Ini hanya karya fiksi.
Bagaimana kabar mu hari ini? Apa semua berjalan dengan lancar? Atau mereka masih suka mengganggu mu?
Tenang, bila itu terjadi aku akan selalu melindungi mu dari bangun hingga terlelap mu, sebagai imbalannya biarkan aku menyatu dengan jiwa mu.
Ikuti terus alur cerita pendek menarik dalam setiap judulnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XII (Rindu Wanita Senja Part I)
Nama ku adalah Rahma, istri dari seorang petani yang bernama Syukur, aku menikah dengan suami sejak tahun 1971, dari hasil pernikahan, kami memiliki 9 orang putra dengan berbagai macam karakter.
Selaku orang tua, kami bekerja keras demi anak-anak yang kami sayangi, hampir setiap tahunnya dalam hidup ku dan suami selalu menginap di kebun, karena harus menjaga tanaman dari hewan yang suka merusak panen.
Tapi, sekeras apa pun kami berusaha, kami tetap tidak bisa menyekolahkan anak kami sampai ke tingkat SMA, anak-anak ku yang masih terbilang muda juga sudah menemui jodohnya masing-masing.
Semua pergi meninggalkan aku dan suami ku di desa kecil, yang jauh dari peradaban moderen.
Setiap anak ku yang melangkahkan kakinya dari rumah tua kami, pasti tidak akan kembali lagi.
Saat ramadhan tiba, aku selalu teringat akan anak-anak ku sewaktu mereka masih ada bersama ku.
Setiap jam 2 pagi aku sudah bangun, untuk memasak nasi sahur, jika anak ku yang paling bungsu mendengar suara kukuran kelapa yang aku lakukan, dia akan terbangun dan menggelengkan kepalanya di pangkuan ku.
Kalau mengingat itu semua, air mata ku selalu menetes. Dalam hati ku selalu bertanya.
“Apakah mereka telah jera menjadi orang susah? Sehingga mereka tak tahu jalan pulang? Ataukah mereka sedang tidak berezeki di rantau orang?”
Memikirkan itu semua hati ku sakit, dalam sholat ku, tak putus mendo’akan anak-anak ku, agar selalu bahagia, sehat, meski mereka tak mengingat ku, karena aku juga sadar, bersama ku tak ada kebahagiaan yang mereka peroleh.
Waktu itu aku masih ingat dengan jelas tahun 2008, belum kering air mata ku karena rasa rindu pada anak-anak ku, orang-orang datang menjemput ku ke kebun, mereka mengatakan suami ku telah meninggal dunia.
Bertepatan di hari terakhir puasa ramadhan. Tak habis hati ku berduka, karena orang-orang yang aku cintai pergi meninggalkan aku.
Tapi aku masih bersyukur karena banyak warga yang meramaikan rumah ku, meski pun hanya sejenak menemani sepi ku.
2 minggu setelahnya, aku yang sedang duduk di depan pintu, melihat ke arah jalan tanah liat yang belum beraspal, yang berada di depan rumah ku, lalu batin ku bertanya pada Tuhan. “Apakah anak-anak ku akan pulang lebaran tahun ini Tuhan?”
Setiap hari selepas kerja, aku selalu menunggu dalam rumah dengan pintu terbuka, kalau ada suara bis berhenti, aku yang telah senja ini berlari halaman untuk melihat siapa yang datang, bahkan sering kali aku bergadang dengan berharap salah satu dari mereka pulang, meski ku tahu itu semua tidak mungkin.
Hari-hari yang aku lalui bagai tak bermakna, tak ada gairah, tak ada lagi keinginan untuk hidup, hingga duka ku berujung pada tahun 2010, saat itu aku sedang merebahkan tubuh ku di atas tikar dalam rumah, tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum! hallo! Ada orang tidak di dalam!”
Seketika aku langsung duduk dan menjawab salam dari seseorang yang belum ku kenal itu.
“wa’alaikumussalam.” ku buka pintu ku yang telah renyah, masya Allah ada perempuan cantik dengan dua orang anak di samping kiri kanannya.
“Maaf nak, kalian ini siapa?” aku bertanya dengan penuh sopan.
“Aku Bihan, ini adalah anak-anak ku, yang paling besar namanya Ali, yang kecil ini adalah Zahra.”
Aku merasa heran, kenapa perempuan cantik ini datang ke rumah ku dengan membawa 2 orang anak.
“Maaf nak, ibu sampai lupa, ayo masuk dulu.” ucap ku.
“Tidak perlu, saya lagi buru-buru.” sahut wanita bernama Bihan itu.
“Baiklah, tapi sebelumnya maaf, kalian ini siapa ya? Kenapa datang ke rumah ibu?” tanya ku lagi.
