Keduanya bertemu tanpa didasari perkenalan dan cinta satu malam terjadi begitu saja.
Sandra meninggalkan pria yang bercinta dengannya semalam. Tanpa ia tahu bahwa pria itu adalah tetangganya sendiri, Damian Ocean seorang duda yang kabarnya akan menikah lagi.
Disisi lain Sandra tengah hamil anaknya. Apa yang harus dilakukan Sandra. Apakah dia harus datang kepada pria itu dan memintanya untuk bertanggung jawab? Atau membesarkan anaknya seorang diri karena ia tidak ingin menjadi seorang pelakor. Konflik lain pun terjadi saat Sandra tahu wanita yang akan menikah dengannya adalah Ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Damian teringat setahun yang lalu saat ia di pertemukan oleh wanita yang akan dijodohkan dengannya Alana. Memang cantik pilihan kakeknya, juga berkelas.
Tetapi Damian tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, ketika itu ia menerima perjodohan pertama, enam bulan berumah tangga tanpa cinta. Dan ketika cinta mempertemukan mereka, mereka harus dipisahkan oleh takdir. Istri dari pilihan kakeknya meninggal karena kecelakaan.
Tiga bulan setelah kepergian istrinya. Damian pindah rumah di depan rumah Merry. Mereka bertetangga sangat baik. Merry ramah, dewasa juga cantik meski usia mereka terpaut jauh namun cinta hadir dan bisa membuat Damian tertawa lagi setelah kepergian istrinya.
Ditengah kebahagiaan Damian dan Merry, Kakek G datang mempertemukannya dengan Alana, berniat untuk menjodohkannya.
Penolakan itu berakhir dengan serangan jantung hingga Kakek G mendapatkan struk ringan namun tetap saja membuat dirinya sedikit susah bicara.
Damian tidak bermaksud membuat sang Kakek terserang jantung, terlebih saat ini. Tetapi dia harus jujur dengan perasaannya dan masalah yang ia hadapi.
Gerald yang berangsur pulih dan bahkan sehat kembali seperti sediakala kembali lagi menawarkan perjodohan setelah mendengar cucunya batal menikahi Merry.
Pria tua itu membuang asap yang ia hisap dari cerutunya lewat lubang hidung. Menatap tajam Damian lalu mematikan api cerutunya di atas asbak yang ada di depannya.
"Berapa bulan? Laki-laki atau perempuan," tanya sang Kakek
"Aku tidak tahu tapi sepertinya sekitar lima atau enam minggu,"
"Setelah jenis kelaminnya kau ketahui, hubungi aku. Jika anak itu perempuan, kau harus membuatnya lagi. Jika wanita itu tidak dapat memberikan keturunan laki-laki, dalam waktu dua tahun, aku akan memberikan sisa hartaku untuk Charles," ucap Gerald
"Mana bisa begitu?!" Damian ingin protes namun Gerald sudah beranjak berdiri dan melangkah pergi.
Dia tidak ingin berdebat karena tidak ingin struknya kambuh. Yang hanya pria tua itu inginkan hanyalah cicitnya. Generasi penerus kekayaannya.
Charles adalah anaknya, namun ia terlahir dari seorang wanita malam yang tidak sah secara hukum karena Gerald tidak menikahi wanita itu.
Kakek G benar-benar seenaknya. Dia pikir mudah mengatur jenis kelamin. Dan aku tidak akan menikahi wanita lain. Kalau ia akan memberikan hartanya pada Charles ya sudah berikan saja. I Dont Care. Sekarang bagaimana caranya agar membuat Sandra menikah denganku, batin Damian
Kemudian ia menyentuh kepalanya yang nyeri dan darah masih terus mengalir. Diego mengambil handuk kecil untuk menghentikan pendarahan di kepalanya, tapi Damian menolaknya karena ia menemukan sebuah ide licik.
Setelah Gerald keluar ruangan dan meninggalkan perusahaan, Damian bergegas menuju Apartemen Sandra.
Ia menggedor pintu apartemen wanita itu berkali-kali seperti orang terburu-buru.
Sandra yang sudah memakai dress rumahan membuka pintu apartemennya. Kedua bola matanya membelalak lebar melihat Damian yang pucat dan darah mengalir dari samping kepalanya.
"Damian, astaga apa yang terjadi padamu?! " seru Sandra
Damian sengaja membuat dirinya sedikit limbung dan berkata, "Sandra.... I Love You," Setelah mengatakan hal itu Damian terjatuh. Bukan pingsan melainkan sengaja menjatuhkan dirinya.
"Damian, apa yang terjadi. Hey... Tolooong," pekik Sandra
Sementara itu dalam hati Damian, pria itu tersenyum.
Skenario dimulai.
Diego berlari diikuti bodyguard lainnya.
"Tuan Muda!" teriak Diego ketika sudah mendekat
"Bawa segera ke rumah sakit," ucap Diego memerintah para bodyguard.
Kemudian ia menyusul tuannya yang sudah dibawa bodyguard. Tetapi Sandra meraih lengan Diego dan memintanya untuk ikut.
"Tunggu...Aku ikut," sahut Sandra
"Baiklah, ayo nona kita harus segera," sahut Diego
"Kau akan membawanya kemana, aku akan menyusulnya dengan mobilku,"
"Rumah sakit terdekat, Caryy On," ucap Diego
"Ok aku akan menyusul kesana," Sandra bergegas masuk kedalam setelah Diego pergi. Lalu ia mengambil tas dan beberapa cemilan miliknya. Setelah itu ia pergi ke rumah sakit yang dimaksud
Sesampainya disana Damian dinyatakan kritis. Dengan wajah penuh kepanikan Sandra terus berdoa sembari menggenggam kedua tangannya di depan.
Diego, para bodyguard dan Sandra menunggu Damian di depan ruang operasi.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sandra
"Tuan Besar marah kepada Tuan Muda, saya juga tidak tahu masalahnya. Tetapi saya langsung masuk ke ruangannya begitu mendengar suara tembakan. Di ruangan itu Tuan Muda jatuh tergeletak dan Tuan besar masih menodongkan pistol, setelah itu Tuan Besar pergi. Tetapi bukannya ke rumah sakit, Tuan Muda malah berlari ke Apartemen Nona," ucap Diego
"Kenapa kau tak mencegahnya dan langsung membawanya ke rumah sakit. Peluru itu menancap di kepalanya. Astaga bagaimana jika tidak tertolong," Sandra menggigit jarinya pertanda ia takut.
Tangannya gemetar, air matanya sudah berada di pelupuk mata menunggu untuk jatuh.
"Maafkan saya, kini Saya merasa bersalah. Tuan Damian terus bilang kalau dia ingin melihat orang yang dicintainya untuk yang terakhir kali," ucap Diego yang skenarionya sudah diketik lebih dahulu
Aku tak menyangka dia bahkan masih memikirkan diriku tanpa peduli apa yang terjadi dengannya batin Sandra
Wanita itu berdiri dan mengintip dari sela jendela yang tertutup tirai. Namun Sandra tak dapat melihat apapun.
Tak berapa lama dokter keluar terburu-buru
"Siapa disini yang bernama Sandra?" tanya Dokter pria
"Saya Dok,"
"Pasien sudah selesai di operasi, untung saja peluru itu terjepit oleh tengkorak dan tidak menembus otaknya. Sebelum kami melakukan tindakan, Pasien terus menyebut nama Sandra. Setelah ini kami akan memindahkan pasien di ruang ICU karena keadaannya masih sangat kritis," ucap Dokter
"Ya Tuhan, semoga dia bisa melewati masa kritisnya," gumam Sandra
"Bolehkah saya masuk untuk melihatnya?" tanya Sandra
"Boleh, namun tidak boleh lama-lama dan hanya satu orang," ucap Sang Dokter.
Sandra menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian menunggu suster membawanya ke ruang ICU.
Tak butuh waktu lama memindahkan Damian ke ruang ICU yang berada beberapa lorong dari ruang operasi. Sandra masuk dengan jantung yang berdegup. Sungguh dia sangat ketakutan. Dari hati yang terdalam dia tak ingin kehilangan Damian.
Ia melangkah pelan menuju ruangan Damian setelah memakai pakaian medis karena masuk keruangan ICU haruslah steril.
Bunyi detak jantung yang melemah terdengar dan gelombang yang mendeteksi denyut jantung terlihat dari layar monitor EKG.
Kepala Damian terlilit perban yang melingkari kepalanya. Ada perasaan sedih dan panik juga perasaan takut lainnya terangkum menjadi satu.
"Damian... kamu harus sembuh...," ucap Sandra mendekat dan menyentuh tangan Damian
"Aku juga mencintaimu Damian... aku mohon sadarlah. Aku ingin ketika anak ini lahir, dia masih bisa melihat mu... Hiks... Damian," ucap Sandra kemudian ia memeluk Damian, kepalanya di letakkan di atas Dada Damian yang terbuka lebar dan banyak alat terpasang disana.
Tapi yang terjadi sebuah bunyi lengkingan terdengar, Sandra terkejut dan langsung mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah layar EKG. Garis itu menunjukkan garis datar pertanda Damian sudah tak bernyawa.
"Tidaaaak!" seru Sandra
"Damiaaann!!! Jangan Mati!!! Jangan tinggalkan aku... hiks... Aku mencintaimu Damian!!!" ucap Sandra yang menangis seraya mengguncang-guncangkan tubuh Damian.
terima kasih banyak, kk author 🤗