengan perasaanmu itu, karena aku tidak akan pernah membalas perasaanmu, semuanya hanya sia-sia"
Berbagai macam penolakan Irena bisa pahami, dia tidak menyerah begitu saja. Namun, ketika Andreas sendiri yang mengatakan jika dia tidak akan pernah mencintainya, karena ada perempuan lain yang dicintainya. Maka saat itu semua harapan runtuh tanpa jejak, semua perjuangan sia-sia. Dan Irena mulai mundur, mengasingkan diri dan mencoba melupakan cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Yang Tertutup Untuk Cinta Yang Baru
Irena kembali ke rumahnya, pergi jalan-jalan untuk menghilangkan penat, tapi akhirnya malah membuatnya merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Bertemu dengan Davin dan pertanyaan yang dilontarkan padanya, cukup membuatnya kembali teringat akan masa lalu yang menyakitkan. Cinta pertamanya yang menjadi luka pertamanya juga.
Irena masuk ke dalam kamar adiknya setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Membawa paper bag ditangannya, menyimpannya di atas meja belajar adiknya.
"Sepatu baru, bukannya sepatu kamu sudah rusak ya"
Farel yang sedang mengerjakan tugas di meja, langsung menoleh dan menatap Kakaknya dengan tidak enak hati. Mengambil paper bag itu dan melihat kotak sepatu yang dibelikan oleh Irena.
"Terima kasih ya Kak, padahal aku juga sedang menabung untuk membeli sepatu baru"
Irena mengacak rambut adiknya dengan sayang, meski terkadang menyebalkan, tapi dia tetap sayang pada adiknya ini. "Belajar saja yang benar, doakan Kakak lancar bekerjanya, biar bisa penuhi kebutuhan kamu. Sudah berpikir lagi untuk masuk kuliah dimana dan ambil jurusan apa?"
Farel mengangguk, hanya tinggal tersisa waktu beberapa bulan lagi sampai hari kelulusan dia. Dan Farel sudah harus menentukan pilihan kampus untuk dia melanjutkan pendidikan.
"Mungkin di Kampus bekas Kakak saja"
"Baguslah, dimana pun asal kamu nyaman dan jujur terhadap kuliah kamu. Harus belajar dengan giat agar Kakak tidak merasa sia-sia membiayai kamu"
"Iya Kak, setelah kuliah aku juga akan mencari pekerjaan paruh waktu, agar bisa sedikit meringankan beban Kakak dan Ayah"
"Itu terserah kamu, asal kamu sempat dan tidak merasa terpaksa. Tapi Kakak yakin bisa memenuhi kebutuhan kamu kok, karena tujuan Kakak bekerja adalah untuk membantu biaya kuliah kamu"
"Aku akan bekerja juga Kak, setidaknya untuk uang jajan sendiri"
Irena hanya mengangguk pelan, melihat adik kecilnya yang sekarang sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang mahasiswa. Rasanya waktu begitu cepat berputar. Irena berjalan ke arah tempat tidur adiknya dan merebahkan tubuhnya disana, memeluk guling dengan tubuh menghadap pada Farel yang berada di meja belajar.
"Sekarang Kak Yumna jarang kesini ya, Kak. SIbuk sekali mengurus suaminya kali ya"
"Ya, namanya sudah menikah. Pasti kalau ada waktu luang juga dihabiskan bersama suaminya"
Farel memutar kursi, menghadap Kakaknya yang tiduran di tempat tidur. "Terus Kak Iren kapan?"
"Apanya yang kapan?"
"Menikah? Seperti Kak Yumna, mungkin sebentar lagi Kak Yumna akan mempunyai anak. Aku sudah ingin di panggil Om loh"
Irena tertawa kecil melihat adiknya yang bertanya dengan begitu percaya diri. "Biasanya yang suka bertanya kapan menikah tuh orang tua, karena ingin segera punya cucu. Ini, kenapa kamu? Sudah gak sabar banget jadi Om-om?"
"Ya, bukan Om-om juga, Kak. Tapi Ayah dan Ibu juga pasti ingin segera melihat Kak Iren menikah"
"Nanti dulu Dek, bukan saatnya untuk memikirkan hal seperti itu. Kakak masih harus fokus bekerja" Irena beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar.
"Jangan sampai selamanya terjebak dengan cinta lama ya, Kak. Cinta baru pasti lebih baik, yakinlah"
Irena tertawa kecil, merasa lucu ketika adiknya yang mencoba memberikan nasihat padanya. "Belajar yang benar, tidak perlu membahas tentang cinta dengan Kakak. Memangnya tahu apa kamu? Jomblo sejak lahir juga"
"Yeyy... Sama saja, Kakak juga belum pernah pacaran selama ini"
irena tidak menghiraukan lagi, dia menutup pintu kamar adiknya dan berlalu ke kamarnya. Bersandar di pintu yang tertutup, pikirannya sedang tidak baik-baik saja sebenarnya. Banyak hal yang sedang dia pikirkan saat ini.
