cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEROR DI BALIK GUDANG SEKOLAH SDN 1 GRENJENG
Pagi itu, SDN 1 Grenjeng tampak lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berbaris rapi di halaman, guru-guru sibuk mengatur pembagian MBG—makanan bergizi yang baru berjalan beberapa minggu terakhir. Suara tawa kecil dan sendok beradu wadah plastik memenuhi udara.
Hingga sebuah teriakan memecah semuanya.
“ULAARRR—!!!”
Suara itu datang dari arah gudang belakang sekolah yang sudah lama tak terurus. Gudang tua berdinding kayu lapuk, lembab, dan jarang dibuka.
Mang Diman, penjaga sekolah, berlari terhuyung keluar dengan wajah pucat pasi.
“Di… di dalam gudang…” suaranya gemetar,
“TELUR ULAR… BANYAK… ADA INDUKNYA!”
Kepanikan langsung meledak.
Anak-anak berteriak, beberapa guru refleks menarik murid-murid menjauh. Ada yang menangis, ada yang terpaku ketakutan. Suasana yang semula tertib berubah kacau.
“SEMUA MASUK KELAS! TUTUP PINTU!” teriak kepala sekolah panik.
Namun suara gaduh justru membuat suasana semakin buruk.
Dari celah pintu gudang, terdengar desis panjang—berat, dalam, menggetarkan. Sesuatu bergerak di dalam sana.
Berita itu sampai cepat ke pos desa.
Mang Dedi, pawang ular desa, langsung berdiri.
“Ini bahaya. Kalau benar cobra bertelur di sana… itu bukan kebetulan.”
Sandi dan Nurdin yang berada tak jauh langsung ikut bergerak.
“Lokasi sekolah?” tanya Sandi singkat.
“SDN 1,” jawab Mang Dedi.
“Kalau anak-anak panik… ularnya bisa makin agresif.”
Tanpa buang waktu, mereka meluncur ke TKP.
Di halaman sekolah, situasi nyaris tak terkendali.
Beberapa guru berdiri menghadang anak-anak agar tidak berlarian. Tangis dan teriakan bersahut-sahutan.
“Tenang! Tenang semua!” teriak seorang guru, tapi suaranya tenggelam.
Sandi tiba lebih dulu. Ia langsung menilai keadaan.
“STOP TERIAK!” bentaknya lantang—suaranya tegas, mengalahkan hiruk-pikuk.
Semua terdiam sejenak.
“Anak-anak, dengar ya,” lanjut Sandi dengan nada lebih tenang tapi berwibawa,
“masuk ke kelas, duduk, tutup telinga, jangan berisik. Ini penting.”
Entah bagaimana, suara itu menenangkan. Guru-guru mulai mengarahkan murid sesuai instruksi.
Tak lama kemudian Mang Dedi datang, membawa karung tebal, tongkat pengait, dan kain penutup.
Nurdin berdiri di sisi Sandi.
“Kalau benar ada telur… ini serius.”
Mang Dedi mengangguk.
“Cobra tidak bertelur sembarangan. Ini gudang lembab—iya. Tapi dekat manusia? Tidak alami.”
Mereka bertiga mendekat perlahan ke gudang.
Di dalam—
pemandangan itu membuat siapa pun merinding.
Dua belas tumpukan telur cobra, putih kusam, tersusun di sudut gudang. Dan di tengahnya—
induk cobra besar, tubuhnya melingkar, kepala terangkat, leher mengembang.
Desisnya keras. Matanya tajam.
Salah satu guru tanpa sengaja menjatuhkan ember.
KLANG!
Induk cobra langsung bergerak agresif.
“JANGAN BERGERAK!” bisik Mang Dedi keras.
Sandi maju setengah langkah. Napasnya stabil. Ia menahan semua orang di belakangnya.
“Pak Guru, tolong kosongkan halaman. Jangan ada suara,” ucapnya pelan tapi tegas.
Nurdin menutup pintu gudang sebagian, mengurangi rangsangan suara.
Mang Dedi mulai bekerja—perlahan, penuh perhitungan. Ia mengalihkan perhatian induk, sementara Sandi menggeser posisi, siap jika terjadi serangan mendadak.
Satu semburan hampir terjadi—
namun Sandi bergerak cepat, menghalau arah kepala ular dengan papan kayu panjang.
