NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Sang Ibu

​Pagi pertama setelah "malam api" itu tidak terasa seperti kemenangan. Agil dan Laila kini berada di sebuah rumah persembunyian kecil milik Gito di pelosok Subang. Rumah itu dikelilingi kebun teh yang berkabut, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang sedang diguncang berita penangkapan Baskoro.

​Laila sedang mencoba merajut kembali ketenangannya. Ia duduk di teras, menyesap teh hangat sambil menatap gunung yang tertutup awan. Namun Agil tidak bisa tenang. Kata-kata terakhir ayahnya di gudang itu terus terngiang seperti kutukan: "Kau lupa... aku masih punya satu rahasia tentang ibumu."

​Agil duduk di meja makan kayu, menatap sisa-sisa buku catatan Surya Wijaya yang sudah hangus sebagian. Rina memang sudah menyitanya, tapi Agil sempat menyembunyikan beberapa lembar kertas yang ia robek sebelum menyerahkan buku itu. Lembaran itu tidak berisi nomor rekening atau daftar pejabat, melainkan surat-surat korespondensi pribadi yang ditulis dalam kode militer lama.

​"Gito, kau bisa memecahkan kode ini?" tanya Agil saat Gito masuk dengan tangan yang masih dibalut perban.

​Gito mengambil lembaran itu, matanya menyipit. "Ini kode sandi intelijen tahun 90-an, Pak. Sangat spesifik. Tapi ada satu nama yang terus muncul di sini: Project Cendrawasih."

​Masa Lalu yang Berdarah

​Selama tiga hari berikutnya, Gito menggunakan koneksi lamanya di dunia bawah tanah untuk melacak apa itu Project Cendrawasih. Hasilnya membuat darah Agil membeku.

​Ternyata, ibunya, Rina, bukan sekadar istri bangsawan yang tertindas. Dua puluh lima tahun lalu, Rina adalah seorang perwira intelijen muda yang sangat ambisius. Ia dikirim untuk memata-matai Baskoro yang saat itu mulai membangun gurita bisnisnya lewat jalur ilegal. Namun, Rina tidak menjalankan tugasnya. Ia justru jatuh cinta—atau lebih tepatnya, melakukan aliansi strategis—dengan Baskoro.

​"Mereka berdua bekerja sama untuk menyingkirkan lawan-lawan bisnis Baskoro menggunakan kekuatan militer yang dikuasai Nyonya Rina," Gito menjelaskan dengan suara rendah. "Termasuk menghancurkan keluarga Surya Wijaya. Jadi, penangkapan Surya sepuluh tahun lalu bukan hanya rencana Baskoro... itu adalah operasi yang dipimpin oleh ibu Anda sendiri."

​Agil merasa mual. Selama ini ia memandang ibunya sebagai korban pasif dari kekejaman Baskoro. Ternyata, Rina adalah arsitek di balik bayang-bayang yang membangun fondasi kekaisaran Baskoro. Rina membiarkan Baskoro menyiksa Laila dan membuang Agil ke London hanya karena ia sedang menunggu momen yang tepat untuk mengambil alih seluruh aset Baskoro secara "bersih" melalui jalur hukum militer.

​Kunjungan Tak Terduga

​Sore itu, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan gerbang rumah kayu mereka. Rina turun dengan pakaian serba hitam, tampak sangat berwibawa namun dingin. Ia datang sendirian.

​Agil berdiri di pintu, menghalangi jalan masuk. "Mau apa lagi, Ma? Bukankah buku itu sudah Mama ambil?"

​Rina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini tampak sangat mengerikan bagi Agil. "Ibu merindukan anak dan menantunya. Apa itu salah?"

​"Jangan sebut diri Mama 'Ibu'. Aku tahu tentang Project Cendrawasih. Aku tahu Mama yang memenjarakan Surya Wijaya. Mama sama saja dengan Papa, hanya saja Mama lebih rapi karena memakai seragam," ucap Agil dengan suara gemetar karena amarah.

​Rina terdiam sejenak, lalu ia melangkah masuk tanpa memedulikan halangan Agil. Ia duduk di kursi kayu, menatap Laila yang kini ketakutan di sudut ruangan.

​"Dunia ini tidak seputih yang kau bayangkan, Agil," ucap Rina tenang. "Jika aku tidak bekerja sama dengan ayahmu dulu, kita tidak akan pernah memiliki semua kemewahan ini. Aku memastikan kau tumbuh besar dengan pendidikan terbaik di London agar kau bisa memimpin, bukan agar kau menjadi aktivis moral yang naif."

​"Pendidikan yang dibayar dengan darah keluarga Surya? Dengan air mata Laila?" teriak Agil.

​"Laila adalah harga yang harus dibayar," jawab Rina dingin. "Aku sengaja membiarkan Baskoro melakukan itu agar dia melakukan kesalahan fatal yang bisa membuatnya ditangkap. Jika dia tidak menyentuh Laila, dunia tidak akan peduli pada korupsinya. Laila adalah umpan yang aku pasang agar aku bisa menyingkirkan Baskoro tanpa mengotori tanganku sendiri."

