Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Cerai
"Pindah rumah bareng bulan depan?" cetus Adelia dengan napas tertahan, menatap lurus ke arah Arkananta begitu mobil Clara menghilang di tikungan jalan.
Arkananta tersentak kaget, wajahnya memucat seketika sebelum berganti raut ketus. "Kamu salah dengar, Del! Dia cuma bercanda! Jangan mulai lagi,gila kamu malam-malam begini!,"
"Bercanda?" Adelia tertawa sumbang, matanya memerah.
"Wanita itu pakai gelang empat puluh lima juta hasil gesek kartu kreditmu, lalu datang ke sini malam-malam cuma buat meledek penampilanku dan membisikkan hal itu ke kamu? Itu kamu bilang bercanda?"
"Sudah! Saya capek!" bentak Arkananta kasar sambil melangkah masuk dan membanting pintu utama. "aku malas melayani tuduhan tidak jelas kamu!"
Malam itu, Arkananta tidur di kamar tamu dan mengunci pintunya rapat-rapt.
Dua hari berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Arkananta tak lagi menyapa Adelia, bahkan melirik pun enggan. Hingga pada Jumat sore, Adelia melihat undangan resmi acara makan malam perayaan capaian target tahunan kantor Arkananta tergeletak di atas meja kerjanya. Acara itu digelar di sebuah restoran fine dining mewah di kawasan pusat kota pukul tujuh malam.
Adelia menatap cermin di kamarnya. Wajahnya pucat, rambutnya kusam, dan daster biru pudar yang melekat di tubuhnya tampak sangat menyedihkan.
Kamu cermin diri kamu dulu di kaca! Lihat penampilan kamu sekarang, pantas tidak mendampingi manajer seperti saya?
Kata-kata Arkananta membakar dadanya. Adelia mengepalkan tangan erat-erat. Ia tidak boleh terus menjadi wanita yang pasrah dan dihina. Hari ini, ia harus berdiri tegak di samping suaminya di depan semua orang.
Adelia membongkar lemari pakaian bagian terbawah. Ia mengeluarkan gaun malam katun hitam polos berpotongan klasik,pakaian terbaik yang tersisa dari masa mudanya lalu menyetrikanya dengan teliti. Ia menyanggul rapi rambut panjangnya, memoleskan bedak tipis dan lipstik merah muda lembut yang sudah lama tersimpan di laci.
"Wah, Ibu cantik banget mau ke mana?" puji Kenzie terkejut saat melihat ibunya turun dari tangga.
Adelia tersenyum tipis, mengusap bahu putranya. "Ibu mau nyusul Papa ke acara makan malam kantornya, Kenzie. Kamu sama Kayla di rumah sebentar ya? Makanan sudah Ibu siapkan di meja."
"Hati-hati ya, Bu," pesan Kenzie penuh kekhawatiran. "Kalau Papa jahat lagi sama Ibu, langsung pulang ya."
Adelia mengangguk pelan, lalu memesan taksi daring menuju restoran mewah tersebut
Restoran fine dining itu tampak sangat anggun dengan lampu-lampu kristal gantung dan alunan musik jazz lembut. Adelia melangkah ragu melewati pintu kaca tinggi, menggenggam tas tangannya erat-erat.
Seorang pelayan menyambutnya ramah. "Ada yang bisa dibantu, Mbak?"
"Saya mau bergabung dengan reservasi atas nama Arkananta dari PT Mega Gemilang," sahut Adelia pelan.
"Oh, rombongan Pak Arkananta ada di area VIP bagian teras belakang, Mbak. Mari saya antar."
Adelia mengikuti langkah pelayan melintasi lorong berdinding kaca. Namun, baru separuh jalan, langkah Adelia mendadak terhenti total. Matanya terpaku lurus pada deretan meja panjang di teras terbuka.
Di sana, Arkananta berdiri mengangkat gelas kristalnya di tengah sorak-sorai belasan rekan kerjanya. Wajah pria itu berbinar terang, tertawa lepas tanpa beban. Namun bukan itu yang meremukkan dada Adelia.
Tangan kanan Arkananta terulur santai, merangkul pinggang Clara dengan sangat mesra dan posesif. Clara, yang malam itu mengenakan gaun merah terbuka yang sangat seksi, menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Arkananta sambil tertawa renyah.
"Eh diliat liat Nanta sama Clara Cocok bgt ya"
"Lagian ya, guys, coba deh mata kalian melek. Arkananta itu serasi banget kalau disandingkan sama Clara." Seorang wanita bergaun satin merah menyindir sambil memutar gelas sampanyenya.
"Dibanding sama Istri sahnya? Duh, ampun deh. Kampungan banget. Bajunya aja kelihatan murah, dekil, jangan-jangan baunya juga bau balsem. Kok bisa ya Arkananta tahan sama spek pembantu begitu?"
Arkananta tidak membantah ucapan itu. Pria itu justru mengecup pelan pelipis Clara di hadapan semua kawan-kawannya, seolah tindakan itu adalah hal yang paling wajar di dunia.
Adelia membatu. Dunia seolah berhenti berputar di sekelilingnya. Seluruh darah di tubuhnya terasa berdesir dingin ke ujung kaki. Lima belas tahun kesetiaan, pengorbanan, dan rasa sabarnya dihancurkan begitu saja di depan matanya sendiri tanpa sisa.
"Mbak? Mau saya antar ke mejanya sekarang?" tanya pelayan yang menyadari Adelia mendadak berhenti.
Adelia memejamkan mata rapat-rapt, menahan histeris dan tangis yang hampir pecah di tenggorokannya. Jemarinya mencengkeram tas tangan hingga memutih.
Tidak. Ia tidak boleh membuat keributan di sini. Ia tidak akan merendahkan dirinya dengan mengamuk bak wanita kesetanan di tempat umum demi pria yang sudah tak memiliki nurani.
"Nggak usah mas" bisik Adelia dengan suara serak menahan tangis. "Saya salah tempat."
Adelia berbalik arah dan melangkah pergi secepat yang ia bisa, menembus dinginnya malam tanpa menoleh lagi ke belakang.
Pukul sebelas malam, pintu rumah terbuka. Arkananta melangkah masuk dengan bersenandung kecil. Wajahnya segar dan riang.
Adelia sedang duduk diam di sofa ruang tamu yang temaram, masih mengenakan gaun hitam dan riasan wajahnya.
Arkananta tersentak kaget melihat Adelia duduk di kegelapan. "Astaga, Del! Kenapa belum tidur? Bikin kaget aja!"
Adelia menatap Arkananta datar. "Acara kantornya menyenangkan, Mas?"
Arkananta berdeham pelan, merapikan kerah kemejanya dengan gesture canggung. "Ya begitu. Rapat evaluasi biasa sama anak-anak divisi. Capek banget."
"Rapat evaluasi?" bisik Adelia, sebuah senyuman getir terukir di bibirnya. "Sampai harus merangkul pinggang Clara di depan semua kawan-kawanmu?"
Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Satya bisa melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. "Mereka bilang aku kampungan, Mas. Mereka bilang aku spek pembantu yang nggak pantes bersanding sama kamu. Mereka ngetawain baju aku, fisik aku! Dan kamu..."
Adelia menunjuk dada Nanta dengan jari yang gemetar hebat.
"...kamu di sana, megang pinggang perempuan lain, ikut tersenyum seolah membenarkan kalau istri yang kamu nikahi selama lima tahun ini memang memalukan buat kamu bawa ke dunia kamu."
Raut wajah Arkananta seketika berubah mengeras. "Kamu bicara apa sih? Ngelindur lagi?"
"Aku tadi datang ke restoran itu,Mas," potong Adelia tajam,menghapus sisa air matanya,matanya menatap lurus menembus manik mata suaminya. "Aku lihat semuanya dengan mataku sendiri. Kamu juga mengecup dia di depan umum."
Arkananta tertegun beberapa detik. Namun, alih-alih merasa bersalah atau meminta maaf, raut wajahnya justru berubah menjadi dingin dan arogan.
"Ooh, kamu sekarang jadi mata mata?" dengus Arkananta santai sambil melempar tas kerjanya ke sofa. "Bagus kalau kamu udah tau!"Aku juga nggak perlu repot repot pura pura lagi di depan kamu"
"Mas..." panggil Adelia lirih, dadanya sangat sesak.
"Lagipula kamu ngapain datang ke sana pakai baju pasaran begitu?" ejek Arkananta tanpa belas kasih. "Kamu cuma bikin Aku malu malu kalau temen temen-ku lihat kamu! Mending kamu Ngaca Del! Kamu sama Clara itu bagai bumi dan langit!"
Arkananta berbalik dan berjalan santai menuju kamar tanpa merasa berdosa sedikit pun.
Adelia berdiri gemetar di ruang tamu. Kata-kata Arkananta malam ini telah membunuh sisa-sisa rasa cinta yang ia miliki selama lima belas tahun terakhir.
Dengan langkah mantap namun tenang, Adelia berjalan ke kamar tidur utama. Ia membuka laci paling bawah meja riasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu berdebu. Di dalamnya, tersimpan puluhan lembar surat cinta, puisi, dan foto-foto kenangan masa pacaran mereka dulu.
Adelia membawa kotak itu ke halaman belakang rumah. Di bawah kegelapan malam, ia menyalakan pemantik api dan membakar lembar demi lembar kertas tersebut di atas tempat sampah besi.
Nyala api merah membakar habis setiap kata manis yang pernah dituliskan Arkananta. Adelia memperhatikan abu hitam yang melayang di udara dengan tatapan yang kini sepenuhnya mengeras dan dingin.
Ketika lembar foto terakhir berubah menjadi abu, Adelia berbalik kembali ke dalam rumah.
Tepat saat Adelia melangkah ke koridor kamar, Arkananta keluar dari ruang kerja dengan memegang selembar amplop cokelat tebal di tangannya.
"Bagus kamu belum tidur, Del," ujar Arkananta dingin tanpa beban. Ia melemparkan amplop cokelat itu ke atas meja makan di depan Adelia. "Buka dan tanda tangani sekarang."
Adelia menatap amplop itu, lalu menatap Arkananta. "Apa ini?"
Arkananta menyunggingkan senyum sinis. "Itu gugatan cerai. Besok pagi kamu harus sudah angkat kaki dari rumah ini!"
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel