【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Tantangan Di Tengah Riuk Kantin
Dua minggu setelah penolakan pertama di ruang kelas X IPA 2 itu, hubunganku dan Nara bukannya menjauh, justru malah makin cair. Gaya bicaraku yang santai dan konsistensiku untuk terus memperhatikannya perlahan-lahan mengikis benteng pertahanan cewek paling pinter se-angkatan itu.
Meskipun status kami masih 'teman', anak-anak sekelas sudah tidak asing lagi melihat kebersamaan kami. Kalau Nara lagi pusing bimbingan materi Olimpiade Fisika tingkat provinsi bersama Pak Ridwan, aku yang rajin membelikannya es teh manis atau roti bakar di kantin. Sebaliknya, kalau aku lagi remuk usai dihajar porsi latihan pemusatan silat dari jam tiga sampai jam six sore, SMS bernada galak tapi perhatian dari "Maknar" selalu setia masuk ke HP jadoelku.
Hari Kamis jam istirahat kedua, suasana kantin belakang sekolah sedang ramai-ramainya. Suara dentingan mangkok bakso, teriakan ibu kantin melayani pembeli, dan gelak tawa anak-anak dari berbagai kelas menyatu jadi satu kebisingan khas jam istirahat.
Aku melangkah menyusuri lorong kantin usai membeli dua plastik es teh manis dingin. Di bangku panjang dekat pojokan kantin, aku melihat Nara sedang duduk berkumpul bersama teman-teman cewek dari kelas X IPA 2—ada Lina, Maya, dan Rina. Mereka bertiga lagi asyik mengobrol sambil menikmati es buah, sementara Nara sibuk membolak-balik lembaran rumus Fisika tebalnya di meja.
Aku melangkah mendekat ke bangku mereka dengan santai.
"Permisi, rombongan cewek-cewek hits IPA 2," sapaku terkekeh pelan sambil meletakkan satu plastik es teh manis dingin tepat di sebelah buku Fisika milik Nara.
Lina dan Maya langsung bersorak menggoda, "Ehem! Ada yang perhatian banget nih tiap hari!"
Nara mendongak kaget, pipinya langsung merona tipis di depan teman-temannya. Dia memelototkan matanya padaku, tapi tidak benar-benar marah. "Satria! Kamu nih bikin heboh aja deh."
"Lah, kan cuma ngasih es teh manis biar otak Maknar gak berasap ngerjain soal provinsi," balasku santai.
Teman-teman ceweknya makin gencar tertawa dan sengaja berdiri meninggalkan meja. "Yaudah deh, Nara, kita ke koperasi dulu ya, gak mau jadi pengganggu pasangan ter-hits IPA 2 ini!" ledek Lina sambil menarik tangan Maya dan Rina.
"Eh! Kok ditinggal sih!" seru Nara panik, tapi teman-temannya cuma melambaikan tangan sambil tertawa ngacir ke luar kantin.
Kini tersisa aku dan Nara di bangku panjang itu. Walau kondisi di sekitar kantin masih sangat ramai lalu lalang murid lain, area meja kami mendadak punya atmosfer tersendiri.
Aku menggeser dudukku sedikit lebih mendekat ke sampingnya, lalu membungkukkan badan sedikit agar suaraku bisa terdengar jelas di tengah kebisingan kantin tanpa harus berteriak.
"Ra," panggilku pelan. Suaraku terdengar sangat lembut dan berbisik.
Nara menoleh, menatap mataku dari jarak yang cukup dekat. Dia mengusap sedotan es tehnya, menangkap nada bicara dan raut wajahku yang mendadak berubah serius.
"Kenapa, Sat? Kok ngomongnya pelan gitu?" tanya Nara halus.
Aku menarik napas panjang, menatap binar matanya secara langsung.
"Rasa suka yang kemarin tak omongin di kelas... aku gak ada niat buat nyerah, Ra. Dari pada aku mundur gara-gara ditolak kemarin, mending aku buktiin kalau perasaanku ini serius seratus persen. Aku mau jadi cowok yang bisa kamu andalkan," ucapku jujur dan mantap, suaraku tetap kupelankan di antara riuk kantin.
Nara diam membisu. Dia memandangi es teh manis di tangannya, lalu beralih menatap mataku. Kedekatan posisi dan kejujuran kata-kataku seolah menembus benteng pertahanan yang dijaganya ketat selama ini. Pipinya memerah padam di bawah remang atap kantin.
Nara menghembuskan napas panjang. Tatapannya mendadak berubah penuh pertimbangan, tidak ada lagi candaan di matanya.
