NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Foto itu Masuk Group WA Pabrik

Jam tujuh pagi, grup WhatsApp INFO PKS DHARMASRAYA yang isinya 180 karyawan, dari satpam sampai manager, mendadak ramai.

Bukan ramai soal harga TBS atau jadwal bongkar truk.

Tapi ramai karena satu foto.

Foto itu dikirim jam 06.45 oleh akun bernama Bambang Timbangan.

Isi foto: pintu gudang arsip yang setengah terbuka, dengan cahaya emergency warna kuning dari dalam. Di depan pintu itu, ada dua orang. Seorang laki-laki pakai seragam asisten manager sedang membantu seorang perempuan dengan rambut panjang yang diikat kuda, tapi ikatannya sudah agak miring, bajunya agak kusut.

Wajah keduanya tidak terlalu jelas karena foto agak gelap, tapi semua orang di pabrik hafal siapa mereka.

Itu Arif dan Nadia. Jam delapan malam kemarin.

Caption dari Pak Bambang: "Info, gudang arsip pintu macet semalam, untung ada Pak Arif bantu Bu Nadia keluar. Hati-hati ya kalau ke gudang."

Niat Pak Bambang baik, cuma mau info biar karyawan lain hati-hati. Tapi bagi 180 orang yang lagi gosip soal foto jas hujan yang sudah sebar dari kemarin, foto ini seperti bensin disiram ke api.

Lima menit kemudian, balasan pertama masuk.

Bu Lastri: Waduh, jam 8 malam di gudang arsip berduaan? Ngapain ya?

Mbak Sari: Ya ampun, pantas kemarin pintu gudang macet lama, ternyata...

Satpam Jaga Malam: Wah, saya lihat juga semalam Pak Arif masuk gudang, lama keluarnya.

Grup yang biasanya sepi, pagi itu jadi pasar.

Nadia yang baru bangun di mess putri, lihat ponselnya. Ada 99+ chat di grup INFO PKS.

Ia buka. Langsung lihat foto itu.

Foto dirinya dan Arif di depan gudang arsip.

Tangan Nadia gemetar. Ponselnya hampir jatuh.

"Ya Allah..." bisik Nadia, air matanya langsung jatuh. Foto jas hujan kemarin saja sudah bikin Mama jatuh sakit dan lamaran Rizki batal. Sekarang foto ini lebih parah, foto di tempat gelap, jam delapan malam, berduaan.

Di mess putra, Arif juga lihat grup itu. Wajahnya langsung merah padam. Ia tahu foto ini akan jadi masalah besar.

Ia langsung telepon Pak Bambang.

"Pak Bambang, tolong hapus foto di grup itu Pak! Tolong hapus sekarang!" kata Arif, suaranya menahan marah.

Pak Bambang bingung. "Lho, kenapa Pak Arif? Saya cuma info biar karyawan lain hati-hati kalau pintu macet..."

"Pokoknya hapus Pak! Itu foto saya sama Nadia, nanti jadi fitnah!" bentak Arif, lalu tutup telepon.

Tapi sudah terlambat. Foto itu sudah di-screenshot 30 orang. Sudah dikirim ke grup lain: grup ibu-ibu kompleks pabrik, grup bapak-bapak panen, grup arisan.

Jam delapan pagi, di ruang administrasi.

Nadia masuk dengan kepala tertunduk, tidak berani lihat siapa-siapa. Rambut panjangnya ia ikat kuda kencang, tapi wajahnya pucat sekali.

Mbak Sari dan Bu Lastri yang biasanya ngobrol ramah sama Nadia, pagi itu diam. Mereka lihat Nadia, lalu bisik-bisik.

Bu Lastri bisik ke Mbak Sari: "Pantas dia betah di pabrik, ternyata ada yang bantu..."

Mbak Sari angguk-angguk.

Nadia dengar bisikan itu, hatinya seperti disayat.

Arif masuk ke ruang administrasi, lihat suasana itu, langsung tahu Nadia lagi dibully diam-diam.

"Nadia, kamu ikut saya ke ruang timbangan, ada laporan yang harus cek," kata Arif keras, biar semua dengar, biar Nadia bisa keluar dari ruangan itu.

Nadia angguk, ikut Arif keluar.

Di lorong menuju ruang timbangan, sepi, tidak ada orang.

"Maaf ya, gara-gara saya, kamu jadi begini," kata Arif pelan, suaranya penuh rasa bersalah.

Nadia menggeleng, air matanya jatuh lagi.

"Bukan salah Pak Arif. Salah saya juga. Seharusnya semalam saya tidak masuk gudang arsip. Seharusnya saya tunggu Mbak Sari," jawab Nadia, suaranya pelan sekali.

Arif ingin sekali hapus air mata Nadia, tapi ia tahan. Karena ia tahu, kalau sekarang ia pegang tangan Nadia di lorong, akan ada yang foto lagi.

Jam sepuluh pagi, Pak Hendra, manager pabrik, panggil Arif dan Nadia ke ruangannya.

Ruangan manager itu ber-AC dingin, tapi suasananya panas.

"Nadia, Arif, kalian tahu kenapa saya panggil?" tanya Pak Hendra, wajahnya serius.

Mereka berdua mengangguk, tidak berani bicara.

"Foto kalian sudah menyebar satu pabrik. Saya dapat laporan dari HRD, banyak karyawan tidak nyaman. Apalagi kalian berdua sama-sama baru batal tunangan. Saya sebagai manager harus jaga nama baik pabrik. Jadi saya minta, mulai hari ini, kalian jaga jarak. Nadia tetap di administrasi, Arif fokus di lapangan. Jangan ada lagi berduaan di ruangan sepi. Paham?" kata Pak Hendra tegas.

"Siap, Pak," jawab mereka berdua bersamaan.

Setelah keluar dari ruangan manager, Nadia jalan duluan ke ruang administrasi, Arif jalan ke arah berlawanan, ke lapangan.

Mereka jaga jarak. Sesuai perintah.

Tapi di hati mereka, jarak itu justru bikin rindu.

Sore jam lima, di mess putri.

Nadia duduk sendirian di depan mess, lihat langit yang mau hujan lagi. Ponselnya sepi, tidak ada telepon dari Mama, tidak ada chat dari Rizki. Semua sudah putus.

Di mess putra, Arif juga duduk sendirian di depan mess, lihat langit yang sama.

Dua orang yang sama-sama dibuang, sama-sama dibenci, sama-sama kesepian, hanya bisa saling lihat dari jauh, tidak bisa saling dekat karena satu pabrik sudah menghakimi mereka dari satu foto yang sebenarnya tidak ada apa-apanya, hanya foto keluar dari gudang arsip karena pintu macet.

Foto itu, yang bagi Pak Bambang hanya info biasa, bagi 180 karyawan adalah bukti cinta terlarang.

Dan besok, foto itu akan sampai ke tangan Mama Nadia yang lagi sakit di Padang Panjang, dan ke tangan Mama Arif yang di Medan.

Badai yang sebenarnya baru akan mulai.

Bersambung

---

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!