Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Forum Keluarga
Ruang keluarga itu berubah seperti ruang seminar dadakan. Elva, layaknya dosen profesional, dengan singkat dan lugas mengenalkan dan memberikan sedikit informasi tentang menantu.
Sebagian anggota keluarga masih terlihat menyimak, beberapa hanya manggut-manggut, ada juga yang tampak bersiap melontarkan pertanyaan.
Sampai suara Elma, terdengar lebih dulu. "Tamara, kamu kan anaknya Profesor Rudi, apa memang nggak berminat mengikuti jejak papa kamu ke dunia akademisi?" tanyanya.
Tamara tersenyum ramah. "Aku nggak punya bakat mengajari orang, Tante... " jawabnya dengan sopan.
Tapi punya bakat neriakin orang, sambungnya dalam hati.
"Tapi kamu berhasil loh, di jalur pilihan kamu. Sekarang menjadi salah satu pengusaha wanita muda tersukses," kata Diah, tersenyum bangga.
Pembicaraan pun terus berlanjut, dengan Tamara sebagai objek pertanyaan. Arvin masih setia duduk di sampingnya, sesekali membantu seperti perisai yang melindunginya.
Ia akan langsung mematahkan pertanyaan, yang ia rasa tidak perlu Tamara jawab.
Beberapa ada yang masih memperhatikan, yang lain sebagian mulai bisik-bisik santai sambil menikmati hidangan.
"Tamara, jangan terlalu sibuk kerja. Nanti bisa stres. Nggak baik buat hubungan pengantin baru." Reni menyeletuk, lalu menyesap teh miliknya.
Arvin langsung menjawab, seolah benar-benar menjadi juru bicara istrinya tanpa disuruh.
"Tante, justru karena Tamara mencintai pekerjaannya, makanya lebih sering kerja. Dia bisa stres kalau sehari aja nggak nengokin kerjaan."
Tamara menahan tawa, mendengar jawaban Arvin yang terkesan sok tahu. Ia senang sekaligus merasa tenang, saat laki-laki itu di dekatnya.
Elma menepuk lengan Arvin. "Eh, Vin. Jangan lama-lama nunda momongan. Muka mama kamu tuh udah kepengen banget nimang cucu... entar keburu tambah tua. Kamu kan anak pertama, laki-laki satu-satunya lagi."
Arvin melirik ke arah mamanya, yang menikmati sepotong kue cokelat seolah tak
mendengar pembicaraan itu.
"Untuk urusan itu, aku serahkan semuanya sama Tamara," katanya pelan.
Pandangannya beralih pada istrinya. "Dia... berhak atas dirinya sendiri."
Reni meletakkan cangkir di atas meja, langsung menginterupsi, "Kamu ini gimana sih, Vin? Kan kamu kepala keluarga, kamu dong yang harusnya ngatur."
Arvin spontan menoleh, lalu menanggapi, "Menikah kan bukan hanya soal siapa mengatur dan diatur, Tante. Tapi kerjasama dua orang."
Tamara masih terdiam, melihat Arvin dengan profesional meladeni para tantenya berdebat dan lebih banyak membelanya.
Ia bahkan sempat mengagumi laki-laki itu—karisma profesor muda yang tak pernah padam, meski hanya pakai kaus rumahan di tengah forum keluarga biasa.
Tapi Reni terlihat belum puas. Pandangannya beralih ke arah Tamara. "Kamu sendiri gimana, Tamara?"
Senyumnya samar, masih penasaran dengan perempuan itu. "Kamu terbiasa memimpin perusahaan, lalu bagaimana kamu akan menyesuaikan peran kamu ketika menjadi istri di rumah?"
Tamara menelan ludah. Sedangkan Arvin sudah menoleh ke arahnya dengan sorot mata siaga.
Tamara menegakkan punggung, menarik napas singkat. "Aku tetep bisa menyesuaikan peranku kok, Tante."
Senyumnya terbit—khas kepercayaan dirinya yang kembali bangkit. "Kalau di kantor aku memang terbiasa memimpin karyawan, tapi di rumah aku ingin belajar membangun hubungan."
Tamara menjawab dengan mantap, walau ia sendiri tidak yakin sepenuhnya dengan yang diucapkan. Antara benar-benar lahir dari keinginannya, atau sekadar jawaban paling aman yang bisa ia berikan saat ini.
Reni tersenyum puas dengan jawaban itu, seolah memberi penilaian setelah diam-diam mengujinya. Sedangkan Arvin hanya tersenyum tipis sambil menatapnya penuh pengakuan.
Beberapa orang yang turut menyimak, langsung mengangguk-angguk pelan.
Hingga suara Elma memecah suasana. "Jadi gimana, Tamara? Kapan kamu siap punya momongan? Mumpung masih muda."
Tamara nyaris tersedak udara. Baru juga kemarin akad nikah, pikirnya.
Ia memasang senyum ramah. "Aku akan siap kalau sudah waktunya, Tante," jawabnya sekenanya.
"Ya jangan lama-lama lah, Tamara," kata Elma, suaranya lembut namun mengandung tuntutan samar.
