menceritakan tentang perjodohan seorang ceo dingin dengan gadis cantik anak tunggal di keluarga kaya raya, yaitu sahabat papanya sendiri. mampukah mereka menyatuhkan cinta mereka meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda dari keduanya??
ini karya pertama ku,, 😊😊
maaf typo bertebaran guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajra Ichi Ocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Bila di kamar Bianca dan Kusuma terdapat kemesraan, lain pula suasana di kamar pengantin baru yang baru saja sah tadi pagi.
mereka sedang bernegoasiasi siapa yang akan tidur di atas ranjang, saat istirahat siang tadi Mahendra mengalah yaitu dengan tidur di atas sofa tapi tidak dengan istirahat malam ini.
Rya juga tak mau mengalah, Rys berpikir bahwa dia adalah seorang wanita, jadi Mahendra lah yang harus mengalah.
"Kalau begitu kita sama-sama tidur di atas ranjang saja, bukankah itu adil." ujar Mahendra berusaha mengadili antara kemauannya dan Rya.
"Tidak bisa begitu, aku tidak ingin tidur di samping cowok mesum kayak kamu." tolak Rya
"Apa kamu bilang mesum? sejak kapan aku mesum dengan mu."
"Hehh orang tua, apakah kamu sudah pikun? kamu tidak lihat bekas ke mesuman mu ini. karena kamu aku jadi kegerahan memakai syal saat makan malam tadi, dan karena kamu mama mencurigai ku yang tidak-tidak." ucap Rya mengingatkan
"Aku hanya memberikan mu hukuman atas kesalahan mu, bukan berarti aku bergairah melihat tubuh rata mu itu, apa lagi sampai berpikiran mesum." bantah Mahendra
"Pokoknya kamu harus tetap tidur di sofa, dan kamu harus mengalah untuk malam ini." ucap Rya lagi yang tetap tidak ingin seranjang dengan Mahendra
Mendengar itu Mahendra langsung mendekati ranjang dan mengambil bantal untuk ia gunakan tidur di sofa, ia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Rya karena itu hanya akan menambah lelah untuk otak serta tubuhnya.
"Gitu kek dari tadi." ucap Rya setelah melihat Mahendra telah mendekati sofa untuk tidur.
Mahendra tak menghiraukan perkataan Rya dan langsung mencari posisi nyaman tubuhnya untuk berbaring di atas sofa.
Entah mengapa hari ini Mahendra merasa tidak seperti hari-hari biasanya, jika biasa ia hanya berurusan dengan berkas-berkas walaupun menumpuk namun tak sampai membuatnya sangat pusing seperti hari ini.
Sangat banyak peristiwa aneh yang belum pernah ia lalui sebelumnya sampai hari ini, seperti hari kutukan untuknya menikahi wanita yang sangat keras kepala dan berani membantahnya, sangat banyak kata yang keluar dari mulutnya sejak bertemu dengan Rya, kemanakah sifat dingin yang selama ini ia tunjukan? seakan-akan sifat itu menghilang saat ia berhadapan dengan istri kecilnya itu.
karena sangat merasa lelah, Mahendra pun langsung memejamkan mata dan tertidur
***
Tidak terasa pagi telah tiba, Rya menggeliat dari tidurnya karena sinar matahari yang mulai menampakan diri di selah jendela kamar hotel.
saat ria tersadar dari tidurya, ia merasa seperti ada beban berat yang menindih tubuhnya, ia lalu mencoba mengumpulkan kesadaran dan melihat ada tangan yang kokoh sedang berada di atas perutnya sambil memeluk dengan sangat erat.
Rya yang kaget sontak langsung berteriak kencang, hingga membuat Mahendra yang tengah berada di alam bawah sadarnya juga terbangun karena mendengar teriakan orang yang tepat berada di sampingnya.
"kenapa kamu berteriak? apa kamu pikir ini hutan." bentak Mahendra pada Rya yang telah mengganggu tidurnya.
"Kamu yang kenapa? bukannya semalam kamu tidur di sofa, kenapa kamu tiba-tiba di sini?" ucap Rya tak mau kalah
"Memangnya kenapa? toh aku tidak melakukan apapun kepada mu, apa ada yang kurang dari tubuh mu itu?"
