Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran Dengan Sosok Gadis Kecil
FLASHBACK
Tanpa semuanya ketahui, ternyata Dina sejak tadi melihat kehadiran Naura yang berada di luar pintu. Akan tetapi, bukannya menghindari Kelvin. Dia justru semakin memeluk pria itu, sengaja memperlihatkan pada Naura kalau Kelvin itu miliknya.
Setelah lama menjadi sahabat Naura, tak ada satu orang pun yang tahu kalau Dina picik pada temannya sendiri.
Dan juga Kelvin tak tahu kalau Dina diam-diam kirim pesan pada Naura untuk datang ke tempat itu.
Karena mereka sudah berteman dekat sejak lama, tentu saja Dina sudah pernah melihat seperti apa kecantikan yang tersembunyi di balik cadar itu. Sama seperti adiknya Naura, Sera. Mereka sangat iri dengan kecantikan tersebut sehingga Dina tidak segan-segan menyakiti Naura yang notabe adalah sahabat baiknya.
"Karena dari awal Naura memang hanya wanita taruhanmu, aku penasaran apa kau benar-benar ingin menikahinya sesuai janjimu?" Salah satu teman Kelvin bertanya pada pria itu.
Sebelum mendapat jawaban, Kelvin terdengar tertawa sumbang. "Kalian semuanya percaya kalau aku ingin menikahinya? Ayolah, itu sama sekali tidak logis. Naura bukan tipeku," ucapan pria itu terdengar jelas oleh Naura yang sejak tadi berdiri di luar pintu.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau pria yang dicintainya itu ternyata hanya menjadikannya mainan.
Sementara dia dengan bodohnya, mencintai pria itu dengan tulus. Tapi ketulusannya justru dibalas dengan pengkhianatan.
Sudah tidak tahan lagi, akhirnya Naura langsung mendobrak pintu dan masuk ke dalam dengan perasaan marah bercampur kecewa.
"Jadi ini aslimu Kelvin? Dan kamu Dina? Aku nggak nyangka kalau kalian berdua sama-sama piciknya!"
Kelvin yang melihat kedatangan Naura tentu saja terkejut, karena dia tidak pernah menyangka wanita itu tiba-tiba hadir di sana.
Karena sudah terlanjur ketahuan, pria itu tak peduli lagi. "Baguslah kalau kau sudah mendengar semuanya. Setidaknya aku tidak perlu bersusah-susah lagi untuk menjelaskan padamu. Dan asal kau tahu, aku hanya menjadikanmu taruhan dan akhirnya aku menang. Aku bisa pacaran denganmu selama lebih setahun, sesuai perjanjian," tutur Kelvin dengan teganya.
Naura tersenyum getir, "Semoga saja karma tidak menghampirimu,"
"Jangan berbicara seolah-olah kau yang paling tersakiti," ujar Dina, tersenyum sinis.
Naura hanya meliriknya, dan berbalik hendak pergi tak ingin meladeni mereka semua yang sudah keterlaluan.
Tapi siapa sangka, Dina dengan teman-teman Kelvin justru menghentikan wanita itu.
"Kau mau ke mana, buru-buru sekali?" tanya Dina.
"Untuk apa lagi aku di sini, berhadapan dengan orang-orang munafik kayak kalian!"
"Jangan terlalu sok suci, ayo diminum dulu airnya," Dina memberikan secangkir alkohol kepada Naura.
Naura menggelengkan kepalanya, "Keterlaluan.." ujarnya, tahu kalau itu bukan air biasa.
"Aku beritahu ya Naura, kalau kau tidak mau minum ini. Maka aku tidak akan mengizinkanmu pergi..."
"Kau tidak berhak menghalangi jalanku!" tak ingin peduli pada mereka, Naura tetap ingin melangkah.
Tapi lagi-lagi, dia dicegah.
"Minum, atau kau tetap tinggal di sini bersama kami, dan tidak akan pernah keluar!"
Pada saat kejadian itu, ternyata Naura masih berusia 19 tahun dan dia mulai ketakutan menghadapi ancaman Dina dan yang lainnya.
"Ayolah, jangan menangis seperti anak kecil! Minum cepat!" tutur salah 1 teman Kelvin lagi.
Tak ingin terus ditekan oleh mereka, Naura akhirnya memutuskan untuk meneguk secangkir minuman keras itu, lalu meletakkan cangkir tersebut dengan kasar.
"Aku sudah meminumnya, dan jangan menghalangiku lagi!" dia berbalik, langsung melangkah pergi.
Naura tak menyadari kalau di dalam gelas tadi, Dina sudah meletakkan obat perangsang ke dalamnya.
Kita lihat saja, siapa Yang bisa mengobatimu malam ini, batin Dina tersenyum licik dalam hati.
