Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Melly menangis lega sambil memeluk pinggang kakaknya yang masih belum sadarkan diri.
"Terima kasih, Jarot. Terima kasih banyak," isak Melly tidak henti-hentinya mengucapkan syukur.
Tata menyandarkan tubuhnya ke sofa dan mengusap keringat dingin di dahinya.
"Kamu benar-benar tahu cara mengobati racun mematikan seperti ini?" tanya Tata menatap Jarot dengan rasa kagum yang baru.
"Di dunia bawah tanah, kalau kamu tidak tahu cara mengeluarkan racun dari tubuhmu sendiri, kamu tidak akan bisa hidup lebih dari sebulan," jawab Jarot datar.
Jarot berdiri lalu berjalan menuju dapur untuk mencuci tangan dan pisau yang berlumuran darah tadi.
Syuuut.
Suara aliran air kran membersihkan sisa-sisa ketegangan yang menempel di tangan pria itu.
Jarot menatap pantulan wajahnya di kaca jendela dapur dengan tatapan yang sangat kelam.
"Sindikat Tengkorak Hitam menyewa pembunuh asing untuk langsung menyasar nyawa, bukan sekadar menakut-nakuti lagi," batin Jarot menganalisis.
"Mereka pasti sudah mulai curiga kalau penjaga rumah ini bukan pengawal biasa," lanjut pikirnya.
Jarot mematikan kran air dan kembali ke ruang keluarga tempat kedua gadis itu masih menjaga Lyly.
"Mbak Tata, bawa kakakmu ke kamarnya dan biarkan dia istirahat total sampai besok pagi," perintah Jarot.
Tata langsung menggendong tubuh Lyly dengan sangat mudah karena tenaga fisiknya memang di atas rata-rata perempuan.
"Baik, Jarot. Aku akan menjaganya semalaman penuh," janji Tata melangkah menuju tangga.
"Mbak Melly, kamu ikut aku sekarang," panggil Jarot ke arah peretas muda tersebut.
Melly menghapus sisa air matanya dan buru-buru berdiri mengikuti langkah Jarot menuju ruang makan.
Jarot duduk di kursi dan menyuruh Melly duduk di hadapannya dengan layar laptop terbuka.
"Kita tidak bisa hanya bertahan menunggu mereka menyerang seperti orang bodoh," buka Jarot dengan nada serius.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Melly siap menerima perintah apa pun.
"Kamu harus mencari tahu identitas pembunuh asing yang baru saja masuk ke negara ini dalam tiga hari terakhir," perintah Jarot.
Melly mengernyitkan dahi karena permintaan itu terdengar sangat mustahil.
"Jarot, mencari orang asing di negara sebesar ini sama saja seperti mencari jarum di tumpukan jerami," keluh Melly pesimis.
"Tidak kalau kamu tahu di mana harus mencarinya," jawab Jarot memberikan petunjuk penting.
Jarot mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap layar laptop Melly.
"Retas sistem data penerbangan jet pribadi dan kapal pesiar mewah di pelabuhan selatan," kata Jarot mengarahkan.
"Pembunuh bayaran elit tidak pernah menggunakan penerbangan komersial biasa untuk menyelundupkan senjata mereka," jelasnya lagi.
Mata Melly langsung berbinar menyadari celah logika yang sangat masuk akal tersebut.
Tak Tak Tak.
Jari-jari Melly langsung bergerak cepat mengetikkan baris kode untuk meretas sistem otoritas pelabuhan dan bandara swasta.
Jarot menyandarkan punggungnya sambil menunggu proses peretasan itu berjalan.
"Selain itu, aku mau kamu melacak semua aliran dana gelap dari perusahaan saingan ibumu," perintah Jarot menambahkan tugas.
"Untuk apa melacak aliran dana mereka?" tanya Melly tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Pembunuh asing tidak bekerja dengan daun, mereka butuh uang muka yang sangat besar dan ditransfer lewat rekening luar negeri," jawab Jarot.
Melly mengangguk paham dan membuka tab baru di komputernya untuk meretas sistem perbankan internasional.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara ketikan keyboard mekanik Melly.
