Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelan-pelan
Di balik musibah mungkin tersimpan hikmah di dalamnya, terutama untuk seorang Arga. Gara-gara kejadian yang tidak mengenakkan malam itu, Fiona dan dirinya bisa lebih semakin dekat.
Dalam masa traumanya pasca kejadian penerobosan Davin ke apartemen, Fiona jadi suka gelisah dan cemas. Alhasil, malam itu dia pun tidur ditemani Arga, suaminya.
Sewajarnya pria normal, saat berbaring dengan seorang wanita, jelas Arga tidak bisa mendustai nalurinya. Keinginannya terlalu kuat untuk memiliki atau menyentuh wanitanya itu.
(Jika aku lakukan seperti ini ... Apa kamu akan mendorongku? Apa kamu akan marah padaku? Apa kamu akan semakin menjauh??)
Pikiran Arga berkecamuk, tapi tubuhnya seolah bergerak sendiri meskipun otaknya memerintah untuk berhenti. Seperti candu, aroma harum FIona menyihir Arga untuk semakin dekat dan semakin membelainya.
(Sekeras apa aku menahannya ... Maaf ... Aku tidak yakin mampu menahannya lagi)
Di lain sisi, Fiona merasa takut dan was-was. Tubuhnya jadi terasa kaku dan merinding ketika merasakan kehangatan kulit Arga yang mulai bersentuhan dengan kulitnya.
(Pernikahan kami hanya kontrak ... Dia janji tidak akan ada kontak fisik, tapi apa yang terjadi sekarang? Apa aku harus menghentikannya? Kenapa dia mulai menyentuhku? Lalu aku harus bagaimana? Lebih baik aku menolaknya? Jika dia marah ... Apa yang harus aku lakukan?)
(Kenapa jantungku berdegup kencang, kenapa dengan diriku?)
Sama halnya dengan Arga, pikiran Fiona juga bergejolak. Biasanya dia akan risih kalau disentuh, tapi tiap sentuhan yang dihasilkan Arga, nyatanya mampu membuat Fiona terlena. Caranya yang lembut, dibuai dengan ketenangan dan halus, cukup membuat Fiona bergidik dan menikmatinya.
Apalagi saat bibir Arga mulai menyentuh daun telinganya, hal itu membuat Fiona tak bisa menolak sensasi rasa yang tak biasa.
(Lebih baik aku tutup mata saja, rasanya jantungku mau meledak)
Fiona memejamkan matanya, sedangkan Arga masih mencoba menyentuh Fiona. Dia akan berhenti dan mundur jika Fiona melakukan penolakan malam itu. Nyatanya, saat ia kecup lembut area telinga dan bahu Fiona, terdengar suara lirih dari bibir dan mata yang tertutup itu.
(Dia tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan. Sepertinya aku bisa melanjutkannya ... Apa ini adalah sebuah kode? Bahwa Fiona mulai menerima kehadiran ku?)
"Ehhm"
Suara lirihan pelan itu semakin membuat adrenalin Arga bangkit. Tidak perlu buru-buru, pelan-pelan tapi pasti, ia mengabsen segala inci bagian muka Fiona. Baik dengan jemarinya ataupun mengunakan bibir.
Pelan tapi pasti, Arga membuat Fiona merasakan sensasi yang tidak biasa, yang mampu membuatnya melayang-layang bagai di awang.
Sudah sangat yakin tindakannya bisa diterima, Arga memberanikan diri menempelkan bibirnya ke bibir Fiona.
(Kita lihat selanjutnya ... apa kamu merespon nya?)
Arga mengecupnya begitu lembut, meskipun bibir itu masih terkunci rapat, sampai akhirnya bibir itu perlahan membuka sedikit, Arga memanfaatkan cela itu. Dengan perasaan yang penuh kehati-hatian tentunya, ia kecup dan mulai memainkan lidahnya. Memasukkan lidahnya pelan-pelan. Memberikan gigitan kecil yang membuat Fiona menggeliat.
