ketika keluarga belum dikaruniai keturunan dan memilih poligami sebagai solusi, bagaimana kisah keluarganya? Bagaimana sekitar bisa memahami kondisinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#chapter 11, awalnya
"Tikah .... Uwak gimana kondisinya?" tanya Santi via sambungan telepon.
"Alhamdulillah udah lebih baik, sekarang dirawat, nih baru pulang mau ambil baju ganti" jelas Atikah.
"Alhamdulillah kalo gitu, gagal lagi dong ke Jakarta, padahal ada lowongan tuh" ujar Santi.
"Ntar dulu deh San, bulan depan kan Aa' gw selesai kontrak kerja di Kalimantan dan bakal balik sama istrinya ke rumah, jadi ada yang jaga orang tua disini" ucap Atikah lagi.
"Ya udah .. mudah-mudahan masih ada ya lowongannya" ujar Santi.
"San .... gw ngerasa jantung berdebar-debar deh saat ngeliat seorang cowo" curhat Atikah tiba-tiba.
"Lo lagi jatuh cinta? sama siapa? akhirnya ngerasain juga jantung berdebar kalo liat cowok" ledek Santi.
"Cowok ini beda .. pikirannya dewasa, sabar, ngemong ... ya pokoknya matang banget deh, tipe-tipe cowo yang gw cari selama ini" cerita Atikah.
"Siapa?" tanya Santi penasaran.
"Pak Maulana" jawab Atikah sumringah.
"APAAAA...!!!!!" kata Santi kaget.
"Jangan teriak gitu ... gw malu kalo didenger orang, ini baru Lo yang gw kasih tau" kata Atikah setengah berbisik.
"Pak Maulana mah bukan matang lagi .. tapi emang udah tua, dia juga laki orang, Lo mau disebut pelakor?" sembur Santi.
"Cinta itu ga pernah bisa direncanain, rasanya tumbuh gitu aja tanpa bisa gw duga" khayal Atikah.
"Jangan sampe ya Lo dilabrak bininya. Lo tuh masih muda masa mau sama aki-aki" saran Santi.
🌺
Bakulan Bunda kini makin bertambah karyawannya, sudah ada enam orang karyawan yang bekerja disini. Dua orang laki-laki yang bertugas sebagai kurir ambil dan antar sayur serta buah-buahan. Sedangkan yang empat orang lainnya wanita, yang menjadi customer service dan menyiapkan orderan yang pesan via online.
Memang ada rencana untuk membuka toko khusus yang menjual sayur dan buah-buahan organik buat melayani secara offline, sekarang masih dalam tahap persiapan.
Bagi warga yang sudah tau dan masih sekomplek dengan rumah lamanya Nayara, terkadang mereka sekalian memesan disana via chat ke Nayara. Ada pula warga yang sudah menjadi reseller dan mereka diberi harga khusus sehingga ada keuntungan jika dijual kembali.
.
Nayara mulai melancarkan rencananya dengan berbicara ke orang tua dan mertuanya, tentang rencana mencarikan pendamping hidup baru buat Maulana. Kali ini acara keluarga di rumah orang tuanya Nayara, tapi Maulana ga bisa ikut karena sedang mengurus ijin-ijin agar perusahaannya berijin dan bisa masuk ke jaringan swalayan. Selama ini dia baru menjadi pemasok dengan memakai bendera perusahaan temannya.
"Lo kira dimadu tuh enak? kaga usah macem-macem dah" ucap Cing Titi.
"Iya Nay, ga usah aneh-aneh deh, Toh Maulana juga ga pernah minta kawin lagi" tambah Ibunya Nayara.
"Tapi Bu ... Cing ... ini demi kelangsungan darah keluarga juga, usia kami ga muda lagi. Aa' Maulana udah empat puluh satu tahun, mau nunggu sampe kapan?" tanya Nayara.
"Kan bisa angkat anak aja, banyak kok keluarga kita yang masih kekurangan, kalian bisa bantu ngasuh anaknya" usul Bapaknya Nayara.
"Tapi Pak, anak angkat bukan anak sedarah sama Aa' Maulana" jawab Nayara ngotot.
"Itu namanya menyelesaikan masalah dengan masalah. Sekarang terserah kamu sama Maulana deh, kami ga bisa ngomong apa-apa lagi. Asalkan jangan nyesel sama keputusan kamu aja" saran Bapaknya Nayara.
.
Di rumah Abah pun sama, Nayara minta dukungan biar Maulana bisa menikah lagi. Abah dan Ambu jadi serba salah. Mendukung artinya mereka paham akan ada pihak yang terluka. Tapi ga mendukung pun, jauh dalam relung hati ingin punya cucu dari darah dagingnya Maulana.
"Bicarakan dengan Maulana secara baik-baik dan kepala dingin. Tapi Abah sama Ambu menyerahkan semua keputusan kembali sama kamu Nay, kalo dirasa mampu menjalani pernikahan poligami, ya silahkan saja" tutur Abah bijak.
