NovelToon NovelToon
Unicorn

Unicorn

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cintapertama
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: han sayang

"ini kisah gue dan rumit nya orang-orang di sekitar gue" - Han

Hidup Han mulai berubah setelah Yuna-Sahabat masa kecil nya- pindah ke sekolahnya. perlahan kisah cinta yang hanya sebuah rasa yg terpendam mulai bermekaran di masa SMA nya. siapa sangka teman teman nya saling berkaitan dengan kisah cintanya masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon han sayang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 [Kekacauan]

AW-Thor POV

Setelah rapat OSIS, Chan hendak menyusul Han ke ruang musik untuk mempersiapkan Busking di hari minggu nanti, masih ada 4 hari untuk mereka bersiap sebelum akhirnya akan tampil di taman kota. Pemuda itu berjalan dengan santai di koridor sembari membuka grup chat nya bersama teman-temannya. langkahnya terhenti saat medengar suara gadis yang tak asing di belokan koridor itu.

"Udah sini aku aja yang bantu bawa."

"Gak apa apa Kak, ini gak berat, aku bisa kok. Kakak latihan basket aja udah ditungguin kan katanya."

"Sans mereka mah kalo buat lo apa aja gue bias," jawab kakak kelas itu santai.

"Ngga apa-apa Kak. beneran, aku udah di tungguin. Aku duluan ya." Baru saja gadis itu hendak melangkah tangannya di pegang oleh kakak kelas itu, Lia terkejut dan langsung membalikan badan menghadap ke kakak kelas itu.

Kakak kelas itu tersenyum sinis, "Lo selalu ngehindarin gue, kenapa? lo gak suka sama gue?"

"Bukan gitu Kak, aku cuma ngga nyaman, maaf ya." jawab Lia sedikit gelagapan mencoba mejauh namun tangannya dipegang kuat oleh kakak kelas itu.

"Udah sok cantik sombong pula, lo kira gue suka sama lo? jangan geer gue cuma mau bantuin lo." Bela nya masih yang lebih terkesan memarahi.

"Iya makasih Kak, tapi ngga perlu, aku duluan," balas Lia dengan sopan, namun tangannya masih ditahan pemuda itu.

"Lepas." sebuah suara dingin dan tajam terdengar di belakang gadis itu.

"Dia gak nyaman, lo bisa lepasin tangannya sekarang." ucap Chan berdiri di sebelah Lia. "Lo abis dari mana?" tanya Chan lembut.

"Abis dari fotokopian," jawab Lia pelan, wajah gadis itu terlihat pucat.

"Kan gue bilang jangan sendiri, bisa sama gue kan?" Chan menarik tangan Lia yang sudah terlepas dari kakak kelas itu. Kemudian ia melirik ke arah kakak kelasnya.

"Dan buat lo, meski lo kelas 12 gue gak akan diem kalo lo masih ganggu dia, lo tau siapa gue kan?" ancam Chan, pemuda itu mengepalkan tangannya tak bisa melawan.

Chan langsung membawa Lia berbalik arah, ia mengambil tumpukan kertas yang gadis itu bawa. "Ini bisa dikerjain orang lain kan?"

"Anak-anak yang lain pada ngga bisa," jawab Lia.

Chan berhenti sebentar melihat ekspresi gadis itu yang sudah hampir menahan tangis. "Kalo lo ngga suka lo harusnya nolak mereka dengan tegas, kalo lama-lama dibiarin mereka makin ngelunjak gangguin lo nya."

"Iya." jawabnya singkat

"Gue ngga marahin lo, gue gini karena khawatir. Gue ngga bisa selalu ada jagain lo."

"Gue juga ngga minta dijagain sama lo." Lia menghadap ke arah pemuda itu, mengambil kertas yang dibawa Chan.

"Lo kalo udah capek sama gue lo bisa pergi, maaf karena bokap gue, lo ngga bisa bebas." Lia berlalu meninggalkan Chan yang terdiam di sana.

