Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Udara dingin pendingin ruangan di ruang kerja CEO NesAura Skincare mendadak terasa menusuk tulang. Jarum jam dinding menunjuk ke angka sepuluh lewat sepuluh malam. Di luar jendela, hujan gerimis membungkus gedung-gedung pencakar langit ibu kota dalam balutan kabut kelam.
Nesa duduk terpaku di balik meja kerjanya. Di hadapannya, layar laptop menyala menampilkan data transaksi perbankan dan peta digital pelacakan tiket penerbangan yang baru saja dikirimkan oleh Miya dan Kara. Namun, bukan deretan angka atau grafik tersebut yang membuat napas Nesa tertahan melainkan sebuah fakta baru yang jauh lebih mengerikan.
Dika suami yang baru saja berangkat dinas ke luar kota dengan alasan darurat logistik ternyata tidak pernah menginjakan kaki di pabrik cabang Cikarang.
Berdasarkan data penelusuran digital yang didapatkan Miya dari manifes penerbangan domestik, tiket atas nama Dika tercatat dengan tujuan penerbangan yang berbeda sama sekali. Kota tujuan pria itu bukanlah Cikarang, melainkan sebuah kota di pesisir selatan Jawa, tempat di mana pabrik mitra gelap yang memproduksi Glow Series palsu diduga beroperasi. Dan yang lebih menghancurkan jiwa Nesa, dari foto tangkapan layar kamera pengawas bandara yang berhasil dikirimkan Kara, Dika tidak pergi sendirian.
Di samping pria itu, mengenakan kacamata hitam dan mantel panjang berwibawa, berjalan seorang wanita berambut tergerai yang sangat dikenal oleh Nesa Sasya, kakak kandungnya sendiri.
Mereka pergi bersama...
Dunia Nesa seolah berputar kencang. Sekujur tubuhnya mendadak lemas, tangannya yang dingin secara refleks meraba perut buncitnya yang masih berusia tiga bulan, melindungi sang buah hati dari guncangan batin yang luar biasa hebat. Jadi, alasan dinas ke luar kota itu hanyalah sebuah kebohongan busuk. Dika dan Sasya tidak hanya bersekongkol di atas kertas atau di balik meja kantor mereka berdua terang-terangan melangkah bersama, menginjak-injak kesucian pernikahan dan hubungan darah di belakang punggung Nesa.
Namun, di tengah badai kepedihan yang meremukkan hatinya, sebuah kenyataan lain mendadak menyadarkan Nesa.
Di ujung ruangan, Bila yang berdiri mendampinginya sejak sore tadi tiba-tiba mengangkat ponselnya, memperlihatkan pesan teks mendesak. "Bu Nesa... kita harus keluar dari sini sekarang," ucap Bila dengan suara bergetar panik. "Kara baru saja menelepon. Ada seseorang yang mencoba meretas sistem server cadangan kita dari jaringan luar. Dan... pelacakan IP address menunjukkan bahwa sinyal akses tersebut berasal dari perangkat yang terhubung langsung dengan akun direksi utama."
Mata Nesa membelalak tajam. Jantungnya berdegup kencang bak dihantam palu. "Akun direksi utama? Maksudmu... Dika?."
"Benar, Bu," jawab Bila panik. "Pak Dika... atau seseorang yang memegang akses penuh atas kata sandi utama direksi di rumah, sedang memantau sistem kita dari jarak jauh. Mereka tahu kalau kita sedang melacak aliran dana ini."
Seketika itu juga, kesadaran pahit menghantam kepala Nesa bagaikan petir di siang bolong.
Dika mengetahui semuanya.
Pria itu bukan sekadar pergi ke luar kota untuk berlibur atau mengurus bisnis tiruan Dika sengaja memasang perangkap, berpura-pura pergi agar Nesa leluasa bergerak mencari bukti, sementara di waktu yang sama, Dika memantau setiap langkah penyelidikan istrinya melalui celah sistem perusahaan. Selama ini, suami yang sangat dicintainya itu sedang memainkan permainan psikologis yang mematikan membiarkan Nesa merasa menjadi detektif, padahal ia sedang berjalan lurus menuju mulut singa.
Sebelum Nesa sempat memberikan instruksi selanjutnya, suara ketukan pintu utama ruang kerja CEO terdengar menggema.
Tok... tok... tok.
Ketukan itu tidak teratur, namun terdengar begitu tegas di tengah keheningan malam lantai atas gedung yang sudah sepi. Nesa dan Bila saling berpandangan dengan horor. Tidak ada seorang pun yang seharusnya berada di lantai ini pada jam sepuluh malam, terlebih lagi gerbang lift utama sudah dikunci secara otomatis dari sistem keamanan pusat.
"Bu... siapa itu?" bisik Bila ketakutan, melangkah mundur mendekati meja Nesa.
Nesa menelan ludahnya yang terasa kering. Tenggorokannya tercekat, namun jiwa kepemimpinannya sebagai CEO memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak. Ia mengisyaratkan Bila untuk tetap tenang, lalu melangkah pelan mendekati pintu kaca buram ruang kerjanya.
Dari balik celah kaca pintu, bayangan seseorang berjas rapi tampak berdiri tegak di bawah temaram lampu koridor. Siluet tubuh itu begitu familiar postur tegap, bahu yang lebar, dan cara berdiri yang sangat dikenali oleh Nesa.
Pintu itu berderit perlahan dari luar. Gagang pintu tertekan ke bawah, dan sesosok pria melangkah masuk dengan senyuman tipis di bibirnya senyuman penuh kemenangan yang sama sekali tidak asing bagi Nesa.
Itu adalah Dika.
Suami yang seharusnya berada ratusan kilometer jauhnya di luar kota demi urusan logistik darurat, kini berdiri tepat di hadapan Nesa dengan tatapan mata yang dingin, tajam, dan penuh dengan topeng kemunafikan yang akhirnya runtuh berkeping-keping.
"Mencari siapa, Sayang?" suara bariton Dika mengalun lembut di dalam ruangan yang sunyi, namun suaranya terdengar begitu mengerikan di telinga Nesa. "Mencari suamimu yang bodoh ini, atau mencari tahu siapa sebenarnya dalang di balik kehancuran perusahaanmu sendiri?."
Nesa mundur dua langkah, napasnya memburu tak beraturan. Air mata kemarahan dan kepedihan tumpah berhamburan membasahi pipinya, namun tidak ada suara tangis yang keluar dari bibirnya. Di hadapannya kini, topeng suami siaga yang selama tiga bulan kehamilan mudanya ia agungkan telah musnah sepenuhnya, menyisakan sesosok monster berwajah manusia yang siap menghabisi segalanya tanpa ampun.