NovelToon NovelToon
CEO Arogan Jatuh Cinta

CEO Arogan Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.

Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.

Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.

Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.

Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.

Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 11

Sekitar delapan menit dalam perjalanan, Dave dan Emma akhirnya sampai di halte bus jalan Amberly Way. Pintu bus otomatis terbuka, mereka lalu berjalan keluar. Setelah tak ada lagi penumpang yang turun di halte itu, bus kembali melaju.

"Kita sudah sampai," ucap Emma.

Dave mengedarkan pandangan ke sekelilingnya melihat beberapa gedung apartemen dari tempatnya berdiri. "Ini benar-benar tidak sesuai dengan dugaanku," ucapnya. Ia lalu meletakkan kopernya begitu aja dan melangkah lebih maju. "Aku pikir ayahku menyewakan apartemen modern yang mewah," lanjutnya.

"Lebih baik cepat cari dimana tempat ayahmu menyewa unit apartemen. Sebentar lagi akan turun hujan," ucap Emma, menyadari langit mulai mendung.

"Baiklah, kamu boleh pergi," jawab Dave. Ia lalu mengambil ponsel disaku celananya dan segera bertanya pada pamannya, nama apartemen yang salah satu unitnya telah disewa ayahnya.

Emma tampak bingung dengan sikap Dave yang tiba-tiba mengijinkan dirinya pergi. "Hei Dave, lain kali bilang terima kasih kalau sudah dibantu," tegur Emma.

Dave tak meresponnya. Pria itu tampak sedang menelpon pamannya.

Emma pun tak berharap respon dari pria sombong seperti Dave. Lebih baik ia tinggalkan saja. Ia pun berjalan menuju apartemen bernama Pinecrest Flats.

Gedung apartemen itu terdiri dari tiga lantai : satu lantai dasar dan dua lantai hunian diatasnya. Setiap lantai hunian terdiri dari lima unit apartemen.

Belum jauh melangkah dari halte, Emma tak sengaja mendengar obrolan Dave dengan pamannya.

Apartemen Pinecrest Flats lantai dua unit nomor tiga

Emma terkejut. Ia tak menyangka kalau Dave akan tinggal di apartemen yang sama dengan dirinya. Bahkan ia juga tak menduga kalau unit apartemennya akan sangat dekat dengan pria itu, hanya terpisah oleh unit apartemen milik Tuan dan Nyonya Smith.

sial, sial kenapa harus apartemen yang sama batin Emma. Ia sudah sangat tersiksa dengan Dave saat ditoko, tapi sekarang kesialan menimpa dirinya. Ia harus rela tinggal berdekatan dengan pria paling menjengkelkan didunia menurutnya.

"Hei Emma !" teriak Dave. Ia melangkah cepat sambil membawa koper birunya menghampiri Emma yang terhenti langkahnya.

"Aku akan tinggal di apartemen ini," ucap Dave sambil menatap gedung berlantai tiga didepannya. "Sepertinya kita akan bertetangga," lanjutnya.

Sangat menjijikkan bagi Emma untuk bertetangga dengan pria seperti Dave. Kesombongan dan keangkuhannya benar-benar menyebalkan.

"Jangan berharap kita akan bertetangga baik," sahut Emma. Ia lalu melangkah masuk ke lobi.

"Memang apa salahnya kita bertetangga ?" gumam Dave. "Aku orangnya kan asyik," lanjutnya. Ia lalu berjalan masuk, sementara Emma sudah mulai menapaki lantai tangga.

...----------------...

"Unit nomor tiga ya," gumam Dave. Ia berdiri tepat didepan pintu nomor tiga. "Aku berharap didalamnya ada fasilitas modern, walaupun kelihatan dari luar, apartemen ini sangat minimalis," lanjutnya.

Kunci ia putar. Setelah terdengar bunyi klek, perlahan pintu dibuka. Lampu ia nyalakan.

Dave sangat kecewa, tidak sesuai ekspektasinya. Didalam unit apartemennya terlihat sederhana. Tak ada fasilitas yang memukau.

