Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Membujuk Sang Ketua (dan Masker Penyelamat)
Studio "Bising" benar-benar menghayati namanya. Tempat itu terletak di lantai dua sebuah ruko tua yang catnya sudah mengelupas. Tangganya sempit, curam, dan remang-remang.
Julian berdiri di depan pintu studio, ragu-ragu. Hidungnya berkerut.
"Bau rokok, keringat, dan... apakah itu bau kaus kaki basah?" analisis Julian sambil menutup hidung dengan sapu tangan.
Alea, yang berdiri di sebelahnya sambil menenteng gitar, menepuk punggung Julian keras-keras.
"Selamat datang di markas besar The Rebels, Pak Ketos! Jangan manja, kuman di sini udah jinak semua kok. Mereka udah kita ajak ngopi."
"Ini pelanggaran K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Ventilasinya buruk, instalasi kabelnya semrawut..." Julian menunjuk kabel-kabel yang malang melintang di lantai seperti ular piton kekenyangan.
"Udah, jangan cerewet. Anak-anak udah nunggu. Inget janji lo: lo mau nyelamatin Pensi, kan?"
Julian menghela napas panjang, seolah bersiap masuk ke reaktor nuklir yang bocor. "Demi Pensi. Hanya demi Pensi."
Alea membuka pintu studio.
WUZ. Aroma asap rokok dan kopi menyambut mereka.
Di dalam, Raka (drum), Dito (bass), dan Beni (keyboard) sedang duduk melingkar di karpet, main Ludo di HP. Mereka menoleh serempak saat pintu terbuka.
Mata mereka membelalak saat melihat siapa yang berdiri di belakang Alea. Sosok jangkung, berkacamata, dengan kemeja putih yang dimasukkan rapi. Sangat tidak cocok dengan poster tengkorak di dinding.
"Anjir," gumam Raka, HP-nya hampir jatuh. "Lo beneran bawa dia, Le? Gue kira lo becanda."
"Gue nggak pernah becanda soal musik," kata Alea bangga. Ia menarik Julian masuk, lalu menutup pintu. "Guys, kenalin gitaris baru kita. Julian Pradana."
Hening.
Dito berbisik ke Beni, "Ini kita nggak lagi disidak OSIS kan? Rokok gue umpetin dulu nggak?"
Julian memandang sekeliling ruangan dengan tatapan ngeri. Bungkus makanan ringan berserakan, puntung rokok di asbak yang sudah penuh, dan karpet yang warnanya sudah tidak jelas aslinya warna apa.
"Saya tidak akan menyidak kalian," kata Julian kaku. "Selama kegiatan ini dilakukan di luar jam sekolah dan di luar lingkungan sekolah, itu bukan yurisdiksi saya."
"Tuh kan," Alea nyengir. "Aman. Nah, Jul, ini Raka, Dito, sama Beni. Lo udah tau nama mereka pasti dari buku pelanggaran."
"Raka Andika, sering telat dan tidur di kelas. Dito Prasetyo, celana sering dikecilkan. Beni Gunawan, sering membolos jam olahraga," sebut Julian hafal di luar kepala.
Ketiga cowok itu nyengir kuda, merasa telanjang di depan Julian.
"Oke, cukup perkenalan datanya," potong Alea cepat sebelum suasana jadi awkward. "Sekarang, kita butuh transformasi. Lo nggak bisa main rock pake baju beginian, Jul. Lo kayak mau presentasi MLM."
Alea membongkar tas ransel besarnya. Ia mengeluarkan sebuah hoodie hitam oversized bertuliskan METALLICA dan sebuah celana jeans hitam cadangan (yang untungnya model unisex dan agak gombrong, muat untuk Julian).
"Ganti baju. Di toilet," perintah Alea.
Julian memegang hoodie itu dengan dua jari, curiga. "Ini sudah dicuci?"
"Udah, elah! Pake pewangi Downy malah! Buruan!"
Julian pasrah. Ia masuk ke toilet studio yang sempit (dan untungnya cukup bersih meski bau kampernya menyengat). Lima menit kemudian, ia keluar.
