NovelToon NovelToon
ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Cahaya pendar lampu meja belajar di paviliun sempit itu memantul tajam di layar laptop baru milik Bima.

​Jam dinding berdetak menunjukkan pukul sembilan malam, namun Bima sama sekali belum berniat untuk memejamkan mata.

​Sorot matanya menajam, menguliti grafik pergerakan saham PT Cipta Sentosa yang terus merosot bebas di lantai bursa.

​Perusahaan bonafide milik ayah kandungnya sendiri itu kini tengah sekarat, terjebak dalam krisis likuiditas yang begitu parah.

​Triliing...

​Suara dering panggilan dari laptopnya memecah sunyi kamar dengan nyaring.

​Bima langsung mengeklik ikon terima panggilan video tanpa keraguan sedikit pun.

​Wajah seorang pria berjas rapi berusia akhir tiga puluhan kontan muncul di layar monitor.

​Pria itu adalah Rian, broker saham profesional berdarah dingin yang disewa khusus oleh Bima melalui perantara rahasia kantor hukum Surya.

​"Bagaimana perkembangan di lantai bursa hari ini, Rian?" tanya Bima langsung pada intinya dengan nada suara yang terkontrol tenang.

​"Sesuai dugaan Anda, Tuan Bima, harga saham PT Cipta Sentosa terjun bebas hingga sepuluh persen hari ini," jawab Rian dari balik layar dengan nada penuh hormat.

​"Bagus... itu artinya kepanikan di internal mereka sudah mulai mencapai titik nadir," balas Bima disertai seulas senyum tipis yang menyimpan dendam.

​"Banyak pemegang saham minoritas yang ketakutan setengah mati lalu melepas kepemilikan mereka di pasar terbuka," tambah Rian memperjelas situasi genting tersebut.

​Bima mengangguk pelan, menikmati setiap detik laporan yang terasa begitu memuaskan di telinganya.

​"Sekarang saatnya kita bergerak menyerap saham-saham yang dilepas bebas itu secara diam-diam," perintah Bima dengan ketegasan mutlak.

​"Baik, Tuan. Perusahaan cangkang kita, PT Garuda Investama, akan mulai memborong saham-saham mereka atas nama anonim," lapor Rian profesional.

​"Pastikan tidak ada satu pun orang di kubu Hendra yang mencium siapa pembeli misterius di balik layar," pesan Bima bernada tajam.

​"Tenang saja, Tuan, sistem privasi yang kita gunakan sudah berlapis-lapis dan sangat imun dari pelacakan publik," jamin Rian meyakinkan klien mudanya yang luar biasa itu.

​"Berapa banyak amunisi dana yang bisa kita alokasikan untuk pembelian malam ini, Rian?" tanya Bima menyelidik tajam.

​"Kita masih punya sisa dana sekitar tiga miliar rupiah dari total lima miliar yang Anda cairkan kemarin," jawab Rian cekatan.

​"Gunakan semuanya untuk menyedot saham publik sebanyak mungkin tanpa menciptakan lonjakan harga yang mencurigakan," instruksi Bima terarah jelas.

​"Siap, Tuan Bima. Eksekusi pembelian gelombang pertama akan segera saya jalankan detik ini juga," balas Rian siaga.

​"Bagus, beri aku kabar lagi kalau transaksi malam ini sudah beres," kata Bima sebelum memutus sambungan sepihak.

​Pip...

​Panggilan video terhenti, menyisakan layar laptop yang kembali menampilkan grafik bursa saham yang merah membara.

​Bima menyandarkan punggungnya yang pegal di kursi plastik, melipat kedua tangan di dada dengan tatapan menerawang.

​"Hendra... kamu pasti tidak pernah menyangka kalau perusahaan yang kamu banggakan itu sedang dibeli perlahan oleh anak yang dulu kamu buang," batin Bima tersenyum sinis.

