Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Jebakan yang sesungguhnya
Hujan deras mengguyur kawasan industri terbengkalai di utara kota saat tiga unit mobil taktis kepolisian melaju tanpa sirine menembus kegelapan malam. Gelapnya kompleks pabrik tua itu tampak bagaikan monster raksasa yang tertidur di antara semak belukar yang menjulang tinggi.
Mobil komando berhenti lima puluh meter dari gerbang utama pabrik CV Bina Warna. Farhan mengenakan rompi tahan peluru, mengokang senjata laras pendeknya, lalu menoleh ke arah Arya yang duduk di kursi penumpang belakang.
"Tim satu dan dua akan masuk menembus pintu samping dan area gudang," instruksi Farhan melalui radio panggil ke seluruh personel. "Pelaku diduga bersenjata tajam dan memiliki pemahaman tentang area lokasi. Gunakan lampu senter taktis dan penglihat malam (night vision). Jangan melepaskan tembakan kecuali mendapat ancaman langsung!"
"Siap, Komandan!" jawab suara dari earpiece Farhan.
Farhan menatap Arya. "Tetap di sini bersama pengemudi. Apabila dalam dua puluh menit aku tidak memberi kabar, mobil ini harus langsung mundur ke jalan raya."
"Hati-hati, Pak Farhan," pesan Arya penuh kekhawatiran.
Farhan mengangguk rapat, lalu keluar dari mobil dan bergabung bersama enam personel Brimob bersenjata lengkap yang bergerak cepat menyusup ke dalam kompleks pabrik yang gelap gulita.
Langkah-langkah sepatu taktis berkecipak di atas genangan air hujan. Suara gemuruh petir menyambar di langit, menyinari dinding-dinding seng tua pabrik yang berkarat.
Farhan memimpin tim satu menembus pintu besi gudang utama yang ternganga. Udara di dalam pabrik terasa sangat lembap, berbau minyak mesin, cat tua, dan aroma karat yang pekat, persis seperti deskripsi yang diberikan oleh Arya!
"Cari akses menuju ruang bawah tanah!" bisik Farhan melalui radio.
Mereka menyusuri lorong pabrik yang dipenuhi tangki-tangki besi raksasa. Di ujung lorong, di balik tumpukan drum cat bekas, Farhan menemukan sebuah pintu besi tebal berslot ganda yang mengarah ke tangga turun ke bawah tanah.
Dari balik pintu besi itu, terdengar sayup-sayup suara deru mesin generator yang bergetar secara teratur.
DUM... DUM... DUM...
"Lokasinya benar!" batin Farhan dengan degup jantung yang kian cepat.
Farhan memberi isyarat tangan kepada dua personel Brimob di depannya untuk mengambil posisi pendobrakan.
"Satu... dua... TIGA!"
BRRRRAAAK!
Pintu besi dihantam menggunakan alat pendobrak baja! Pintu terbuka lebar, dan tim taktis langsung menyerbu menuruni tangga beton menuju ruangan bawah tanah dengan lampu senter senjata yang memancar terang!
"POLISI! JANGAN BERGERAK!" teriak Farhan dengan suara menggelegar!
Namun, begitu lampu senter memindai seluruh sudut ruangan bawah tanah beton tersebut... tempat itu kosong!
Tidak ada orang di sana. Hanya ada sebuah kursi kayu tua di tengah ruangan dengan potongan rantai besi yang tersisa di lantai, sebuah meja stainless steel tempat pisau-pisau bedah tergeletak, dan sebuah monitor komputer tua yang menyala redup di dinding!
Di atas meja stainless steel, tergeletak sebuah alat pengubah suara dan sebuah ponsel yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka.
Tiba-tiba, monitor komputer di dinding mengeluarkan suara bip nyaring, lalu menampilkan sebuah rekaman video langsung (live stream)!
Di layar monitor itu, tampak sudut pandang kamera yang merekam... mobil komando tempat Arya menunggu di luar pabrik!
"JANGAN!" jerit Farhan seketika saat menyadari skenario mengerikan yang sedang terjadi! "SEMUA TIM, KEMBALI KE MOBIL KOMANDO SEKARANG! INI JEBAKAN!"
Farhan berbalik dan berlari sekuat tenaganya menaiki tangga beton, memicu adrenalinnya hingga batas tertinggi!
Di luar pabrik, di dalam mobil komando yang gelap, Arya sedang duduk menatap rintik hujan yang membasahi kaca depan. Petugas polisi yang menjadi pengemudi duduk di kursi depan seraya memantau frekuensi radio.
Tiba-tiba, BAM!
Kaca jendela samping pengemudi pecah berantakan! Sebuah lengan kekar bersarung tangan hitam menyusup masuk dengan cepat, mencengkeram leher petugas polisi pengemudi dan menghantamkan kepalanya ke lingkar kemudi hingga pingsan seketika!
Arya terkejut luar biasa! Sebelum ia sempat bereaksi atau membuka pintu mobil untuk melarikan diri, pintu belakang mobil didobrak terbuka dari luar!
Seorang pria tinggi tegap berpakaian jas hujan hitam dan mengenakan topeng kain menerjang masuk ke dalam mobil! Pria itu memegang sebuah alat penyengat listrik (taser) bertegangan tinggi dan langsung menghantamkannya ke pundak Arya!
BZZZZZZZT!
"ARGHHH!"
Tubuh Arya kejang hebat akibat aliran listrik ribuan volt yang merusak sistem sarafnya! Pandangannya mendadak mengabur, kekuatan fisiknya runtuh seketika.
Pria bertopeng itu menyeret tubuh Arya yang lemas keluar dari mobil dengan sangat mudah, lalu melemparkannya ke belakang bak mobil van hitam yang sudah terparkir di balik semak-semak tanpa lampu.
Saat kesadarannya perlahan terkikis menuju kegelapan, Arya sempat mendengar suara dingin berdesis dari balik topeng pria itu di dekat telinganya:
"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Pemulasara..."
BAM!
Pintu mobil van ditutup rapat, dan kendaraan itu melaju kencang meninggalkan kompleks pabrik menembus lebatnya hujan malam.
Beberapa detik kemudian, Farhan dan tim taktis keluar dari pintu pabrik dengan napas terengah-engah. Namun yang mereka temukan hanyalah mobil komando yang kacanya hancur, petugas pengemudi yang pingsan berdarah, dan sepatu kets milik Arya yang tertinggal di atas tanah yang berlumpur.
"ARYAAAAA!" jerit Farhan memecah deru hujan deras, suaranya dipenuhi rasa bersalah dan murka yang luar biasa dahsyat.
Penyidikan belum berakhir. Perburuan tergelap dalam hidup Iptu Farhan dan Arya Wijaya baru saja dimulai.
Bersambung...