Chan menyusul memegang tangan gadis itu. "Lo kenapa?" tanya Chan menghentikan langkah Lia.

"Gue ngga mau jadi beban buat lo, gue bisa urus diri gue sendiri."

"Lo bukan beban buat gue."

"Terus apa?" Chan terdiam. "Gue bukan beban buat lo, terus bagi lo gue ini apa? kita ngga sedekat itu untuk sebagai sahabat."

"Lo orang yang harus gue jaga." jawab Chan.

Lia tertawa hambar, "Bullshit." ia menghempaskan tangan pemuda itu dan meninggalkan Chan yang kini tak menyusulnya, pemuda itu hanya bisa menghela napas.

****

Han terbangun dari tidurnya ia tak menyangka bahwa ia akan tidur selama ini. Pemuda itu bangun dan meliat sekeliling ruangan itu sudah sepi, sepertinya tidak ada yang membangunkannya. Han melihat jam di ponselnya. Sudah pukul setengah 6 sore dan ia sudah tidur dua jam lebih. pemuda itu membuka satu persatu chat yang masuk

Yeji

\Kalo udah bangun langsung pulang, kita latihan besok pagi aja sebelum masuk

^^^Han^^^

^^^Ehh Sorry lo kenapa gak bangunin gue?\^^^

Yeji

\Suru Chan jangan di bangunin

\Lo mau dikunciin di ruang musik katanya

"Sialan." Umpa Han. Pemuda itu langsung mengambil tas nya dan keluar dari ruang musik dan tak lupa ia mengunci pintu dan jendela agar tidak ada yang menyusup ke ruangan itu. Dengan langkah tergesa-gesa Han langsung menuju parkiran yang sebentar lagi ditutup oleh penjaga sekolah.

Di perjalanan pulang ia bertemu Seungmin yang akan menyebrang ke halte Bus.

"OI! Lo baru pulang?" sapa Han menghentikan motornya di depan Seungmin.

"Lo ngehalangin gue nyebrang Han," ucap pemuda itu datar. Han terkekeh kemudian memajukan motornya. "Sini bareng gue aja, tidak dipungut biaya apapun!"

"Gue mau ke tempat Les."

"Nah bagus searah, ayo gas."

"Lo bawa helm dua?" tanya Seungmin, Han menghela napas pemuda ini selalu banyak tanya saat Han menawari tumpangan

"Bawa 2 udah standar SNI, ngga bau rambut orang, aman gue bawa SIM lengkap. Udah kan? Ayo!"

"Gue gak patungan bensin, kan?" Han melongo dan langsung berekspresi sebal pada Seungmin yang kemudian tertawa.

"Oke Thanks ya." Lanjut pemuda itu kemudian menaiki motor Han.

Mereka berdua bergerak meninggalkan gerbang sekolah, sampai di tempat Les Seungmin yang juga merupakan tempat les anak-anak kaya dan bergengsi Seungmin turun dari motor han namun matanya tertuju pada seseorang yang ia kenal sedang berdiri di ujung gang dekat gedung mereka, ia menepuk bahu Han. "Itu Lia anak kelas kita bukan sih?" tanya pemuda itu, menunjuk seorang gadis yang dikelilingi beberapa cowok yang tak terlihat ramah.

"Ehh iya anjirr, ayo ke sana kita tolongin," ucap Han panik.

"Lo aja, gue udah telat." Jawab seungmin dengan acuh, Seungmin melangkah masuk ke gedung itu. Han berdecak kebingungan. Jika ia tinggalkan takutnya orang-orang itu macam-macam. Chan juga tidak terlihat di sekitar sini, dengan nekat, ia akhirnya membawa motornya menuju ke arah gadis itu.

"Oiii Lia, Lo ngga les?" sapa Han yang baru saja turun dari motornya menghampiri Lia.

Lia tersentak dan langsung mendekat ke arah Han. "Lo kenapa?" bisik pemuda itu.

"Mereka mau gangguin gue." Balas Lia berbisik juga.

"Mampus gue gak bisa berantem, mana Chan?" Han mengarahkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari seorang yang bisa diminta bantuan, namun tak ada siapapun di sana selain pengendara mobil.

"Gue ngga sama dia." Jawab Lia lesu.

Pemuda itu terkejut. "Lo berantem sama Chan?"

"Bisa jadi." Lia menghela napas.

"Lo berdua bisikin apa?" ucap Kakak kelas yang bersama Lia di koridor waktu itu.

"Ahh ini Kak, katanya Lia mau ke tempat les nya jadi kita duluan ya, guru nya kiler. Kakak tau miss Wendy nahh lebih serem dari itu. kalo dia telat takut kena semprot heheh..." Lia yang berada di samping pemuda itu menepuk keningnya, Han ini bisa gak sih jawab nya lebih serius dikit minimal kaya berani lah, kalo gini malah dia yang nanti kena marah cowok-cowok di depan mereka. Begitu pikirnya. Dan tentu saja Kaka kelas itu mendecih sinis yang diikuti oleh kekehan dari teman-temannya.

"Gak usah ikut campr lo, jangan sok jadi pahlawan. Gue Cuma ngasih pelajaran buat cewek ini yang udah ngerusak harga diri gue."

"Kalo gitu harga diri nya tinggal di benerin, saya ada lakban sama hekter mau?" jawab Han bercanda, Lia menarik tangan pemuda itu dan kembali berbisik. "Mending lo bawa gue kabur aja gak sii kalo gini." Bisik cewek itu.

"Dia kalah taruhan buat deketin nih cewek, lo mending cabut tinggalin kita sama cewek ini kalo masih mau aman." Sahut teman komplotan itu.

Han yang masih ingin bernego mencari cara damai kemudian berkata, "Tarr.... kalian kan anak basket yang bentar lagi mau tanding PON, kalo bikin keributan bahaya loh, jadi mending lupain aja dah, damai aja damai oke? nah terus Lia pergi sama gue oke?"

Senior basket merasa ia sedang dipermainkan, "Berisik lo!" sentaknya kemudian Han ditarik ke arah mereka dan di tendang sampai tersungkur ke bawah. "UHUK!"

"Han!" teriak Lia kaget gadis itu menghampiri Han yang memegangi perutnya.

Pemuda itu terkekeh, "Wah pelanggaran ini, kalian kalo mukulin gue bisa kacau lo, nanti si Lino ngamuk."

"Persetan sama tuh bocah, adek kelas gak tau diri, lo mending cabut sekarang!" ancam orang itu.

Han berdiri menarik Lia ke belakangnya. "Gak bisa, kalian semua punya niat gak baik sama temen gue." Ucap nya serius.

"Masih mau ngelunjak ya lo!" Kakak kelas itu menarik kerah Han dan menonjok pelipis pemuda itu hingga Han kembali terjatuh.

"HAN!" teriak Lia panik, mata nya sudah berkaca-kaca

"Oke gue salah, udah cukup. Kalian bisa lepasin dia, gue ikut kalian oke, tolong jangan pukul dia." Ucap Lia yang menghadang kakak kelas itu.

"Lo harusnya ngga banyak tingkah dari kemarin."

Gadis itu mengangguk dengan mata yang sudah menangis, "Iya gue minta maaf sekarang lepasin dia."

Han bangun dan menarik Lia ke belakangnya. "Ngga! Emangnya apa salah lo? lo ngga perlu ngeladenin mereka yang cuma mau manfaatin dan mainin lo? Gue kasih tau ya, lo semua itu sampah yang harus dibuang sambil nge-dribbel bola tau gak-UHUK."

"Anjing, biar gue selesain dialognya dulu ege." Protes Han yang kembali kena tonjok

"Banyak bacot ya lo!" ucapnya setelah menendang Han hingga tersungkur

Kakak kelas itu menarik Lia ke sampingnya, "Lo harus pacaran sama gue dan bilang ke anak Voli biar gue yang menang taruhan."

"I-" belum sempat Lia menjawab terdengar suara motor mendekat ke arah mereka.

"Apa-apaan ini? Lo kenapa Han?" Suara Interupsi Lino mengegetkan mereka yang ada di sana. Lia tersentak saat melihat Seungmin, Changbin, Lino dan Bang Chan menghampirinya.

"Lo apain temen gue?" tanya Changbin yang marah melihat Han tersungkur kesakitan.

"Aman brother." Ucap Han menenangkan mereka.

"Lo gak kenapa-napa? Ada yang luka ngga?" tanya Chan pada Lia gadis itu menggeleng, namun kakak kelas itu merangkulnya kuat, Lia mencoba melepaskan diri dari cengkkraman senior itu. Chan menatap itu marah dan mendekat ke arah gadis itu. "Lia tutup mata lo!" perintah Chan, gadis itu menurut dan menutup matanya

BUAGHH.... Chan melayangkan tendangannya ke perut pemuda itu hingga termundur beberapa langkah. Tanpa basa basi pemuda itu menghujaninya dengan pukulan tanpa sempat mengelak.

Tanpa bicara Lino langsung menghajar mereka satu persatu, pemuda itu memukul mereka brutal juga dibantu oleh Changbin yang entah kenapa terlihat menyeramkan dari biasanya.

"Lo gak apa-apa?" tanya Seungmin. "Bego, makanya kalo mau bantu tuh persiapan dulu."

"Lo yang panggilin mereka?" tanya Han merintih memegangi perutnya

"Gue nge chat di grup." Seungmin menujukan riwayat chatnya.

SKZ2021

Seungmin : Lia lagi dikeroyok kakak kelas si Han sok jagoan nyamperin sendirian

Lino : Dimana?

Seungmin : Depan gang tempat Les gue

Chan : OTW

Hyunjin : Anjirr gue udah sampe rumah woi!

Felix : gue yakin Chan Lino udah cukup buat lawan mereka, jadi gue nyusul nya nanti aja

Changbin : OTW

"Sial." Umpat Han, "Lino besok mau ke Jogja, kalo ketauan bapaknya lagi gelut gini bisa dikurung di rumah."

Han berdiri mencoba menghadang, Seungmin membawa Lia ke tempat yang aman meski gadis itu sambil menutup mata. "Udah woi Lino, Lo kalo bikin keributan bisa ketauan bapak lo! Udahan sebelum ada yang panggil polisi!" teriak Han sesekali ia memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.

Lino berhenti, ia menyeka darah di bibirnya yang sobek. Dan menginjak beberapa kakak kelas yang sudah tersungkur babak belur. "Gue ingetin muka lo semua!"

Kemudian Lino melangkah ke arah Chan untuk menghentikan pukulan Chan untuk orang yang merangkul Lia tadi. "Udah, lo ngga liat cewek lo udah gemeter ketakutan?"

"Woi Changbin, telepon ambulan, singkirin mereka!" titah Lino, Changbin langsung menurut dan melempar lawannya ke belakang. Pemuda itu langsung menghubungi seseorang di teleponnya.

"Lo gak apa-apa?" tanya Chan pada Han.

"Aman, gue cuma kena pukul dikit." Jawab pemuda itu. Chan menghela napas lega, ia menghampiri Lia yang masih menutup matanya. "Lo udah bisa buka mata, tapi cukup liat ke gue aja,"

Lia membuka matanya, gadis itu tersentak melihat noda darah di baju Chan, ia melihat wajah pemuda itu yang baik-baik saja tanpa luka, Lia menghela napas lega meski wajahnya sudah pucat pasi, kaki nya lemas karena takut. Gadis itu terduduk ke bawah memegangi tangannya yang bergetar kemudian menangis.

"Ini salah gue, karena gue Han kena pukul."

"Ini bukan salah lo, si Han emang sok jagoan." Jawab Lino acuh. Han mendecih ke arah temannya itu.

Pemuda itu menghampiri Lia, "Lo ngga diapa-apain kan sama mereka?" tanya Han, Lia menggeleng.

