Xin Yue, seorang wanita cantik dengan kecerdikan yang mematikan, hidup dari mencuri dan membunuh. Namun, sebuah insiden membuatnya terlempar ke dunia kuno tanpa apa-apa selain wajahnya yang menipu dan akalnya yang tajam. Ketika dia mencuri identitas seorang wanita misterius, hidupnya berubah drastis—dari buronan kekaisaran hingga menjadi bunga paling dicari di Ruoshang, tempat hiburan terkenal.
Di tengah pelariannya, dia bertemu Yan Tianhen, pangeran sekaligus jenderal dingin yang tak pernah melirik wanita. Namun, Xin Yue yang penuh tipu daya justru menarik perhatiannya.
Dipaksa berpura-pura menjadi kekasihnya, keduanya terjebak dalam hubungan yang penuh intrik, adu kecerdikan, dan momen-momen menggemaskan yang tak terduga.
Akankah Xin Yue berhasil bertahan dengan pesonanya, atau akankah hatinya sendiri menjadi korban permainan yang ia ciptakan?
Tagline: Di balik wajah cantiknya, tersembunyi rencana yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Tangga yang Terus Naik, Perasaan yang terus tumbuh
Setelah kembali dari perjamuan istana, Xin Yue kembali menjalani harinya di Ruoshang. Berkat keberhasilannya menyusup ke pesta dan membawa informasi penting, peringkatnya naik lagi. Kini, ia hanya terpaut dua tingkat dari Ru Jian, yang selama ini menjadi salah satu anggota paling dihormati di Ruoshang.
Ru Jian yang mendengar kabar itu langsung mendatangi Xin Yue di ruang istirahat. Dengan ekspresi pura-pura dramatis, dia menjatuhkan diri di kursi di sebelah Xin Yue.
"Xin Yue, kau ini monster atau apa? Bagaimana bisa kau naik secepat ini? Apa kau punya rahasia yang tidak kuketahui?" tanyanya sambil menatapnya dengan mata melebar seolah-olah Xin Yue adalah makhluk asing.
Xin Yue hanya mendengus, menyesap tehnya tanpa memandang Ru Jian. "Rahasia? Tentu saja aku punya. Namanya kerja keras dan otak. Kau harus coba sesekali, Ru Jian."
Ru Jian langsung menepuk dadanya dengan dramatis. "Astaga! Kau benar-benar kejam, Xin Yue. Apa kau tidak punya hati?"
Xin Yue meliriknya dengan tatapan datar. "Hati itu tidak berguna di tempat ini, Ru Jian. Lagipula, kau tidak sedang berharap aku jadi lembut, kan?"
Ru Jian mendesah panjang. "Tentu saja tidak. Kalau kau tiba-tiba jadi lembut, aku malah takut kau dirasuki roh jahat."
Xin Yue tersenyum sinis. "Bagus kalau kau sadar. Sekarang, berhenti menggangguku. Aku sedang menikmati tehku."
Namun, bukannya pergi, Ru Jian justru mendekatkan wajahnya ke arah Xin Yue, matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Hei, kau serius tidak punya rahasia lain? Jangan-jangan kau punya trik curang? Atau... kau menyuap Madam Hua?" bisiknya dengan nada penuh drama.
Xin Yue mendengus dan dengan cepat mendorong wajah Ru Jian menjauh. "Kalau kau tidak mau aku melemparmu keluar dari ruangan ini, berhentilah bicara omong kosong."
"Aduh, kasar sekali!" keluh Ru Jian sambil mengusap wajahnya. "Kau ini benar-benar barbar, tahu?"
Xin Yue mengangkat bahu santai. "Dan kau benar-benar terlalu banyak bicara. Kita impas."
Hari itu, suasana Ruoshang cukup tenang sampai Madam Hua memanggil mereka berdua ke ruangannya. Xin Yue berjalan dengan langkah santai, sementara Ru Jian mengikuti di belakangnya sambil terus mengomel.
