Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Puncak Pengkhianat
Udara di puncak gedung terbengkalai itu seketika membeku. Gemuruh angin malam yang tadinya menusuk kulit seolah lenyap, tergilas oleh aura permusuhan yang meletup antara Adrian Mahardika dan Dante Vance.
Aria menahan napasnya, dadanya sesak saat melihat moncong senjata di tangan Adrian terarah lurus tanpa getaran ke bagian tengah dada Dante.
"Adrian, turunkan senjatamu!" teriak Aria histeris seraya berusaha bangkit dari lantai beton. "Dia baru saja membantumu menyelamatkan nyawaku! Jangan lakukan hal gila ini!"
Adrian tidak mengalihkan pandangan matanya sedikit pun. Manik matanya yang berwarna cokelat gelap memancarkan kegelapan yang pekat—sebuah transformasi drastis dari sosok CEO lembut dan santun yang selama ini dikenal Aria.
"Pria ini yang menyeretmu ke dalam neraka ini sejak awal, Aria," desis Adrian dengan nada suara yang sangat dingin dan mematikan. "Dia memerasmu di pelabuhan, memaksamu mengikat janji suci di bawah ancaman kehancuran kerajaanku. Aliansi kita di lantai teratas ini hanya formalitas demi keselamatanmu. Sekarang kau sudah aman, dan dosa-dosa keluarga Vance harus selesai malam ini."
Dante Vance tidak bergerak mundur satu inci pun. Pria itu berdiri tegap dengan lengan kanan yang berdarah, menatap moncong pistol yang menempel beberapa sentimeter di dadanya. Sudut bibir sang Raja Mafia justru terangkat, membentuk senyuman miring yang penuh ejekan.
"Kau melihatnya sendiri, Aria?" suara bariton Dante terdengar sangat tenang, beresonansi tajam di tengah keheningan. "Pahlawan berjas bersihmu ini akhirnya melepas topengnya. Di balik topeng kesatria perlindungan yang ia pakai, darah dingin keluarga Mahardika mengalir deras di tubuhnya."
"Tutup mulutmu, Dante!" bentak Adrian, jarinya melengkung di atas pelatuk. "Kau pikir kau bisa merebut segalanya dariku dan melangkah pergi begitu saja? Kau merebut perusahaanku, merebut porsi pelabuhanku, dan sekarang kau merebut wanita yang paling kucintai dalam hidupku!"
"Aku tidak merebutnya, Adrian," balas Dante rapat, matanya yang abu-abu berkilat tajam. "Aria memilih datang padaku secara sukarela untuk menyelamatkan nyawamu yang malang di pelabuhan. Dia memegang cincinku dan dia memakai nama belakangku secara resmi."
Pernyataan Dante menancap telak, menyulut amarah di dalam dada Adrian hingga rahang sang CEO mengeras rapat.
"Maka malam ini dia akan menjadi janda," desis Adrian.
"Adrian, TIDAK!"
Aria melempar tubuhnya ke depan, mencengkeram lengan kanan Adrian dan menekan senjata itu ke bawah dengan seluruh sisa tenaganya.
"Jika kau menembaknya malam ini, kau tidak ada bedanya dengan Iblis yang selama ini kau benci, Adrian!" jerit Aria dengan air mata membanjiri wajahnya. "Kau bilang kau mencintaiku! Kau bilang kau ingin menjadi pria yang lebih baik dan membersihkan nama keluargamu! Apakah ini caramu membuktikannya?!"
Adrian tertegun. Kata-kata Aria menghantam kesadarannya bagaikan petir di tengah malam. Sang CEO menatap mata Aria yang dipenuhi oleh permohonan dan rasa sakit yang teramat sangat. Tangan Adrian yang memegang senjata perlahan-lahan gemetar.
Dante memperhatikan pergolakan batin di wajah Adrian, lalu melangkah maju secara perlahan, mendorong moncong senjata Adrian menjauh dari dadanya dengan satu jari.
"Ambil keputusanmu, CEO," ujar Dante dingin. "Kau bisa menembakku sekarang dan membuat Aria membencimu seumur hidupnya, atau kau bisa melangkah mundur dan membiarkan perang bisnis kita diselesaikan secara jantan di luar sana."
Adrian menatap Dante, lalu beralih menatap Aria yang menangis tersedu-sedu di depannya. Kepalan tangan Adrian melemah. Dengan napas yang memburu, sang CEO perlahan menurunkan senjatanya.
"Ini belum selesai, Dante," bisik Adrian dengan suara rendah yang penuh janji pembalasan. "Pernikahanmu dengannya dibangun di atas paksaan. Aku akan membongkar seluruh kejahatanmu dan merebutnya kembali lewat hukum dan kekuatan bisnis yang sah."
Dante terkekeh sinis, menyisipkan tangannya ke dalam saku celana. "Aku tunggu saat itu tiba, Adrian. Tapi ingat... dia adalah istri sah dari Dante Vance sekarang."
Adrian membalikkan tubuhnya, menatap Aria untuk terakhir kalinya malam itu. Ada kepedihan mendalam dan keteguhan baru di matanya. "Aku tidak akan menyerah padamu, Aria. Aku akan menunggumu di ujung permainan ini."
Adrian melangkah pergi membelah kegelapan malam, meninggalkan puncak gedung terbengkalai bersama pasukan pengawalnya yang tersisa.
Aria terduduk lemas di atas lantai beton, napasnya memburu hebat. Dante melangkah mendekat, berlutut di samping Aria, lalu merengkuh tubuh wanita itu ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh.
"Kau aman sekarang, istriku," bisik Dante lembut di puncak kepala Aria, mendaratkan ciuman hangat yang protektif.
Namun, di tengah dekapan erat sang Raja Mafia dan langkah kaki sang CEO yang menjauh, Aria menyadari bahwa pertempuran besar yang sesungguhnya di antara dua penguasa ini baru saja dimulai.