Anak-anak band melongo.
Julian Pradana versi Rock ternyata... lumayan. Hoodie hitam itu pas di badannya. Celana jeans itu membuatnya terlihat lebih santai. Kacamata minusnya masih bertengger, tapi entah kenapa justru menambah aura misterius.
"Gokil," komentar Raka. "Udah pantes jadi vokalis band indie senja."
"Belum selesai," kata Alea. Ia merogoh tasnya lagi. "Syarat Julian mau gabung adalah: Identitas Rahasia."
Alea mengeluarkan sebuah benda.
Itu adalah masker buff hitam dengan gambar tulang rahang tengkorak putih di bagian mulut. Tipe masker yang biasa dipakai pengendara motor atau demonstran.
"Pake ini," Alea menyodorkannya. "Sama topi kupluk ini."
Julian menatap masker tengkorak itu. "Ini norak, Alea."
"Ini keren, Jul! Ini visual kei! Udah pake aja. Daripada bokap lo liat muka lo di video TikTok orang?"
Argumen tentang Ayahnya selalu ampuh. Julian mengambil masker itu dan memakainya. Ia menariknya sampai menutupi hidung. Lalu ia memakai kupluk hitam yang menutupi rambut rapinya sampai sebatas alis.
Sekarang, hanya mata tajam di balik kacamata itu yang terlihat. Sisanya tertutup kain hitam dan gambar tengkorak.
"Wuidih," Beni bertepuk tangan. "Sangar, Bos! Kayak pembunuh bayaran."
"Sebutannya apa nih?" tanya Dito. "Mister X? The Skull?"
"Phantom," jawab Julian tiba-tiba. Suaranya terdengar agak teredam masker.
"Hah?" Alea menoleh.
"Phantom," ulang Julian. "Hantu. Ada tapi tidak terlihat. Itu nama panggung saya kalau kalian memaksa."
"Phantom... Keren juga," puji Raka. "Oke, Phantom. Lo bisa main apa cuma gaya doang?"
Julian berjalan menuju rak gitar. Tanpa bertanya, ia mengambil sebuah Gibson Les Paul hitam milik studio. Ia duduk di kursi drum, memangku gitar itu.
"Kalian pakai tuning standar?" tanya Julian.
"Iya. Standar E," jawab Alea.
Julian memetik senar satu per satu. Ting. Tung. Tang.
"Senar G agak fals dikit," gumam Julian. Ia memutar tuner tanpa melihat alat penyetem digital. Telinganya bekerja lebih akurat daripada mesin.
Lalu ia menoleh ke arah amplifier. Ia berdiri, mendekati kotak pengeras suara itu.
"Siapa yang mengatur Equalizer ini?" kritik Julian. "Bass-nya terlalu tinggi, Mid-nya dipotong habis, Treble-nya menyakitkan telinga. Pantas saja feedback terus. Frekuensinya tabrakan."
Julian memutar knop-knop di amplifier dengan presisi, seolah sedang menyetel mikroskop di laboratorium.
"Coba bunyikan, Le," perintah Julian.
Alea memetik gitarnya. JRENG.
Suaranya... jernih. Padat. Renyah. Tidak ada noise yang mengganggu.
"Wah, anjir. Kok enak suaranya?" Dito kaget. "Biasanya ampli ini kresek-kresek kayak radio rusak."
"Itu Fisika," kata Julian singkat di balik maskernya. Ia kembali duduk. "Ayo. Lagu apa?"
"Lagu kita. Langit Abu-Abu. Kunci dasarnya A minor. Temponya 120 BPM," jelas Alea. "Lo ikutin rhythm dulu aja, nanti pas interlude gue kasih kode buat lo isi melodi. Bisa ngikutin?"
Julian mengangguk. "Saya sudah dengar demonya yang kamu kirim semalam. Strukturnya sederhana. 4/4."
"Sombong amat 'sederhana'," cibir Raka. "Oke. One, two, three, four!"
Drum Raka menghentak. Bass Dito masuk. Alea mulai memetik rhythm.
Julian diam di empat bar pertama. Ia mendengarkan. Kepalanya mengangguk pelan mengikuti tempo.
