Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Menghancurkan
“Are you my real father?”
Pertanyaan Isabella membuat Dominic terdiam. Suara tembakan masih terdengar dari luar vila, tetapi perempuan itu seolah tidak lagi peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Ia hanya ingin satu jawaban.
Dominic menatap Isabella. Wajahnya yang biasanya dingin kini memperlihatkan sesuatu yang sulit disembunyikan.
“Look at me, Isabella.”
“Answer my question!”
“I am not your father.”
Isabella mengembuskan napas lega, tetapi perasaan itu hanya bertahan sesaat.
“Then why did my mother say you know who my real father is?”
Dominic mengatupkan rahangnya.
“Because I do.”
“Who?”
Sebelum Dominic menjawab, Alessandro berlari mendekati mereka.
“Boss! We have to move. They're coming through the back entrance.”
Dominic mengangguk.
“Get Richard to the second vehicle. Take Isabella with you.”
Isabella langsung menggeleng.
“No. I'm not leaving until he tells me the truth.”
Dominic memegang kedua bahunya.
“Listen to me. I will explain everything, but we need to get out of here first.”
“Promise?”
Dominic menatap matanya.
“I promise.”
Isabella akhirnya mengangguk.
Dominic menggenggam tangannya dan membawa perempuan itu menuju pintu belakang. Mereka melewati lorong sempit bersama Alessandro dan beberapa penjaga.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah kanan.
“Down!” teriak Dominic.
Ia menarik Isabella hingga keduanya berlindung di balik dinding.
Salah satu penjaga membalas tembakan. Alessandro segera mengarahkan mereka ke pintu samping.
“Boss, the cars are ready!”
Dominic mengangkat Isabella berdiri.
“Run!”
Mereka berlari menuju kendaraan. Begitu sampai, Dominic membuka pintu belakang dan memastikan Isabella masuk lebih dahulu.
Namun saat ia hendak menyusul, seorang pria bertopeng muncul dari balik pilar.
“Dominic!”
Pria itu mengarahkan pistol.
Isabella menjerit.
“Dominic, behind you!”
Dominic berbalik cepat. Ia berhasil menghindari tembakan pertama, lalu menjatuhkan pria tersebut dengan satu pukulan keras.
Alessandro segera melumpuhkan penyerang itu.
“Get in, boss!”
Dominic masuk ke mobil. Pintu ditutup, dan kendaraan langsung melaju meninggalkan vila.
Isabella masih gemetar.
Dominic memperhatikan tangannya.
“Are you hurt?”
Isabella menggeleng.
“No.”
“Look at me. Are you sure?”
“Yes.”
Dominic menghela napas lega. Ia kemudian mengambil selimut kecil dari kursi dan menyampirkannya ke bahu Isabella.
“Breathe slowly.”
Isabella menatapnya.
“Kau hampir tertembak karena aku.”
Dominic menggeleng.
“Don't think about that.”
“Tapi—”
“Isabella, I would rather take a bullet than see you get hurt.”
Perempuan itu terdiam. Kalimat tersebut terdengar begitu tulus hingga ia tidak tahu harus membalas apa.
Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah safe house milik Dominic yang terletak jauh dari pusat kota.
Richard sudah berada di dalam ketika Isabella dan Dominic masuk.
“Ayah!”
Isabella menghampirinya. Richard segera memeluk putrinya.
“Thank God you're safe.”
Namun Isabella tidak membalas pelukan itu terlalu lama. Ia melepaskan diri dan menatap ayahnya.
“Aku ingin semua orang berhenti menyembunyikan sesuatu dariku.”
Richard mengangguk lemah.
“You deserve the truth.”
Dominic berdiri tidak jauh dari mereka. Ia melepaskan jasnya dan meletakkannya di sofa.
Alessandro datang membawa sebuah map hitam.
“Boss, I found the documents you asked for.”
Dominic mengambil map tersebut.
“Leave us.”
Alessandro mengangguk dan keluar dari ruangan.
Dominic meletakkan map di atas meja.
“Twenty-three years ago, your mother was involved in a secret agreement between three powerful families. The Laurents, the Imanuels, and the De Lucas.”
Isabella duduk perlahan.
“Kenapa tiga keluarga itu membuat perjanjian?”
“Because they were fighting over control of several international businesses. But the agreement wasn't just about money.”
Dominic membuka map tersebut dan mengeluarkan sebuah dokumen.
“Your mother discovered that one of the families was secretly financing criminal operations. She wanted to expose them.”
Richard menyambung dengan suara berat.
“Elena tahu bahwa jika rahasia itu terbongkar, banyak orang akan menjadi korban. Dia ingin menghentikan semuanya.”
“Lalu apa hubungannya denganku?”
Dominic menatap Isabella.
“Your birth was connected to that secret.”
Isabella mengerutkan kening.
“Aku masih tidak mengerti.”
Richard akhirnya duduk di hadapannya.
“Isabella, kau lahir dari cinta yang tidak pernah bisa Ayah miliki sepenuhnya.”
Isabella terdiam.
Richard menarik napas panjang.
“Your mother was already pregnant when she married me.”
