Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dentuman musik Electronic Dance Music kembali menggetarkan dinding kelab malam The Eclipse. Di salah satu sudut meja bar yang sedikit remang, Marco duduk sendirian. Kali ini, tidak ada air mineral dengan perasan lemon. Di tangannya terdapat segelas whiskey on the rocks yang sudah tandas separuh.
Mimpi buruk tentang lapangan kampus dan mawar merah muda yang hancur itu terus menghantuinya, membuat Marco tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Ia berharap alkohol bisa mematikan otaknya malam ini agar ia bisa tidur.
Namun, sepertinya takdir sedang sangat senang bermain-main dengannya.
"Hei! Bukankah itu Marco Maverick?!"
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Marco. Ia menoleh dan mendapati dua wajah yang sangat familiar dari masa lalunya. Aldo dan Kevin, teman satu jurusannya saat kuliah dulu. Sebelum Marco sempat merespons, kedua pria itu sudah menarik lengannya dengan paksa.
"Ayo gabung di meja kami, Tuan CEO! Kebetulan sekali kita bertemu di sini!" seru Aldo dengan napas berbau alkohol.
"Aku sedang ingin sendirian," tolak Marco dingin, berusaha melepaskan lengannya.
"Ayolah, jangan sombong begitu mentang-mentang sudah jadi bos besar!" Kevin ikut menariknya.
Marco tidak ingin membuat keributan di tempat umum yang bisa menjatuhkan nama Wiliam Group, sehingga ia akhirnya mengalah dan membiarkan dirinya diseret menuju sebuah meja VIP di lantai dua.
Namun, begitu tiba di meja tersebut, langkah Marco terhenti kaku. Darahnya seolah berhenti mengalir.
Di sana, duduk dengan anggun di tengah sofa memutar, adalah Alana. Wanita itu tersenyum manis melihat kedatangan Marco, seolah kejadian penolakan dingin di lobi hotel siang tadi tidak pernah terjadi.
"Lihat siapa yang kami temukan di bawah!" seru Aldo riang, menekan bahu Marco hingga pria itu terpaksa duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Alana.
"Wah, Marco! Lama tidak berjumpa!" sapa salah satu teman wanita di meja itu. "Kudengar kau makin sukses sekarang. Tapi... ngomong-ngomong soal masa lalu, kau masih ingat tidak hari bersejarah di lapangan kampus itu?"
Marco mematung. Rahangnya mengeras.
"Oh, tentu saja dia ingat!" Kevin tertawa terbahak-bahak, menuangkan minuman ke gelasnya. "Itu kejadian paling legendaris! Marco berlutut membawa cincin, beruang sebesar manusia dan mawar satu lapangan, lalu Alana membuang cincinnya begitu saja! Hahaha! Sumpah, wajahmu waktu itu bodoh sekali, Marco!"
"Benar! Aku sampai sakit perut menertawakanmu waktu Alana bilang itu cuma taruhan!" tambah Aldo, saling bertukar tos dengan Kevin. "Habisnya kau tidak sadar diri! Mana mungkin bidadari seperti Alana mau dengan pria konyol sepertimu waktu itu."
Di bawah meja, kedua tangan Marco perlahan mulai gemetar. Ingatan memalukan yang meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang pria kembali dikorek tanpa ampun. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyembunyikannya di dalam saku celana, berusaha keras menyembunyikan trauma dan serangan paniknya.
Wajah Marco memucat, namun ia mempertahankan raut datarnya sekuat tenaga.
"Hentikan, kalian semua," tegur Alana tiba-tiba. Nadanya dibuat selembut dan semenyedihkan mungkin.
Suara tawa di meja itu mereda. Alana mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Marco dengan tatapan penuh penyesalan yang terlihat sangat meyakinkan.
"Kalian tidak boleh mengungkit hal itu lagi," ucap Alana sedih. Ia lalu beralih menatap Marco. "Marco, aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal sudah melakukan hal sekejam itu padamu. Saat itu aku masih sangat muda, kekanak-kanakan dan bodoh."
Marco masih terdiam. Napasnya mulai terasa sesak. Marah, muak, dan trauma bercampur menjadi satu, membuat suaranya tercekat di tenggorokan.
"Dan sekarang... aku ingin menebus semuanya," lanjut Alana, suaranya sedikit bergetar. Ia memberanikan diri mengulurkan tangan, menyentuh lutut Marco. "Aku tahu, sampai detik ini kau belum pernah bersama siapa-siapa. Tidak ada satu pun wanita yang kau gandeng. Dan aku tahu... itu semua karena diriku. Kau terluka karena perbuatanku, kan?"
Teman-teman di meja itu menahan napas, menatap drama di depan mereka dengan mata berbinar penasaran.
"Oleh karena itu, Marco," Alana menatapnya dengan mata berkaca-kaca, "berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Biarkan aku menyembuhkan lukamu. Aku ingin menjadi kekasihmu."
Keheningan mutlak melanda meja VIP tersebut.
Marco benar-benar tak bisa berkata-kata. Jauh di dalam hatinya, amarahnya mendidih hingga mencapai ubun-ubun. Keputusasaan dan rasa jijiknya pada wanita ini sudah tak tertahankan.
Alana benar-benar tidak tahu malu. Wanita ini hanya melihat hartanya, gelarnya, dan menggunakan dalih 'rasa bersalah' untuk menjeratnya kembali.
Marco ingin berteriak, ia ingin memaki, tapi traumanya menahan pita suaranya.
Namun, tepat sebelum Marco kehilangan akal sehatnya, sebuah aroma wangi yang elegan menyeruak ke indera penciumannya.
Seseorang tiba-tiba melangkah dari arah belakang sofa. Sepasang lengan putih yang ramping dan mulus melingkar dengan luwes di leher Marco. Kemudian, satu lengan putih itu turun menyentuh lengan Marco dengan penuh rasa kepemilikan yang posesif.
"Sayangnya... Marco tak akan bisa menerimamu."
Suara serak yang luar biasa menggoda dan berkelas memecah keheningan.
Semua mata di meja itu serempak mendongak. Aldo dan Kevin bahkan sampai membuka mulut mereka lebar-lebar, lupa caranya bernapas.
Di belakang Marco, berdirilah Isabel.
Gadis itu tampil dengan paripurna. Dress sutra hitamnya yang pas badan mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut bergelombangnya ditata jatuh ke satu sisi bahu. Lipstik merah meronanya menghiasi bibir yang kini menyunggingkan senyum angkuh namun mematikan. Kecantikannya di level yang sama sekali berbeda, membuat Alana yang sejak tadi merasa menjadi primadona tiba-tiba terlihat seperti pelayan restoran di sebelahnya.
"Dia..." Isabel menatap tajam ke arah Alana, mempererat pelukannya di lengan Marco. "...sudah menjadi milikku."
Marco tersentak hebat. Ia menoleh ke samping. Begitu melihat wajah cantik bak dewi yang berada terlalu dekat dengan wajahnya, ditambah dengan aroma parfum wanita yang menyengat indera penciumannya, refleks penolakan Marco langsung bekerja.
"A-apa yang kau lakukan?!" bisik Marco panik. Ia berusaha menarik lengannya dengan kasar, berniat mendorong wanita cantik yang tidak dikenalnya ini menjauh. Ia benci disentuh oleh wanita cantik.
Namun, sebelum Marco berhasil melepaskan diri, Isabel mendekatkan bibirnya ke telinga Marco.
"Diamlah!" bisik Isabel tegas, suaranya hanya bisa didengar oleh Marco. "Aku sedang membantumu. Aku rela menjadi tamengmu hari ini."
Marco mematung. Matanya membulat menatap wajah cantik itu dari jarak dekat.
"Anggap saja..." Isabel tersenyum manis ke arah teman-teman Marco, namun bisikannya di telinga pria itu terdengar tajam. "...sebagai bentuk balas budi karena kau juga sudah menyelamatkan aku di lorong kelab ini beberapa waktu yang lalu, Tuan Maverick."
Seketika, kepingan ingatan Marco kembali pada kejadian waktu itu. Wanita bergaun merah yang dikejar preman. Wanita sinting yang ia usir karena parfumnya. Pantas saja wajahnya terlihat familiar.
"Kau..." desis Marco, tak percaya wanita gila itu muncul lagi.
Isabel mengabaikan keterkejutan Marco. Ia kembali menatap Alana yang kini berwajah pucat pasi dan terlihat sangat terhina.
"Jadi, Nona Masa Lalu," ucap Isabel dengan nada meremehkan yang sangat elegan, "singkirkan tanganmu dari lutut pria-ku, dan berhentilah bermimpi bisa mendapatkannya sebelum aku benar-benar marah. Permintaan maafmu ditolak."
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