Saat masuk verse pertama, Julian mulai memetik. Bukan sekadar genjrengan kasar. Ia memberikan arpeggio (petikan nada terurai) yang manis dan presisi, mengisi kekosongan di antara vokal Alea.
Alea yang sedang menyanyi sempat melirik kaget. Suara gitar Julian... mewah. Sentuhannya bersih. Tidak ada nada yang meleset.
Lagu berlanjut ke Chorus. Distorsi dinyalakan.
Julian beralih ke power chord. Hentakannya kuat, sinkron sempurna dengan kick drum Raka.
Dan tibalah saat yang ditunggu. Interlude. Bagian di mana biasanya Erik (gitaris lama) cuma main melodi standar yang diulang-ulang.
Alea mundur dari mikrofon, memberi ruang. "Sikat, Phantom!"
Julian maju selangkah. Jari-jarinya meluncur di fretboard.
Dia tidak memainkannya dengan "marah". Dia memainkannya dengan "emosi". Melodi yang keluar dari gitar itu melengking tinggi, menyayat, turun ke nada rendah yang menggeram, lalu naik lagi dengan teknik bending yang sempurna.
Itu bukan sekadar skill. Itu adalah jeritan hati Julian yang selama ini terkekang. Rasa frustrasinya, kesepiannya, kemarahannya pada ayahnya, semuanya ia tumpahkan lewat enam senar itu.
Anak-anak The Rebels melongo. Beni lupa menekan tuts keyboardnya. Raka hampir kehilangan tempo saking takjubnya.
Julian menutup solo gitarnya dengan teknik tapping cepat yang memukau, lalu kembali ke ritme dasar dengan mulus saat Alea masuk ke chorus terakhir.
Lagu selesai.
Deng...
Hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar.
Raka berdiri dari kursi drumnya, melempar stik ke lantai, lalu bertepuk tangan heboh.
"GILA! PECAH BANGET!" teriak Raka. "Lo makan apaan, Jul?! Jari lo ada motornya?!"
Dito menggeleng-geleng takjub. "Erik mah lewat. Ini mah level dewa."
Alea? Alea hanya berdiri diam, menatap Julian dengan mata berbinar-binar dan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena habis nyanyi, tapi karena bangga.
Gue bener, batin Alea. Dia bukan robot. Dia monster.
Julian menurunkan gitarnya. Napasnya sedikit terengah di balik masker, keringat membasahi keningnya. Tapi matanya... mata itu bersinar terang.
"Gimana?" tanya Julian, suaranya sedikit serak. "Cukup?"
"Cukup?!" Alea tertawa lepas. "Itu lebih dari cukup, bego! Lo diterima! Lo resmi jadi gitaris The Rebels!"
"Phantom," koreksi Julian cepat. "Gitaris The Rebels adalah Phantom. Bukan Julian."
"Oke, oke. Phantom," Alea mendekat, menepuk bahu Julian. "Selamat datang di keluarga berantakan ini, Phantom."
Julian membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot karena keringat. Untuk pertama kalinya, berada di ruangan bau rokok dan penuh sampah ini tidak terasa menyiksa. Rasanya... membebaskan.
"Ada satu syarat lagi," kata Julian sambil melepas maskernya karena pengap.
"Apa lagi? Minta honor?" tanya Raka.
"Bukan," Julian menunjuk tumpukan sampah di pojok ruangan. "Sebelum latihan besok, sampah ini harus dibersihkan. Karpet divakum. Dan dilarang merokok saat saya ada di dalam ruangan. Asap rokok merusak pita suara dan komponen elektronik gitar."
Anak-anak band saling pandang, lalu tertawa.
"Siap, Pak Ketos!" seru mereka kompak.
Alea menatap Julian. Julian menatap Alea. Di tengah tawa teman-temannya, mereka berbagi senyum rahasia.
Tim impian telah terbentuk. Satu langkah lebih dekat menuju Pensi. Dan mungkin, satu langkah lebih dekat menuju sesuatu yang lain.
...****************...
BERSAMBUNG.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️