NovelToon NovelToon
Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert

Status: tamat
Genre:Obsesi / Nikah Kontrak / Romansa / Tamat
Popularitas:29.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Irma

Kakek Robert memang orang yang senang melucu, saking lucunya sampai membuat surat wasiat yang mensyaratkan musuh bebuyutan, Jenson dan Rachel, harus tinggal dalam satu atap dan mereka harus menikah.

Padahal setiap kali mereka bertemu, kata-kata setajam pisau akan melesat dan menusuk harga diri mereka. Enam bulan bukan waktu yang singkat dan 150 miliar bukan jumlah yang sedikit. Apalagi warisan sebesar itu hanya diturunkan kepada mereka berdua, bukan kepada saudara-saudara kakek Robert.

Bulan pertama merupakan bulan yang terberat di mana mereka harus saling bertoleransi. Di bulan itu pula juga mereka mulai menyadari percikan gairah yang muncul. Tapi tidak semuanya berjalan lancar karena ternyata ada seseorang yang menginginkan kematian mereka berdua dan memperoleh warisan Kakek Robert…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Waktu berlalu. Setelah menggunakan drawplate, bara, dan tangannya sendiri dengan hati-hati dan sangat teliti, jalinan emas pertama yang tipis mulai terbentuk.

Ia baru mulai meregangkan otot-otot punggungnya ketika pintu bangsal itu terbuka dan udara dingin berembus masuk. Dengan wajah berkilau karena keringat dan konsentrasi, dipelototinya Jenson.

“Mau apa kau kemari?” tanyanya ketus

“Melihat istriku sedang melakukan apa?” Jenson membenamkan tangannya di kedua saku jaketnya supaya hangat, tapi tidak mengancingkan kancing depannya. Rachel memperhatikan Jenson juga tidak mau repot-repot bercukur. “Bau tempat ini seperti oven.”

“Aku sedang bekerja.” Diangkatnya keliman di celemek besar yang dikenakannya, lalu diusapnya keningnya. Diganggu seperti inilah yang membuatku kesal, cetus Rachel pada dirinya sendiri. Bukan Kenyataan bahwa Jenson menengoknya saat ia kelihatan seperti seorang buruh pabrik baja. “Jangan panggil aku istri, dan ingat peraturan nomor tiga?”

“Katakan itu pada Jesica.” Setelah meninggalkan pintu sedikit terbuka, Jenson melenggang masuk. “Jesica bilang, kau melewatkan makan pagi dan tadi setelah pemberkataan kau juga tak makan, tapi sekarang kau tidak akan bisa lolos dari makan siang.” Rasa ingin tahu Jenson yang begitu tinggi membuatnya menyentuhkan jarinya ke sebuah nampan tempat Rachel meletakkan beberapa batu berwarna cerah. “Aku bertugas membawamu ruang makan.”

“Aku belum siap, lagi pula siapa yang tidak sarapan? Sebelum kau bangun aku sudah mengambil sepotong muffin di kulkas”

"Muffin tak membuatmu cukup kenyang." Dipungutnya sebutir batu safir dan diamatinya benda itu di bawah terang cahaya. “Kalau aku ke ruang makan seorang diri, Jesica akan datang menjemputmu, kasihan dia radang sendinya kumat lagi.”

Rachel menyumpah diam-diam. “Letakkan itu.” Perintahnya sambil melepas celemeknya.

“Beberapa dari benda-benda ini kelihatan seperti sungguhan,” komentar Jenson. Meskipun ia meletakkan batu safir itu kembali ke tempatnya, ia memungut sebutir berlian bulat yang kemilau.

“Beberapa dari benda-benda ini memang sungguhan.” Rachel membungkukkan badan untuk mematikan salah satu alat pemanas ruangan.

Berlian itu masih berada di dalam genggaman Jenson saat pria itu merengut ke arah kepala Rachel. “Kenapa sih, kau menyusunnya seperti permen begini? Seharusnya itu disimpan dan dikunci.”

Rachel mematikan pemanas yang kedua. “Kenapa?”

“Jangan berlagak lebih bodoh dari yang seharusnya. Seseorang bisa saja mencurinya.”

“Seseorang?” Sambil meluruskan badan, Rachel tersenyum padanya. “Tak banyak ‘seseorang’ di sini. Aku tidak menganggap Nyoman dan Jesica sebagai masalah, tapi mungkin aku harus mengkhawatirkan dirimu.”

Jenson mengumpat dan meletakkan kembali berlian itu. “Itu kumpulan muslihatmu, Istri, tapi kalau aku punya beberapa ratus juta yang dipamerkan begitu saja dan siap masuk ke kocek seseorang, aku akan lebih berhati-hati.”

Dalam banyak hal Rachel terkadang menyetujui pendapat Jenson, tapi kali ini ia hanya mengambil jaketnya tak berkomentar lebih lanjut. Lagi pula, mereka tidak sedang berada di tempat yang ramai. Jika ia mengunci semuanya, ia jadi harus membuka kuncinya lagi setiap kali ingin bekerja. “Ini cuma satu dari banyak perbedaan antara kau dan aku, Jenson. Kurasa ini karena kau menulis tentang begitu banyak adegan jahat, jadi pikiranmu negatif terus.”

“Aku juga menulis tentang kebiasaan manusia.” Ia memungut sketsa kalung zamrud yang digambar Rachel. Sketsa itu memiliki skala yang akan memuas kan seorang arsitek, dan pancaran serta aliran yang akan membuat seorang seniman terkesan. “Kalau kau begitu tertarik membuat perhiasan, kenapa kau tidak mengenakannya?”

