Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Benih asmara
Keesokan harinya...
Di atas tempat tidur king-size, Aris perlahan mengerjap-ngerjap membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat, seolah baru saja dihantam palu godam, dan tenggorokannya kering kerontang bagaikan padang pasir.
Namun, sensasi panas membakar yang meremukkan persendiannya sejak kemarin malam kini telah jauh mereda.
Aris menarik napas panjang. Saat ia hendak menggerakkan tangannya, ia merasakan beban hangat di sisi kanannya.
Ia menolehkan kepalanya dengan pelan. Pemandangan yang menyambut retinanya seketika membuat debar jantung Aris melambat, menyisakan rasa haru yang teramat dalam hingga menyesakkan dadanya.
Raya tertidur dengan posisi duduk di kursi kecil di samping ranjang. Kepala wanita itu bersandar di tepi matras, tepat di sebelah tangan kiri Aris.
Wajah cantik Raya tampak begitu letih, lingkaran hitam samar membayang di bawah kelopak matanya yang terpejam, dan beberapa helai rambutnya berantakan menutupi sebagian pipinya.
Namun, tangan kanan Raya menggenggam jemari Aris dengan begitu erat, seolah takut pria itu akan terbang dan menghilang jika ia melepaskannya barang sedetik saja.
Di atas meja nakas kecil di samping kursi, sebuah baskom air dengan kain handuk bekas kompres tergeletak rapi, menjadi saksi bisu atas perjuangan wanita itu merawatnya semalaman suntuk.
Aris menatap lekat-lekat wajah wanita yang sangat mungkin sudah dicintainya itu. Selama ini, dalam setiap skenario yang ia bayangkan, ia selalu berpikir bahwa dirinya adalah pelindung, pria berkuasa yang menjaga, merawat, dan memikul beban hidup Raya di atas pundaknya.
Namun malam ini, kenyataan berbalik arah. Pria terkuat di dunia bisnis itu justru tak berdaya, dan wanita yang selama ini ia lindungi lah yang duduk berjam-jam menunggui kesembuhannya dengan linangan air mata dan kesabaran tanpa batas.
"Raya..." batin Aris pilu, tenggorokannya tercekat. "Kamu merawatku dengan ketulusan sebesar ini... padahal aku adalah monster yang merenggut segalanya darimu."
Dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkan Raya, Aris menggerakkan jari-jarinya, dan membalas genggaman tangan wanita itu.
Sentuhan kecil itu langsung direspons oleh naluri Raya. Wanita itu bergerak pelan, mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu mengangkat kepalanya dengan tergesa-gesa begitu ia melihat Aris sudah membuka mata.
"Aris...?" suara Raya terdengar serak, parau, dan penuh kelegaan yang luar biasa. "Kamu sudah sadar? Ya Tuhan..."
Raya langsung bangkit dari duduknya. Tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan atau tubuhnya yang kaku karena duduk semalaman, ia mendekatkan wajahnya ke arah Aris, dan menempelkan telapak tangannya yang hangat ke dahi pria itu.
"Syukurlah... Demammu sudah turun. Panasnya sudah hilang," bisik Raya lega, air mata kebahagiaan seketika menggenang di pelupuk matanya. "Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit? Mau aku ambilkan air minum?"
Aris menatap manik mata Raya yang berkaca-kaca. Ia bisa melihat dengan jelas sisa-sisa kelelahan, ketakutan, dan rasa khawatir yang mendalam dari raut wajah wanita itu. Suara Aris yang keluar terdengar serak parah, bahkan hampir tak bersuara.
"Raya... kamu... tidak tidur semalaman?" tanya Aris lirih, jemarinya yang masih lemas bergerak pelan merapikan helaian rambut yang menutupi pipi Raya.
Raya menggelengkan kepalanya dengan pelan, sebuah senyuman tulus tersungging di bibirnya yang pucat. "Bagaimana bisa aku tidur tenang melihatmu terkapar seperti itu, Aris? Kamu demam tinggi. Kamu pingsan di koridor."
"Aku... merepotkanmu ya?" gumam Aris getir.
"Jangan bicara begitu!" protes Raya lembut, namun tegas. Ia mencubit pelan punggung tangan Aris dengan penuh kasih sayang. "Kamu selalu merawatku, selalu menjagaku sejak aku terbangun dari amnesia. Sekarang, giliran aku yang menjagamu. Itu sudah seharusnya, Aris."
Kalimat itu, itu sudah seharusnya, kembali menghujam ulu hati Aris. Setiap kali Raya menunjukkan baktinya sebagai seorang "kekasih", rasa bersalah itu makin membakar habis kewarasannya. Aris menelan ludahnya yang terasa pahit, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Maafkan aku, Raya..." ucap Aris dengan suara yang bergetar rapuh. "Aku membuatmu khawatir... Aku membuatmu ketakutan."
