Dulu, aku adalah seseorang yang menjadi inspirasi hidupmu, Aku lah wanita yang selalu kau bangga-banggakan pada siapapun yang bertanya perihal siapa sosok di balik kesuksesan mu.
Namun sekarang, aku hanya sebuah nama yang terkubur bersama masa lalu mu. Kau sembunyikan aku jauh dari hidup mu. Semua sudah berubah, hanya karena orang-orang baru, aku tersingkirkan dari sisi mu.
Terima kasih Mas, kau pernah memeluk ku dengan erat, meski pada akhirnya kau melepaskan ku demi dia. Ya, dia yang jauh lebih sempurna di bandingkan diriku.
Dari dirimu aku belajar, pernah dibahagiakan bukan berarti tidak akan disakiti. Pernah di cintai bukan berarti tidak akan dibenci dan aku mengerti. Aku tidak akan pernah bisa selamanya menjadi orang yang berharga di hati mu. Karena aku bukanlah pelabuhan hati mu yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tiga bulan sudah aku menjadi sekertaris Ferdy. Ferdy berusaha bersikap profesional ketika berada di lingkungan kerja, tapi terkadang di melupakan sikap profesionalnya , ketika aku di dekati oleh beberapa pria yang merupakan rekan kerjaku.
Dia cemburu. Ya, dia terang-terangan mengatakan padaku jika ia cemburu. Ia melarang ku dekat dengan pria mana pun. Hubungan ku dan Ferdy mengalir seperti air. Terjalin begitu saja tanpa ada tembak-menembak seperti anak muda zaman sekarang.
Kami saling menyayangi, saling mencintai saja itu sudah cukup. Beberapa minggu yang lalu, Ferdy mengajakku bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia seperti orang yang ingin melangkah serius dengan ku.
Namun tiba-tiba saja, aku merasa insecure dengan statusku yang hanya seorang janda sekarang. Meskipun dia terus meyakinkan aku tentang apa masalahnya dengan seorang janda. Tapi tetap saja aku merasa tak pantas bersanding dengannya.
Tapi Ferdy ya tetaplah Ferdy. Dia begitu gigih untuk memiliki ku. Aku memang tak mau dibawa kediaman keluarganya tapi dia akhirnya mendatangkan keluarganya ke unit apartemen ku.
Ting tong...[Suara Bel bel berbunyi].
Aku pinta Bibi membuka pintu unit apartemen ku. Bibi begitu terkejut sama halnya dengan diriku. Ferdy datang bersama keluarganya tanpa bicarakan hal ini dulu pada ku.
"Kejutan..." Ucap Ferdy dengan senyumnya dan tepukan dari sang Mami yang berdiri tepat di belakangnya.
"Ferdy. Jangan menggodanya! Lihat Bibi dan calon menantu Mami terlihat shock dengan kedatangan kita." Ucap Mami Ferdy yang merupakan Tante Lita, teman arisan Mami ku.
Ya. Aku memang benar-benar terkejut, bagaimana tidak. Ternyata Ferdy adalah anak dari teman arisan Mami ku dan teman bisnis Papiku. Pantesan saja jika Mami begitu akrab dengannya. Seakan gampang sekali Mami merestui hubungan kami.
"Silahkan masuk Nyonya, Tuan," Bibi mempersilahkan mereka masuk, namun mereka belum mau masuk jika aku yang berdiri di belakang Bibi tidak mempersilahkan mereka.
"Kita akan masuk kalau calon mantu kami mempersilahkan kami masuk. " Ucap Papi Ferdy yang bernama Ergi. Beliau berdiri tepat di samping istri tercintanya.
Perkataan Om Ergi benar-benar membuatku kikuk dan gugup.
"Apa katanya tadi, Calon mantu? Semudah itukah mereka menerima ku menjadi salah satu anggota keluarga mereka. Ah, ini seperti sebuah mimpi bagi ku." Gumam ku dalam hati.
"Kok bengong, gak boleh masuk ya. Ya udah yuk kita pulang lagi saja Pih. Kedatangan kita, tidak diharapkan oleh calon menantu kita." Celetuk Tante Lita sambil tersenyum meledekku.
"Eh-ehh... Jangan Tante!" Cegah ku saat tubuh kedua orang tua Ferdy berbalik ingin meninggalkan unit apartemen ku.
Mereka menghentikan langkah mereka dan kembali membalikkan tubuh mereka.
"Jangan apa Lea sayang?" Tanya Tante Lita dengan senyum menggoda ku.
"Eh- itu, jangan pergi, kalian boleh masuk kok." Ucap ku dengan gerogi.
Ku garuk sedikit kulit kepalaku yang tak gatal, untuk meredakan segala kegugupan yang kini aku rasakan, namun aku malah mendapatkan ledekan lagi dari Om Ergi yang terkenal humoris.
"Gatal?Kamu ketombean ya, Lea? Kamu pintalah Ferdy temani kamu ke salon ya. Kasih pria pengangguran itu pekerjaan. Dia sudah lama dianggurin kamu tuh jadi kurang peka." Ucap Om Ergi saat ia berjalan melewati ku.
Jujur aku bertambah malu mendengar ucapan Om Ergi pada ku. Aku pun menundukkan, menyembunyikan wajahku yang sudah bersemu merah.
Saat aku tertunduk sebuah tangan kekar menarik dagu ku, membuat diriku menatap wajahnya.
"Jangan di ambil hati Papi memang begitu!" Ucap Ferdy yang tersenyum manis menatap ku.
"Ishh... Kamu keterlaluan ya. Aku bilang aku belum siap. Kamu malah nekat. Kamu benar-benar ya----" ucapan ku terpotong karena Ferdy menyela ucapan ku.
"Benar-benar mencintai kamu sayang, kalau aku bergerak terlalu lamban, kamu keburu di ambil orang dan pergi lagi dari sisiku." Ucap Ferdy yang membuat hati ku berbunga-bunga.
"Tapi gimana? Aku gak punya apa-apa untuk menyuguhkan tamu spesial ku ini." Tanya ku yang hanya dibalas senyuman oleh Ferdy.
"Ish.. malah senyum bukan kasih jawaban." Protes ku yang menepuk pelan pipi Ferdy yang di tumbuhi bulu-bulu halus yang menggelitik ketika di sentuh.
"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir, ada seseorang yang akan datang membawa semua jamuan untuk kedua orang tuaku." Jawab Ferdy yang merangkulku untuk berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang telah duduk di ruang keluarga. Jawab Ferdy yang menenangkan hati ku.
Aku duduk diantara mereka. Suasana hangat yang tak pernah aku rasakan dengan keluarga Mas Doni, membuatku begitu bersyukur dan bahagia.
Bibi terlihat sedang memberikan minuman dan menghidangkan makanan kecil yang kami punya sebagai suguhan untuk mereka. Saat kami larut salam suasana hanga kai, tiba-tiba Bell kembali berbunyi.
Bi Inah segera berlari menghampiri pintu. Betapa terkejutnya kami melihat tentang kehadiran Mami yang tak biasanya mendatangiku pada hari minggu seperti saat ini.