“SEKARANG!” teriak Mang Dedi.
Dengan gerakan terlatih, induk cobra berhasil diarahkan masuk ke karung tebal. Desis menghilang, berganti hentakan di dalam karung.
Telur-telur segera diamankan satu per satu.
Butuh waktu hampir empat puluh menit hingga gudang dinyatakan aman.
Di halaman sekolah, guru-guru terduduk lemas. Beberapa anak masih menangis.
Kepala sekolah menghampiri Sandi dengan wajah pucat.
“Mas… ini… ini bukan kejadian biasa, kan?”
Sandi menatap gudang itu lama.
“Bukan, Bu.”
Mang Dedi menambahkan dengan suara berat,
“Ini diletakkan. Bukan alami.”
Nurdin mengepalkan tangan.
“Sekolah. Anak-anak. Mereka sudah keterlaluan.”
Sandi menarik napas panjang.
Jika ular sudah masuk sekolah dasar,
maka pesan itu jelas—
tak ada lagi batas.
Dan mulai hari itu,
perlawanan Desa Grenjeng
bukan lagi soal bisnis atau kontrak FIFA.
Ini soal
melindungi anak-anak.
Dan siapa pun di balik teror ini…
telah memilih musuh yang salah.
Pelajaran di Tengah Ketakutan
Setelah induk cobra dan telur-telurnya berhasil diamankan, halaman SDN 1 Grenjeng perlahan kembali tenang. Sirene tidak ada, teriakan mereda. Anak-anak masih berada di dalam kelas, pintu tertutup rapat, hanya suara napas cemas yang tersisa.
Kepala sekolah berdiri di depan gedung, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.
“Terima kasih… terima kasih sekali,” ucapnya lirih pada Sandi dan Mang Dedi.
Sandi mengangguk.
“Yang penting sekarang anak-anak tenang dan tidak trauma.”
Mang Dedi menimpali,
“Takut boleh. Panik jangan.”
Atas permintaan kepala sekolah, mereka sepakat masuk ke ruang kelas satu per satu untuk memberi penjelasan singkat—bukan ceramah menakutkan, tapi edukasi.
Di ruang kelas 5, anak-anak duduk rapi meski wajah mereka masih pucat. Seorang guru berdiri di samping papan tulis.
Sandi melangkah ke depan. Ia tidak membawa apa-apa selain suaranya.
“Adik-adik,” katanya lembut,
“tadi memang ada ular. Tapi sekarang sudah tidak ada.”
Beberapa anak mengangkat kepala.
“Ular itu binatang,” lanjutnya,
“dia tidak jahat. Dia cuma takut kalau kita ribut.”
Mang Dedi maju, membawa gambar sederhana ular yang ia ambil dari buku pelajaran IPA lama.
“Ular cobra,” jelasnya dengan nada tenang,
“biasanya hidup jauh dari manusia. Kalau kita teriak, lari-lari, atau lempar barang… dia mengira kita mau menyerang.”
Seorang anak mengangkat tangan ragu.
“Om… ular bisa denger kita?”
Mang Dedi tersenyum.
“Bukan dengar seperti manusia. Tapi dia merasakan getaran.”
Sandi menambahkan,
“Makanya kalau suatu hari melihat ular, yang paling penting itu—diam. Jangan teriak.”
Anak-anak mengangguk pelan.
“Kalau lapor ke guru?” tanya anak lain.
“Itu paling benar,” jawab Sandi cepat.
“Guru, orang dewasa, atau lapor ke pos desa.”
Di kelas lain, guru-guru ikut mendengarkan. Beberapa mencatat. Ketegangan di wajah mereka perlahan luruh.
Mang Dedi lalu menegaskan pada para guru,
“Gudang lembab seperti tadi harus rutin dicek. Jangan dibiarkan kosong dan gelap.”
Kepala sekolah mengangguk mantap.
“Kami akan benahi.”
Di kelas paling kecil, kelas 1, suasana lebih haru. Beberapa anak masih memeluk tasnya erat.
Sandi berjongkok, menyamakan tinggi badannya.
“Siapa yang tadi takut?” tanyanya pelan.
Hampir semua tangan terangkat.
Sandi tersenyum.
“Mas juga takut. Tapi berani itu… bukan nggak takut. Berani itu tetap tenang meski takut.”