"Sudahlah, yang penting sekarang kamu sudah sadar dan keadaanku membaik," potong Raya sabar.
Ia lalu mengambil segelas air putih hangat dari meja nakas, memasukkan sedotan kecil, lalu menyodorkannya ke bibir Aris. "Minumlah dulu, tenggorokanmu pasti kering."
Aris menuruti perkataan Raya. Ia meneguk air hangat itu perlahan-lahan, dan merasakan kesegaran yang mengalir ke kerongkongannya. Setelah merasa cukup, ia menggeleng pelan sebagai tanda bahwa ia sudah selesai.
Raya meletakkan kembali gelas tersebut, lalu merapikan selimut tebal yang menutupi dada Aris. "Istirahatlah lagi, Aris. Jangan memikirkan pekerjaan dulu. Hari ini kamu tidak boleh ke mana-mana. Kamu harus tinggal di tempat tidur dan memulihkan tenagamu."
"Kantor..." ucap Aris pelan. "Ada beberapa dokumen penting..."
"Lupakan kantor!" potong Raya dengan nada bercanda yang manis, meski matanya menatap serius. "Hendra sudah mengurus semuanya lewat sambungan telepon tadi malam. Jadi, CEO hebat ini sekarang sedang cuti wajib di bawah pengawasan langsung dariku."
Aris tertegun sejenak, lalu untuk pertama kalinya setelah sekian minggu dihantui kecemasan, bibirnya melengkungkan sebuah senyuman kecil, senyuman tulus yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Baiklah... kalau atasannya galak seperti ini, aku tidak punya pilihan selain patuh," jawab Aris setengah berbisik.
"😄😄😄" Raya tertawa renyah, tawa yang langsung mencairkan ketegangan di dalam kamar tersebut. "Nah, begitu dong. Sekarang, tunggu sebentar ya. Aku akan turun ke bawah untuk meminta Suster Santi menyiapkan bubur hangat dan obat untukmu."
Sepeninggal Raya keluar kamar untuk mengambil sarapan, Aris menyandarkan kepalanya kembali di atas bantal. Pikirannya perlahan kembali jernih. Insiden tumbangnya dirinya semalam menjadi titik balik yang menyadarkan Aris akan satu hal penting, bahwa ia tidak akan bisa terus-menerus hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan paranoia akut.
Jika ia terus menerus mengurung diri, mencurigai setiap bayangan, dan tersiksa oleh kecemasan berlebihan, bukan hanya rahasianya yang akan terbongkar, melainkan tubuh dan mentalnya sendiri yang akan hancur lebih dulu sebelum kebenaran itu sempat terungkap.
Surya telah disingkirkan, dokumen bukti fisik telah dibakar, dan ilusi di taman kota kemarin membuktikan bahwa musuh terbesar dirinya bukanlah orang lain, melainkan rasa bersalahnya sendiri.
"Aku harus bertahan," batin Aris meneguhkan tekadnya dalam kesunyian. "Aku harus kuat demi Raya dan Cyla. Aku tidak boleh tumbang lagi."
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Raya kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat yang mengepulkan uap tipis, segelas air hangat, dan beberapa butir obat dari dokter.
Di belakangnya, Suster Santi berjalan sambil menggendong Cyla yang tampak riang.
"Papa!" seru Cyla begitu melihat Aris sudah bangun di atas tempat tidur. Balita itu meronta-ronta minta turun dari gendongan Suster Santi, lalu berlari kecil menghampiri ranjang.
Raya meletakkan nampan di meja nakas, lalu dengan sigap mengangkat Cyla dan mendudukannya secara berhati-hati di dekat kaki Aris agar tidak mengenai selang infus di tangan pria itu.
"Cyla... Jangan melompat-lompat ya, Papa kan baru bangun tidur dan masih lemas," pesan Raya lembut pada putrinya.
Cyla mengangguk patuh, lalu mendekatkan wajah mungilnya ke dekat perut Aris. "Papa atit? Bobo mulu..." celoteh Cyla polos sambil menepuk-nepuk paha Aris dengan pelan.
Aris puntersenyum hangat, lalu mengulurkan tangan kirinya yang bebas untuk mengusap rambut Cyla. "Papa sudah tidak apa-apa, sayang. Papa cuma agak kecapean kemarin."
Raya menarik kursi mendekati ranjang, lalu mengambil mangkuk bubur. Ia mengaduk bubur hangat tersebut perlahan, dan meniupnya sedikit agar tidak terlalu panas, lalu menyendokkannya ke arah Aris.
