NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11. Respect

Mentari siang bersinar hangat ketika Acha melangkah keluar dari area Minimarket tempatnya bekerja.

Hari ini dia mendapat jadwal shift siang, yang berarti dia bisa pulang lebih awal sebelum petang menjelang.

Udara luar menyambut wajahnya yang sedikit lelah, namun pikiran gadis itu justru dipenuhi oleh pertarungan batin yang belum usai sejak semalam.

Sesampainya di rumah, suasana tampak tenang. Acha meletakkan tas kerjanya di atas meja ruang tamu, lalu merebahkan tubuhnya sejenak di sofa empuk sambil memijit pelipisnya yang terasa sedikit pening.

Bayangan wajah Nathan kembali melintas di benaknya, bergesekan dengan rasa takut dan keraguan yang masih enggan pergi.

Meski dia mencoba menepisnya dengan menyibukkan diri merapikan rumah, debaran di dadanya seolah mengingatkan bahwa hatinya kini tidak lagi sepenuhnya berada di tempat yang aman.

Suasana ruang tengah rumah orang tua Acha malam itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran rasa pedas yang membakar di lidahnya.

Di atas meja kecil di hadapan televisi, tersaji sebuah panci elektrik mini yang mengepulkan uap panas dengan aroma cabai merah yang begitu menyengat.

Tidak tanggung-tanggung, Acha yang sedang menikmati waktu kepulangannya ke rumah malam ini melampiaskan selera makannya dengan memasak tiga bungkus mie Samyang sekaligus, dipadukan dengan dua buah sosis dan dua buah bakso berukuran besar.

Kehadiran sang adik, Fitri, yang turut menemani malam itu, membuat suasana makan malam dadakan tersebut terasa semakin ramai.

"Wah, gila sih loh, ini beneran tiga bungkus buat kita berdua teh?!" seru Fitri sambil menelan ludah, menatap ngeri ke arah mangkuk besar yang penuh dengan mie berbalut bumbu merah pekat.

"Iya, biar puas aja gitu. Udah, ayo makan mumpung masih panas, kebanyakan nanya loh" jawab Acha santai,

Acha langsung melahap sesuap penuh mie dengan penuh semangat, seolah melupakan sejenak segala penat, lelah kerja di Minimarket.

Beberapa suapan pertama berjalan mulus. Namun, malapetaka kecil segera menghampiri Fitri. Baru setengah mangkuk mie berpindah ke piring kecilnya, keringat dingin sudah bercucuran di pelipis gadis remaja itu.

Bibirnya memerah, napasnya tersengal-sengal, dan dia langsung meletakkan garpunya sambil terbatuk-batuk kecil.

"Udah, Teh... Ampun! Loh beneran monster pedas ya, gue udah nggak sanggup lagi, lidah gue kayak mau copot tahu gak!" seru Fitri menyerah sambil mengibas-ngibaskan tangan ke depan mulutnya, meneguk segelas besar air dingin dengan terburu-buru.

Acha hanya tertawa renyah melihat ekspresi sang adik yang sudah angkat tangan, sementara dia sendiri masih tampak menikmati sisa-sisa mie pedas tersebut dengan lahap, seakan rasa pedas itu mampu meredakan gejolak di dadanya.

Tawa Acha yang renyah masih menggema di ruang tengah, memecah keheningan malam di rumah orang tuanya.

Di sudut ruangan, sang ibu—Ranti—yang baru saja keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum, menggelengkan kepala melihat aksi kedua putrinya.

"Kalian ini ya, malam-malam malah makan mie pedas kayak gitu. Nanti kalau perutnya sakit gimana, Acha, Fitri?" tegur Ranti dengan nada lembut yang sarat akan kasih sayang seorang ibu.

Fitri langsung mendongak, mengadu dengan wajah melas sambil menunjuk mangkuk besar di hadapan mereka.

"Mah, Si teteh tuh nyerobot bikin rekor monster pedas! Tiga bungkus sekaligus, mana kuat perut aku."

Acha hanya tersenyum lebar, menyodorkan sisa sosis dan bakso di mangkuknya ke arah sang ibu.

"Sini Mah, icip dikit. Kuahnya enak banget kok, dijamin nggak bikin sakit perut."