Seorang anak kecil berbisik,
“Ular tadi besar…”
Mang Dedi tertawa kecil, meredakan suasana.
“Sekarang ularnya sudah jauh, dan sekolah kalian aman.”
Anak-anak mulai tersenyum tipis.
Setelah semua pembagian mb selesai berbunyi. Anak-anak keluar perlahan. Beberapa bahkan melambaikan tangan ke Sandi dan Mang Dedi.
“Terima kasih, Mas!”
Di halaman sekolah, Sandi berdiri menatap gudang tua itu sekali lagi.
“Kalau anak-anak sudah jadi sasaran,” katanya pelan pada Mang Dedi,
“ini bukan lagi sekadar intimidasi.”
Mang Dedi mengangguk berat.
“Ini peringatan.”
Di kejauhan, lonceng sekolah berdentang—tanda kegiatan belajar kembali berjalan.
Namun bagi Sandi, satu hal menjadi jelas:
perang ini telah menyentuh ruang paling suci—sekolah.
Dan siapa pun dalangnya,
tak akan bisa lagi bersembunyi
di balik bayang-bayang hutan.
Enzim di Ruang Bawah Tanah
Sore merambat turun di Balai Desa Grenjeng. Aktivitas mulai normal kembali setelah insiden di sekolah. Telur-telur cobra yang tadi diamankan Mang Dedi sementara disimpan di ruang terkunci—menunggu koordinasi lebih lanjut dengan pihak konservasi.
Namun malam membawa cerita lain.
Sebuah mobil hitam berhenti tanpa suara di sisi belakang balai desa. Dua pria turun cepat, membawa peti pendingin kecil berlabel Bio Sample. Tidak ada yang menyadari—kecuali satu kamera CCTV yang lampunya mati beberapa menit sebelumnya.
Peti itu berpindah tangan.
Dan sebelum fajar, telur-telur cobra itu telah lenyap.
Jauh dari balai desa, di rumah berpagar tinggi milik Mr. Nakata, sebuah lift tersembunyi bergerak turun perlahan. Pintu baja terbuka ke ruang bawah tanah yang steril, dingin, dan sunyi—lebih mirip laboratorium daripada gudang.
Di tengah ruangan, terbaring seorang perempuan dengan kulit pucat dan napas teratur namun lemah.
Miss Geisha Izukawa.
Istri Mr. Nakata.
Di sisi ranjang, seorang pria berkacamata—dokter pribadi keluarga Nakata—menatap monitor dengan wajah serius.
“Penyakitnya,” kata dokter itu pelan,
“tidak umum. Degeneratif. Menyerang sistem saraf perifer.”
Nakata berdiri kaku, tangannya mengepal.
“Dan solusinya?”
Dokter itu menoleh.
“Kita butuh enzim spesifik. Dari cobra. Bukan racunnya—tapi ekstrak enzim dari fase embrio.”
Ia menunjuk diagram di layar.
“Telur cobra mengandung protein aktif yang bisa memperlambat—bahkan menahan—progres penyakit ini.”
Nakata menelan ludah.
“Risikonya?”
“Tinggi,” jawab dokter jujur.
“Tapi tanpa itu… waktunya singkat.”
Pintu baja terbuka kembali. Peti pendingin didorong masuk. Di dalamnya—telur-telur cobra dari SDN 1 Grenjeng.
Dokter itu membuka peti dengan hati-hati, mengenakan sarung tangan tebal.
“Ini cukup,” gumamnya.
“Lebih dari cukup.”
Nakata memejamkan mata sesaat. Ada konflik di dadanya—antara cinta pada istrinya dan jejak ketakutan yang ia tebar di desa.
“Aku akan menanggung semua akibatnya,” katanya akhirnya.
“Asal dia hidup.”
Dokter mengangguk dan mulai bekerja.
Di sudut ruangan, Miss Geisha membuka mata perlahan. Tatapannya lemah namun penuh kesadaran.
“Apakah… ini dari desa itu?” bisiknya pelan.
Nakata terdiam.
“Ya.”
Miss Geisha menatap langit-langit.
“Jangan… sakiti mereka lagi,” ucapnya lirih.
“Aku tidak ingin sembuh… dengan air mata orang lain.”
Nakata membeku.
Di Desa Grenjeng, pagi berikutnya, Mang Dedi berdiri di ruang penyimpanan balai desa dengan wajah muram.
“Telurnya… hilang,” katanya pada Sandi dan Nurdin.
Sandi menatap rak kosong itu lama.
“Berarti bukan sekadar teror.”
Nurdin mengepalkan tangan.
“Ini operasi terencana.”
Sandi mengangkat kepala, matanya mengeras.
“Dan siapa pun yang mengambilnya,” katanya pelan,
“punya kepentingan besar—lebih besar dari sekadar bisnis.”
Di bawah tanah rumah Nakata, jarum infus mulai meneteskan cairan bening ke pembuluh Miss Geisha.
Sementara di atas tanah,
Desa Grenjeng bersiap menghadapi kenyataan pahit:
teror ular bukan hanya senjata.
Ia adalah obat, uang, dan rahasia
yang bisa membakar siapa pun
yang berdiri di jalurnya.
Harga Sebuah Kesembuhan
Musim hujan belum sepenuhnya pergi ketika Miss Geisha Izukawa berdiri di halaman rumahnya tanpa bantuan apa pun. Langkahnya masih pelan, namun mantap. Tangannya tidak lagi gemetar. Wajahnya—yang selama berbulan-bulan pucat—kini kembali berwarna.
Dokter pribadi Nakata menatap hasil pemindaian terakhir dengan takzim.
“Secara medis,” katanya, “ini… di luar dugaan. Sistem sarafnya stabil. Ia bisa hidup normal.”
Mr. Nakata menahan napas. Untuk pertama kalinya sejak lama, bahunya runtuh oleh lega. Ia mendekap istrinya, lama.
“Aku hidup,” bisik Miss Geisha.
“Karena kamu.”
Namun di balik pelukan itu, sesuatu berubah di mata Nakata—kilau dingin seorang pebisnis yang melihat peluang.
Beberapa hari kemudian, ruang bawah tanah itu tak lagi sekadar laboratorium darurat. Meja stainless baru terpasang. Lemari pendingin berlabel ilmiah berdiri rapi. Diagram protein dan enzim memenuhi layar.
Seorang tamu dari Jepang hadir via konferensi video—direktur riset farmasi dari sebuah rumah sakit swasta ternama.
“Jika formulasi ini distandarkan,” kata sang direktur,
“kita bisa mematenkannya. Penyakit degeneratif langka seperti ini… pasar Jepang akan membayar sangat mahal.”
Nakata mengangguk perlahan.
“Bukan hanya Jepang,” ujarnya tenang.
“Asia Timur. Eropa. Amerika.”
“Bahan baku?” tanya sang direktur.
Nakata menoleh ke layar lain—peta hutan lindung, desa Grenjeng, dan jalur distribusi.
“Indonesia punya sumbernya.”
Di sisi lain rumah, Miss Geisha mendengar sebagian percakapan itu. Ia berdiri di balik pintu, wajahnya mengeras.
Malamnya, ia menghadapi suaminya.
“Kau ingin mengulangnya?” tanyanya lirih.
“Teror. Ular. Ketakutan orang desa?”
Nakata terdiam sesaat.
“Aku ingin menyelamatkan banyak nyawa.”
“Dengan cara yang sama?” suara Miss Geisha bergetar.
“Kesembuhanku bukan alasan untuk menyakiti orang lain.”
Nakata memalingkan wajah.
“Dunia tidak diselamatkan oleh niat baik saja.”
Di RS Dumai, Dr. Farhan memandangi laporan Mang Ujang—yang kini pulih—dan catatan toksikologi lama. Ada pola yang mengganggu.
“Enzim embrio cobra…” gumamnya.
“Kalau ini diekstraksi besar-besaran, dampaknya ke ekosistem bisa fatal.”
Sandi dan Nurdin saling pandang.
“Artinya,” kata Sandi,
“ular-ular itu akan terus diburu.”
Mang Dedi mengangguk berat.
“Dan desa ini akan jadi ladang.”
Sementara itu, di Tokyo, proposal berjudul IZK-Serum masuk ke meja dewan. Angka investasi berderet. Nolnya panjang. Harga jualnya—fantastis.
Nakata menandatangani satu demi satu berkas.
“Produksi bertahap,” katanya dingin.