"Ya Abah ... sering kami bahas, tapi semua berakhir dengan pertengkaran" adu Nayara.
"Pasti berantemlah Nay, atuh Lana udah bilang ke Ambu kalo dia ga masalah dengan kondisi rumah tangga seperti sekarang. Dia ikhlas kalo tidak ada keturunan dalam pernikahannya" timpal Ambu.
"Nay... Seorang wanita yang mempertimbangkan poligami itu harus mencoba untuk mempersiapkan dirinya dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Kamulah yang harus bijaksana untuk mempersiapkan diri agar memiliki jalan keluar dari apa yang akan terjadi, untuk berjaga-jaga. Pernah ga kamu kepikiran, kalo saat masih cuma ada kamu, hatinya Lana cuma buat kamu, tapi kalo poligami harus berbagi, waktunya dulu hanya buat kamu dan nantinya harus berbagi, perhatiannya, bahkan cintanya pun berbagi ... pernah mikir sampai sana Nay? Jangan hanya perkara momongan sampe kamu ribut sama Lana. Kami orang tua sangat sayang sama kalian berdua, kamu bukan sekedar menantu, tapi sudah seperti anak buat keluarga ini. Kami ga mau kamu terluka Nay. Kesedihan kamu akan jadi kesedihan buat kami juga. Kami juga khawatir akan berat sebelah sayangnya ke mantu-mantu. Mintalah petunjuk Allah serta dengarkan nasehat para alim ulama tentang praktek poligami Nay. Sebelum kamu benar-benar melaksanakan segala ide kamu, tolong pikirkan kembali. Pikirkan bagaimana bisa menangani emosi dalam kondisi poligami, bagaimana pernikahan poligami mampu menyelesaikan konflik didalamnya, bagaimana kamu menghadapi tantangan baik dari dalam maupun dari luar keluarga. Apapun itu, hal terpenting yang perlu diingat, berhasil atau tidaknya, akan kembali kepada Allah. Hanya dengan Rahmat dan bantuan-Nya sesuatu akan berhasil" nasehat Abah dengan bijak.
💠
Setelah sebulan berlalu, Maulana dan Nayara akhirnya berkonsultasi dengan para orang tua, alim ulama serta dokter spesialis kandungan.
Setelah berbincang, akhirnya Maulana menyetujui keinginan istrinya. Tapi dia memberikan syarat, dia akan menikah dengan wanita pilihan Nayara dan keluarganya, ketika sudah menikah pun mewajibkan istri-istrinya hidup dalam satu atap yang sama, Nayara pun tidak boleh mengajukan perceraian.
Nayara menyanggupi semua syarat dari Maulana. Walaupun banyak pertentangan dalam keluarganya sendiri, dia tetap berjalan dengan segala rencananya. Dia merasa sudah mantap memilih Atikah menjadi calon madunya.
Usia Atikah yang baru delapan belas tahun pasti akan menjadi PR besar bagi dirinya. Bagaimana caranya biar Atikah bisa menerima perbedaan dua puluh tiga tahun rentang usia dengan Maulana.
Demi memuluskan rencananya, Nayara mendekati keluarga Atikah. Dari mulai alasan menjenguk Ibunya hingga mengajak Atikah jalan, sekedar ingin mengorek tentang jati diri Atikah.
.
Sore ini, Nayara mengajak Atikah ke Kebun Teh di Puncak sekedar menikmati suasana disana.
"Tikah ... maukah kamu jadi istri kedua Aa' Maulana?" tembak Nayara tiba-tiba.
"Bu Nay ... eh maksudnya Teh Nay ... jangan curiga terhadap kedekatan Tikah sama Pak Maulana. Beliau sangat kami hormati di Kampung ini. Tikah juga ga pernah genit sama Pak Maulana, beneran deh" ujar Atikah ketakutan.
"Saya tau Tikah ... tapi saya yakin kamu bisa menjadi pendamping buat Aa' .. membuat keluarga kami jadi sempurna. Kita pasti bisa mengurus Aa' berdua, kita akan jadi tim yang solid berada dibelakang Aa' untuk mendukung usahanya" ujar Nayara.
"Tapi teh ... saya khawatir akan timbul masalah kedepannya" kata Atikah.
"Masalah akan selalu ada Tikah.. selama kita hidup ya akan terus menerus ada ... boleh Teteh tanya sesuatu?" tanya Nayara.
"Mangga Teh.." jawab Atikah.
"Kamu suka ga sama Aa' Maulana?" tanya Nayara serius.
Atikah diam membisu, entah mau jawab apa.
membuka wawasan, tau gimana kita harus mengerti orang lain gak berkutat pada diri sendiri.
keluar dari zona nyaman itu berat
Alhamdulillah Zay banyak anak jadi penerus nya juga ada
mbokya sekali kali selesaikan masalah sendiri gitu