Isabella merasa tubuhnya membeku.
“Apa?”
Richard menunduk.
“Ketika Ayah menikahi Elena, dia sudah mengandungmu. Ayah tahu sejak awal bahwa kau mungkin bukan anak kandung Ayah. Tetapi Ayah tetap menerimamu sebagai putri Ayah.”
Isabella menatap Richard dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi... Ayah bukan ayah kandungku?”
Richard menggeleng perlahan.
“No, sweetheart. But I have always been your father.”
Isabella menutup wajahnya.
Selama ini, ia mengira rahasia yang disembunyikan keluarganya hanya berkaitan dengan bisnis. Ternyata, bahkan asal-usul dirinya sendiri telah menjadi kebohongan.
Ia kemudian menoleh kepada Dominic.
“Do you know who he is?”
Dominic mengangguk.
“Yes.”
“Tell me.”
Dominic mengambil sebuah foto dari dalam map.
Foto itu memperlihatkan seorang pria berambut gelap dengan mata tajam. Di sampingnya berdiri Elena.
Isabella mengambil foto tersebut.
“Who is this man?”
Dominic menjawab dengan suara rendah.
“His name is Adrian Lorenzo Imanuel.”
Isabella mengangkat wajah.
“Imanuel?”
“Yes. He's my father.”
Ruangan mendadak sunyi.
Isabella memandang foto itu, kemudian menatap Dominic.
“Your father?”
Dominic mengangguk.
“According to the records, Adrian was your biological father.”
Isabella mundur sedikit.
“Then that means...”
“I'm your half-brother.”
Kata-kata itu terasa seperti petir yang menyambar.
Isabella menatap Dominic tanpa berkedip.
Pria yang selama ini menunjukkan ketertarikan kepadanya, pria yang selalu membuat jantungnya berdebar, ternyata adalah saudara seayahnya?
“That's impossible...” bisiknya.
Dominic menatapnya dengan wajah serius.
“I wish it were.”
Isabella berdiri dan menjauh.
“No. I don't believe this.”
Richard mencoba mendekat.
“Isabella, listen—”
“Don't touch me!”
Richard berhenti.
Isabella menatap Dominic dengan air mata mengalir deras.
“Is that why you protected me? Because I'm your sister?”
Dominic mengangguk pelan.
“At first, I only wanted to fulfill my mother's promise to yours.”
“At first?”
Dominic terdiam.
Isabella menggeleng.
“Don't. Jangan mengatakan apa pun lagi.”
Ia berlari menuju tangga, meninggalkan kedua pria itu.
Di lantai atas, Isabella masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya.
Semua kenangan bersama Dominic tiba-tiba terasa berbeda.
Tatapan pria itu. Perhatiannya. Cara ia selalu berusaha melindunginya.
Apakah semuanya hanya karena hubungan darah mereka?
Atau ada sesuatu yang lebih rumit?
Isabella mengambil ponselnya. Ada satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
NOW YOU KNOW WHO YOUR FATHER IS. BUT YOU STILL DON'T KNOW WHAT YOUR MOTHER DID.
Pesan kedua menyusul.
DOMINIC IS HIDING THE MOST IMPORTANT PART. ASK HIM WHY HIS FATHER DIED.
Isabella mengerutkan kening.
Ia membaca pesan itu sekali lagi.
Adrian Lorenzo Imanuel.
Ayah Dominic.
Ayah kandungnya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu?
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
“Isabella. It's me.”
Suara Dominic.
“Go away.”
“Please open the door.”
“I'm not your responsibility anymore.”
Dominic terdiam di luar.
“You're wrong. I promised your mother I'd protect you, and I intend to keep that promise.”
Isabella menghapus air matanya.
“Did you know from the beginning?”
Tidak ada jawaban.
“Dominic, answer me!”
Akhirnya suara pria itu terdengar.
“I suspected it. But I didn't have proof.”
Isabella menutup matanya.
“Did you ever have feelings for me?”
Keheningan panjang menyelimuti lorong.
Dominic akhirnya menjawab dengan suara berat.
“Isabella, I don't know what I feel anymore.”
Jawaban itu membuat hati Isabella semakin sakit.
Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, terdengar suara Alessandro dari ujung lorong.
“Boss! We have a situation!”
Dominic segera menjauh dari pintu.
“What happened?”
Alessandro menjawab dengan wajah pucat.
“We found Adrian Imanuel's death certificate.”
Dominic mengerutkan kening.
“And?”
Alessandro menelan ludah.
“It's been forged. Your father may still be alive.”
Dominic membeku.
Sementara itu, Isabella membuka pintu kamarnya sedikit.
Di tangannya masih tergenggam ponsel dengan pesan misterius tadi.
Jika Adrian masih hidup, berarti ada kemungkinan seluruh cerita tentang asal-usulnya belum sepenuhnya benar.
Dan seseorang sedang berusaha memastikan bahwa mereka tidak pernah menemukan kebenaran tersebut.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Dominic Lorenzo Imanuel tidak tahu siapa yang harus ia lindungi: Isabella, atau rahasia keluarganya sendiri.
jangan lupa mampir kakk..🤭