“Dimulai dari pemasok yang paling dekat.”
Di Desa Grenjeng, malam itu, seekor burung hantu terbang rendah dari arah hutan. Sunyi terasa ganjil—seperti menahan napas.
Karena semua tahu,
ketika kesembuhan berubah menjadi komoditas,
yang pertama dibayar bukan uang—
melainkan ketakutan.
Pagi itu SDN Grenjeng tampak berbeda. Gudang tua di belakang sekolah—yang dulu lembap, gelap, dan penuh barang tak terurus—kini bersih dan tertata. Dindingnya dicat ulang, ventilasi dibuka lebar, lantai disapu hingga kering. Tidak ada lagi sudut gelap yang mengundang hewan liar bersarang.
Anak-anak berbaris rapi di aula sederhana sekolah. Di sela waktu MBG, mereka duduk bersila sambil memegang kotak makan, mata mereka tertuju ke depan.
Sandi berdiri bersama Nurdin, Dr. Farhan, dan Mang Dedi.
“Adik-adik,” kata Sandi membuka, suaranya hangat,
“sekolah ini sekarang aman. Tapi aman itu bukan cuma karena dibersihkan—aman itu karena kebiasaan kita.”
Ia menunjuk poster sederhana di papan: Lingkungan Bersih \= Lingkungan Aman.
Dr. Farhan melanjutkan dengan bahasa yang mudah dipahami,
“Ular dan hewan lain datang karena ada makanan dan tempat bersembunyi. Sampah, tikus, dan gudang lembap itu undangan.”
Seorang guru mengangguk-angguk, sementara anak-anak mendengarkan dengan serius.
Mang Dedi maju, membawa tongkat pawangnya—bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai alat peraga.
“Kalau melihat ular,” ujarnya pelan namun tegas,
“ingat tiga hal: diam, mundur pelan, lapor guru. Jangan teriak, jangan lempar apa pun.”
Seorang murid bertanya polos,
“Kalau ularnya besar, Mang?”
Mang Dedi tersenyum.
“Justru makin besar, makin takut sama manusia ramai. Yang bahaya itu kalau kita panik.”
Sandi menambahkan,
“Jaga kebersihan, tutup lubang, simpan makanan rapat. Itu cara terbaik mengusir ular—tanpa menyakiti.”
Tepuk tangan kecil terdengar. Wajah-wajah yang dulu tegang kini lebih cerah.
Kepala sekolah berdiri dan menutup sesi,
“Mulai hari ini, SDN Grenjeng jadi contoh sekolah bersih dan aman.”
Namun di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk sekolah, hutan lindung menyimpan cerita berbeda.
Di sebuah lokasi tersembunyi—tak terpetakan di peta desa—berdiri gubung-gubung bambu beratap terpal gelap. Tanahnya lembap, udara dijaga hangat. Generator kecil berdengung pelan. Lampu-lampu redup menyala sepanjang malam.
Mr. Nakata meninjau lokasi dengan wajah puas.
“Pastikan suhu stabil,” katanya singkat.
Seorang pria bertopi lusuh melangkah mendekat—Mang Jundul, pawang ular yang dikenal lihai namun tertutup.
“Telurnya aman,” lapornya.
“Induknya juga.”
Di salah satu gubung, kotak-kotak berisi telur cobra tersusun rapi. Catatan suhu dan waktu menetas ditempel di dinding. Semuanya terencana.
Nakata menatap barisan gubung itu lama.
“Ini baru awal,” ucapnya dingin.
“Produksi harus konsisten.”
Mang Jundul mengangguk, meski sorot matanya ragu.
“Hutan ini… bukan tempat bermain, Tuan.”
Nakata tersenyum tipis.
“Justru karena itu.”
Di SDN Grenjeng, bel pulang berbunyi. Anak-anak keluar dengan tawa ringan, melambaikan tangan pada Sandi dan Mang Dedi.
Di hutan, malam turun perlahan, menutup gubung-gubung itu dengan bayangan tebal.
Di satu tempat, pengetahuan menyelamatkan.
Di tempat lain, pengetahuan diperdagangkan.
Dan di antara keduanya,
sebuah desa kecil bersiap—
tanpa sadar—
menjadi medan tarik-menarik
antara kepedulian dan keserakahan.