​Langkah strategis berbasis finansial ini jauh lebih mematikan dan menyiksa daripada sekadar melayangkan pukulan fisik belaka.

​Bima ingin merebut mahkota kekuasaan perusahaan itu perlahan-lahan dari dalam sebelum menjatuhkan vonis kebangkrutan mutlak.

​Di belahan kota yang lain, suasana di dalam rumah mewah keluarga besar Hendra terasa jauh lebih suram dan menyesakkan daripada biasanya.

​Hendra duduk membatu di ruang kerjanya, memandangi segelas kopi hitam dingin yang sama sekali tidak disentuhnya sejak tadi sore.

​Wajahnya tampak kusut masai, dan puluhan garis kerutan kepenatan tercetak jelas di keningnya yang berdenyut nyeri.

​Brak!

​Pintu ruang kerja terbuka dengan kasar tanpa adab. Rina menerobos masuk dengan napas terengah-engah dan wajah sepucat mayat akibat panik luar biasa.

​"Ada apa lagi, Rina?! Jangan bikin kepalaku tambah pusing malam-malam begini!" bentak Hendra meluapkan kekesalan.

​"Harga saham perusahaan kita anjlok drastis di bursa hari ini, Ayah!" teriak Rina histeris sambil menyodorkan layar ponselnya dengan tangan gemetar.

​Hendra merampas ponsel dari genggaman istrinya dengan kasar, jemarinya ikut gemetar hebat.

​Bola matanya membelalak lebar, menatap tak percaya pada angka-angka merah kerugian fantastis yang tertera di layar.

​"Bagaimana bisa?! Siapa manusia sialan yang tega melepas saham sebanyak itu dalam waktu bersamaan?!" bentak Hendra histeris penuh ketidakpercayaan.

​"Bukan cuma dijual, tapi ada investor misterius yang memborong habis seluruh saham publik yang dilepas tadi siang!" jelas Rina dengan suara bergetar ketakutan.

​Hendra mendadak bangkit berdiri dengan kasar dari kursinya hingga kursi kayu itu terpelanting jatuh ke belakang.

​Prang!

​Kursi mewah itu menghantam lantai marmer dengan suara benturan yang memekakkan telinga.

​"Investor misterius?! Cari tahu siapa dalang di balik perusahaan pembeli itu detik ini juga!" perintah Hendra murka hingga urat-urat lehernya menonjol.

​"Bagian keuangan sudah mengerahkan segala cara untuk melacaknya, tapi identitas mereka dikunci rapat oleh sistem hukum anonim," jawab Rina dengan nada putus asa.

​Hendra menjambak rambutnya sendiri dengan kuat-kuat, frustrasi hebat yang menyesakkan dada kini sudah di ambang batas kewarasannya.

​"Kalau malapetaka ini terus berlanjut, kita bisa kehilangan kendali mayoritas atas perusahaan dalam hitungan hari saja!" teriak Hendra frustrasi.

​Kevin yang kebetulan melintas di depan pintu melangkah masuk dengan gaya santai tanpa beban hidup sedikit pun.

​"Paan sih teriak-teriak nggak jelas malam begini? Bikin orang susah tidur aja," cibir Kevin acuh tak acuh sambil menguap.

​"Diam kamu, Kevin! Perusahaan kita mau bangkrut dan kita semua bakal jatuh miskin sebentar lagi!" bentak Hendra melampiaskan seluruh emosi jiwanya.

​Kevin mendengus malas, menganggap kepanikan ayah tirinya itu hanyalah drama berlebihan yang membuang waktu.

​"Paling nanti juga ada rekan bisnis tolol lain yang mau suntik dana segar, gitu aja repot," ucap Kevin enteng sebelum berbalik badan hendak melangkah pergi.

​"Jangan pernah bersikap sok tahu atas urusan bisnis orang dewasa, sialan!" maki Hendra murka sambil menyambar tumpukan berkas dan melemparnya tepat ke arah Kevin.