Naura berjalan terburu-buru ingin segera pulang ke rumah Kakek Rama, akan tetapi, di tengah perjalanan tiba-tiba kondisinya memburuk karena obat itu sudah mulai bekerja.
Dia memegangi kepalanya dan dinding berusaha menetralkan perasaannya, akan tetapi semakin dia berusaha keras tubuhnya semakin bereaksi.
Di mana dia mulai merasa gerah dan ada sesuatu yang menuntutnya, tapi dia tidak tahu apa itu.
Tanpa sengaja, dia menabrak seorang pria. Pria itu langsung menahan tubuhnya sebelum dia terjatuh.
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya pria yang dia tabrak. Di mana pria itu ternyata adalah Anggara.
Tapi keduanya tidak saling kenal, Anggara yang punya urusan penting waktu itu sehingga membuatnya berada di hotel, saat ingin kembali ke kamarnya, tak sengaja seorang gadis bercadar menubruknya.
Naura menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tubuhnya sudah semakin gerah. "Aku panas sekali..." tuturnya mulai meraba dada bidang pria di hadapannya yang tidak dia kenali.
Anggara menatap gadis bercadar itu, dan mulai menyadari ada yang tidak beres. Apalagi dengan respon Naura yang semakin diluar kendali.
Anggara mendorong kasar Naura agar menjauh darinya. "Sepertinya kau tidak baik-baik saja," tutur Anggara.
"Saya tahu, tolong saya..."
"Maaf Nona, tapi saya tidak bisa menolong Anda," pria itu berniat melangkah pergi, akan tetapi Naura langsung menarik kemejanya.
"Tolong bantu saya..." ujarnya memohon.
Anggara kembali mendorong kasar tangan Naura, dan tetap melangkahkan kakinya pergi.
Naura yang sudah tidak tahu ingin lakukan apa pada tubuhnya, akhirnya dia duduk berjongkok.
Perlahan, terdengar isak tangisnya. Anggara yang sudah sedikit menjauh mendengar tangisan itu merasa tidak tega, akhirnya dia pun berbalik dan berjongkok di hadapan wanita itu.
"Kau kenapa?" pria itu kembali bertanya, padahal dia sudah tahu.
"Aku, tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku. Tapi yang aku tahu, aku butuh pertolongan..." lirihnya.
"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi ingat, jangan salahkan aku dan jangan pernah menyesal!" Tegas pria itu.
"Maksud Anda, apa? Saya tidak mengerti," tanya Naura.
"Kau akan mengerti setelah ini," Anggara langsung menggendong tubuh Naura, membawanya ke kamarnya dan akhirnya malam itu terjadilah sesuatu yang tidak disangka-sangka yang mengubah hidup Naura.
Saat Naura terbangun di jam satu dini hari, kamar itu sangat gelap. Dia hanya mendengar suara nafas teratur dari seorang pria yang tidak dia kenali.
Naura menangis, tapi sudah tidak ada gunanya lagi untuk menyesal. Dia sudah kehilangan kehormatannya. Hanya satu yang dia sesali, dia terlalu mempercayai Dina sehingga tanpa sadar selama ini Dina tidak pernah benar-benar menjadi sahabatnya.
Setelah kejadian itu, sebulan berlalu akhirnya Naura hamil dan dia terpaksa menyembunyikan kehamilan dari Kakek Rama.
Karena pakaiannya yang sering memakai pakaian longgar, Kakek Rama pun tidak menyadari kehamilannya sampailah tiba di usia delapan bulan Naura melahirkan prematur.
Saat putrinya lahir, dia memberikan putrinya pada Bayu, meminta Bayu untuk merawat putrinya. Bayu lah yang merawat Kiki bersama istrinya sahabat baik Naura yang ternyata seorang kupu-kupu malam yang mengidap penyakit AIDS. Dan ternyata wanita itu memiliki banyak hutang sehingga Naura membantu Bayu untuk melunasi hutang-hutang temannya yang sudah meninggal itu.
Selesai Flashback.
Naura masih terdiam, mengingat momen 7 tahun yang menimpa dirinya
Sementara yang lain masih menunggu agar Naura mau jujur. Mereka tidak tahu kalau Naura sendiri tidak tahu siapa ayah dari anaknya.
"Kiki mau pulang, Ma," tiba-tiba gadis kecil itu menghentikan pembahasan di antara para orang dewasa.
Naura mengangguk, "Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang, Sayang," Naura ingin pergi membawa putrinya.
Namun sebelum pergi, dia sempat mendongak melihat mata Anggara yang dari tadi menatapnya. Setelah itu, dia langsung melangkah.
Anggara terus memperhatikan belakang punggung mereka berdua.
Tiba-tiba, gadis kecil berusia 6 tahun itu menoleh, dan melempar senyuman padanya membuat Anggara semakin penasaran siapa sebenarnya ayah dari anak itu.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls