Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Aku Dilamar Pengacara Tampan di Apartemen Mewah
Setelah kontrakan terbakar habis, Arya langsung membawaku ke kota dengan mobilnya. Perjalanan dua jam aku hanya diam sambil mengelus perutku. Aku masih trauma melihat api besar tadi malam.
"Kamu tidur saja Una, sandaran kursinya saya rebahkan ya. Kamu butuh istirahat, kasihan bayinya," kata Arya lembut.
Aku tertidur di mobil Arya. Untuk pertama kalinya aku merasa dilindungi oleh seorang laki-laki. Berbeda dengan Rizal yang dulu hanya bisa marah-marah dan malas kerja, Arya begitu perhatian dan bertanggung jawab.
Kami sampai di sebuah apartemen mewah di tengah kota. Gedungnya tinggi sekali, ada satpam dan lift. Aku yang dari desa kaget melihat kemewahan ini.
"Ini apartemen saya yang kedua Una, memang kosong tidak ada yang pakai. Sekarang kamu yang pakai ya. Anggap saja rumah kamu," kata Arya sambil membukakan pintu.
Pintu apartemen terbuka, aku terkejut melihat dalamnya yang sangat mewah dan bersih. Ada dua kamar, dapur, ruang tamu dengan sofa empuk, tv besar, dan kulkas penuh makanan. Jauh berbeda dengan kontrakan kayu ku yang sudah jadi abu.
"Ya Allah kak, mewah sekali. Aku tidak pantas tinggal di sini, aku hanya janda miskin dari desa," kataku minder.
Arya menutup pintu dan menatapku serius, "Una, mulai sekarang jangan bilang kamu janda miskin lagi. Kamu wanita kuat yang sedang berjuang untuk anaknya. Kamu pantas dapat yang terbaik. Dan tempat ini memang pantas untuk kamu dan calon bayi kita."
Kata-kata 'bayi kita' membuat jantungku berdebar. Arya benar-benar sudah menganggap bayi dalam perutku sebagai anaknya sendiri.
Arya mengantarku ke kamar utama, "Kamu mandi dulu ya, saya sudah siapkan baju baru di lemari. Tadi saya suruh asisten saya belikan. Semua ukuran kamu. Setelah mandi kita makan."
Aku masuk kamar mandi yang mewah itu. Ada bathtub dan air hangat. Aku menangis di dalam kamar mandi. Tangis bahagia. Dari seorang janda yang diusir hujan-hujanan dan kontrakannya dibakar, sekarang aku tinggal di apartemen mewah dan dijaga pengacara tampan.
Setelah mandi dan memakai baju baru yang dibelikan Arya, aku keluar. Arya sudah menyiapkan makanan di meja makan. Nasi, ayam goreng, sayur, dan susu untuk ibu hamil.
"Kakak masak sendiri?" tanyaku kaget.
Arya tersenyum, "Saya pesan dari restoran, tapi saya tata sendiri. Ayo makan, kamu harus makan banyak untuk dua orang sekarang."
Kami makan bersama dengan suasana hangat. Seperti suami istri baru.
Selesai makan, Arya tiba-tiba berlutut di depanku. Aku kaget sekali.
"Una, saya tahu ini terlalu cepat. Saya tahu kamu masih hamil anak mantan suamimu. Saya tahu saya punya kekurangan tidak bisa punya anak. Tapi saya sudah tidak bisa bohongi perasaan saya lagi," kata Arya dengan mata berkaca-kaca.
Arya mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya ada cincin berlian yang sangat indah.
"Una Wulandari, maukah kamu menikah denganku? Menikah siri dulu tidak apa-apa, yang penting kamu dan bayi kamu punya status yang jelas dan terlindungi. Saya janji akan jadi suami terbaik untukmu dan ayah terbaik untuk anakmu. Saya akan jaga kalian seumur hidup saya," kata Arya sambil menangis.
Aku menutup mulutku dengan tangan, air mataku mengalir deras. Lamaran? Aku dilamar pengacara tampan kaya raya di apartemen mewah? Padahal tiga minggu lalu aku adalah janda miskin yang diusir dari rumah dan tidur di warung.
"Kak Arya... aku... aku masih hamil... apa kakak tidak malu menikahi janda hamil?" tanyaku pelan.
Arya menggeleng keras, "Tidak! Saya bangga! Justru saya yang beruntung bisa dapat kamu Una. Kamu wanita paling kuat yang pernah saya kenal. Jawab ya Una, maukah kamu jadi istri saya?"
Aku terdiam lama. Di satu sisi aku bahagia, tapi di sisi lain aku takut. Takut ini hanya mimpi. Takut Rizal kembali merebutku. Takut Bu Ratna keluar dari penjara dan balas dendam lagi.
Tapi melihat ketulusan di mata Arya, aku akhirnya mengangguk sambil menangis.
"Iya kak... saya mau... saya mau menikah sama kakak," jawabku.
Arya langsung memelukku dengan bahagia dan memakaikan cincin berlian itu di jariku. Cincin itu pas sekali di jariku.
Malam itu kami resmi menikah siri dengan disaksikan ustadz yang dipanggil Arya ke apartemen. Sederhana tapi sakral.
Aku resmi menjadi istri Arya Mahendra, pengacara tampan kaya raya. Hidupku berubah 180 derajat.
Tapi kebahagiaan itu terusik saat hp Arya berdering. Itu telepon dari polisi.
"Pak Arya, Bu Ratna kabur dari tahanan! Dia menyuap petugas dan kabur! Hati-hati Pak, dia dendam sama istri Bapak!"
Aku dan Arya saling tatap dengan panik. Janda kaya jahat itu kabur dari penjara.
Apakah Bu Ratna akan datang ke apartemen untuk balas dendam pada malam pertama pernikahan kami?