Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Langkah kaki yang lelah menggema di atas lantai marmer putih mansion utama Ashford, memecah kesunyian yang terasa begitu menyesakkan.
Suasana di dalam rumah megah bergaya klasik itu masih diselimuti sisa-sisa ketegangan yang pekat dan beracun. Para kerabat besar dan keluarga inti tampak duduk terpencar di ruang tengah dengan raut wajah kusut, berbisik-bisik lirih membicarakan tragedi berdarah yang baru saja merenggut kedamaian pagi tadi.
Dari arah pintu utama yang terbuka lebar, Florence Nightingale melangkah masuk dengan langkah gontai.
Perban tebal berwarna putih bersih tampak membebat erat pergelangan tangan kirinya, kontras dengan gaun abu-abu lembut yang kini membalut tubuhnya yang tampak rapuh.
Di sisi kirinya, Dominic berjalan mendampingi dengan ekspresi datar tanpa senyum, sementara Huxley mengawal dari belakang, memastikan kondisi wanita itu tetap stabil pasca-operasi jahitan di rumah sakit.
Begitu mereka melewati area foyer menuju ruang tengah, manik mata Dominic secara naluriah menyapu seisi ruangan. Dan dalam sepersekian detik, pandangannya langsung terkunci pada satu sosok.
Ester Alba.
Gadis berusia 22 tahun itu tampak berdiri di dekat ambang pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan area dapur.
Mengenakan gaun krem berlengan panjang yang tertutup rapat, Ester terlihat mencoba membaur dengan suasana genting tersebut, berniat menghindari pusat perhatian keluarga besar Ashford yang sedang berduka.
Melihat keberadaan Ester di sana, dada Dominic mendadak dilanda gelisah yang teramat hebat.
Jantungnya berdegup jauh lebih cepat, bukan karena kehadiran Florence yang berdiri di sisinya, melainkan karena rasa cemas yang tak beralasan ketika mendapati Ester berdiri sendirian seolah-olah gadis itu adalah orang asing yang terasingkan di rumahnya sendiri.
Belum sempat Huxley mendudukkan Florence di atas sofa keluarga yang empuk, Dominic sudah melepaskan pegangannya pada lengan wanita itu tanpa ragu.
"Tunggu sebentar di sini," ucap Dominic singkat pada Florence dan Huxley, tanpa menunggu persetujuan mereka.
Dengan langkah lebar, tegas, dan tergesa-gesa, Dominic langsung memotong arah. Ia meninggalkan rombongan keluarga yang terpana, lalu menyusul Ester yang baru saja melangkah masuk ke dalam area dapur yang sepi, dingin, dan steril.
Suasana dapur di lantai utama itu terasa begitu lengang. Para pelayan tampak sengaja menjauh untuk memberi ruang privasi bagi keluarga inti yang sedang menghadapi krisis.
Ester baru saja menuangkan sedikit air mineral ke dalam cangkir porselen putih ketika sebuah bayangan tinggi seorang pria berdiri begitu dekat di hadapannya.
Gerakan tangannya terhenti seketika.
Sebelum ia sempat mendongak untuk melihat siapa yang datang, tangan kokoh Dominic sudah meraih pergelangan tangannya, menarik gadis itu sedikit lebih ke dalam sudut dapur yang tersembunyi, terhalang oleh lemari kabinet kayu jati yang tinggi dari pandangan orang-orang di ruang tengah.
"T-Tuan..." cicit Ester kaget, matanya membelalak menatap Dominic dari jarak yang begitu dekat hingga napas hangat pria itu menerpa keningnya.
Dominic terengah-engah, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Pria yang selama ini dikenal sangat teratur, tenang, dan selalu memilih setiap kata dengan penuh kehati-hatian itu kini berbicara dengan tempo yang sangat cepat—hampir tersendat-sendat, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh seorang Dominic Ashford seumur hidupnya.
"Ester, dengarkan aku," ucap Dominic cepat, kedua tangannya kini menangkup tepi meja marmer di sebelah tubuh Ester, memenjarakan gadis itu dalam kurungan lengannya yang kokoh.
"Apa yang terjadi di rumah sakit tadi... kepulanganku bersama Florence... itu bukan seperti yang kaulihat. Aku harus mengantarnya karena keluarganya panik, tapi demi Tuhan, hubungan kami sudah berakhir. Semuanya sudah selesai. Aku tidak punya perasaan apapun lagi padanya."
Ester terpaku di tempatnya.
Bulu mata lentiknya berkedip cepat, mencerna setiap kata yang meluncur begitu putus asa dari bibir pria di hadapannya.
Kenapa... kenapa pria ini harus repot-repot menjelaskan semua ini padaku? batin Ester bergejolak, diliputi rasa keheranan yang amat sangat.
Demi Tuhan, Dominic sendiri sebenarnya tidak tahu pasti mengapa ia mendadak merasa perlu memberikan klarifikasi separuh mati pada gadis ini.
Di dalam logikanya yang dingin, Ester hanyalah guru privat keponakannya—wanita yang terikat kontrak ranjang dengannya. Namun, di dalam nuraninya yang terdalam, Dominic merasa terikat oleh sebuah benang tak kasat mata. Ia adalah pria pertama yang menyentuh tubuh Ester, merenggut kesuciannya, dan menanamkan jejak kepemilikan mutlak di sana.
Terlebih lagi, ikatan fisik dan emosional yang intens semalaman membuat Dominic merasa Ester adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas lega di tengah reruntuhan hidupnya yang hancur.
"Tuan tidak perlu menjelaskan apapun padaku," potong Ester pelan.
Suaranya terdengar datar, mencoba memasang topeng setenang mungkin meski hatinya bergemuruh hebat. "Saya tahu diri, Tuan. Saya hanya guru privat di rumah ini, dan Tuan adalah majikan sekaligus pria yang memiliki ikatan dengan Nona Florence. Apa yang terjadi di antara kita semalam... anggap saja itu tidak pernah ada. Kita tidak punya hubungan apapun selain urusan profesional."
Mendengar kalimat dingin nan rasional yang meluncur tanpa beban dari bibir Ester, dada Dominic terasa seperti dihantam palu berat yang meremukkan tulang rusuknya.
"Jangan bicara seperti itu!" geram Dominic pelan, suaranya sarat akan protes yang menyakitkan.
Ada kilat kepedihan yang nyata di matanya yang sayu.
"Aku tidak suka mendengarmu merendahkan dirimu sendiri, Ester. Panggil namaku. Kau bukan pelayan di sini, dan kau jelas bukan wanita sembarangan bagiku sekarang. Kumohon... jangan katakan hal-hal yang membuatku merasa menjadi pria paling brengsek di dunia ini."
Ester mendongak, menatap manik mata Dominic yang kini menatapnya penuh permohonan dan kerapuhan.
Kalimat itu begitu tulus, begitu sarat akan emosi yang tumpah, dan menyentuh tepat di titik paling rapuh dalam hatinya—titik di mana ia sejak kecil selalu mendambakan perlindungan, validasi, dan pengakuan dari seseorang.
Namun, di balik kelembutan tatapan mata cokelatnya yang tampak tersentuh, sebuah senyum kemenangan tersembunyi rapat di dalam kepala Ester.
Pria ini... batin Ester penuh ambisi, dia benar-benar telah jatuh sepenuhnya ke dalam perangkapku.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