​Laila menjatuhkan cangkir tehnya hingga pecah berkeping-keping. "Jadi... Mama tahu? Mama tahu Papa menyiksaku setiap malam selama tiga bulan dan Mama hanya... diam?"

​Rina menatap Laila dengan pandangan merendahkan. "Pengorbananmu tidak sia-sia, Sayang. Sekarang Baskoro sudah di penjara, dan seluruh aset Baskoro Group akan dialihkan ke bawah kendali yayasanku. Kau dan Agil bisa hidup mewah seumur hidup tanpa gangguan Baskoro lagi. Bukankah itu yang kalian inginkan?"

​Pengusiran Sang Ratu

​Agil mencabut pistolnya—pistol yang ia simpan dari malam di gudang. Ia menodongkannya tepat ke arah ibunya.

​"Keluar, Ma," ucap Agil dengan suara yang sangat rendah dan mematikan.

​Rina menaikkan alisnya. "Kau ingin menembak ibumu sendiri?"

​"Aku tidak punya ibu. Ibuku sudah mati sejak dia membiarkan istrinya disiksa demi aset perusahaan. Keluar dari sini, atau aku akan memastikan rekaman pembicaraan kita sekarang ini—yang sudah direkam oleh Gito—terkirim ke mahkamah militer."

​Rina menoleh ke arah Gito yang berdiri di sudut ruangan sambil memegang perangkat perekam. Wajah Rina yang semula tenang kini menunjukkan sedikit kepanikan. Ia berdiri, merapikan pakaiannya yang mahal, dan menatap Agil dengan kebencian yang mendalam.

​"Kau sangat mirip denganku, Agil. Lebih mirip denganku daripada dengan ayahmu. Kau pikir kau menang? Tanpa perlindunganku, Baskoro akan membunuhmu dari dalam penjara dalam waktu satu minggu. Selamat menikmati 'kebebasan' miskinmu ini," ucap Rina sebelum berjalan keluar dengan langkah angkuh.

​Luka di Atas Luka

​Setelah mobil Rina menghilang di balik kabut, Agil jatuh terduduk di lantai. Ia merasa seluruh dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Ia telah menghancurkan ayahnya, tapi ia baru saja menyadari bahwa ibunya adalah monster yang lebih besar.

​Laila mendekati Agil, memeluk suaminya dari belakang. Mereka berdua menangis dalam diam. Kebenaran ternyata jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan. Selama ini mereka hanya bidak catur yang dimainkan oleh dua orang tua yang haus kekuasaan.

​"Kita tidak punya siapa-siapa lagi, Mas," isak Laila.

​"Tidak, Laila. Kita punya satu sama lain. Dan kita punya kebenaran," Agil menghapus air matanya. "Rina pikir dia menang karena dia memegang aset. Tapi dia lupa... aku masih memegang satu rahasia terakhir yang dia tidak tahu."

​Agil mengeluarkan sebuah kunci kecil dari sakunya. Kunci yang ia temukan di dalam buku Surya Wijaya yang sudah ia sobek. Kunci menuju sebuah brankas fisik di Bank Pusat Swiss yang tidak bisa diakses secara digital.

​"Di sana ada bukti keterlibatan langsung Rina dalam Project Cendrawasih. Aku tidak akan menggunakannya sekarang. Aku akan menyimpannya sebagai jaminan nyawa kita. Jika terjadi sesuatu padamu atau aku, bukti itu akan terbit," ucap Agil.

​Malam yang Dingin

​Malam itu, mereka tidur dengan perasaan was-was. Agil tahu perang belum usai. Baskoro di penjara mungkin masih memiliki taring, dan Rina di luar sana kini adalah musuh yang jauh lebih berbahaya.

​Namun, di tengah kegelapan, Agil merasa tangannya digenggam erat oleh Laila.

​"Mas... jika suatu hari kita harus mati karena rahasia ini, berjanjilah padaku satu hal," bisik Laila.

​"Apa?"

​"Berjanjilah bahwa kita akan mati sebagai manusia, bukan sebagai bagian dari keluarga Baskoro."

​Agil mencium dahi Laila. "Aku berjanji."

​Di Jakarta, Rina duduk di kantor mewahnya yang baru, menatap kota yang kini ada di bawah genggamannya. Ia memegang ponselnya, melakukan satu panggilan rahasia ke penjara.

​"Halo? Ya. Pastikan Baskoro tidak pernah bisa bicara lagi. Aku ingin dia ditemukan 'bunuh diri' malam ini. Dan soal anakku... jangan sentuh dia dulu. Biarkan dia merasakan kemiskinan. Dia akan kembali padaku saat dia lapar."

​Rencana besar Rina baru saja dimulai, dan Agil kini berada di garis bidik ibunya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!