"Bagaimana ayah bisa tega membiarkanku tinggal di apartemen yang biasa ini," ucap Dave setelah masuk ke dalam beberapa langkah.

Hujan pun turun. Suara rintik hujan terdengar hingga ke telinga Dave. Ia duduk di sofa ruang tamu. Sofa itu tidak empuk dibandingkan sofanya yang ada dirumah, ia pun tak nyaman untuk duduk.

Dave merebahkan kepalanya ke belakang. Lalu memejamkan matanya sesaat. Suara rintik hujan menjadi satu satunya suara yang ia dengar.

kenapa semua ini harus terjadi kepadaku sesal Dave dalam hati. Walaupun ia menyesali semua yang telah terjadi, tapi ia belum sadar akan kesalahannnya.

Semua yang ia lakukan dulu dikantor, menurutnya sangat wajar dan tidak melanggar aturan. Hal ini artinya keinginan ayahnya belum terwujud dihari pertama anaknya sebagai kurir pengantar pizza.

...----------------...

Meninggalkan apa yang sedang dialami Dave, di unit apartemen nomor empat, Emma sedang membantu menyiapkan makan malam. Unit ini tempat tinggal Tuan dan Nyonya Smith.

"Emma, sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Nyonya Smith yang sedang mengiris sayuran. "Saya tahu pasti kamu lelah setelah seharian bekerja. Sup ini biar saya selesaikan," lanjutnya.

Emma tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan seraya menata mangkok-mangkok porselen di atas meja makan. "Tidak apa-apa, Nyonya Smith. Justru dengan bergerak seperti ini rasa lelah saya agak berkurang. Lagipula, saya sudah terbiasa," jawabnya lembut.

Nyonya Smith menghentikan irisannya sejenak, lalu menatap Emma dengan pandangan hangat penuh kasih sayang—pandangan yang selalu membuat Emma merasa memiliki rumah kedua di tengah riuk-pikuk kota ini.

"Kamu memang anak yang baik Emma," puji Nyonya Smith.

"Jangan memujiku berlebihan seperti itu Nyonya," jawab Emma. Ia berhenti sejenak menata mangkok di meja makan. "Lagipula ini juga sebagai bentuk terima kasihku kepada Nyonya Smith yang selama ini telah mau menjaga adik-adik saya," lanjutnya.

"Tidak usah dipikirkan Emma." Nyonya Smith memasukkan irisan wortel dan kentang ke dalam panci yang airnya mulai mendidih. "Saya senang bisa menjaga adikmu. Aku dan suamiku jadi tidak kesepian lagi. Lagipula adikmu itu mudah diatur, tidak seperti kebanyakan anak kecil seusianya," lanjutnya.

Emma memandang kedua adiknya—Ryan dan Luna—dari meja makan. Mereka sedang duduk anteng di ruang tamu sambil menonton sebuah film kartun. Ia tersenyum tipis, bersyukur ternyata selama di titipkan disini tidak menyusahkan Tuan dan Nyonya Smith.

"Emma, kamu jangan pernah merasa tidak enak hati padaku," ucap Nyonya Smith sambil mengaduk sup yang hampir jadi. Aroma gurih kaldu daging langsung menyebar di dapur.

Tidak lama kemudian pintu terbuka. Tuan smith masuk setelah pergi selama dua jam. Sebenarnya kalau tidak hujan pria paruh baya itu sudah pulang sejam yang lalu.

Tuan Smith melepas jas hujannya dan menggantungnya di dekat Pintu. Ia lalu melepas sepatunya yang basah.

"Emma, kamu sudah pulang ?" ucap Tuan Smith saat memasukki dapur. Ia membawa tas belanja yang isinya cukup banyak. "Hujannya deras sekali, aku harus nunggu sedikit lama sampai hujannya cukup reda."

Pria paruh baya itu meletakkan tas belanja ke atas meja makan. Berbagai sayuran, bumbu dan beberapa cemilan ringan ia keluarkan.

"Aku bantu Tuan Smith," ucap Emma. Ia mendekat lalu dengan sigap mengambil alih tugas Tuan Smith. "Sepertinya banyak sekali belanjanya hari ini," lanjutnya.

