NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — Rutinitas yang Aneh

Satu bulan berlalu, dan tanpa disadari, ritme kerja Kirana di Arka Corporation mulai membentuk pola yang aneh—pola yang selalu melibatkan Rangga, entah bagaimana caranya.

Awalnya Kirana pikir kebetulan semata. Tapi ketika hampir setiap hari ia berpapasan dengan Rangga di koridor, di pantry, bahkan di lift—padahal ruang kerja CEO berada di lantai paling atas, jauh dari lantai delapan tempat Kirana bekerja—ia mulai curiga ada sesuatu yang tidak lagi bisa disebut kebetulan.

"Kirana," sapa Rangga suatu pagi, saat mereka berpapasan di depan lift, keduanya sama-sama memegang secangkir kopi dari mesin kopi kantor.

"Pak," Kirana mengangguk sopan, meski dalam hati bertanya-tanya kenapa CEO sesibuk itu bisa punya waktu mampir ke pantry lantai delapan yang notabene bukan wilayahnya.

"Laporan minggu ini gimana progresnya?" tanya Rangga, nada suaranya tetap datar dan profesional, meski matanya melirik sekilas ke arah Kirana dengan cara yang sulit dijelaskan.

"Sudah hampir selesai, Pak. Tinggal finalisasi data terakhir," jawab Kirana, mencoba terdengar setenang mungkin meski jantungnya berdebar aneh.

"Bagus. Jangan sampai ada kesalahan lagi kayak insiden Sandra kemarin," Rangga berkata, ada sedikit nada menggoda yang tersembunyi rapi di balik kalimat tegasnya.

Kirana mengerutkan kening, sedikit kesal. "Pak, itu kan bukan salah saya."

"Aku tahu," Rangga menjawab cepat, hampir seperti membela diri sendiri, sebelum kembali memasang wajah datarnya. "Aku cuma mengingatkan supaya kamu tetap hati-hati."

"Saya selalu hati-hati, Pak," balas Kirana, sedikit merengut, membuat Rangga—entah kenapa—menahan senyum yang nyaris lolos di sudut bibirnya.

Percakapan semacam itu, singkat namun penuh nada saling sindir yang menggemaskan, mulai menjadi rutinitas tak resmi di antara mereka.

Rangga selalu punya alasan untuk mampir ke lantai delapan—mengecek progres tim, memastikan fasilitas kerja memadai, atau sekadar "kebetulan lewat"—dan hampir selalu berakhir dengan pertukaran kalimat singkat bersama Kirana yang diwarnai sindiran halus dari keduanya.

"Kamu udah makan siang?" tanya Rangga suatu hari, saat mendapati Kirana masih sibuk di depan komputer pukul satu siang.

"Belum sempat, Pak. Masih banyak kerjaan," jawab Kirana tanpa mendongak dari layarnya.

"Kalau sampai sakit karena telat makan, kerjaanmu malah makin lambat," Rangga berkata, nadanya seperti menegur, tapi entah kenapa terdengar lebih seperti kekhawatiran yang dibungkus rapi.

"Saya bukan anak kecil, Pak, saya bisa jaga diri sendiri," Kirana akhirnya mendongak, sedikit jengkel dengan nada memerintah itu, meski dalam hati ia tidak benar-benar marah.

"Kalau kamu bisa jaga diri sendiri dengan baik, kenapa masih ada laptop yang rusak gara-gara kamu di minggu pertama?" balas Rangga cepat, seringai tipis akhirnya muncul di wajahnya—ekspresi langka yang membuat Kirana terpaku sejenak, terkejut melihat sisi lain dari atasannya yang biasa dingin.

"Itu kan udah lewat, Pak! Kenapa masih diungkit-ungkit terus?" Kirana merengut, meski tidak bisa menahan tawa kecil yang lolos dari bibirnya.

"Karena itu satu-satunya bukti kalau kamu juga bisa ceroboh, sama kayak manusia lainnya," jawab Rangga, nada suaranya kali ini benar-benar terdengar jenaka, sesuatu yang jarang sekali terjadi.

Kirana tertawa kecil, tanpa sadar suasana di antara mereka terasa lebih ringan dari biasanya.

"Awas ya, Pak, kalau saya bikin kesalahan lain, saya bakal bilang itu gara-gara Bapak yang selalu ganggu saya kerja."

"Silakan aja," Rangga mengangkat bahu, mulai berjalan pergi menuju lift, tapi sebelum pintu lift tertutup, ia sempat menoleh sekali lagi. "Tapi tetap makan siang. Itu perintah, bukan permintaan."

Kirana menatap pintu lift yang tertutup dengan perasaan campur aduk—kesal karena diperintah seenaknya, tapi juga ada kehangatan aneh yang menjalar di dadanya karena diperhatikan seperti itu.

Rutinitas serupa terus berlanjut minggu demi minggu. Rekan-rekan kerja Kirana mulai memperhatikan pola aneh itu—CEO yang biasanya jarang turun ke lantai bawah, kini hampir setiap hari mampir, selalu dengan alasan formal yang terdengar dibuat-buat, dan selalu berakhir dengan obrolan singkat bersama staf junior baru itu.

"Kirana, kamu deket banget ya sama Pak Rangga sekarang," celetuk salah satu rekan kerja suatu siang, membuat Kirana tersedak minumannya sendiri.

"Deket dari mana? Kita cuma sering ketemu kebetulan doang," bantah Kirana cepat, wajahnya memanas.

"Kebetulan yang kejadian tiap hari itu namanya bukan kebetulan lagi, Kir," sahut rekan kerja lainnya, tersenyum jahil.

Kirana hanya bisa tertawa canggung, tidak tahu harus menjawab apa, karena jujur saja, ia sendiri juga mulai bingung dengan pola aneh itu. Ada bagian dari dirinya yang diam-diam menantikan pertemuan-pertemuan singkat itu, menantikan sindiran-sindiran ringan yang entah kenapa terasa menyenangkan alih-alih menyebalkan seperti seharusnya.

Malam itu, saat menceritakan semuanya ke Dewi lewat telepon, sahabatnya itu tertawa terbahak-bahak di seberang line.

"Astaga Kir, ini udah kayak drama Korea beneran! CEO galak yang diam-diam perhatian sama staf juniornya, terus mereka jadi sering ketemu 'kebetulan' tiap hari? Klasik banget!"

"Ih, jangan ngaco, Dew. Ini bukan drama," Kirana membela diri, meski pipinya memanas mengingat kembali senyum tipis Rangga sore tadi.

"Terus kamu ngerasa apa pas ketemu dia?" tanya Dewi, nada suaranya berubah lebih serius meski masih ada nada jahil tersembunyi.

Kirana terdiam sejenak, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh untuk pertama kalinya. "Aku... nggak tahu, Dew. Kadang kesel karena dia suka nyindir-nyindir gitu. Tapi anehnya, aku juga suka nunggu-nunggu dia dateng. Kayak ada yang beda gitu, rasanya."

"Itu namanya kamu mulai suka sama dia, Kir," Dewi berkata mantap, seolah sudah memprediksi hal itu sejak lama.

"Nggak mungkin!" Kirana buru-buru menyangkal, meski suaranya sendiri terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri. "Dia atasanku, Dew. Lagian orangnya galak banget, mana ada yang bisa suka sama orang segalak itu."

"Ya udah terserah kamu deh," Dewi tertawa kecil, tidak memaksa lebih jauh. "Tapi inget ya, kalau nanti kamu beneran suka sama dia, jangan lupa aku yang pertama kali nebak."

Kirana hanya tertawa menanggapi candaan sahabatnya itu, meski jauh di lubuk hatinya, ada bagian kecil yang mulai mempertanyakan kebenaran dari tuduhan Dewi—pertanyaan yang, entah kenapa, semakin sulit ia jawab dengan pasti setiap harinya.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!