“Saya adalah mantan istri dari anak ibu yang bernama April!”
Saat mendengar nama April, putra ku yang nomor 5, aku merasa senang sekali.
“April? Tapi kok kalian hanya datang bertiga nak?” aku bertanya dengan rasa penasaran.
“Nah! Itu masalahnya, saya dan April telah bercerai!” Jawab menantu ku dengan nada tinggi.
“Cerai? Kok bisa begitu nak?”
“ylYa bisalah, setelah dia kenal sama uang, dia malah seenaknya pergi dengan perempuan lain! Dan sudah 1 tahun aku di tinggalkan oleh anak mu bu!” Pekik Bihan pada ku.
“Astagofirlohal’azim, maafkan dia ya nak, anak ibu pasti hilaf nak?” aku memegang tangan menantu ku dengan penuh penyesalan atas perbuatan anak ku.
“Sudahlah bu, kita berdua sudah end! Alias berakhir! Dan tujuan ku datang ke sini adalah, untuk memberikan akan-anak April sama ibu, lagian saya enggak mau susah karena anak-anak ini, bapaknya saja ngak mau tahu, biar ibu saja yang menanggungnya, ini semua karena ibu ngak becus mendidik April!”
Astagofirlohal’azim, begitu menderitanyakah menantu ku akibat perbuatan anak ku? Aku tak bisa membantah perkataan Bihan, yang mengatakan aku tak becus mendidik anak ku, karena memang kenyataannya aku sering meninggalkan April untuk menginap di kebun.
Dengan berlapang dada aku menerima kedua cucu ku itu, cucu ku menangis memohon agar ibu mereka tidak meninggalkan mereka bersama ku.Namun menantu ku Bihan tak memperdulikan mereka.
Dari siang hingga sore, mereka berdua terus menangis sampai tiduran di tanah, Aku terus membujuk cucu ku, agar mau masuk ke dalam rumah, hingga malam hari pun tiba, banyak nyamuk di luar menggigiti mereka, cucu ku terus melihat ke jalan dengan air mata yang terus mengalir, karena mereka merasa ibu mereka tidak kembali lagi, akhirnya mereka memanggil ku dengan suara terbata-bata.
“ne nek..”
Untuk pertama kalinya cucu ku memanggil aku nenek, “Ali cucu ku sayang.” aku mendekati mereka berdua, lalu memeluk kedua cucu ku dengan penuh kasih sayang dan iba.
Aku tak pernah menyesal, marah atau sebagainya mereka di berikan apada ku, justru aku sangat merasa senang sekali. Dengan ke hadiran mereka, aku merasa hidup kembali.
Aku membawa mereka berdua masuk ke dalam rumah, dan melap tubuh mereka yang kotor dengan kain basah.
Setelah mereka berdua bersih, aku mengambil baju cucu ku di dalam koper, saat tengah membongkar koper mereka, tak sengaja aku melihat sebuah rapot, ternyata cucu Ali, telah kelas 1 SD.
“Nek, kalian tunggu di sini ya, nenek mau pergi beli lauk sama kalian.” ucap ku seraya mengambil uang di dalam sarung bantal ku.
“Nenek jangan pergi, di sinikan gelap sekali nek.”
Ucap Ali seraya memegang tangan ku, aku merasa kasihan sekali pada mereka, karena sebelumnya mereka tinggal di kota yang penuh penerangan listrik, sekarang malah harus menyesuaikan diri dengan lampu dinding.
“Tenang nek,nenek hanya ke warung yang ada di depan rumah kita ini sebentar, karena di dapur enggak ada lauk, sekarang benek lagi ada uang, jadi nenek mau beli ikan kaleng.”
Setelah memberu pengertian pada cucu ku, akhirnya mereka membiarkan aku pergi sebentar ke warung.
Hati ku sangat bersemangat, setelah membeli ikan kaleng, aku kembali ke rumah, lalu ku buka ikan kalengnya, terus ku tuang ke dalam piring kecil, dan ku bagikan kepada kedua cucu ku. “Makanlah nek,” ucap ku, namun cucu ku Zahra kelihatannya tidak suka, kemudian Ali inisiatif menyuapi adiknya.
Itulah awal kebersamaan ku dengan ke dua cucu ku, aku tak pernah merasa terbebani akan ke hadiran mereka berdua, malah aku bertambah rajin bekerja, aku menanam sayur lebih banyak dari biasanya, agar bisa di jual ke pasar, menerima kerja borongan seperti memanen di sawah orang dan mencuci kain tetangga. Memang melelahkan, tapi setelah melihat wajah cucu-cucu ku, semua rasa lelah dan cape itu hilang.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Mohon lbih teliti lagi sblm updte bab ato bisa direvisi biar lbih ciamik🙏
Semngt thor
Thanks 😊