Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Dera akhirnya turun dari platform mesin dance dengan napas yang memburu. Dada naik-turun hebat, peluh tipis membasahi pelipis, dan senyum masih lebar di wajahnya. Ia memegang lutut sejenak, mencoba mengatur napas, lalu tertawa lagi tanpa bisa ditahan.
“Hahahaha… Sudah, aku capek!” ucapnya dengan napas ngos-ngosan. Tawanya terdengar renyah, ringan, dan benar-benar bebas, sesuatu yang jarang sekali keluar dari dirinya sejak penghianatan itu.
Mario turun di belakangnya, masih tersenyum lebar. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangan dan mengacak rambut Dera dengan gerakan gemas. Rambut perempuan itu yang semula rapi langsung berantakan di beberapa bagian.
“Aku suka kamu yang ceria seperti ini,” ucap Mario sambil tersenyum, matanya menatap Dera dengan lembut.
Dera langsung membeku sejenak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena kelelahan menari, melainkan karena kalimat itu. Ia segera melengoskan wajah ke samping, mencoba menyembunyikan pipi yang sudah memerah. Tangan naik menutupi sebagian wajahnya.
“Apaan sih…” ucapnya salah tingkah, suaranya pelan dan agak menggerutu.
Mario hanya tertawa kecil, tidak memaksa Dera menatapnya. Ia seolah mengerti bahwa perempuan di hadapannya masih belum terbiasa dengan pujian atau perhatian yang tulus.
Di sekeliling mereka, suara mesin permainan, tawa anak-anak, dan musik elektronik terus memenuhi Timezone. Lampu neon berkedip-kedip, menciptakan suasana yang ramai dan penuh warna.
Dera masih menunduk, jari-jari bermain dengan ujung bajunya. Di dalam hatinya bergejolak aneh muncul. Ia benar-benar senang menikmati waktu berdua dengan Mario. Tapi rasa senang itu juga membuatnya takut. Takut kalau terlalu menikmati, semuanya akan berakhir seperti sebelumnya.
Mario seolah membaca keraguannya. Ia tidak mendekat terlalu jauh. Hanya berdiri di samping Dera dengan jarak yang cukup aman, lalu menunjuk ke arah pojok arena.
“Ayo kita foto berdua" ajaknya santai, jari menunjuk ke arah photo booth yang berdiri tidak jauh dari mesin dance. Pintu booth itu terbuka, lampu di dalamnya menyala terang, dan antreannya sedang kosong.
Dera mengangkat wajah, masih sedikit merah. “Foto? Buat apa?” tanya Dera bingung.
“Buat kenang-kenangan,” jawab Mario ringan. “Supaya kamu ingat malam ini kamu pernah tertawa lepas.”
Dera terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi menusuk dengan cara yang lembut. Ia terbiasa menyimpan kenangan yang menyakitkan. Jarang sekali ada yang mengajaknya membuat kenangan yang ringan.
Akhirnya ia menghela napas dan mengangguk kecil. “Sekali saja, ya.”
Mario tersenyum puas. Mereka berjalan menuju photo booth. Di dalam ruangan kecil yang hanya muat dua orang itu, suasana langsung terasa lebih personal. Dera duduk di bangku sempit, tubuhnya kaku di awal. Mario duduk di sampingnya, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat, lalu memasukkan koin dan memilih frame yang lucu.
Layar di depan mereka menampilkan hitungan mundur. Dera masih terlihat canggung, tapi Mario sengaja membuat wajah konyol di foto pertama. Dera tertawa lagi, dan tanpa sadar ikut membuat ekspresi yang sama di foto kedua. Di foto ketiga, Mario mengacungkan dua jari di belakang kepala Dera, membuatnya menggeleng sambil tertawa. Foto terakhir mereka hanya tersenyum, Dera masih sedikit malu, tapi Mario tetap berpose konyol.
Ketika hasil foto keluar dari mesin, Mario mengambilnya dan memperlihatkan pada Dera. Empat kotak foto kecil dengan ekspresi mereka yang berbeda-beda. Dera menatapnya lama, lalu tersenyum tipis.
“Kamu kelihatan bodoh di sini,” godanya, menunjuk foto di mana Mario membuat wajah aneh.
Mario terkekeh. “Lebih baik bodoh daripada kamu terus cemberut.”
Mereka keluar dari photo booth. Dera memegang salah satu lembar foto itu, sementara Mario menyimpan yang lainnya. Di luar, keramaian Timezone masih sama, tapi untuk Dera semuanya terasa sedikit berbeda. Malam ini ia menari sampai kelelahan, tertawa sampai napas habis, dan sekarang memegang foto di mana ia tersenyum tanpa beban.
Mario berjalan di sampingnya menuju mesin permainan lain. “Mau coba yang lain, atau sudah cukup?”
Dera menimbang sejenak. Bagian dirinya yang waspada ingin bilang sudah cukup dan minta pulang. Tapi hatinya masih ingin bermain bersama Mario.
“Satu lagi, habis itu pulang” jawabnya akhirnya.
Mario mengangguk, senyumnya lembut. “Baik. Satu lagi.”
Mereka melanjutkan permainan. Terkadang Dera menang, terkadang Mario. Tapi yang lebih penting, tawa Dera terus keluar. Di antara lampu neon, suara mesin, dan keramaian mal, perempuan yang biasanya penuh kewaspadaan itu membiarkan dirinya ceria, meski hanya untuk malam ini.
Dan di sampingnya, Mario terus mengawasi dengan tenang, seolah ingin memastikan tawa itu tidak cepat hilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vivian duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Sudah hampir tengah malam, tapi wanita hamil itu belum tidur juga. Padahal suaminya sudah tidur.
Akun media sosial Dera sudah lama ia pantau secara diam-diam. Setiap unggahan, setiap cerita, setiap perubahan foto profil ia perhatikan dengan teliti. Sejak foto bersama pria tampan itu masuk ke ponselnya beberapa hari lalu, rasa penasaran berubah menjadi obsesi.
Ia ingin tahu segalanya tentang kehidupan adiknya di Jakarta. Apakah Dera benar-benar bahagia? Apakah ia sudah melupakan Galih? Atau justru sedang membangun kehidupan baru yang lebih baik dari yang Vivian miliki?
Mata Vivian menyipit ketika sebuah unggahan baru muncul di beranda. Foto itu diambil di dalam photo booth. Dera tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia lihat sejak mereka masih tinggal serumah. Di sampingnya ada sosok laki-laki. Tubuhnya tinggi, posturnya jelas, tapi wajahnya tertutup stiker besar berbentuk bintang dan hati. Hanya sebagian rambut dan bahu yang terlihat.
Vivian memperbesar foto itu berkali-kali. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Siapa laki-laki ini?” gumamnya pelan, nada suaranya penuh curiga. “Apa sama dengan laki-laki yang kemarin? Tapi sepertinya berbeda…”
Ia membandingkan dengan foto yang Mario kirim semalam. Pria di photo booth itu terlihat lebih santai, lebih dekat, lebih bahagia bersama Dera. Vivian meremas ponselnya hingga jari-jarinya pucat. Rasa tidak terima kembali naik ke tenggorokan.
Dera seharusnya menderita. Dera seharusnya terpuruk karena sudah dia khianati. Bukan tersenyum di photo booth dengan pria asing yang wajahnya sengaja disembunyikan.
Vivian menyimpan screenshot foto itu, lalu membuka beberapa akun lain yang mungkin terhubung. Ia mencari tag lokasi, mencari komentar, mencari petunjuk apa pun. Namun, tidak ada namanya. Tidak ada petunjuk yang jelas. Hanya senyum Dera yang mengganggu pikirannya.
“Kamu pikir bisa sembunyi, Dera?” bisiknya dingin pada layar. “Aku akan tetap mencari tahu.”
Vivian tidak pernah lelah mengusik kehidupan adiknya. Dia tidak mau jika sang adik lebih bahagia darinya.
"Sayang, kamu lagi apa? Kenapa belum tidur?" tanya Galih yang sempat terbangun karena pergerakan Vivian.
Vivian menoleh, dia tersenyum manja melihat suaminya. "Aku mau peluk" pintanya manja.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa