Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.
Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.
"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."
Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.
Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Tiba juga hari aku menjadi Nyonya Müller. Aku berkaca, aku tampak cantik dengan gaun yang dipilihkan ibuku dan para wanita keluarga Vannicelli. Tapi aku tak bisa menahan rasa pilu. Seharusnya hari ini aku menikah dengan Massimiliano dan kami berbahagia menyambut kehamilan kami, tapi hidup menertawakanku, mengubah segalanya. Aku akan menikah dengan seorang Jerman yang hampir tak kukenal, dan aku jatuh cinta sedalam-dalamnya pada bayinya yang menyelamatkan hidupku. Takdir memang keparat pada orang yang punya segalanya, yang sudah tertata dan sempurna. Ayahku masuk, mengecup keningku. Kuberi ia senyum, kupeluk. Aku butuh merasakan kehangatannya, itu membuatku merasa lebih baik.
"Kau yakin ingin menikah? Kalau kau menyesal, kau bisa membatalkannya dan pulang bersama kami, Adelina."
"Tidak, Ayah, aku yakin dengan pernikahan ini, dan Ayah yang mengajariku bahwa seorang Vannicelli selalu menepati janji."
Ayah menangkup pipiku sambil tersenyum, mengecup kedua pipiku.
"Baiklah, sayang, kuberikan restuku, dan semoga pernikahanmu bahagia dan langgeng. Ayah menyayangimu, Nak."
"Terima kasih, Ayah, aku juga menyayangi Ayah. Tapi tolong jangan menangis, nanti aku ikut menangis, riasanku sudah terpasang."
Kami berdua tertawa, sementara Ayah menyeka matanya. Ia menawarkan tangannya, sudah waktunya mengantarku ke altar. Ia membantuku naik ke limusin. Beberapa menit kemudian, kami tiba di gereja. Ayah membantuku turun. Perutku terasa mulas, aku ingin muntah. Ya Tuhan, rasa gugup ini membunuhku. Semoga ini cepat berakhir. Ayah menawarkan lengannya, kusambut, aku melangkah masuk ke dalam gereja. Kegugupanku bertambah melihat begitu banyak orang yang tak kukenal.
Kucari keluargaku yang berada di depan. Kulihat ibu dan tanteku menangis, sementara saudara dan sepupu-sepupuku tersenyum padaku. Aku menarik napas dalam-dalam, terus melangkah hingga tiba di hadapan pria yang akan kunikahi. Tak bisa kupungkiri ia sangat tampan, setelan hitam itu benar-benar pas di tubuhnya. Ayah menyerahkan tanganku.
"Tuan Jakob Müller, saya menyerahkan salah satu harta karun saya. Mulai sekarang Anda bertanggung jawab menjaga dan mencintainya. Kalau suatu saat Anda tak menginginkannya di sisi Anda, tolong jangan menyakitinya, cukup kembalikan ia pada saya seperti saat saya menyerahkannya hari ini. Kalau Anda sampai membuat putri saya menangis atau melukai sehelai rambutnya saja, anggap diri Anda sudah mati. Anda takkan punya tempat bersembunyi, karena akan saya temukan Anda bahkan di kolong batu sekalipun. Paham?"
"Tuan Vannicelli, saya akan menjaga putri Anda seperti permata paling berharga dan rapuh di planet ini. Saya lebih memilih mencabut nyawa saya sendiri daripada melukainya. Ia ibu dari anak saya, saya rela mati untuknya."
Ayahku pergi ke samping ibuku sementara pastor memulai upacara. Aku mendekat ke arah Jakob.
"Rayuan yang bagus kau berikan pada Ayah."
"Siapa bilang itu rayuan? Kau tampak begitu cantik, kau yang paling cantik, tak ada wanita mana pun yang bisa menyaingimu, itu sebabnya kau adalah dewi kecantikan."
Wajahku terbakar mendengar kata-katanya yang begitu indah, sayang aku tak bisa mempercayai apa pun yang keluar dari mulutnya. Kualihkan pandangan ke pastor yang melanjutkan khotbahnya.
"Satukan tangan kalian dan nyatakan kesediaan kalian di hadapan Tuhan dan gereja."
"Aku, Jakob Müller, menerimamu sebagai istriku dan menyerahkan diriku padamu, dan berjanji setia padamu dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, serta mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku."
Ia menggenggam tangan kananku dan menyematkan cincin.
"Aku, Adelina Vannicelli, menerimamu sebagai suamiku dan menyerahkan diriku padamu, dan berjanji setia padamu dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, serta mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku."
Kugenggam tangan kanannya dan kusematkan cincin.
"Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tak boleh dipisahkan oleh manusia. Kau boleh mencium pengantinmu."
Kami saling bertatapan. Jakob mendekat, menangkup pipiku, menciumku, dan aku membalasnya. Kami mendengar tepuk tangan para tamu. Setelah upacara selesai, kami keluar dari gereja menuju pesta.
Jakob
Di hadapanku ada tunanganku, dan beberapa menit lagi ia resmi menjadi istriku. Aku terpukau oleh kecantikannya, ia tampak begitu memesona dengan gaun pengantin itu, tapi yang paling kusukai adalah rambut putihnya, ia benar-benar seorang dewi. Aku makin yakin ingin ia berada di sisiku seumur hidup. Aku menyukainya.
Setelah ikrar selesai, tibalah momen yang begitu kunantikan, akhirnya menciumnya. Ia menatapku, jadi aku yang mengambil inisiatif, kutangkup pipinya, kuberi ia ciuman lembut yang ia balas. Kini semua yang hadir tahu bahwa ia istriku, bahwa ia hanya milikku, dan siapa pun yang berani mendekatinya akan jadi mayat.