Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Lorong batu kering itu seketika menjadi sunyi.
Hanya tetesan air dari ujung stalaktit dan helaan napas pendek Riku yang memecah keheningan di antara mereka berempat. Di bawah temaram lumut fosfor yang menempel di sela retakan dinding, bayang-bayang mereka terpantul panjang di atas lantai batu kapur. Shizuka, yang sedang merapatkan perban di pergelangan kaki Riku, menghentikan gerakannya. Matanya beralih menatap cemas ke arah dua pria yang berdiri saling berhadapan di dekat dinding batu hitam.
Vargas tidak melepaskan pandangannya dari pupil mata Ren.
Pria tua itu merogoh pemantik batu dari sakunya, menyalakan kembali pipa tembakau tua dengan jemari kapalan yang kaku. Kepulan asap tipis berbau cengkih pahit menguar lambat di udara dingin terowongan, menyamarkan bau keringat dan darah yang menempel di baju zirah mereka.
"Dua tahun aku memimpin barisan pelopor di menara ini, Ren," ucap Vargas dengan suara berat yang serak. Pria tua itu meludahkan sedikit tembakau basah dari sela giginya. "Aku sudah melihat ratusan orang mati di samping tamengku. Prajurit berbakat dari akademi kekaisaran terbelah dua karena salah menaruh kaki, dan pemuda dungu bertahan hidup murni karena nasib baik."
Vargas melangkah maju satu tapak, membiarkan ujung perisai besinya bertumpu ke lantai batu dengan dentang berat yang bergaung pelan.
"Tapi caramu bertarung dari lantai atas tadi tidak ada hubungannya dengan keberuntungan."
Ren tetap berdiri di tempatnya, membiarkan kedua tangannya tergantung di samping pinggang tanpa menunjukkan tanda-tanda kegugupan. Ia mengatur hembusan napasnya agar tetap stabil, menyembunyikan getaran halus di ujung jemarinya akibat kelelahan batin yang terus menumpuk.
"Di katedral Lantai 10," lanjut Vargas dengan nada rendah yang menekan, "kau tahu persis retakan asam di bawah kakiku sebelum monster zirah itu mendarat. Kau menyayat sisik lehernya pada celah milimeter tepat sebelum tombak petir bangsawan itu meluncur dari belakang. Dan barusan di rawa... kau membelokkan langkahku ke tebing basal tepat sebelum kubah gas meledak."
Vargas mengisap pipanya dalam-dalam hingga bara merah menyala di mangkuk tembaga. Asap putih dihembuskannya lurus ke arah Ren.
"Bahkan penyihir peramal di katedral ibukota butuh lingkaran rune dan lilin dupa untuk mencium bahaya. Kau bergerak seperti orang yang sudah merasakan lehernya putus di tempat itu, lalu hidup kembali hanya untuk memperbaiki kesalahan."
Kata-kata sang veteran menggantung kaku di dalam terowongan sempit, menuntut kejelasan yang tak terbantahkan.
Ren menatap mata cokelat tua Vargas yang sarat bekas luka perang perbatasan. Mengungkapkan keberadaan sistem pembalikan waktu menara adalah bunuh diri. Jika faksi bangsawan atau dewan alkemis kekaisaran mengetahui bahwa jiwanya mampu memundurkan waktu tiga puluh detik, ia akan berakhir sebagai bangkai di atas meja bedah sihir untuk diekstraksi intinya.
Namun, mencoba mengelabui veteran tua yang terbiasa membaca kebohongan prajurit di medan tempur hanya akan menghancurkan ikatan kepercayaan yang baru saja terbentuk di antara mereka.
"Aku tidak bisa melihat masa depan, Paman," sahut Ren datar, suaranya tenang tanpa getaran. "Namun sejak kepalaku terhantam lantai katedral di Lantai 10, kepalaku mengalami sentakan aneh setiap kali maut berada satu jengkal dari leherku."