Fiona masih memejamkan mata, tapi badannya sedikit tersentak, ia bisa merasakan sensasi dingin saat lidah Arga masuk ke dalam mulutnya. Seperti terhipnotis, terbawa alur dan suasana yang mulai menghangat.
(Sudah terlanjur seperti ini ... Aku ikuti saja arusnya)
Pada akhirnya lidah itu pun saling menyapa di dalam sana, tangan Arga pun mulai berani lebih aktraktif. Ia sentuh tengkuk leher Fiona, mulai menyesap lebih dalam dan lama.
Ingin memberikan kesempatan bagi keduanya mengambil napas, Arga melepaskan tautan bibir mereka, saling menatap tanpa suara. Cukup mata mereka yang sepertinya sudah berbicara.
(Terimakasih tidak menolak ku!)
Dengan lembut Arga mengusap bibir Fiona, mengusapnya dengan jemarinya. Meskipun jantungnya berdebar-debar, Arga masih bisa menguasai permainan. Sebelum melakukan hal yang lebih jauh lagi, Arga meminta ijin sebelumnya.
"Bolehkah aku melakukannya malam ini?" Arga bertanya dengan wajah penuh harap. Ia deg-degan menunggu jawaban wanitanya itu.
Fiona sempat terdiam sejenak, kemudian kepalanya mengangguk pelan. Seperti mendapat lampu hijau, Arga pun melepaskan kancing baju piyama yang ia kenakan. Siapa yang menyangka, di balik kejadian malam ini, justru dia mendapatkan tiket emas untuk bisa lebih dekat lagi dengan Fiona, sang istri. Haruskah dia berterima kasih pada sang keponakan? Akibat tindakan cerobohnya itu, justru Arga yang mendapat keberuntungan.
Malam ini, dia akan mendapatkan tubuh Fiona setelah wanita itu memberikan persetujuan secara sadar sepenuhnya.
Buk!!
Arga melempar pakaiannya ke sembarang arah. Matanya kini tertuju pada sosok perempuan yang sudah berbaring di depannya, siap untuk dieksekusi tanpa perlawanan.
"Apa sakit? Katakan jika itu terasa sakit. Aku akan lebih hati-hati."
Fiona menggeleng.
Karena situasinya masih kondusif, Arga kembali melakukan aksinya. Pelan tapi pasti, dia mulai menguasai wanita tersebut. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka berdua berada dalam kondisi kesadaran penuh.
CUP!
Berawal dari satu sentuhan di kening Fiona, sampah wanita itu mengerjapkan mata. Arga menatapnya dalam dan lama, mungkin tidak menyangka kalau mereka akan ada di titik sejauh ini.
Berikutnya, sentuhan bibir di kedua mata Fiona. Kemudian turun ke hidung dan berhenti sejenak di atas bibir.
Ada perasaan dan daya tarik yang sangat kuat, saat bibir Arga menyentuh lembut bibir wanitanya itu. Arga seolah tidak tahan jika harus melewatkan bagian ini.
Dengan penuh perasaan yang dalam dan mulai bergelora, ia pun pelan-pelan memberikan sesapan yang sangat lembut. Kelembutan yang mulai berubah menjadi keinginan yang begitu dalam dan membara.
Sesapan berubah lebih dalam dan penuh perasaan itu pun membuat keduanya beradu irama jantung. Saling mengejar, saling beriringan selaras dengan suara napas yang memburu.
"Fiona .. Aku tidak bisa menahannya lagi!" bisik Arga sembari melepaskan tautan bibirnya.
......................
langsung enddd kaakk😆😆😆
alkhamdulillah Happy end
yg musuh Tp menikah di lanjut kaaak 😃🙏
Di tunggu buku yng lain nya Thor
Tetap💪🏼💪🏼❤❤
d tunggu novel baru nya kak 🥰
Davin kabarnya gimana dia
jangan sampai me ngusik kebahagiaan ini za
Atau bu Sasmita pura2 sajah untuk menghindari hukum 😠😠😠