Ranti mendekat, mencubit pelan lengan Acha sambil tersenyum tipis. Kehangatan sederhana di rumah malam itu perlahan merayap menyelimuti hati Acha.

Di tengah kepenatan hidup merantau, tekanan pekerjaan di Minimarket, serta keraguan dan debaran hati yang mulai bercabang karena sosok cowok, berada di dekat keluarganya selalu berhasil menjadi tempat pelarian paling nyaman untuk mengisi kembali energinya.

Malam pun larut dalam gelak tawa kecil dan kebersamaan yang hangat, sejenak meredakan segala badai emosi yang sempat berkecamuk di dada Acha.

Sisa-sisa uap panas dari mangkuk Samyang masih mengepul tipis di atas meja ruang tengah. Sambil membereskan piring-piring kotor bekas makan malam darurat mereka, Acha melirik sekilas ke arah Fitri yang sedang asyik memainkan ponselnya di sofa.

Momen sunyi di larut malam itu mendadak terasa tepat bagi Acha untuk mencurahkan isi hatinya.

Mengingat adiknya itu sudah cukup dewasa untuk diajak berdiskusi soal percintaan, Acha akhirnya memutuskan untuk membuka suara.

"Fit..." panggil Acha ragu-ragu, sambil menyandarkan punggungnya di tepi sofa sebelah adiknya.

Fitri menoleh, mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa, loh? Tiba-tiba serius banget mukanya."

"Mm... Menurut loh, kalau ada cowok yang baru beberapa kali ketemu, terus tiba-tiba minta nomor telepon kita, respons kita harusnya gimana sih?" tanya Acha, mencoba bertanya se-netral mungkin meski rona merah tanpa sadar mulai merayap di pipinya.

Mendengar pertanyaan itu, mata Fitri langsung berbinar terang. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Acha penuh selidik.

"Hayo... ngaku! Siapa nih yang minta nomor loh teh? Ganteng nggak? Karyawan Minimarket juga?" cecar Fitri antusias, khas anak muda yang paling gercep kalau urusan gosip asmara.

Acha mendengus pelan, salah tingkah. "Ya... pokoknya ada deh. Orangnya sering mampir ke Minimarket tempat gue kerja. Tapi waktu dia minta nomor Handpone-gue, gue langsung tolak."

Bukannya mendukung, Fitri justru langsung membelalakkan mata tak percaya dan melotot ke arah kakaknya. Dia melipat kedua tangannya di dada dengan gaya protes.

"Hah?! Ditolak?!" seru Fitri tertahan, nyaris memekik saking kagetnya.

"Loh waras kan teh?! Kenapa ditolak, ampun deh! Jarang-jarang lho ada cowok nekat modus langsung kayak gitu di era sekarang. Harusnya tuh diterima, siapa tahu itu jalan buat loh move on dari masa lalu!"

Acha tertegun mendengar omelan sang adik. Rasanya, ucapan Fitri ini bagaikan replay dari omelan Vika di gudang Minimarket kemarin.

Rupanya, isi kepala kedua gadis di sekitarnya ini sama persis menganggap penolakannya sebagai sebuah kesalahan besar.

Melihat kakaknya hanya terdiam dengan ekspresi serba salah, Fitri semakin menjadi-jadi.

Gadis remaja itu mengibaskan tangannya di udara, seolah sedang menceramahi seorang anak kecil yang baru saja membuang kesempatan emas.

"Pokoknya, kalau cowok itu datang lagi ke Minimarket, loh nggak boleh sok jual mahal!" tegur Fitri dengan nada gemas.

"Udah, terima aja nomornya, atau giliran loh aja teh ngajak ngobrol duluan. Loh tuh ya, kelamaan sendiri gara-gara mikirin masa lalu yang nggak jelas ujungnya. Kapan mau punya gandengan baru kalau dikasih jalan malah ditutup?"

Acha mendengus pelan, menarik bantal sofa dan menutup wajahnya untuk meredam rasa salah tingkah sekaligus kekesalannya.

"Loh ini ya dek, masih kecil juga udah ngajarin gue buat genit," gerutu Acha dari balik bantal, suaranya terdengar muffled.