Entah apa yang terjadi padanya, tapi Irena benar-benar seperti mengunci hatinya rapat-rapat sekarang. Ada luka yang sulit di jelaskan, sakit yang sulit disembuhkan, namun tidak ada satu orang pun mengerti itu kecuali dirinya sendiri.
Membuka laci nakas, Irena menemukan buku catatan miliknya. Membuka buku itu dan menemukan kartu nama yang dia tempel dengan lem disana, di sampingnya terdapat beberapa tulisan tangan dirinya sendiri dan beberapa tanda hati.
Akan aku ingat sampai kapanpun hari pertama kita bertemu.
Kartu nama ini mungkin biasa bagi setiap orang, tapi sangat berharga bagiku.
Kau adalah cinta pertamaku, dan aku ingin kau juga menjadi cinta terakhirku.
Semua tulisan itu Irena raba-raba dengan jemarinya. Beberapa gambar hati dengan warna merah berada di sekeliling lembar kertas ini. Hembusan napas kasar, membuatnya menutup kembali buku dan menyimpannya di tempat semula.
"Kenapa sulit sekali menghapus namanya dari hatiku? Sebisa mungkin aku berusaha, kenapa setiap hal malah mengingatkan aku padanya?"
Pertanyaan yang entah siapa yang akan menjawabnya. Karena ini terlalu membingungkan bagi Irena sendiri.
*
"Bagaimana bisa kau gagal dalam tender kali ini, Andreas?!"
Suara bariton penuh amarah dari pria tua di depannya, hanya bisa Andreas dengar tanpa ingin membantahnya. Sebuah berkas yang terlempar mengenai wajahnya, membuat dia memejamkan mata.
"Pikiranmu yang tidak fokus, sampai kau kalah tender ratusan juta. Jangan gila karena wanita, karena yang terpenting dalam hidup ini adalah kekayaan, bukan wanita!"
Andreas masih diam, meski kedua tangannya mengepal erat.
"Kau lupa, ketika kita sempat jatuh, dan Ibumu pergi meninggalkan kita. Karena apa? Karena tidak ada lagi kekayaan yang membuatnya bertahan, jadi stop memikirkan wanita manapun, karena yang terpenting adalah kekayaan!"
Tangan Andreas semakin mengepal kuat, hingga urat tangannya terlihat menonjol. Mengingat kejadian beberapa tahun lalu, membuatnya sesak, bahkan ingin sekali dia menghilangkan semua ingatan tentang kejadian hari itu.
"Perbaiki semuanya, dan ini adalah kekalahanmu yang terakhir dalam mendapatkan tender. Tidak ada lain kali, kau harus bisa mengendalikan pikiranmu dari urusan pribadi dan urusan pekerjaan! Stop memikirkan wanita manapun!"
Papa berbalik pergi dari ruang kerja ini, meninggalkan Andreas yang berdiri termenung dengan rahang mengeras dan mata memerah. Mengambil berkas yang tadi terjatuh di atas lantai.
"Karena kepergianmu, aku harus menanggung segala kemarahan dan kekecewaan Papa padamu!" tekan Andreas pada seseorang yang tidak ada disini, bahkan hanya sekadar foto saja sudah tidak ada. Papa membakar semuanya.
Hembusan napas panjang menunjukan bagaimana dia yang begitu memendam banyak beban dan luka selama ini di dalam rumah besar ini. Membuatnya lebih senang tinggal di Apartemen daripada pulang ke rumah.
Bersambung
Yang nabung bab gue sleding
kan papa Andreas seorang diri pasti Irena
menerima dengan senang hati wanita tulus biasanya mau melakukan hal baik
tujuan nya baik pasti akan selalu di sayang
banyak orang,,,ga sabar papa Andreas gendong cucu menjaga nya dan teriak Irena anak mu nagis minta susu ,,, bagaimana bahagia nya papa Andreas ,,,ibu ayah di kelilingi banyak orang baik'
akan kelain hati ❤️🌹🌹😂😂sweet banget si bikin n baper unyu unyu
seolah mengakui bahwa Ak lah ibu nya ,,,
ibu yang seperti apa ,,, tidak seperti keluarga calon mertua putramu hidupnya sederhana tidak punya harta berlimpah hanya cukup buat makan dan hidup sehari-hari tetapi sangat menyayangi putra dan putrinya hingga putramu selalu merebes matanya ketika melihat calon mertuanya menasehati anak anak nya dengan lemah lembut ,,,
ak sudah mak 😂jadi ngalah deh buat yang masih jomblo 😁
untung ga pingsan,,, aduh itulah para tuan tua sultan kalau sudah BUCIN mana ad yang bisa menggangu nya bisa senyap sekejap
sare,,,Tuhan tidak tidur,,sudah kehilangan pekerjaan mana menanggung adek atau orang tua atau cicilan dan di tambah tidak bisa bekerja di kantor manapun di beklis
pada mimpi' apa semalam lihat Yumna istri Bos Gavin mantan suaminya kan jahat sekarang nasibnya di hotel prodeo,,,👍😁