NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN BENTENG TEMBOK BESI

Kereta tahanan yang pintunya sudah tak berengsel itu meluncur pelan keluar dari celah Ngarai Gagak. Di belakangnya, belasan bangkai Burung Bangkai Beracun mulai digerogoti ulat-ulat tanah, meninggalkan bau sangit yang perlahan menguap ditelan angin utara.

Lin Yuan berdiri di ambang pintu kereta yang terbuka, membiarkan angin dingin pegunungan menusuk wajahnya yang bernoda darah kering. Shi Tou dan tiga tahanan lainnya duduk bersandar di jerami basah, mengamati punggung Lin Yuan dengan pandangan campur aduk. Tidak ada lagi keliaran di mata mereka, hanya kepatuhan yang tumbuh dari rasa hormat usai lolos dari maut.

"Di depan itu..." Bisik Shi Tou seraya berdiri merapat ke celah kayu, menunjuk ke arah celah bukit.

Pemandangan di balik bukit mendadak membuat napas seluruh tahanan tertahan.

Di hadapan mereka, membentang sebuah dinding batu raksasa yang seolah membelah cakrawala utara. Tingginya tak kurang dari lima puluh meter, terbuat dari bongkahan batu hitam bersudut kasar yang disusun menembus lereng-lereng pegunungan es. Namun, yang membuat merinding bukanlah megahnya struktur itu, melainkan warnanya.

Separuh bawah dinding batu hitam itu dipenuhi lapisan kerak berwarna cokelat kehitaman yang membatu—sisa-sisa bercak darah puluhan ribu monster dan manusia yang menumpuk selama bertahun-tahun. Bau tembaga bercampur uap belerang dan daging terbakar terbang bersama angin malam, menusuk hidung hingga membuat perut mual.

Benteng Tembok Besi. Garis pertahanan terdepan peradaban manusia dari Invasi Monster Binatang.

"Darah di dinding itu... bahkan tidak pernah kering," Gumam seorang tahanan berwajah tirus dengan bibir gemetar.

Komandan Pengawal yang memegang kendali kuda di samping konvoi menoleh sekilas ke arah Lin Yuan. "Tempat ini tidak mengenal nama klan atau silsilah keluarga. Di Benteng Tembok Besi, kalau kau tidak membunuh monster di luar benteng, kau yang akan dijadikan makanan oleh mereka."

Rombongan konvoi melintasi gerbang luar yang terbuat dari kayu besi tebal berlapis baja. Suara derit kerek gerbang menggema berat di sepanjang lorong batu. Di atas dinding benteng, ratusan prajurit berseragam kusam berdiri siaga dengan panah-panah raksasa tersiap di atas katapel tempur. Mata mereka dingin, hampa, dan lelah—mata orang-orang yang sudah terbiasa melihat teman di sebelahnya mati setiap hari.

Kereta tahanan berhenti di sebuah lapangan tanah luas di dalam kompleks benteng dalam. Udara di sini terasa sangat dingin, membuat uap napas keluar tebal dari mulut setiap orang.

"Turun semua!" Teriak seorang perwira piket bersenjata tombak dengan nada kasar.

Lin Yuan melangkah turun pertama kali. Sandal jeraminya yang tipis menapak di atas tanah lumpur bernoda darah yang membeku. Shi Tou dan para tahanan lain berbaris di belakangnya, berdiri rapat di sekitar Lin Yuan tanpa sadar menjadikan pemuda itu sebagai pelindung mereka.

Di sekitar lapangan, puluhan barak kayu beratap jerami berdiri berantakan. Para veteran perang bertubuh penuh bekas luka duduk di pinggir jalanan lumpur, ada yang sedang mengasah parang, ada yang membebat kakinya yang buntung dengan kain kusam. Mereka menatap rombongan tahanan baru itu dengan pandangan seperti melihat tumpukan daging segar yang siap dikirim ke jagal.

"Dapat pasokan tahanan baru lagi?" Bisik seorang veteran bermata satu yang bersandar pada tiang barak.

"Paling-paling cuma bertahan tiga hari di luar tembok," Sahut temannya seraya meludah ke lumpur.

Shi Tou merapat ke samping Lin Yuan, berbisik pelan dengan rahang mengetat. "Suasana tempat ini... lebih busuk dari sel bawah tanah kota."

Lin Yuan menatap berkeliling dengan pandangan tenang. "Tempat ini murni. Tidak ada yang berpura-pura mulia di sini."

Seorang perwira militer bertubuh kekar melangkah mendekati konvoi membawa gulungan kulit domba. Ia memeriksa wajah para tahanan satu per satu, sebelum matanya terhenti pada Lin Yuan. Ia mengamati baju klan Lin Yuan yang koyak, luka cakar di dadanya yang mengering aneh, serta rantai kaki yang telah patah.

"Kau Lin Yuan?" Tanya perwira itu datar.

"Iya," Sahut Lin Yuan pendek.

Perwira itu membaca catatan di gulungan kulit domba, lalu terkekeh dingin. "Tahanan khusus suruhan Penguasa Kota dan Klan Lin. Catatanmu bilang kau sampah tanpa meridian yang menggunakan ilmu iblis untuk membunuh beruang."

Perwira itu mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke mata Lin Yuan. "Di tempat ini, kami tidak peduli kau pakai ilmu iblis atau ilmu dewa. Selama kau bisa membunuh monster di luar tembok dan tidak lari saat terompet berbunyi, kau berguna. Tapi kalau kau penakut..." Perwira itu menunjuk ke arah tumpukan mayat berdinding kain kusam di pojok lapangan. "...kau akan berakhir di tumpukan itu sebelum malam."

Lin Yuan tidak berkedip. "Kapan kami dikirim ke garis depan?"

Perwira itu sedikit tertegun mendengar pertanyaan Lin Yuan. Biasanya, para tahanan baru akan memohon untuk ditaruh di bagian logistik atau dapur belakang. Namun mata pemuda di depannya ini justru berkilat tenang, seolah-olah menantikan pertarungan itu datang.

"Besok pagi," Jawab perwira itu seraya mengibaskan tangannya ke arah barak paling pojok yang tiang kayunya sudah agak miring. "Ikut aku. Kalian semua dimasukkan ke barak buangan."

Lin Yuan memimpin Shi Tou dan para tahanan melangkah menelusuri jalanan lumpur. Setiap pijakan kakinya terasa mantap. Di dalam dadanya, lautan jiwa Kera Putih menyerap uap darah dan ketegangan yang memenuhi udara Benteng Tembok Besi. Energi perak tipis di meridiannya berputar pelan, menyiram sel-sel tubuhnya dengan kekuatan murni.

Di tempat inilah hukum rimba berlaku sepenuhnya. Tanpa intrik politik klan yang palsu, tanpa tuduhan palsu para penatua. Di sini, hanya ada kekuatan murni—hal yang paling disukai oleh Roh Kera Putih dalam tubuhnya.

Lin Yuan mendorong pintu kayu barak tua yang berderit nyaring, melangkah memasuki kegelapan tempat takdir barunya di perbatasan utara baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!