Tak lama, Arman memanggil Arvin, memintanya bergabung dengan obrolan para laki-laki untuk mendiskusikan hal lain.
Arvin menatap Tamara dan bertanya, "Aku ke Papa dulu nggak apa-apa, kan?"
Tamara mengangguk, setengah berat hati. Tapi saat menatap Arvin lagi, sorot mata laki-laki itu memberinya kekuatan seolah berkata: kamu bisa.
"Ya sudah, Vin. Biarin aja istri kamu disini. Kita masih pingin ngobrol banyak," kata Diah.
Reni berkelakar, "Betul. Jangan diintilin terus. Nanti juga kamu punya jatah sendiri, Vin... Ntar malam."
Tawa ringan seketika pecah mengiringi Arvin yang segera berpamitan.
Sedangkan Tamara, dengan sisa energi harus tetap mengikuti sesi pembicaraan lanjutan bersama para tante itu.
Ia sesekali melirik ke arah Arvin, yang saat itu di salah satu pojok ruangan tampak sedang mengobrol serius.
Untuk pertama kalinya, dirinya yang biasanya tak perlu bergantung pada siapapun, kini secara sadar merasa kehilangan pegangan saat Arvin jauh darinya.
Berat untuk mengakui, tapi itulah yang terasa oleh hati kecilnya.
Hampir satu jam berlalu, suasana ruang keluarga itu masih ramai oleh obrolan-obrolan samar, yang kini terpecah menjadi beberapa kelompok.
Di bangku pojok ruangan, Arvin dan beberapa orang paman serta papanya tergabung dalam kubu yang paling tenang. Khusus diisi oleh kaum pemikir yang lebih jago adu ketajaman otak daripada adu jotos.
Di tengah-tengah ruangan, beberapa orang sepupu dan keponakan asyik bersenda gurau, sambil menikmati camilan. Beberapa yang lain, tampak berdiskusi sambil sesekali melihat layar ponsel.
Di sofa utama, Tamara masih belum bergerak dari tempat duduknya bersama para tante dan mama mertuanya. Ia sesekali ikut bicara, namun lebih banyak mendengarkan.
Pembahasan mereka mulai dari topik sehari-hari, tren terkini sampai seputar kehidupan wanita modern.
Hingga suara Diah—tante dengan aura wibawa yang paling menonjol, berkomentar di tengah pembahasan. "Boleh saja menjadi perempuan hebat dalam urusan bisnis atau apapun... "
Lalu memberi nasihat. "...Tapi begitu sudah menikah, jangan sampai melupakan peran untuk keluarga, terutama kewajiban sebagai seorang istri."
Tamara masih mendengarkan, setidaknya menyimpan itu sebagai petuah. Meski saat ini egonya merasa, ia belum tentu mampu menjalankannya dengan baik nantinya.
Reni mengangguk setuju, lalu menimpali, "Mau setinggi apapun posisi istri, tetap harus patuh dan menghormati suami. Terutama, melayani suami dengan baik... "
Nada suaranya tetap santai, tapi gaya bicaranya sudah seperti penasihat pernikahan berpengalaman.
Matanya menyipit ke arah Tamara, sudut bibirnya terangkat. " ...dengan baik loh, Tamara," katanya menekankan penuh maksud.
Tamara mengerjap ringan, lalu hanya mengangguk. Baru kali ini ia ditatap seolah sedang diintimidasi, tapi tidak ada niat untuk melawan.
Reni langsung tergelak, menepuk pelan punggung tangan Tamara.
"Ya sudah, nanti malam langsung dilaksanakan ya. Demi keharmonisan rumah tangga, loh." Tatapannya jelas menggoda keponakan barunya itu.
Celotehan itu segera pecah oleh tawa ringan, kecuali Tamara yang hanya bisa nyengir.
Hingga Elva menghentikan tawanya. Ia menatap menantunya dengan tatapan keibuan.
"Mama kasih tahu ya, Tamara. Dalam rumah tangga itu, yang penting banyakin makan bareng," katanya sok iya.
Lalu melanjutkan dengan sorot mata berkilat jenaka. "Soalnya, mau punya ilmu atau status setinggi apapun... kalau perut lagi kosong, ya bawaannya pasti mudah emosi."
Nada bercandanya kentara, khas ibu-ibu yang kebanyakan ikut arisan. Entah baru menemukan teori darimana.
Gelak tawa kembali menggema disusul anggukan setuju, seolah itu adalah teori paling valid hari itu.
Suara mereka bahkan terdengar yang paling mendominasi seisi ruangan, seperti irama latar pengganggu bagi obrolan kubu lain.
Sedangkan Tamara masih terlihat canggung.
Seperti siput yang baru terlepas dari cangkangnya, ia benar-benar merasa kehilangan jati diri, tapi tak juga merasa keberatan.
Hari itu ia benar-benar menjadi perempuan pendiam dengan tutur lembut, dan lebih banyak tersenyum dari biasanya.
Namun, di tengah keadaan itu, justru ada hal yang baru Tamara sadari: Ia tidak berniat kabur, walau ia juga tidak tahu pasti, entah setelah ini ada kejutan apalagi di keluarga ini.
BERSAMBUNG...
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