"Makanlah, Aris. Kamu harus mengisi perutmu agar obatnya bisa segera bekerja," kata Raya.
Aris menatap sendok bubur di hadapannya, lalu menatap wajah Raya yang tersenyum penuh perhatian. "Aku bisa makan sendiri, Raya. Tanganku sudah tidak gemetar lagi."
"Tidak. Hari ini biar aku yang menyuapimu," sangkal Raya dengan nada manja namun tegas. "Anggap saja ini balasan kecil atas semua kebaikan yang selalu kamu berikan padaku selama ini."
Mendengar itu, Aris tidak bisa menolak lagi. Ia pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Raya.
Suasana di dalam kamar mendadak terasa begitu hangat dan intim. Suster Santi yang melihat pemandangan tersebut pamit undur diri secara sopan untuk membawa Cyla bermain di taman belakang, dan membiarkan kedua orang dewasa itu memiliki waktu berkualitas berdua.
Suapan demi suapan bubur berpindah dengan diiringi obrolan ringan. Raya menceritakan bagaimana Cyla tadi pagi sempat rewel mencari "Papa" di meja makan, sementara Aris mendengarkan dengan penuh seksama, dan menikmati setiap detik kebersamaan yang terasa begitu damai dan sempurna.
_________
Hari-hari berikutnya di mansion Aris berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang.
Sakit parah yang sempat menumbangkan Aris seolah menjadi proses "detoksifikasi" bagi jiwanya. Setelah melewati fase kritis tersebut, Aris mulai melepaskan sedikit demi sedikit paranoia ekstremnya.
Ia tidak lagi mengurung diri di ruang kerja dengan rasa cemas berlebihan. Ia mulai kembali bergabung di meja makan bersama Raya dan Cyla, menghabiskan waktu sore dengan duduk di teras belakang sambil membaca buku, dan membiarkan senyuman kembali terukir di wajahnya secara natural.
Raya pun tampak makin menikmati hari-hari bahagianya. Sifat ceria, hangat, dan perhatian yang ia putuskan untuk di tunjukkan sejak beberapa minggu lalu kini menjadi karakter utamanya sehari-hari.
Ia tidak lagi membebani kepalanya dengan masa lalu yang kosong. Bagi Raya, hidupnya adalah hari ini, bersama pria hebat yang mencintainya dan balita lucu yang memanggilnya Mama.
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, Raya sedang duduk di karpet ruang keluarga bersama Cyla, sambil merapikan mainan balok kayu susun.
Aris turun dari lantai atas dengan mengenakan kemeja kasual lengan panjang berwarna putih dan celana bahan hitam. Tubuhnya sudah kembali bugar, warna kulitnya tidak lagi pucat, dan auranya memancarkan ketenangan yang matang.
Ia melangkah mendekati area bermain, lalu ikut berlutut di atas karpet di sebelah Raya.
"Wah, istana baloknya sudah tinggi sekali," puji Aris tersenyum lebar, lalu meraih satu balok kayu untuk membantu Cyla menyusun bagian atapnya.
Cyla pun bertepuk tangan dengan gembira. "Yeay! Jadi!"
Raya menoleh ke samping, dan menatap Aris dengan binar mata penuh kekaguman. "Kamu sudah kelihatan jauh lebih sehat, Aris. Pipimu sudah tidak tirus lagi seperti waktu habis sakit kemarin."
Aris menoleh, dan membalas menatap Raya lekat-lekat. Sorot matanya memancarkan kelembutan yang teramat dalam. Ia kemudian meraih jemari Raya yang bebas, dan mengelus punggung tangan wanita itu dengan penuh kelembutan di hadapan Cyla.
"Itu semua berkat dokter pribadiku yang paling telaten dan galak," goda Aris, hingga membuat pipi Raya merona merah muda.
Raya tersenyum malu-malu, seraya mencubit pelan lengan Aris. "Ih, dibilangin malah mengolok-olok!"
Tawa renyah keduanya berpadu dengan celoteh riang Cyla, menciptakan simfoni kebahagiaan yang memenuhi setiap jengkal ruang di mansion mewah tersebut.
Namun, di balik kehangatan dan senyuman yang merekah sore itu, Aris tahu bahwa hidup tidak pernah berjalan selurus garis horizontal. Kebahagiaan semu ini adalah sebuah pinjaman waktu, sebuah babak indah yang ia tulis sendiri di atas lembaran kertas pinjaman.
Namun untuk saat ini, selama senyuman itu masih menghiasi wajah Raya, Aris bertekad untuk melindungi kebahagiaan ini dengan seluruh sisa jiwa dan raganya, apa pun harga yang harus ia bayar di masa depan.
Bersambung...