“Perhiasan menghalangiku saat sedang bekerja. Kalau kau menulis tentang kebiasaan manusia, kenapa setiap minggu penjahatnya selalu tertangkap?”

“Karena aku menulis untuk banyak orang, dan orang memerlukan pahlawan.”

Rachel membuka mulut untuk berdebat, lalu mendapati dirinya setuju dengan inti pernyataan tersebut. “Hmm,” itu saja yang dikatakannya seraya mematikan lampu dan keluar lebih dulu dari Jenson.

“Setidaknya, kuncilah pintunya,” saran Jenson.

“Aku tidak punya kuncinya.”

“Kalau begitu kita akan membuatnya.”

“Kita tidak memerlukannya.”

Jenson membanting pintu itu. “Kau memerlukannya.”

Rachel cuma mengangkat bahu seraya menyusuri ruang kerjanya. “Jenson, pernahkah kukatakan bahwa kau jadi lebih sering mengeluh dari biasanya?”

Jenson merogoh sepotong permen rasa lemon dari sakunya dan memasukkannya ke mulut.

“Berhenti merokok, itu tidak bagus untuk kesehatanmu.” Rachel bisa mencium bau pakaian yang di kenakan Jenson tercium bau rokok.

Jenson merengut. “Aku sedang stres dengan pekerjaanku, di tambah harus tinggal bersamamu, jadi aku butuh rokok.”

Rachel tertawa tanda simpati sebelum menyelipkan lengannya di lengan Jenson. “Kau akan selamat, Sayang. Bulan pertama ini memang yang terberat untuk kita. Kau hanya harus mengalihkan perhatian, dan beradaptasi. Kita akan berjalan-jalan sehabis makan siang.”

“Kita?”

“Ya. kita bisa bermain canasta setelah makan malam.”

Jenson mendengus. “Kau pasti akan bermain curang.”

“Lihat, perhatianmu sudah teralihkan.” Sambil tertawa, dihadapkannya wajahnya ke wajah Jenson. Wajah pria itu tampak sedikit masam, tapi anehnya, hal itu menjadi menarik. Wajah yang tenang dan berniat baik selalu membuat Rachel bosan. “Tidak akan menjadi masalah untuk menanggalkan salah satu sifat burukmu (mudah teralihkan pikirannya), Jenson. Kau punya begitu banyak sifat buruk.”

“Aku suka sifat-sifat burukku,” gerutunya, lalu menengok menatap Rachel. Wanita itu sedang memberinya senyum ramah, bersahabat, yang jarang sekali ia kirimkan padanya. Senyum itu selalu membuat Jenson lupa akan begitu banyak kesulitan yang mesti diterimanya gara-gara Rachel. Senyum itu membuatnya lupa bahwa ia tidak tertarik pada wanita dramatis dengan rambut merah liar dan tulang-tulang yang tajam. “Seorang wanita seperti kau pasti juga punya beberapa sifat buruk.”

Mulut Rachel tampak serius, matanya licik. “Mungkin, aku tidak bisa menilai diriku sendiri. Tapi aku berusaha bersikap baik kepada orang lain." ia berhenti sejenak di lorong. "Menurytmu apa sifat burukku?" ia menatap Jenson.

Jenson menyusuri pipi Rachel dengan jemarinya. Semacam gerakan yang disadari Jenson bisa dengan mudahnya menjadi suatu kebiasaan. Rachel benar, perhatiannya sudah teralihkan.

Mereka berdiri berdekatan, jika ia lebih mendekat selangkah lagi, akan ada.....

Itu yang selalu dihindari Rachel, Ia membiarkan napasnya keluar teratur dan ringan sebelum akhirnya ia melangkah lagi. “Sebaiknya kita tidak membiarkan Jesica menunggu.”

1
Christ Mlg
👍🏻
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahh Rachel punya bodyguard sekarang siapa yang mengganggu Rachel akan berhadapan dengan Bruno si anjing jelek dan kejam 😊
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Happy ending, cerita nya menarik. di mana mana yg nama harta warisan pasti di perebutkan. ku alami sendiri dalam keluarga suamiku, itu harta sedikit, apalagi kalau harta nya banyak. kalau berurusan dgn harta warisan orang pun pasti menginginkan nya. meributkan.

selamat kk irma, sukses selalu 🥰🥰🥰
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jebakan nya langsung mengena, good
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
aku membayangkan kalung dan anting nya Rachel, aku yg pakai cantik kali ya🤭🤭🤭🤭
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
mereka bersekongkol & saling membongkar. tapi pemenangnya tetap jenson & Rachel. keren kakIR
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
gempar, gaduh. tapi pembunuh belum ditemukan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
moment luar biasa. mengundang pembunuh ke rumah.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pasti Rachel panik akan bertemu para saudara
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jangan pernah mikir cerai Rachel. itu cinta ❤
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
semua di sketsa itu bersekongkol.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kalian harus semakin waspada. pondok yg dulu belum lagi diperiksa
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
para lawan semakin brutal. semoga mereka bisa bertahan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pelan2 harapan jessica & nyoman berjalan lancar
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jaga2 dengan bor. pinter Rachel.. 😁😁
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mungkin dgn mengundang mereka, siapa tau akan terbongkar semua misteri selama ini
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
demi harta orang melakukan berbagai hal utk mendapatkan nya, apa lagi harta warisan yg mudah di dapat tampa bekerja
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jenson dan Rachel pasangan anehh
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Rachel wanita kuat, hebat dan keras kepala 🤭
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mana ada orang siap mau mati🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!