"Ih, bukan genit teh, namanya membuka hati!" sanggah Fitri tak mau kalah, lalu tertawa renyah sambil menarik bantal dari wajah kakaknya.

Malam semakin larut, namun omelan Fitri sukses membuat pikiran Acha semakin bergeming. Di balik rasa gengsi dan ketakutannya yang masih tersisa, jauh di sudut hatinya.

Kata-kata Vika dan Fitri mulai menanamkan satu keyakinan baru mungkin memang sudah saatnya ia berhenti bersembunyi di balik masa lalu dan bersiap menyambut babak baru dalam hidupnya.

Mentari pagi menyapa hangat keesokan harinya, menandakan berakhirnya waktu libur singkat Acha di rumah orang tuanya. Setelah berpamitan kepada Ranti dan Fitri.

Acha segera memesan ojek online untuk kembali ke kosannya sekaligus bersiap menghadapi jadwal kerja sif siang di minimarket tempatnya mencari rezeki.

Di atas motor yang melaju membelah jalanan kota yang cukup lengang, angin pagi berhembus menerpa wajah Acha.

Namun, bukan hanya udara segar yang ia rasakan pikiran gadis itu justru dipenuhi oleh percakapannya dengan Fitri semalam.

Omelan sang adik, ditambah nasihat Vika sebelumnya, terus berputar-putar di kepalanya, menantang benteng gengsi dan ketakutan yang selama ini ia pelihara.

Sesampainya di depan minimarket, Acha turun dari motor, membayar pesanannya, lalu melangkah masuk ke dalam toko dengan tarikan napas dalam-dalam.

Sambil merapikan seragamnya di ruang istirahat, sebuah pertanyaan tiba-tiba menyeruak di benaknya.

"Semangat, Cha! Hari baru, lembaran baru, dan... semoga pangeran cinta kamu mampir lagi," bisik Vika usil begitu melihat Acha keluar dari ruang istirahat dengan seragam kerjanya yang rapi.

Acha kontan melotot kecil, melempar gulungan tisu ke arah sahabatnya itu. "Apaan sih, Vik! Jangan mikir ke mana-mana deh."

Meski mengelak, dalam hati Acha tidak bisa memungkiri ada debar tak biasa yang bergemuruh. Jam operasional swalayan berjalan seperti biasa.

Menjelang sore hari, setiap kali pintu otomatis di depan berbunyi nyaring menyambut kedatangan pelanggan, kepala Acha secara tidak sadar selalu menoleh ke arah sana, berharap sosok tinggi berkaus kasual itu melangkah masuk.

Namun hingga jam menunjukkan pukul empat sore, sosok yang dinanti belum juga menampakkan batang hidungnya. Ada rasa lega, tetapi terselip pula secuil kekecewaan di sudut hatinya.

"Emangnya dia langganan tetap yang harus datang tiap hari?" batin Acha merutuki harapannya sendiri sambil sibuk memindai barang belanjaan di meja kasir.

Menjelang magrib, suasana swalayan berangsur sepi. Acha menarik napas panjang, mencoba fokus menyelesaikan sisa pekerjaannya, meyakinkan diri bahwa hari ini Nathan mungkin memang sedang sibuk dengan urusannya sendiri.

Jarum pendek jam dinding swalayan telah menunjuk ke angka delapan malam, menandakan shift kerja Acha sudah hampir usai.

Lonceng pintu otomatis kembali berdenting pelan saat seorang bapak paruh baya keluar membawa kantong belanjaan, meninggalkan area kasir yang kembali sunyi.

Acha merapikan tumpukan terakhir struk transaksi di mejanya, lalu menghela napas panjang—lebih mirip desahan kecewa yang tertahan. Sepanjang hari ini, matanya tak pernah benar-benar lepas dari arah pintu masuk.

Setiap kali pintu itu terbuka dan menimbulkan bunyi khasnya, ada debar penuh harap yang mendesak dadanya. Namun, hingga malam merayap dan lampu-lampu jalanan kota mulai berpendar terang, sosok Nathan sama sekali tidak muncul.

Rasanya aneh. Baru beberapa hari yang lalu ia mati-matian menolak memberikan nomor teleponnya demi menjaga jarak dan melindungi diri dari rasa sakit.