Rya yang mendengar perkataan Mahendra langsung mengecek tubuhnya dan tetap seperti semalam, tidak ada kejanggalan yang ia rasakan pada tubuhnya.
"Tapi tetap saja, tadi kamu tidur sambil memeluk ku." ucap Rya tetap mempermasalahkan Mahendra yang memeluknya
"Benarkah? pantas saja aku bermimpi memeluk sebuah batu yang sangat keras." ejek Mahendra
"Dasar pria mesum, awas saja kamu yah." alarm bayaha dari Rya
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan terhadap ku anak kecil?" tantang Mahendra sambil memperlihatkan senyum liciknya
Rya yang tidak tau menjawab apa langsung saja bangun dan berlari ke kamar mandi.
"Huhh bodoh bodoh, kenapa aku malah berlari seperti pengecut begini? di mana jiwa pemberani mu Rya, di mana? tapi Mahendra bukanlah orang biasa dia pasti akan melakukan sesuatu yang mengerikan jika sampai aku berani membuatnya marah. ini saja bekasnya belum hilang." monolog Rya di depan cermin sambil melihat lehernya yang masih membekas karena ulah Mahendra.
Setelah selesai membersihkan diri Rya pun keluar dari kamar mandi dan bergantian dengan Mahendra yang kini ingin segera masuk ke kamar mandi.
tidak ada percakapan saat mereka saling melewati, yang ada hanya tatapan seperti ingin berperang antara mereka berdua.
waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi, rasa lapar kini datang menghampiri Rya, ia pun langsung berpikir untuk memesan makanan. namun ia masih bingung apakah ia juga akan memesanakn makanan untuk Mahendra yang masih di dalam kamar mandi.
"Ahh masa bodoh lah dengan cowok rese itu." begitulah ucapan Rya saat mengingat wajah mahendra
Ia langsung mendekati telepon kamar hotel yang berada di samping ranjang yang berukuran king size untuk memesan makanan.
Ia hannya memesan 1 porsi makanan untuk dirinya dengan dalih bahwa ia tidak tau apa makanan kesukaan Mahendra dan juga ia malas bila harus berbuat baik pada pria angkuh menurutnya itu.
tak lama kemudian datanglah karyawan hotel membawakan makanan pesanan Rya, bersamaan dengan keluarnya Mahendra dari dalam kamar mandi, Mahendra yang melihat adanya makanan yang cuma 1 porsi pun heran, apa Rya tidak memesankan makanan untuknya, apa lagi Mahendra sudah merasa sangat lapar sekarang.
"Mana makanan untuk ku?" tanya Mahendra pada Rya.
"Tentu saja tidak ada, aku tidak tau bahwa kau juga lapar dan aku tidak tau apa yang kau sukai." jelas Rya memaparkan alasannya.
"Kalau begitu pesan kembali untuk mu, aku sudah sangat lapar sekarang" ucap Mahendra sambil mengambil piring yang berisi makanan pesanan Rya
"Inikan pesanan ku, pesan saja sendiri." ucap Rya sambil berusaha mengambil makannannya kembali
Karena tubuh Rya yang jauh di bawah Mahendra sehingga rya tak bisa meraih piring yang Mahendra angkat setinggi mungkin dan membuat Rya kelelahan karena terus melompat mencoba meraih makannan yang ada di tangan Mahendra.
Rya yang kesal karena makanannya telah di rebut oleh Mahendra dan sudah lelah berhadapan dengan suami yang tidak mau mengalahnya itu pun kembali ke arah telepon untuk memesan kembali makanan untuk dirinya sendiri.
Mahendra yang seperti manusia tanpa dosa itupun sedang asyik menyantap makanan pesanan Rya tanpa peduli tatapan membunuh dari Rya yang terus menatapnya
Tak lama kemudian bel kamar hotel berbunyi kembali dan menampilkan karyawan yang mengantar makanan pesanan Rya untuk ke dua kalinya.
Rya pun kini sudah bisa makan walaupun dengan perasaan jengkel pada Mahendra.
**Sekian untuk BAB ini...
terima kasih readers... 😘😘
jangan lupa tinggalkan likenya yahh...😊😊😊**