"Makasih ya," ucap La tulus pada pemuda itu.

Chan menghela napas keras, pemuda itu membuka jaketnya dan memakaikannya pada Lia. "Kan gue udah bilang pulang sama gue." Ucapnya lembut sambil membantu gadis itu berdiri.

"Kalian anter Han ke rumah sakit, gue pulang sama Lia."

"Gue gak kenapa-kenapa ngapain harus ke rumah sakit? Nyokap gue bisa pingsan kelo denger gue di rumah sakit!" Tolak Han.

"Berisik lo! Ayo ke rumah sakit bokap gue!" omel Changbin yang langsung menyeret Han ke mobilnya, Lino dan Seungmin mengikuti.

"Gue ngga usah pulang, bentar lagi kelas gue masuk, gue harus Les." Tolak Lia, ia mengebalikan jaket Chan kembali.

"Ngga usah ngeyel, lo gak baik-baik aja. Kita pulang."

"Lo ngga usah ngatur gue, gue berterima kasih karena lo udah dateng, tapi cukup sampai situ. Jangan atur gue!"

"Nah, padahal lo bisa bilang tegas kek gini ke orang-orang tadi." Ucap Chan, Lia tersentak. "Kenapa ngga berani? Kalo mereka jahatin lo, teriak yang kenceng, tendang burung nya terus kabur." Chan mengepalkan tangannya mengatur napasnya. "Jangan diem aja, ngga semua orang bisa diajak bicara baik-baik. Kalo lo gak marah mereka makin seenak nya. Lo harusnya ngumpatin mereka maki-maki mereka bukan nangis!" Chan mengamati wajah gadis itu yang tertunduk. Punggungnya bergetar, gadis itu menangis sesenggukan.

"Gue juga gak maksud ngelibatin temen lo, gue takut karena mereka banyakan, lo ngga bisa ngertiin hal itu karena lo cowok." Ucapnya masih sambil menangis. "Gue juga marah tapi gue bisa apa? Mereka semua nyerimin, muka mereka sangar gue takut ..."

"Gue juga gak tau mereka bakal ngikutin gue sampe tempat les, gue....." Chan menarik gadis itu ke pelukannya, membiarkan gadis itu menangis sesekali ia menepuk punggungnya. Ia marah dan tak tega, Chan tahu ia tidak seharusnya memarahi Lia karena gadis itu pasti lebih trauma dari siapapun. Chan hanya tidak bisa menahan emosinya saat melihat orang itu merangkul gadis ini, ia marah tanpa sebab.

"Maafin gue, karena gue lo kayak gini, harusnya gue jagain lo." Ucapnya lembut, Lia semakin menangis kencang memeluk Chan erat.

"Gue gak mau pulang."

"Lo pasti ketakutan, apalagi liat kekerasan di depan mata lo, maafin gue." Ucap Chan mengusap kepala Lia. "Pake jaketnya ya, hari udah mulai malem, kalo lo ngga mau pulang kita ke tempat lain aja."

"Kemana?" Tanya Lia.

"Ke temen-temen lo, Chaeryong sempet ngabarin gue, gue suru mereka ke rumah Yuna, kita ke sana ya,"

Lia mengangguk, ia melepaskan pelukannya dan memakai jaket pemberian Chan. Matanya membelalak saat Chan tiba-tiba menggendongnya. "Gue takut lo jatoh karena ngga bisa jalan."

Lia menurut dan mengalungkan lengannya pada pundak pemuda itu menyembunyikan wajahnya yang memerah.

****

1
Sasa Sdr
keren 👍
Sasa Sdr
suka
Sasa Sdr
keren 👍. suka dengan cerita nyq
Daina :)
Kejutan demi kejutan membuat saya takjub. 😲
∠?oq╄uetry┆
Bagus banget alur ceritanya, tidak monoton dan bikin penasaran.
⸸ ℒ𝓊𝒸𝒾𝒻ℯ𝓇 ⸸
Dialog yang autentik memberikan kehidupan pada cerita.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!