NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Beberapa jam sebelumnya - Di luar Paramitha Corp

Sebuah Mercedes hitam terparkir di seberang jalan, tidak mencolok, tapi cukup dekat untuk memantau lobby Paramitha Corp dengan jelas. Di balik kursi penumpang, Vyan Syailendra duduk dengan postur tegang, jemarinya mengetuk-ketuk kaca mobil dengan gelisah.

Sudah dua jam dia menunggu di sini. Menunggu keberanian untuk masuk. Menunggu kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

"Tuan," asisten pribadinya—Rio—duduk di kursi kemudi dengan tablet di tangan. "Pesawat kita take off pukul 18.30. Kalau kita tidak berangkat sekarang, kita akan miss penerbangan ke London."

Vyan tidak menjawab. Matanya terus tertuju pada gedung megah di hadapannya—gedung yang dibangun oleh keluarga Paramitha, keluarga yang seharusnya menjadi musuhnya.

Tapi bagaimana bisa kau membenci seseorang yang pernah menjadi sahabat terbaikmu? Bagaimana bisa kau melupakan gadis kecil yang dulu berbagi sandwich di taman saat kau kelaparan? Gadis yang tertawa bersamamu, yang menjaga rahasiamu, yang menjadi satu-satunya teman di masa kecilmu yang penuh kesepian?

"Tuan Vyan," Rio mencoba lagi, lebih mendesak. "Tuan Besar sudah menelepon tiga kali. Beliau mengancam akan memotong akses dana Anda kalau Anda tidak—"

"Diam," potong Vyan pelan, tapi ada ancaman di nada suaranya.

Perjanjian dengan kakeknya jelas: Vyan harus pergi ke London, mengambil alih cabang perusahaan Syailendra di sana, dan tidak pernah—tidak pernah—kembali ke Indonesia lagi kecuali proyek yang seharusnya milik Paramitha Corp berhasil direbut oleh Syailendra.

Vyan sudah gagal. Dia mengembalikan proyek itu pada Anindita—hadiah untuk bayi yang akan lahir.

Konsekuensinya? Pengasingan selamanya. Atau lebih buruk—dicoret dari keluarga Syailendra.

Tapi dia tidak peduli. Tidak lagi.

Vyan meraih ponselnya, membuka galeri, menatap foto lama—foto dirinya dan Anindita berusia sepuluh tahun, duduk di ayunan taman, tersenyum lebar dengan es krim di tangan mereka.

Sebelum dendam keluarga menghancurkan segalanya.

"Maafkan aku, Dita," bisiknya pada foto itu. "Maafkan aku karena tidak cukup kuat untuk melindungimu dari—"

Matanya menangkap gerakan di lobby gedung. Pintu kaca terbuka dan seseorang berlari keluar dengan tergesa—wanita dengan dress berwarna putih yang kusut, rambut berantakan, wajah yang...

Vyan membeku.

Anindita.

Tapi bukan Anindita yang dia kenal. Wajahnya pucat seperti mayat, matanya merah dan bengkak, tubuhnya gemetar seperti daun di angin badai. Dia berlari—tidak, lebih seperti tersandung—menuju mobil yang sudah menunggu.

Sesuatu sangat salah.

"Ikuti mobil itu," perintah Vyan, suaranya tajam. "Sekarang!"

Rio tersentak. "Tapi Tuan, pesawat kita—"

"AKU BILANG IKUTI MOBIL ITU!" Vyan berteriak, membuat Rio langsung menjalankan mesin dan menginjak gas.

Rio tidak pernah melihat majikannya seperti ini—panik, takut, desperate.

Mercedes hitam mereka mengikuti mobil Anindita dari jarak aman, melewati jalanan Jakarta yang macet, kemudian menuju arah pelabuhan.

"Dia menuju Pulau Seribu," gumam Vyan, keningnya berkerut. "Kenapa dia—"

Kemudian dia ingat. Undangan pernikahan yang beredar di kalangan elite bisnis. Pernikahan megah di The Azure Bay Resort.

Tapi pernikahan siapa?