​Bugh!

​Kertas-kertas tebal itu berserakan menghantam punggung Kevin yang tengah berjalan keluar.

​Kevin menghentikan langkahnya secara mendadak, menoleh dengan sorot mata penuh kemarahan setengah mati.

​"Kok Papa jadi emosian nggak jelas begini sih?! Kalau lagi stres, jangan pernah lampiaskan ke aku!" protes Kevin dengan nada tinggi tak terima.

​"Sudahlah, Ayah, jangan ribut dengan anak sendiri di saat situasi sedang kacau," bujuk Rina mencoba melerai ketegangan di antara keduanya.

​Hendra merosot jatuh, terduduk lemas di lantai ruang kerjanya dengan napas memburu dan peluh dingin bercampur air mata frustrasi.

​Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa musuh yang sedang meremukkan hidupnya kali ini jauh lebih cerdik, keji, dan berbahaya daripada pesaing bisnis konvensional mana pun.

​"Apakah ini semua... perbuatan Bima?" batin Hendra mulai gemetar diteror oleh bayang-bayang anak kandung yang dulu ia campakkan begitu saja.

​Sementara itu, jauh di sudut kamar paviliunnya yang sederhana, Bima kembali dikejutkan oleh getar notifikasi pesan dari Rian di laptopnya.

​Bip...

​Pesan singkat itu berbunyi pelan, membawa kabar kemenangan telak dari transaksi gelombang pertama yang sukses besar.

​"Tuan Bima, misi malam ini tuntas. Kita berhasil mengamankan dan menguasai lima persen saham publik PT Cipta Sentosa," begitu bunyi laporan tertulis dari Rian.

​Bima membaca pesan tersebut dengan seulas senyum dingin yang terpahat sempurna di wajah mudanya.

​"Kerja bagus, Rian. Lanjutkan eskalasi pembelian secara bertahap begitu pasar buka besok pagi," balas Bima mengetik cepat penuh percaya diri.

​Ia lantas menutup layar laptopnya rapat-rapat dan merebahkan diri di atas kasur busa tipis yang senantiasa menemaninya.

​Malam semakin larut dan sunyi, namun mata Bima tetap terjaga, benaknya terus merajut strategi babak berikutnya.

​Apa yang dialami keluarga Hendra malam ini hanyalah percikan riak kecil dari badai kehancuran total yang tengah ia racik.

​Setiap tetes air mata kepedihan dan luka pengkhianatan di masa lalu, kini bersiap dibayar lunas dengan kebangkrutan absolut.

1
Aman Wijaya
lanjut terus Thor di tunggu updatenya 💪💪💪
Cherlly: iya kak ku😘😘
total 1 replies
Cherlly
makasih kaka suport nya😘😍
Aman Wijaya
gaaas njeduk pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat dalam berkarya
Cherlly: makasih kaka udah membaca sejauh ini😘😘😘
total 1 replies
Aman Wijaya
top markotop top lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll mantab Thor lanjut terus
Cherlly: trimakasih sudah baca sejauh ini kaka😍😍😍
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus
Cherlly: iya kaka kami akan lanjyutin cerita nya sampai tuntas😊😊😊😘
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor lanjut terus
Cherlly: siap kaka semangat kaka adalah motivasi saya untuk berkarya😍
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Bima lanjut
Cherlly: siap kaka ikutin ya keseruan nya😊😊😊

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
rahasia Bima mulai terkuak sedikit demi sedikit
Cherlly: iya kaka lanjutin biat nambah seru😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Bima
Cherlly: makasih kaka

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Tatiek Faruq
aku mampir thor, lama² dibaca seru juga
Cherlly: ttimakasih kaka sudah mampir ikutin keseruan cerita nya ya kaka biar saya nambah semangat untuk berkarya😍😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ
kak mampir novelku "Vampir vs Serigala versi novel" makasih
Cherlly: makasih kaka nanti sama2 baca kita
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!