Ren mengangkat tangan kanannya, menyentuh pelipisnya yang masih berdenyut tegang.
"Setiap peringatan itu datang bersama rasa sakit yang nyata. Kepalaku serasa dibelah kapak, paru-paruku serasa menelan api, dan urat leherku serasa dicabik taring. Aku tidak tahu kenapa otakku bereaksi seperti itu. Yang kutahu, jika aku mengabaikan rasa sakit itu barang sedetik saja, kita semua sudah jadi bangkai gosong di kubangan lumpur tadi."
Ren menatap lurus ke dalam pupil mata Vargas tanpa berkedip. "Aku tidak berniat menjadi pahlawan bagi siapa pun. Aku hanya seorang prajurit jelata yang ingin tetap bernapas dan keluar hidup-hidup dari menara ini."
Keheningan kembali merayap di lorong batu yang dingin.
Vargas memperhatikan lingkaran gelap di bawah kelopak mata Ren yang cekung, serta kerak darah kering di sela cuping hidungnya. Sebagai prajurit tua yang sering melihat rekan-rekannya ambruk karena trauma perang, Vargas mengenali tanda-tanda kelelahan batin yang ekstrem pada raut wajah pemuda itu.
Ketegangan di bahu lebar sang veteran perlahan mengendur.
Vargas menghela napas panjang, menurunkan pipa tembakaunya lalu menepuk pundak Ren dengan telapak tangannya yang kasar dan berat.
"Rasa sakit yang nyata, ya...?" gumam Vargas seraya mendengus pelan. "Maafkan kecurigaanku, Bocah. Di tempat busuk ini, orang yang terlalu banyak tahu biasanya berniat menusukmu dari belakang. Tapi melihat matamu yang berdarah... aku tahu kau bertarung sama kerasnya dengan kami demi menyambung nyawa."
Pria tua itu duduk bersandar ke dinding gua, meluruskan kakinya yang kebas di atas kerikil kering.
"Anak laki-lakiku di distrik luar lumpuh sejak wabah miasma empat tahun lalu," gumam Vargas menatap langit-langit terowongan yang remang. "Aku menandatangani kontrak pelopor ini agar keluargaku bisa makan gandum dan mendapat jatah minyak pemanas dari gudang kekaisaran. Dua tahun aku melihat anak-anak muda seusiamu dikirim ke depan hanya untuk menjadi umpan bangsawan. Aku muak melihat kalian mati sia-sia demi medali emas para jenderal."
Shizuka mengikat simpul kain perban di kaki Riku, lalu menyeka keringat di dahinya dengan ujung lengan bajunya yang robek.
"Keluargaku juga terlilit utang di serikat pedagang obat setelah klinik ayahku disita tuan tanah," kata Shizuka seraya membuka kantung perbekalannya yang kotor. Gadis itu membagikan beberapa keping biskuit gandum kering yang keras kepada mereka. "Para tabib bangsawan tidak sudi menyembuhkan rakyat jelata tanpa keping emas di muka. Itu sebabnya aku mendaftar ke barisan medis ekspedisi ini, berharap bisa mengumpulkan upah untuk menebus surat tanah klinik."
Shizuka mendekati Ren, menuangkan sedikit air cuka dari botol kecil ke selembar kain bersih, lalu menyeka goresan luka di lengan kiri Ren dengan lembut. Ren meringis sesaat saat cairan asam menyentuh kulitnya yang terkelupas.
"Lukamu harus dibersihkan, Ren," bisik Shizuka prihatin. "Lendir rawa itu mengandung spora parasit yang bisa membusukkan daging jika dibiarkan bermalam."
Riku menerima potongan biskuit gandum dari Vargas, mengunyahnya pelan dengan mata berkaca-kaca. Remaja itu merogoh saku celananya, mengeluarkan gulungan kawat baja dari bekas kerekan tambang tua yang ia pungut di lantai terowongan.
"Ibuku sedang sakit parah di perkampungan barat," bisik Riku seraya meraba kawat baja tersebut. "Kalau aku tidak membawa koin perak pulang dari ekspedisi ini, tuan tanah akan mengusir adik-adikku ke jalanan berbatu. Kawat ini bisa kugunakan untuk memperbaiki tali busurku yang putus. Terima kasih... karena kalian tidak meninggalkanku di rawa tadi."
Ren menerima biskuit keras dari tangan Shizuka. Ia mematahkannya dengan gigi belakang, mengunyah tekstur hambar yang kasar itu lalu menelannya bersama seteguk air dingin dari kantung kulit. Makanan sederhana itu mengisi kekosongan di perutnya, memberi asupan glukosa yang sangat dibutuhkan oleh serabut ototnya yang terkuras.
"Terima kasih atas makanannya, Shizuka," ucap Ren seraya menyeka remah gandum di bibirnya.
Ia bangkit berdiri, memeriksa kerapatan lilitan taring monster pada gagang belatinya.
"Kita tidak boleh terlalu lama berdiam di sini," kata Ren seraya memandang ke arah lorong batu yang menanjak terjal di depan mereka. "Terowongan ini adalah bekas jalur pengangkutan tambang tua di bawah Lantai 11 yang tertutup longsoran batu purba. Jalur ini menanjak memotong bukit karang dan tembus langsung ke kuadran selatan Lantai 12."
"Lantai 12...?" Vargas mengernyitkan alisnya yang tebal seraya mengetuk abu pipanya ke lantai batu. "Zona bengkel mesin kuno itu?"
"Tepat," angguk Ren. "Jalur ini menghindari pos pemeriksaan ksatria bangsawan di gerbang utama Lantai 11, tapi jalan keluarnya tertutup oleh ruang bengkel terbengkalai."
"Apa monster penjaga di gerbang itu?" tanya Shizuka dengan nada cemas.
"Algojo Ratapan," jawab Ren dingin. "Golem zirah mekanikal setinggi empat meter dengan sabit gergaji berputar di lengan kanannya."
Rahang Vargas mengeras seketika mendengar nama itu.
"Makhluk zirah itu terkenal suka mencincang barisan depan," geram Vargas seraya mengetuk pelat perisainya yang retak. "Sabit berputarnya bisa membelah tameng baja ini dalam dua kali tebasan jika dihantam lurus."
"Kita tidak akan menahan serangannya dari depan, Paman," sahut Ren seraya melangkah memimpin di depan. "Kita manfaatkan pilar roda gigi dan rel berkarat di ruangan itu untuk mengunci pergerakannya. Siapkan senjatamu, kita berangkat sekarang."
Mereka berempat mulai melangkah menaiki tanjakan terjal, menyusuri rel tambang berkarat yang tertanam di lantai batu kapur. Di sepanjang dinding lorong, balok-balok kayu penyangga tambang telah lapuk dimakan usia, diselimuti jamur fosfor kelabu yang berpendar redup.
Ren menuntun langkah mereka dengan hati-hati, memastikan pijakan batu kerikil tidak runtuh saat Shizuka memapah Riku di belakangnya. Riku menggigit bibirnya menahan nyeri di setiap tanjakan, namun tekad di matanya tampak menyala terang.
Semakin jauh mereka mendaki, udara lembap dan bau asam rawa perlahan digantikan oleh udara kering yang berbau logam panas dan minyak pelumas purba. Getaran ritmis berfrekuensi rendah mulai merambat melalui dinding karang di sekitar mereka, diiringi bunyi decit roda gigi raksasa yang berputar di kejauhan.
Lantai 12 sudah berada tepat di atas kepala mereka. Dan di balik gerbang besi berkarat di ujung terowongan, bahaya baru telah menanti kedatangan mereka dengan bilah gergaji yang haus darah.