Sesuatu berbisik di belakang kepalanya—intuisi yang membuatnya mual.

"Lebih cepat," desisnya. "Kita harus sampai sebelum dia."

Tapi mereka terlambat.

...****************...

The Azure Bay Resort - Pukul 18.10

Vyan dan Rio tiba sepuluh menit setelah Anindita. Mereka berlari menuju ballroom, tapi suara teriakan sudah terdengar dari dalam—teriakan Anindita yang penuh keputusasaan.

Vyan mendorong pintu dan pemandangan yang dia lihat membekukan darahnya.

Anindita berlutut di pasir, tubuhnya basah oleh air mata dan... darah? Ada darah di dress-nya, mengalir dari antara kakinya.

Di hadapannya, Hardana Kusuma berdiri dengan Savitha Paramitha—adik tiri Anindita—dalam gaun pengantin, bergandengan tangan.

Seluruh keluarga Kusuma mengelilingi mereka seperti tembok, menatap Anindita dengan campuran jijik dan kepuasan sadis.

"ANINDITA!" Vyan berlari, tapi bodyguard menghalanginya.

Anindita mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Vyan. Untuk sejenak, ada percikan harapan di sana—harapan bahwa seseorang akhirnya datang untuknya.

Kemudian harapan itu mati.

Karena Hardana sudah berjalan menjauh, kembali ke dalam ballroom dengan Savitha, meninggalkan Anindita sendirian di kegelapan.

Sesuatu di dalam Anindita patah. Benar-benar patah.

Dia bangkit—entah dapat tenaga dari mana—dan berjalan kembali ke ballroom. Bukan berjalan. Menyeret diri. Seperti mayat hidup yang bergerak dengan sisa kehendak terakhir.

"Nyonya, jangan!" Kirana berteriak dari ruangan di mana dia dikunci, tapi suaranya teredam.

Anindita mendorong pintu ballroom. Semua mata menoleh padanya—tamu undangan, keluarga Kusuma, Hardana, Savitha.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Anindita membiarkan kebencian mengambil alih.

"KAU!" Dia menunjuk Savitha dengan jari gemetar. "SEMUA INI KARENA KAU!"

Dia berlari—berlari dengan sisa tenaga yang dia punya—dan melompat ke arah Savitha. Tangannya mencengkeram rambut adik tirinya, menariknya dengan kuat hingga Savitha berteriak.

"KAU MENGAMBIL SEGALANYA DARIKU!" Anindita menjerit, menampar Savitha berkali-kali. "SUAMIKU! HIDUPKU! MASA DEPANKU! ANAKKU!"

Chaos meledak.

Bodyguard berlari menangkap Anindita. Hardana menarik Savitha menjauh. Tamu-tamu berteriak panik.

Tapi Anindita tidak peduli. Dia melawan seperti binatang buas yang terluka—menggigit, mencakar, menendang siapapun yang mencoba menangkapnya.

"LEPASKAN! LEPASKAN AKU!" Dia berteriak sampai suaranya serak. "AKU AKAN BUNUH KALIAN SEMUA!"

Empat bodyguard besar akhirnya berhasil menahan Anindita, memaksanya ke lantai. Mereka tidak lembut—mereka memukul, menendang, memperlakukannya seperti sampah.

Vyan yang melihat itu kehilangan kontrol.

"BRENGSEK!" Dia mengeluarkan pistol dari jaket-nya, warisan dari kakeknya dan menembak ke langit-langit.

BANG!

Semua orang membeku.

"SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADA SAHABATKU?!" Vyan berteriak, mengarahkan pistol ke arah kerumunan. "SIAPA?!"

Keluarga Syailendra terkenal sebagai keluarga gangster yang tidak takut pada siapapun. Dan Vyan—walau terlihat seperti pengusaha muda yang plenger—memiliki darah yang sama.

"Tuan Vyan..." Bramantara Kusuma melangkah maju dengan tangan terangkat. "Ini urusan keluarga kami. Tidak ada hubungannya dengan—"

"DIAM!" Vyan menembak lagi, kali ini ke vas bunga di samping Bramantara. Pecahan keramik beterbangan.

Panic meledak. Tamu-tamu berlarian keluar. Beberapa wanita berteriak histeris.

Rio dan dua asisten Vyan lainnya masuk dengan pistol di tangan, membentuk formasi protektif di sekitar Vyan dan Anindita.

Tapi mereka hanya bertiga. Sementara bodyguard keluarga Kusuma ada lebih dari dua puluh orang.

Pertarungan yang tidak seimbang.

"Bawa Dita ke mobil!" perintah Vyan pada Rio. "Sekarang!"

Rio berlari, membantu Anindita berdiri. Tapi tubuh Anindita lemas, darah terus mengalir dari kakinya—darah yang membuat dress putihnya berubah merah.

"Vyan..." Anindita berbisik lemah. "Vyan, aku... aku tidak bisa..."

"Kau bisa! Kita harus keluar dari sini!"

Tapi bodyguard Kusuma sudah mengepung mereka. Dua puluh lawan tiga.

Pertarungan pecah.

Tembakan. Teriakan. Pukulan. Darah.

Vyan melindungi Anindita dengan tubuhnya sendiri, menerima pukulan demi pukulan yang seharusnya mengenai sahabatnya. Pistolnya jatuh. Rio dan asisten lainnya sudah jatuh tidak sadarkan diri.

Mereka kalah jumlah. Mereka kalah kekuatan.

Sebuah balok kayu menghantam kepala Vyan. Darah mengalir dari pelipisnya. Tapi dia tidak melepaskan Anindita. Dia memeluknya erat, melindunginya, tubuhnya menjadi tameng.

"Vyan... kumohon... lepaskan aku..." Anindita menangis, merasakan tubuh Vyan yang bergetar karena kesakitan. "Jangan menanggung ini sendirian..."

"Tidak akan pernah," bisik Vyan, bibirnya sudah berdarah. "Aku... aku sudah berjanji untuk melindungimu. Maafkan aku... Maafkan aku karena sudah banyak menyakitimu selama ini..."

"Vyan..." Anindita mengusap wajah sahabatnya yang penuh darah dengan tangan gemetar. "Kau tidak salah... Kau tidak pernah salah... Kita korban dari permainan keluarga kita..."

Balok kayu lainnya menghantam punggung Vyan. Dia muntah darah, tubuhnya berkonvulsi.

"VYAN!" Anindita berteriak, memeluknya. "JANGAN! KUMOHON LEPASKAN PELUKANMU DARIKU!"

Di tengah chaos itu, seseorang melangkah maju dengan tongkat kayu di tangannya.

Darwan Kusuma. Kakek dari Hardana. Kepala keluarga besar Kusuma.

Pria tua itu tersenyum—senyum yang paling mengerikan yang pernah Anindita lihat.

"Hentikan," perintahnya, dan semua bodyguard mundur.

Darwan berjalan perlahan menuju Vyan dan Anindita yang tergeletak di lantai, berpelukan, penuh darah.

"Aku tidak tahu kapan dua musuh bebuyutan ini menjadi sahabat," kata Darwan dengan nada main-main, seperti sedang membicarakan cuaca. "Hmm... sepertinya salah paham yang telah kubuat sudah tidak mempan lagi ternyata."

"Apa... apa maksudmu?" Vyan menatapnya dengan mata yang hampir tidak bisa fokus.

Darwan berjongkok, mencengkeram pipi Vyan yang penuh darah dengan jari-jari tuanya yang keriput. Cengkeramannya kasar, kuku-kukunya menancap ke kulit.

"Kakekmu, aku dan kakek Anindita dulunya adalah sahabat," katanya dengan santai—terlalu santai. "Kami bertiga membangun kerajaan bisnis bersama. Tapi aku... aku tidak suka melihat mereka bersinar. Mereka selalu lebih sukses. Selalu lebih dicintai. Selalu lebih... sempurna."

Matanya berkilat dengan kebencian yang sudah membusuk selama puluhan tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!