karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga
__________________________________
Tepat pukul dua siang, sesuai dengan tuntutannya, Reynard melangkah keluar dari lobi Aethelred Group. Leonard berdiri sigap di samping mobil yang pintunya sudah terbuka. Tanpa membuang waktu, Reynard masuk ke kursi belakang yang dingin oleh pendingin udara, namun pikirannya tetap terasa panas oleh kerinduan.
"Mampir ke The Bloom’s di jalan utama, segera," perintah Reynard singkat.
Sesampainya di sana, Reynard tidak menunggu sopirnya membukakan pintu. Ia turun dan langsung masuk ke toko bunga langganan kelas atas tersebut. Aroma mawar dan lili yang segar menyambutnya, namun ia tampak kebingungan di hadapan deretan bunga yang berwarna-warni. Baginya, angka di bursa saham jauh lebih mudah dibaca daripada makna di balik seikat bunga.
"Tuan Reynard? Ada yang bisa kami bantu?" tanya pemilik toko yang terkejut melihat sosok pengusaha besar itu datang sendiri.
"Berikan aku sesuatu yang tidak terlalu mencolok, tapi terlihat... menenangkan," ujar Reynard sambil menunjuk sekumpulan bunga Peony putih dan mawar merah muda pucat. "Tambahkan sedikit bunga Baby's Breath. Pastikan tampilannya cantik, tapi jangan terlalu formal."
Saat menunggu buket itu dirangkai, ia teringat toko kue Annelise. Ia membayangkan betapa telitinya Annelise saat menghias kue, mungkin sama telitinya dengan florist ini saat merangkai bunga. Setelah mendapatkan buket yang ia rasa sempurna, ia segera kembali ke mobil.
"Pulang," katanya, kali ini dengan nada yang lebih ringan.
Setibanya di rumah, Reynard melangkah masuk dengan langkah yang sengaja ia pelankan. Ia menolak bantuan Bibi Rose untuk membawakan jasnya. Ia ingin masuk ke kamarnya sendiri, tanpa pengumuman.
Saat ia mendekati pintu kamar utama, langkahnya terhenti. Dari balik pintu kayu yang tebal itu, ia mendengar sesuatu yang sudah lama tidak ia dengar di rumah ini, suara tawa. Bukan tawa formal yang biasa ia dengar di pesta kolega, melainkan tawa renyah dan lepas.
Ia membuka pintu secara perlahan.
Di sana, di atas tempat tidur, Annelise sedang tertawa hingga pipinya merona merah. Meca duduk di sampingnya sambil memperagakan sesuatu dengan gerakan tangan yang lucu. Mangkuk sup yang tadi dikhawatirkan Reynard kini telah kosong di atas nakas.
"Aku beritahu kau, Anne, jika suamimu itu melihatmu sekarang, dia pasti akan...."
"Akan apa, Meca?" potong Reynard dengan suara rendah yang berat namun tidak dingin.
Kedua wanita itu tersentak. Tawa mereka langsung berhenti, berganti dengan ekspresi terkejut. Annelise mengerjapkan mata, seolah tidak percaya suaminya benar-benar pulang tepat waktu bahkan lebih awal.
"Reynard? Kau... kau sudah pulang?" tanya Annelise dengan suara yang masih menyisakan nada ceria.
Reynard berjalan mendekat, menyembunyikan buket bunga di balik punggungnya sejenak sebelum menampilkannya di depan Annelise. "Aku bilang aku akan segera pulang jika kau tidak makan. Dan sepertinya ancamanku bekerja dengan baik, melihat mangkuk itu kosong."
Annelise menatap buket bunga di tangan Reynard dengan binar mata yang kembali cerah. "Ini... untukku?"
Meca berdeham keras, mencoba menahan tawa melihat wajah kaku Reynard yang sedikit canggung. "Baiklah, sepertinya tugasku sudah selesai. 'Singa' penguasa rumah ini sudah kembali untuk menjaga wilayahnya sendiri. Aku pamit dulu, Anne."
Meca mengedipkan mata ke arah Annelise sebelum melewati Reynard dengan senyum penuh arti. Kini, hanya tersisa Reynard dan Annelise di kamar yang hangat itu. Reynard duduk di tepi ranjang, meletakkan bunga itu di pangkuan Annelise, lalu menyentuh kening istrinya dengan punggung tangan.
"Suhu tubuhmu sudah turun," bisiknya lega. "Jangan tertawa terlalu keras dulu, kau masih butuh istirahat."
Annelise tersenyum lembut, memeluk buket bunga itu. "Terima kasih, Reynard. Ternyata kau tidak sekaku yang Meca ceritakan."
Reynard hanya mendengus kecil, namun ia tidak menarik tangannya dari pipi Annelise. Baginya, suasana ini jauh lebih berharga daripada rapat jutaan dollar tadi.
Keheningan yang nyaman menyelimuti kamar utama itu setelah kepergian Meca. Hanya terdengar detak jam dinding yang elegan dan deru halus pendingin ruangan. Reynard masih mempertahankan posisinya, duduk di tepi ranjang dengan satu tangan yang perlahan turun dari pipi Annelise menuju jemari istrinya yang mungil.
Annelise menunduk, menghirup aroma lembut dari buket Peony dan mawar di pangkuannya. Wangi bunga itu segar, seolah membawa aroma musim semi ke dalam kamar yang selama beberapa hari ini terasa pengap karena sakitnya.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar mampir ke toko bunga," gumam Annelise memecah keheningan. "Kupikir kau sedang sibuk menaklukkan dunia di ruang rapatmu."
