"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Ampun, Mayor!
Vina malah tertawa renyah, melepaskan sandal rumahnya lalu melompat naik ke atas kasur empuk milik Yudhana tanpa memedulikan sprei abu-abu yang kini teracak-acak.
"Yaelah, Om! Dulu kan dulu, sekarang kan sekarang!" balas Vina santai tanpa rasa takut sedikit pun. Ia merebahkan tubuhnya terlentang di tengah kasur, lalu dengan santainya mengangkat kedua kakinya ke atas dinding kamar yang putih bersih. "Lagian kasur di kamar sebelah kecil amat, kayak kasur panti! Gue mau tidur di kasur gede ini. Om kalau kagak mau sekamar sama gue, ya Om tidur di sofa luar sana! Gitu aja kok repot!"
Yudhana menyentak napasnya, matanya membelalak tak percaya menyaksikan tingkah istrinya.
Seorang istri perwira menengah, tidur terlentang dengan kedua kaki diangkat tinggi-tinggi menempel dinding, acuh tak acuh pada etika dan sopan santun? Di dalam kamar utamanya yang selama ini steril dan tidak boleh tersentuh oleh siapa pun?
"Vina! Turunkan kaki kamu!" pekik Yudhana, nada suaranya melengking kaku oleh rasa panik dan harga diri yang runtuh berantakan. "Kamu benar-benar sudah tidak punya tata krama! Berani-beraninya kamu menyuruh saya tidur di sofa rumah saya sendiri?!"
Vina menguap lebar, mengibaskan tangannya di udara seolah mengusir lalat yang bising.
"Berisik amat sih, Om!" semprot Vira galak, menolehkan kepalanya sedikit ke arah Yudhana. "Gue capek habis perjalanan dari rumah sakit! Kalau Om mau marah-marah, mending ngedumel sama tembok di luar sana! Ta, tolong tutup pintunya, gue mau tidur!"
Ita yang berdiri di belakang Yudhana berusaha setengah mati menahan semburan tawa yang hampir meledak dari dadanya. Dengan wajah dipasang seramah mungkin, Ita melangkah mendekati pintu kamar utama.
"Permisi ya, Mayor Yudhana," bisik Ita sopan namun sarat kemenangan, lalu dengan perlahan menarik daun pintu kayu jati itu dari dalam.
Klek.
Pintu kamar utama tertutup rapat.
Yudhana menatap pintu kamar utama yang dibanting pelan di depan dadanya. Untuk pertama kalinya dalam setahun, rumah dinas yang biasa hening itu mendadak penuh dengan suara musik pop ber volume tinggi dari dalam.
Pria itu berdiri mematung di lorong tengah. Baret hijau tua di tangannya diremasnya kencang hingga kainnya terlipat kaku. Suara bass musik pop yang berdentum dari dalam kamar utamanya seolah-olah menjadi musik ejekan yang menari-nari di atas wibawa militernya.
Yudhana membalikkan badan dengan gerak kaku, berjalan menuju sofa ruang tamu yang kaku dan dingin. Pria yang selama setahun ini berkuasa penuh atas setiap sudut rumah dinasnya, kini justru terusir secara tragis ke ruang luar oleh istrinya sendiri.
Di dalam kamar utama, Vina makin menyamankan posisi tidurnya. Ditatapnya langit-langit kamar milik pria yang dibilang sebagai suaminya itu. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa tertekan.
***
Bau gurih adonan tepung gorengan bercampur tajamnya aroma saus sambal botolan menguar padat, menguasai udara ruang tamu rumah dinas Batalyon. Asap tipis berminyak melayang-layang rendah di bawah pendar lampu neon, mengepul dari kantong plastik transparan yang tergeletak pasrah di atas meja kaca.
Suara presenter acara gosip sore dari televisi layar datar berdentum keras, memantul-mantul di dinding tembok kaku yang biasanya steril. Volume lima puluh lima—suatu angka yang belum pernah tersentuh sejak bangunan dinas bertipe sembilan puluh itu didirikan.
"Pelan-pelan makannya, Vin! Itu saus sambal sampai belepotan di sudut bibir kamu!"
Ita menghela napas panjang, menggeser bungkus kantong plastik berisi pisang goreng dan tahu isi yang baru saja dibelinya dari penjual pinggir jalan. Tangannya terangkat merapikan posisi gaun dinas harian milik Vina—gaun krem longgar yang kini tergantung mengenaskan di sandaran sofa beludru mahal, terlipat kaku dengan baju tidur motif kartun yang ditaruh asal di atasnya.
Vina tidak memedulikan teguran itu. Ia meluruskan kedua kakinya di atas meja kaca, mengunyah tahu isi krispi dengan bunyi renyah yang memecah bising suara televisi. Daster santai berwarna merah menyala meliuk longgar di badannya, sangat kontras dengan latar belakang interior rumah dinas yang serba simetris dan penuh etika militer.
"Alah, santai kali, Ta!" sahut Vira dengan mulut penuh. Ia mengusap saus sambal di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu tertawa renyah menyaksikan gosip selebritas yang sedang heboh di layar kaca. "Enak banget hidup begini! Kasur empuk, ada TV gede, gorengan hangat. Serasa tinggal di kos-kosan VIP bintang lima!"
"Kos-kosan VIP gimana sih?" Ita menggeleng-gelengkan kepala, menyapu pandangannya mengelilingi ruangan.
Karpet bulu impor berwarna krem di tengah ruang tamu—karpet yang dulu selalu dibersihkan Vina dengan penyedot debu setiap pagi hingga tak ada sebutir pasir pun yang menempel—kini dihiasi remah-remah tepung gorengan yang berjatuhan. Di atas kursi kayu berukir, sebuah handuk basah berwarna merah muda membentang kaku, dijemur asal-asalan agar cepat kering terkena embusan pendingin udara. Sementara di tengah koridor jalan menuju dapur, sepasang sandal jepit karet berwarna hijau menyala tergeletak saling menindih.
"Kamu jangan keterlaluan sama Mas Yudhana, Vin," bisik Ita cemas, memiringkan kepalanya ke arah pintu depan. "Ini kan rumah dinasnya dia. Dia itu Mayor Batalyon, punya ratusan anak buah. Kalau dia pulang terus liat rumahnya acak-acakan begini, kamu bisa disemprot habis-habisan!"
Vina mengibaskan tangannya di udara, memutar bola matanya malas seraya mengambil potongan pisang goreng hangat.
"Yaelah, Ta! Si Om kaku itu?" Vira terkekeh geli, sama sekali tidak ada binar ketakutan atau penderitaan di matanya. "Dia itu di mata gue cuma kayak bapak kos kaku yang sukanya marah-marah nggak jelas! Selama gue belum ditendang keluar gara-gara surat cerainya belum jadi, ya bebas dong gue mau ngapain aja. Lagian muka dia kalau lagi marah lucu tahu, mirip kompor gumpal!"
Ita menutupi mulutnya, meringis antara ingin tertawa dan jantungan membayangkan amukan sang Mayor.
Brammm!
Suara deru mesin mobil dinas jenis SUV terdengar membelah hening sore di luar pagar, disusul decit rem yang tegas di atas kerikil teras.
Ita seketika tersentak kaku. "Aduh, Vin! Itu Mas Yudhana pulang!"
"Ya biarin, orang pulang ke rumahnya sendiri," sahut Vina santai tanpa menggeser posisi kakinya dari atas meja kaca.
bersambung...
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