NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 13

Part 13

Tina menurunkan tubuhnya dari mobil bosnya, ekspresinya masih tetap sama saat masih berada di dalamnya, kesal dan marah. Bosnya itu lagi-lagi bersikap menyebalkan, Tina bahkan sampai tak bisa berpikir terlebih lagi membayangkan bosnya itu bisa berbuat baik pada orang lain terlebih pada dirinya.

Kalau bukan karena papanya, Tina mungkin tidak mau bertahan bekerja lebih lama lagi dengan bosnya yang satu itu. Belum lagi saat melihat ekspresinya sekarang, tenang dan dingin, tidak ada ekspresi penyesalan ataupun bersalah, membuat Tina muak melihatnya.

"Kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Alfan saat menyadari Tina terdiam dengan melirik tak suka ke arahnya.

"Bapak kan belum jalan, masa saya harus jalan duluan?" Tina menjawab seadanya, berusaha bersikap profesional seperti biasa.

"Itu karena saya sedang menunggu kamu. Cepat ke sini, jalan di samping saya." Alfan menunjuk ruang hampa di sampingnya, di mana tidak ada satu orang pun di sana. Sedangkan Tina hanya mengangguk, ekspresinya tampak tak yakin dengan perintah bosnya itu.

"Kenapa saya harus berjalan di samping Bapak? Kan biasanya saya jalan di belakang, Pak." Tina menatap heran ke arah bosnya setelah sampai di depannya.

"Kamu lupa status kita itu apa di hadapan para karyawan? Kita itu pasangan yang akan menikah, bagaimana mungkin saya membiarkan kamu berjalan di belakang saya? Yang ada mereka akan berpikir kalau saya ini lelaki kejam."

"Bapak memang kejam kok," jawab Tina lirih.

"Apa kamu bilang?"

"Tidak ada, Pak. Jadi saya harus bagaimana?"

"Berjalan di samping saya dan gandeng lengan saya!" perintah Alfan sembari melengkungkan lengannya, menunggu Tina mengalungkan tangannya di sana.

"Apa? Saya harus gandeng lengan Bapak? Saya tidak mau, Pak. Apa kata orang-orang di kantor kalau saya melakukan hal menggelikan itu?" Tina menggeleng kuat, tubuhnya bahkan bergidik ngeri saat otaknya membayangkan respons teman-temannya saat melihat tingkah lakunya.

"Kamu mau menentang perintah saya?" Alfan menatap tegas ke arah Tina yang terdiam, meski pada akhirnya menghela nafas dan mengangguk paham.

"Maaf, Pak. Saya akan menggandeng lengan Anda." Tina mengangkat tangannya, merasa sempat ragu saat akan menyentuh jas lengan bosnya itu.

"Cepetan!" tegas Alfan yang langsung Tina turuti perintahnya, meski di dalam hati ia ingin sekali melawan bosnya, saking lelahnya ia dengan perintah-perintah anehnya.

"Sekarang kamu senyum seolah-olah kamu bahagia bersama saya." Alfan menatap ke arah Tina yang sempat murung lalu tersenyum meski dengan rasa terpaksa.

"Bagus," ujar Alfan sembari kembali menatap ke arah depan lalu berjalan menuju kantor, bibirnya bahkan tersenyum bahagia bisa merasakan tangan Tina di lengannya.

Tina berusaha tersenyum ke arah semua orang yang tengah menatapnya sedang menggandeng lengan bosnya. Bila dilihat dari tatapannya, rata-rata mereka seperti terkejut sekaligus tak percaya dengan penglihatan mereka masing-masing.

Bila dipikir lagi, siapa yang akan percaya bila bos mereka yang suka bertindak seenaknya, irit bicara, tegas, berwibawa, dan bahkan kejam itu akan menikah dengan asisten pribadinya sendiri. Mungkin banyak dari mereka yang merasa penasaran bagaimana bos mereka itu bisa memulai hubungan dengan asistennya, mengingat sikapnya yang terlalu kaku dan serius.

Sekarang tidak ada yang bisa Tina lakukan kecuali tetap dengan ekspresi yang sama, seolah sedang bahagia bersama dengan bosnya, sedangkan banyak pasang mata yang tengah menatapnya seolah mereka baru saja melihat hal paling gila di dunia.

Sampai saat Tina dan bosnya masuk ke dalam kantor, mereka sempat berpapasan dengan Ria dan Viona, dua sahabat Tina yang paling dekat. Bisa ditebak bagaimana respons mereka sekarang, membulatkan mata dengan bibir menganga, ekspresi mereka bahkan terlihat lebih memuakkan di mata Tina dari pada ia harus menggandeng lengan bosnya.

Entahlah, Tina hanya merasa bila kedua sahabatnya itu memang sangat berlebihan. Di sisi lainnya, Tina juga merasa iri dengan mereka, karena bisa bekerja dengan tenang tanpa harus terhubung langsung dengan bos mereka yang menyebalkan.

"Lepas tangan kamu, sudah tidak ada orang di sini!" Alfan berujar tegas ke arah tangan Tina, di mana empunya sedang menggerutu dan melamun di dalam hati, tanpa menyadari bila mereka sudah sampai di ruangan.

"Iya, Pak. Maaf," jawab Tina setelah sadar, padahal ia baru saja mengatakan di dalam hati bila bosnya itu menyebalkan, ternyata ia salah, karena pada dasarnya bosnya itu sangat-sangat menyebalkan.

"Oh iya, hari ini saya ada jadwal apa saja?" tanya Alfan ke arah Tina yang langsung sigap dengan tugasnya.

"Sebentar, Pak." Tina berlari ke arah mejanya lalu mengambil buku catatannya.

"Tidak ada jadwal di luar kantor, Pak. Tapi besok Anda harus ke Surabaya untuk menghadiri acara pertunangan anak dari rekan Anda." Tina menatap ke arah bukunya, meneliti setiap catatan miliknya.

"Ke Surabaya ya? Baiklah, saya akan bersiap-siap untuk keberangkatan besok. Kamu juga harus ikut, kamu kan asisten saya." Alfan menatap ke arah Tina yang tertunduk patuh.

"Iya, Pak." Tina menjawab seadanya, tanpa menyadari bagaimana Alfan tersenyum mendapatkan ide brilian dari otaknya.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!