"Kenapa aku selalu dipasangkan denganmu? Kau tahu kan, setiap kali kita bekerja sama, aku selalu berakhir dengan luka atau hampir mati?" katanya dengan nada setengah bercanda, setengah mengeluh.
Xin Yue meliriknya dengan senyum kecil. "Karena kau tahu aku tidak bisa mati, jadi kau merasa aman bersamaku."
Ru Jian langsung berhenti berjalan dan menunjuk Xin Yue dengan ekspresi dramatis. "Astaga! Kau benar-benar percaya diri, ya? Apa kau pikir kau ini dewa atau apa?"
"Lebih baik dari itu," balas Xin Yue sambil terus berjalan tanpa menoleh.
Ru Jian hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengikuti di belakang. "Aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan bekerja denganmu."
Di dalam ruangan Madam Hua, mereka disambut dengan tatapan serius. Wanita itu duduk di kursinya dengan postur anggun, tetapi ada aura tegas yang tidak bisa diabaikan.
"Aku punya tugas baru untuk kalian," katanya langsung, tanpa basa-basi.
Ru Jian langsung menegakkan tubuhnya, sementara Xin Yue hanya bersandar santai di dinding.
"Apa kali ini, Madam?" tanya Xin Yue dengan nada datar.
Madam Hua mengangkat alis. "Penyelidikan. Ada kelompok baru yang muncul di bawah tanah, dan mereka mulai menarik perhatian pihak istana. Aku ingin kalian menyusup ke pesta yang akan mereka adakan minggu depan dan mencari tahu siapa pemimpin mereka."
Ru Jian langsung menghela napas panjang. "Pesta lagi? Kau tahu aku tidak suka keramaian, Madam."
Xin Yue menyeringai. "Bagus. Aku bisa mencuri perhatian semua orang sementara kau bersembunyi di sudut."
Madam Hua melirik mereka berdua dengan tajam. "Ini bukan lelucon. Aku butuh hasil yang jelas, dan aku tidak ingin ada kesalahan. Mengerti?"
Xin Yue mengangguk santai. "Tentu saja, Madam. Aku tidak pernah membuat kesalahan."
Ru Jian menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Kau serius? Kau hampir membuat kita mati minggu lalu."
"Itu bukan kesalahan. Itu dinamika," balas Xin Yue dengan senyum tipis.
Madam Hua menghela napas panjang. "Kalian berdua benar-benar pasangan yang menarik. Sekarang pergi, dan siapkan diri kalian."
Saat mereka keluar dari ruangan, Ru Jian menatap Xin Yue dengan tatapan putus asa.
"Aku punya firasat buruk tentang ini," katanya pelan.
"Bagus. Itu artinya kau siap," balas Xin Yue sambil menepuk bahunya dengan keras.
"Aduh! Apa kau selalu harus menggunakan kekuatan penuh setiap kali menyentuh seseorang?" keluh Ru Jian sambil menggosok bahunya.
"Selalu," jawab Xin Yue santai sambil melangkah pergi.
Ru Jian hanya bisa menghela napas panjang. "Astaga, aku benar-benar akan mati muda karena gadis ini."
***
Di mansionnya yang megah, Yan Tianheng duduk di ruang latihan dengan pedang di tangannya. Namun, kali ini, pikirannya tidak tertuju pada latihan seperti biasanya. Ia terus memikirkan gadis itu—Xin Yue.
Gadis yang seenaknya menariknya ke dalam masalah, mencuri ciumannya, dan kini, muncul di pesta dengan pria lain. Wajahnya semakin masam setiap kali bayangan itu melintas di benaknya.
Yan Tianheng mencoba mengusir pikirannya dengan memutar pedang di tangannya, tapi fokusnya terus terganggu. "Kenapa aku terus memikirkannya?" gumamnya dengan nada frustrasi.
Di sisi lain ruangan, Li Jun, wakil jenderalnya, sedang bersandar di dinding sambil mengamati Tianheng dengan alis terangkat. Dia sudah lama mengenal pria itu, tapi jarang sekali melihatnya seperti ini.
"Hei, kau kenapa?" tanya Li Jun akhirnya.
Yan Tianheng meliriknya sekilas, lalu kembali mengayunkan pedangnya tanpa menjawab.
Li Jun mendekat dengan senyum menggoda. "Jangan bilang... ini tentang gadis itu?"
Pedang di tangan Yan Tianheng berhenti di udara. Dia menoleh dengan tatapan tajam, tapi wajahnya sedikit memerah. "Apa maksudmu?"
Li Jun tertawa kecil. "Kau tahu maksudku. Gadis yang kau kejar di pesta malam itu. Gosip di ibu kota sudah tersebar luas, kau tahu. Semua orang bilang kau akhirnya jatuh cinta."
"Omong kosong," balas Yan Tianheng dingin, tapi dia segera memalingkan wajahnya, tidak ingin Li Jun melihat ekspresi gelisahnya.
Li Jun semakin penasaran. "Oh, ayolah, Tianheng. Kau tidak perlu malu. Kalau kau benar-benar menyukainya, kenapa tidak cari tahu lebih banyak tentang dia?"
"Aku tidak menyukainya," jawab Yan Tianheng cepat, suaranya lebih keras dari yang dia maksudkan.
Li Jun mengangkat tangan, berpura-pura menyerah. "Baiklah, baiklah. Kau tidak menyukainya. Tapi kau jelas-jelas memikirkannya, kan?"
Yan Tianheng menghela napas panjang, lalu melemparkan pedangnya ke samping. "Dia membuatku bingung."
Li Jun tertawa kecil. "Itu tandanya kau benar-benar menyukainya."
"Diam," balas Yan Tianheng sambil menatap Li Jun dengan tajam. Tapi Li Jun tidak terlihat takut sama sekali.
"Baiklah, aku akan diam. Tapi aku punya ide. Kalau kau tidak bisa berhenti memikirkannya, kenapa tidak kita berlatih tanding saja? Siapa tahu itu bisa mengalihkan pikiranmu."
Yan Tianheng menatap Li Jun selama beberapa detik, lalu berdiri. "Bagus. Aku memang butuh sesuatu untuk melampiaskan kekesalanku."
Li Jun tiba-tiba merasa menyesal telah mengusulkan ide itu. "Tunggu, tunggu! Aku bercanda! Kau tahu aku tidak bisa mengalahkanmu, kan?"
Tapi Yan Tianheng sudah mengambil pedangnya lagi, matanya bersinar tajam. "Aku tidak peduli. Kau yang menawarkan."
Li Jun hanya bisa menghela napas panjang. "Baiklah, tapi kalau aku mati, kau yang harus menjelaskan pada Kaisar."
Beberapa menit kemudian, suara dentingan pedang memenuhi ruangan. Yan Tianheng menyerang dengan kekuatan penuh, sementara Li Jun hanya bisa bertahan dengan susah payah.
"Tianheng! Kau serius ingin membunuhku, ya?" teriak Li Jun di tengah serangan.
Yan Tianheng tidak menjawab, tapi serangannya semakin cepat. Li Jun mulai berkeringat deras. "Astaga! Aku hanya bercanda soal gadis itu! Kau tidak perlu melampiaskan semuanya padaku!"
Yan Tianheng akhirnya berhenti, menurunkan pedangnya dengan napas terengah-engah. Dia menatap Li Jun yang hampir jatuh ke lantai, lalu berkata dengan nada datar, "Kau terlalu lemah."
Li Jun memandangnya dengan tatapan putus asa. "Aku lemah? Tidak, kau yang terlalu kuat! Dan aku yakin ini karena kau tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu!"
Yan Tianheng tidak menjawab, tapi wajahnya sedikit memerah. Dia mengambil handuk dan berjalan keluar ruangan tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Li Jun hanya bisa menggelengkan kepala sambil duduk di lantai. "Astaga, gadis itu benar-benar membawa bencana untukku."