Namun sekarang, ketika pria itu benar-benar tidak datang, ada rongga kosong yang tiba-tiba mengganjal di dadanya.

"Nyariin siapa sih, Cha? Kamu keliatan lesu banget kayak kurang piknik gitu deh," goda Vika yang baru saja keluar dari gudang belakang dengan membawa beberapa botol minuman dingin untuk mengisi rak lemari pendingin.

Acha buru-buru menggeleng, merapikan letak clipboard di hadapannya untuk menutupi salah tingkah.

"Nggak ah, siapa juga yang nyariin orang. Capek aja, gerak terus seharian."

Vika menyunggingkan senyum penuh selidik, seolah bisa membaca dengan jelas isi kepala sahabatnya itu.

"Capek fisik apa capek hati karena yang ditungguin seharian nggak keliatan batang hidungnya hayo?" sindir Vika telak, membuat pipi Acha spontan memanas.

Acha mendengus pelan, memilih bungkam dan kembali sibuk merapikan barang-barang di mejanya. Dia merutuki perasaannya sendiri yang mendadak menjadi begitu sensitif.

Padahal, wajar saja jika Nathan tidak datang pria itu toh bukan pegawai swalayan tempatnya bekerja.

Namun, kejujuran di dalam lubuk hatinya tak bisa dibohongi—dia merasa sedih dan kecewa karena tidak bisa melihat senyuman ramah pria itu hari ini.

Lampu-lampu minimarket akhirnya dipadamkan satu persatu, menandakan jam kerja telah resmi berakhir.

Acha berjalan keluar melintasi teras toko yang mulai lengang, merapatkan jaketnya untuk menahan angin malam yang berhembus cukup kencang.

Sepanjang perjalanan pulang menuju kosannya, langkah kaki Acha terasa lebih berat dari biasanya.

Pikirannya terus berputar pada hari ini—hari di mana dia sudah membulatkan tekad untuk bersikap lebih ramah dan tidak menolak jika Nathan datang, namun semesta justru memilih untuk tidak mempertemukan mereka.

Sesampainya di kamar kosan, suasana yang sunyi seketika terasa begitu pekat. Acha melemparkan tasnya ke atas kasur, lalu merebahkan diri dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar.

Ponselnya tergeletak di samping bantal dalam keadaan mati layar. Tidak ada pesan masuk, tidak ada notifikasi, dan tentu saja tidak ada nama Nathan di sana.

Baru kali ini Acha merasa begitu asing dengan kesendiriannya sendiri. Dulu, dia sangat menikmati malam-malam tenangnya tanpa gangguan siapa pun.

Namun sekarang, keheningan itu justru menyisakan ruang hampa yang mengingatkannya betapa dia sangat merindukan kehadiran senyuman hangat dan sapaan ramah pria itu.

“Apakah aku benar-benar menyukai dia?” batin Acha pelan.

Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan saat menyadari bahwa benteng pertahanan yang dia bangun selama ini perlahan runtuh bukan karena paksaan orang lain, melainkan karena kerinduannya sendiri.

Keesokan paginya, Acha melangkah memasuki area minimarket dengan semangat yang jauh berbeda dibanding kemarin.

Ada sisa-sisa rasa penyesalan yang masih membekas di dadanya, membuat gadis itu bertekad pada dirinya sendiri jika hari ini Nathan kembali datang, dia tidak akan lagi bersikap dingin atau menolak ajakannya.

Sambil mengenakan seragam dan merapikan rambutnya di ruang istirahat, Acha beberapa kali menarik napas panjang untuk menetralkan debar jantungnya yang sudah bergemuruh sejak bangun tidur.

"Pagi, Cha! Kok keliatan udah siap banget tempur hari ini?" sapa Vika dari balik meja kasir sambil tersenyum penuh arti, seolah tahu persis apa yang sedang berkecamuk di kepala sahabatnya itu.

Acha hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan lemparan handuk kecil ke arah Vika, lalu mengambil posisinya di dekat meja kasir.

Hari baru telah dimulai, dan bersamaan dengan itu, sebuah harapan kecil kembali menyala di lubuk hatinya—berharap semesta kali ini berpihak dan mempertemukannya kembali dengan pria yang kini bertahta di pikirannya.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!