Reynard menatap istrinya datar, namun ada binar jenaka yang tersembunyi di balik matanya. "Menaklukkan dunia terasa sia-sia jika pemilik rumah ini sedang sakit dan menolak untuk makan. Aku harus memastikan aset paling berhargaku tidak terus-menerus mengeluh tentang mulut yang pahit."
Annelise tertawa kecil, kali ini lebih lembut. "Meca menceritakan segalanya. Tentang ancamanmu yang akan membatalkan semua jadwal rapat. Kau tahu, Leonard pasti sangat menderita karena bos nya tiba-tiba ingin menyelesaikan rapat."
"Biarkan saja itu tugas Leonard," jawab Reynard tak acuh. Ia melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku tampilan yang jarang dilihat Annelise, membuatnya tampak lebih manusiawi dan tidak terlalu seperti patung penguasa korporat. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Kepalamu masih sakit?"
Annelise menggeleng pelan. "Jauh lebih baik. Mungkin suara tawa Meca tadi memang obat yang manjur. Atau mungkin karena ancamanmu yang membuatku takut."
Reynard mengambil mangkuk sup yang sudah kosong dari nakas, meletakkannya kembali ke nampan dengan gerakan teliti. "Tadi Meca bilang kau mengkhawatirkan toko kue. Aku sudah mengirim tim ke sana. Mereka melaporkan bahwa toko berjalan dengan baik. Tidak ada yang perlu kau pusingkan."
Annelise menatap suaminya dengan ragu. "Reynard, Meca bilang kau mengirim sekretaris mu ke sana? Dia orang profesional di bidang bisnis, bukan pelayan toko kue. Aku khawatir pelanggan tetapku akan merasa diinterogasi alih-alih dilayani."
Reynard sedikit tersenyum sebuah senyum langka yang benar-benar sampai ke matanya. "Aku mengirim satu manajer operasional.mereka ahli dalam menghadapi orang. Anggap saja itu adalah riset pasar gratis untuk tokomu. Jika mereka bisa menangani kesepakatan bernilai miliaran, mereka pasti bisa menangani pembeli cupcake."
Annelise hanya bisa menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan cara suaminya menyelesaikan masalah. Namun, di balik itu semua, ia merasa sangat dihargai. Kehadiran Reynard di sini, di saat jam kerja yang sangat krusial, membuktikan satu hal yang selama ini ia ragukan, ia penting bagi pria ini.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Reynard, menyadari tatapan dalam istrinya.
"Hanya berpikir," jawab Annelise pelan. "Terima kasih karena sudah pulang. Itu... sangat berarti bagiku."
Reynard terdiam sejenak. Ia bukan pria yang pandai merangkai kata-kata puitis. Baginya, tindakan adalah bahasa utama. Ia menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi bahu Annelise. "Tidurlah lagi. Aku akan ada di sini. Aku membawa beberapa berkas yang harus aku periksa, tapi aku akan melakukannya di sofa itu."
"Kau tidak akan kembali ke kantor?"
"Tidak sampai aku yakin kau benar-benar pulih. Sekarang, tutup matamu."
Sore berganti malam, dan kamar itu tetap menjadi saksi bisu perubahan dinamika di antara mereka. Reynard benar-benar menepati janjinya. Ia duduk di sofa panjang di sudut kamar, diterangi lampu baca yang temaram, fokus pada tumpukan berkas di iPad-nya. Sesekali, ia melirik ke arah ranjang, memastikan napas Annelise teratur dalam tidurnya.
Annelise sendiri tidak benar-benar tidur nyenyak. Ia berada dalam kondisi setengah sadar yang nyaman. Setiap kali ia membuka mata sedikit, ia melihat siluet punggung tegap Reynard. Ada rasa aman yang luar biasa meresap ke dalam jiwanya. Ia menyadari bahwa kekhawatiran Reynard bukan hanya sekadar tanggung jawab seorang suami secara hukum, tapi sesuatu yang lebih dalam.
Sekitar pukul tujuh malam, Bibi Rose masuk dengan tenang membawa makan malam untuk mereka berdua. Reynard memberi isyarat agar ia meletakkannya di meja kecil.
"Nona belum bangun, Tuan?" bisik Bibi Rose.
"Biarkan dia istirahat sebentar lagi," jawab Reynard pelan.
Namun, aroma nasi goreng hangat dan air jahe buatan Bibi Rose rupanya menggoda indra penciuman Annelise. Ia perlahan bergerak dan bangun. "Aku sudah bangun," suaranya parau khas orang baru bangun tidur.
Reynard segera bangkit dari sofanya dan menghampiri ranjang. Ia membantu Annelise duduk dan meletakkan meja lipat kecil di atas paha istrinya. "Makanlah. Kali ini jangan sampai tersisa. Aku tidak ingin menelepon dokter pribadi malam-malam hanya karena kau kekurangan nutrisi."
Annelise tersenyum patuh. "Baiklah, Tuan Pemaksa."
Mereka makan malam bersama di dalam kamar. Suasana terasa sangat domestik dan hangat sesuatu yang sangat asing bagi Reynard yang terbiasa makan malam di restoran mewah atau jamuan bisnis yang kaku. Mereka mengobrol tentang hal-hal ringan. Annelise menceritakan resep baru yang ingin ia coba, dan Reynard, secara mengejutkan, mendengarkan dengan penuh perhatian meski ia tidak paham tentang perbedaan jenis cokelat.
orang kaya mereka harus membusuk