Ting.
Sebuah jendela pop-up berwarna hijau muncul di tengah layar laptop Melly.
"Aku menemukan sesuatu yang aneh, Jarot," lapor Melly dengan nada terkejut.
"Ada transfer dana sebesar lima puluh miliar rupiah ke sebuah rekening anonim di Rusia dua hari yang lalu," baca Melly dari data yang ia dapat.
"Dan dana itu ditransfer tepat setelah Bos Naga mengadakan pertemuan dengan Direktur Utama perusahaan saingan Mama," lanjutnya.
Jarot tersenyum tipis mendengar informasi yang sangat cocok dengan analisisnya itu.
"Sudah bisa dipastikan, mereka menyewa kelompok pembunuh bayaran dari Rusia yang terkenal tidak punya belas kasihan," gumam Jarot.
"Lalu bagaimana dengan data jet pribadi?" tanya Jarot menagih tugas pertama.
Melly berpindah ke tab lainnya dan menunjuk sebuah manifes penerbangan yang ditandai warna merah.
"Ada satu jet pribadi tanpa logo perusahaan yang mendarat di pelabuhan udara selatan tadi malam," ucap Melly membacakan data.
"Di dalam daftar penumpangnya hanya ada nama tiga orang warga negara asing yang tidak memiliki rekam jejak bisnis apa pun," tambahnya curiga.
"Itu mereka. Tiga pembunuh elit Rusia sudah ada di kota ini sekarang," simpul Jarot dengan suara pelan namun mematikan.
Melly menelan ludahnya membayangkan rumah mereka akan diserang oleh tiga pembunuh profesional dari luar negeri.
"Jarot, apakah rumah ini masih aman untuk kita tinggali?" tanya Melly dengan suara bergetar ketakutan.
Jarot menatap ke arah jendela ruang makan yang memperlihatkan halaman belakang yang luas.
"Tidak ada tempat yang aman di kota ini selama mereka bertiga masih bernapas," jawab Jarot jujur.
"Lalu kita harus lari ke mana? Mama masih ada di Singapura," panik Melly mulai hilang akal.
"Kita tidak akan lari ke mana-mana, Mbak Melly. Kita akan menyambut mereka di sini," putus Jarot mengembalikan pandangannya ke arah gadis itu.
Jarot berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kotak penyimpanan alat-alat perkakas di pojok ruangan.
"Kalau mereka pikir mereka bisa membunuh majikanku dengan mudah, maka aku akan menunjukkan pada mereka neraka yang sebenarnya," ancam Jarot sambil mengambil sebuah palu besar.
Jarot mulai membongkar beberapa ubin lantai di dekat pintu masuk dapur dengan gerakan yang sangat kasar.
Melly hanya bisa melihat aksi pria itu dengan tatapan bingung dan takjub.
"Kamu mau membuat jebakan lagi di dalam rumah?" tanya Melly penasaran.
"Bukan sekadar jebakan, aku sedang merancang medan perang kota yang akan membuat mereka menyesal lahir ke dunia ini," jawab Jarot tanpa menoleh.
Malam itu, Jarot tidak tidur sama sekali dan terus bekerja merombak beberapa struktur tersembunyi di dalam rumah mewah tersebut.
Ia menanamkan berbagai perangkap mematikan yang tidak akan pernah bisa ditebak oleh orang biasa maupun pembunuh profesional.
Di lantai atas, Tata tidak beranjak dari sisi tempat tidur Lyly untuk memastikan nafas kakaknya tetap teratur.
Keluarga yang tadinya dipenuhi tawa dan perdebatan konyol ini kini benar-benar telah terseret ke dalam badai dunia bawah tanah yang sesungguhnya.
Mereka semua kini hanya bisa bergantung pada satu sosok pria urakan yang berstatus sebagai pengawal pribadi mereka.
Dan Jarot, sang mantan penguasa dunia bawah, kini sudah melepaskan semua rasa malasnya demi melindungi orang-orang yang mulai ia hargai ini.
Pertumpahan darah yang jauh lebih besar dan brutal sudah menanti di depan mata mereka.