"Iya Emma, untuk stok bahan masakan bulan ini," sahut Nyonya Smith.

"Untuk kedepannya, aku akan bantu Tuan dan Nyonya Smith belanja bulanan," jawab Emma.

"Tidak usah Emma," sahut Tuan Smith. Ia duduk di kursi meja makan. "Uangnya kamu simpan saja untuk kebutuhanmu dan adikmu. Kamu sudah bekerja keras untuk mendapatkannya," lanjutnya.

Tuan Smith menyadari betul kalau Emma sangat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya dan kedua adiknya. Ia tidak tega uang penghasilan wanita muda itu digunakan untuk membiayai kebutuhan lain.

"Tidak apa-apa Tuan Smith," jawab Emma. "Aku tidak keberatan untuk membantu kalian," lanjutnya.

"Emma sebaiknya uang yang kamu peroleh gunakan untuk membiayai kebutuhanmu dan adikmu. Kamu harus membuat hidupmu bahagia, karena kamu masih muda. Apalagi kamu hidup tanpa orang tua dan kamu juga memiliki adik yang usianya masih kecil. Hasil kerja kerasmu lebih baik gunakan untuk kebutuhanmu dan adik-adikmu," jelas Tuan Smith.

Emma terdiam sejenak mendengar ucapan Tuan Smith. Kata-kata pria paruh baya itu terasa begitu hangat, meresap sampai ke lubuk hatinya. Di tengah dunia yang sering kali terasa keras dan menuntut, perhatian tulus dari keluarga Smith adalah tempat berteduh yang amat ia syukuri.

Ia menghentikan tangannya yang sedang mengeluarkan sebungkus biskuit dari tas belanja, lalu menatap Tuan dan Nyonya Smith secara bergantian.

"Terima kasih banyak, Tuan, Nyonya." suara Emma terdengar agak serak, menahan haru yang mendadak mencuat di dadanya. "Perhatian Tuan dan Nyonya sudah lebih dari cukup bagiku. Tanpa bantuan kalian yang mau menjaga Ryan dan Luna, saya tidak tahu bagaimana harus menjalani semua ini sendirian."

Nyonya Smith mematikan kompor, memindahkan sup hangat yang aromanya semakin menggugah selera ke dalam wadah besar, lalu menghampiri meja makan. Ia mengelus lembut bahu Emma.

"Kita ini sudah seperti keluarga, Emma. Tidak perlu sungkan," ucap Nyonya Smith lembut. "Tugasmu sekarang adalah fokus bekerja dan menata masa depanmu serta adik-adikmu. Selama kami masih sanggup, pintu rumah ini selalu terbuka untuk Ryan dan Luna."

Emma mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Ia sangat tidak menyangka Tuan dan Nyonya Smith yang selalu ia repotkan untuk menjaga adiknya selama bekerja, ternyata sepengertian ini. Ia sangat bersyukur bisa kenal dan bertetangga dengan mereka.

1
Endah Lestary
ceritanya simpel ga ribet mikir dan ga kepanjangan pula.semoga semakin sukses 🥰
Putry Chan
jadi dia bos nya harus nungguin tanggapan orang ini dulu
@Semua orang
ya udh aku tinggal jejak di sini yah, semoga si author menepati yg di katakannya. semangat thor 💜💜💜
@Semua orang
ini pilihannya yg mana motor atau skuter
@Semua orang
hallow em.
@Semua orang
ala ebew
@Semua orang
PD banget om
@Semua orang
kayaknya ni org macam kayak aki mono itu ih.
@Semua orang
ho'oh
@Semua orang
hah cepet banget pak james, aneh. oh iya saran dari aku itu setelah tanda kutip hurufnya harus kapital udh itu aja.
@Semua orang
sekeras apapun cari duit org juga butuh rileksasi om
@Semua orang
dor
@Semua orang
di gw mah gerah bukan dingin, blm hujan lagi.
@Semua orang
hallow pak, salken pak.
Rumah Pena
lanjuuut
Rumah Pena
ceritanya seru dan menarik. lanjuttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!