"Kalau kamu cinta sama aku, buktikan dong! Kamu wanita pertama dalam hidup aku, Luna. Apa kamu tidak mau menjadikan aku lelaki pertama yang pernah tidur denganmu?"
Saat Noah meminta pembuktian cintaku padanya, aku bisa apa selain dengan bodohnya memberikan keperawananku padanya? Semua atas nama cinta. Cinta yang bagaimana? Cinta yang penuh dengan toxic?
Diilhami dari kisah nyata pergaulan anak muda jaman sekarang. Mohon bijak menyikapinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Mama
Noah mengantarku dan Ariel sampai depan Mall. Ia harus menemani Mamanya yang sakit di rumah. Aku melambaikan tanganku mengantar kepergian Noah sambil tersenyum lebar.
"Sudah acara perpisahannya, dong. Bikin iri saja! Kalian tuh macam pengantin baru menikah. Tak mau lepas," sindir Ariel.
"Ah masa sih? Kami cuma dalam fase mesra saja kok, bukan pengantin baru," jawabku. Ya, memang sih kami habis melakukan apa yang pengantin baru lakukan, karena itu kami makin romantis.
Ariel mengajakku berkeliling Mall. Dia memilih beberapa dress dan tanktop. Jujur saja aku heran, untuk apa semua itu?
"Kamu enggak salah, Riel? Buat apa kamu beli tanktop banyak banget?" tanyaku.
"Buat ganti-ganti, Lun. Bisa juga aku pakai tidur. Kamar kostan kita tuh panas, aku yang terbiasa di kampung adem, di Jakarta panasnya poll. Enak kalau tidur pakai tanktop," jawab Ariel.
Aku tak lagi banyak bertanya. Aku juga membeli sebuah dress tanpa lengan. Ariel hanya melirik sekilas namun tidak bertanya. Aku sengaja membayar di kasir terpisah. Tanpa Ariel lihat, aku mengambil sebuah lingerie warna hitam dan membayarnya bersama dress tanpa lenganku. Jangan sampai Ariel tahu.
Kulihat Ariel sibuk dengan belanjaannya yang lumayan banyak. Rasa curiga menghampiriku. Dari mana ia punya uang sebanyak itu? Selama ini orang tuanya selalu memberinya uang jajan pas-pasan. Kenapa sekarang bisa memberinya banyak uang? Aneh!
"Kiriman uang dari orang tua kamu banyak ya bulan ini? Kamu sampai bisa beli beberapa baju baru loh. Tumben sekali. Panen mereka lagi berlimpah ya, Riel?" tanyaku yang tak bisa menahan rasa penasaran lebih lama lagi.
"Ya begitulah, Lun. Namanya juga petani, kadang hasil panen berlimpah dan harga lagi naik jadi punya banyak uang. Tak jarang juga panen gagal dan malah rugi. Disyukuri saja." Ariel membayar semua belanjaannya secara cash. Kulihat masih ada lagi beberapa lembar uang seratus ribuan di dalam domper Ariel. Wow, uangnya benar-benar banyak. Hebat!
"Pantas kamu belanja banyak begitu, Riel. Enak ya, Papa aku saja sudah mengancam tak akan membayari kostanku. Marah besar Papa padaku karena aku ngekost. Kalau aku tidak hemat, bagaimana aku bisa bayar uang kost dan makan sehari-hari?" keluhku.
"Tidak tertarik dengan tawaran pekerjaan yang kemarin aku ceritakan sama kamu, Lun?" Ariel mengambil baju yang sudah ia bayar lalu mengajakku melihat-lihat Mall untuk cuci mata.
"Enggaklah. Aku enggak mau, Riel. Bisa habis digorok Papa kalau sampai aku ketahuan bekerja seperti itu. Aku mau nyari kerjaan sampingan jadi guru les saja. Nanti aku mau nanya ke sekitar tempat kost, siapa tahu ada yang anaknya mau private les sama aku."
"Itu sih uangnya dikit, Lun. Kamu juga akan kalah saing dengan tempat les besar yang punya nama."
Aku menatap Ariel dengan tatapan aneh. Aku merasa Ariel seperti marketing yang terus membujukku agar mau ikut dengan pekerjaan yang ditawarkannya. "Riel, kamu enggak ikut pekerjaan yang teman kamu tawarkan itu bukan?" tanyaku penasaran.
"Enggaklah, Lun. Kamu tahu sendiri aku ini enggak kuat tidur malam, jam 8 malam saja mataku sudah lima watt. Lampu kamarku sudah aku gelapin agar bisa bangun agak siang. Enggak sanggup aku begadang tiap malam!" kata Ariel beralasan.
Jujur, aku makin meragukan Ariel. Jelas-jelas malam itu aku memergokinya pergi dengan pakaian rapi dan bertemu kembali keesokan harinya dengan baju yang sama. Apa yang Ariel sembunyikan ya?
Kami masih memutari Mall sampai kaki kami lelah berjalan dan memutuskan pulang ke kostan dengan naik angkot. Lelah namun puas cuci mata di Mall.
🤍🤍🤍🤍
Hari-hari tenang kujalani selama tinggal di kostan. Aku bisa fokus mengerjakan skripsiku tanpa terganggu oleh pertengkaran Mama dan Papa.
Kehidupan percintaanku dengan Noah juga semakin mesra saja. Sudah dua kali kami melakukan hubungan terlarang itu, tak ada yang berubah, malah kulihat Noah semakin perhatian denganku.
Kata-kata mesra dan gombalan yang ia ucapkan seakan menjadi penyemangatku dalam menjalani hidup. Belum lagi sikap royalnya yang suka membelikanku makanan, lumayan membantuku yang jadi super irit ini.
"Lun, Mama besok libur kerja. Mama mau main ke kostan kamu ya!" Mama mengirimkan pesan padaku semalam. Aku sudah tertidur pulas dan baru membaca pesan Mama pagi ini.
"Iya, Ma. Main saja!" balasku.
Aku lalu mengirim pesan ke Noah. Jangan sampai kekasihku main ke kostanku hari ini. Mama bisa curiga dengan hubungan kami yang sudah melewati batas ini.
Noahku yang baik tak protes saat aku memintanya tidak datang ke kostanku hari ini karena Mama mau datang. Malah kekasihku yang baik hati itu memesankan makanan untuk teman ngemil kami. Uh ... baik sekali dia. Makin cinta deh aku sama Noah.
"Kalau besok boleh 'kan aku main? Mau lihat kamu pakai baju baru yang seksi," balas Noah.
Aku tersipu malu membaca pesan yang Noah kirimkan. "Boleh dong, Sayang!" jawabku sambil tersenyum senang. Segera kuhapus semua pesan dari Noah. Jangan sampai Mama melihat nanti.
Sekitar jam 11 siang Mama mengabariku kalau beliau sudah sampai di depan kostan. Aku turun untuk menjemputnya. Mama membawa sesuatu yang terlihat agak berat di kedua tangannya.
"Masuk, Ma!" Aku salim dan menawarkan diri membawa barang yang Mama bawa.
"Berat tidak, Lun? Kalau berat biar Mama saja yang bawa," kata Mama.
"Enggak, Ma. Memang Mama bawa apa sih?" Kami menaiki anak tangga dan langsung menuju kamarku. Kubuka pintu kamar dan mempersilahkan Mama masuk.
"Mama bawa makanan buat kamu." Bak seorang detektif yang sedang memeriksa sebuah kasus. Mama memeriksa dengan teliti kamar kostku. "Kenapa tidak ada divannya sih, Lun? Cuma tidur di lantai begitu? Memangnya kalau malam tidak dingin?"
"Luna malah senang tidur di lantai begini, Ma. Lebih lega. Tidak dingin kok. Kasurnya cukup tebal dan ada karpetnya juga. Nyaman menurut Luna." Aku tak mau membuat Mama khawatir.
Mama memeriksa kamar mandi yang terlihat cukup bersih lalu duduk bersamaku di atas karpet. "Lumayan enak sih kostannya. Bersih."
"Iya, Ma. Jarak ke kampus juga dekat. Mau beli makan juga banyak yang jual," tambahku.
"Kamu beli lemari es baru, Lun?" Mama membuka barang-barang yang dibawanya. Ada satu kotak ayam ungkep yang Mama buat sendiri.
"Tidak, Ma. Noah yang pinjamkan. Katanya di rumah Noah tidak terpakai. Lumayan buat aku menyimpan bahan makanan," jawabku dengan jujur.
"Oh ... baik ya dia sama kamu. Syukurlah. Nanti kamu bisa simpan ayam buatan Mama di freezer. Kalau mau masak dimana?" tanya Mama lagi.
"Di bawah. Ada dapur bersama yang bisa aku pakai, Ma."
Mama kembali mengeluarkan isi tas yang dibawanya. Ada beras, gula, susu, teh dan beberapa cemilan untukku. "Jangan makan mie instan terus ya. Enggak sehat. Makan sayur juga!"
"Iya, Ma."
Mama kini mengeluarkan buah yang dibelinya. Pantas saja berat, banyak sekali barang bawaan Mama. "Mama beli anggur dan apel kesukaan kamu. Habiskan ya!"
Aku sekuat mungkin menahan air mata haru yang sudah menggenangi mataku untuk menetes. Mama memang sangat menyayangiku. Meski Mama jarang di rumah, aku tahu kalau Mama teramat menyayangiku.
Mama mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan lalu memberikannya padaku. "Ini, Mama kemarin dapat uang lembur. Kamu pakai untuk keperluan kamu selama kost ya, Lun. Nanti kalau Mama dapat uang lagi, Mama bagi kamu ya!"
Air mata yang susah payah aku tahan akhirnya menetes juga. Timbul rasa sesal dalam hatiku. Sudah terlalu jahat aku sama Mama. Seharusnya aku ada di sisi Mama, menemaninya menjalani hidupnya yang berat tapi aku malah pergi demi ketenangan hidupku sendiri.
"Maafin Luna ya, Ma," kataku dengan suara tercekat.
"Maaf untuk apa, Lun?"
****
terimakasih kak author..sukses u karya2 selanjutnya🙏💐
keren sih jadi cowok 😁
kaget pas bilang mantan narapidana🙃
sirik aja kamu Zah, klu udh pikirannya negatif yaa susah deh🤦♀️
Rina jg fun2 aja sama Luna, Bahri jugaa..loe aja yg sirik Zizah
sskarang aja bilang kesepian ga ada teman..telat Pak🤪