"Sat," bisik Nara pelan, membalas dengan suara yang tak kalah berbisik.
"Ya, Ra?"
"Kamu beneran se-serius itu sama aku?" tanya Nara.Ada keraguan sekaligus kedalaman perasaan di balik mata cantiknya.
"Serius seratus persen, Ra. Tanpa ada rekayasa," jawabku tanpa ragu sedikit pun.
Nara memutar plastik es tehnya, mengumpulkan keberanian buat mengutarakan apa yang sudah dipikirkannya matang-matang.
"Jujur... aku kagum sama gigihnya kamu, Sat. Cara kamu selalu ada buat aku... aku gak peka kalau gak ngerasa bahagia soal itu," akuinya pelan.
Jantungku berdegup kencang mendengarnya. Ini pertama kalinya Nara mengakui perasaannya secara jujur padaku di depan muka.
"Tapi..." lanjut Nara cepat, "aku gak mau pacaran sama cowok yang cuma modal omongan atau modal nekat doang. Aku pengen cowok yang punya komitmen kuat dan punya fondasi agama yang bagus. Bukan cuma jago di atas matras silat."
"Maksudmu gimana, Ra?" tanyaku menatapnya makin lekat.
Nara menatap mataku tanpa berkedip. Raut wajahnya kini penuh tantangan khas seorang Nara—tegas, anggun, dan tak terbantahkan.
"Kalau kamu beneran mau membuktikan ketulusanmu dan mau aku terima jadi pacar... aku ngasih kamu satu syarat," kata Nara pelan, tapi tegas menembus kebisingan kantin.
"Syarat apa? Sebutin aja. Seberat apa pun tak jalani," jawabku mantap.
"Hafalkan Asmaul Husna sama Surat Yasin. Kalau kamu bisa menghafal keduanya di depanku tanpa celah, baru aku mau jadi pacarmu."
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nara di tengah keramaian kantin itu, aku langsung terpaku di tempat. Tatapanku terkunci pada wajahnya. Dari sekian banyak kemungkinan syarat, aku sama sekali tidak menyangka Nara bakal melontarkan syarat spiritual yang begitu mendalam dan berat.
"Gimana, Satria? Masih berani?" tantang Nara pelan, senyum tipis di bibirnya menyiratkan kalau dia tahu betapa beratnya syarat itu.
Aku menatap mata Nara dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyum percaya diri dan menganggukkan kepala mantap.
"Deal, Maknar! Hafalan Asmaul Husna sama Surat Yasin kan? Tak buktikan kalau aku bisa!" tegasku membalas tantangannya.
Nara kaget melihat responku yang begitu cepat tanpa ada tawar-menawar. Binar matanya memancarkan rasa takjub yang teramat sangat.
"Beneran? Jangan nyesel ya kalau di tengah jalan kamu angkat tangan," goda Nara sambil tersenyum manis.
"Gak bakal ada kata angkat tangan di kamusku, Ra," balasku tertawa pelan.
Malam harinya di rumah, usai menuntaskan salat Isya, aku tidak langsung membereskan sejadahku. Aku melangkah menuju rak buku di sudut kamar, mengambil kitab Suci Al-Qur'an kecil serta lembaran panduan hafalan Asmaul Husna yang sudah agak berdebu.
Aku duduk bersila di atas sejadah di bawah remang lampu kamar. Menatap sembilan puluh sembilan nama indah Allah dan lembaran ayat demi ayat Surat Yasin yang terbentang di depanku.
Sejujurnya, menghafal teks sepanjang ini bukanlah keahlian utamaku. Sebagai anak IPA yang lebih terbiasa dengan hafalan pola gerakan tanding silat, ingatan verbal untuk ayat-ayat panjang jelas merupakan tantangan raksasa. Tapi tiap kali bayangan senyuman dan tantangan dari Nara di kantin tadi siang melintas di kepala, rasa cemas itu langsung luntur seketika.
Aku memulainya dari baris pertama. Suaraku melantunkan bacaan Asmaul Husna pelan-pelan, mengeja huruf demi huruf, mengulanginya berkali-kali sampai lidahku terbiasa.
Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus...
Suara lantunan hafalanku bersahut-sahutan dengan detik jam dinding di kamar yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
Tiba-tiba HP jadoelku di atas kasur bergetar sekali. Satu pesan SMS masuk dari Nara:
"Gimana calon pacar? Udah mulai dihafal belum syarat yang tak kasih di kantin tadi? Awas kalau cuma gertak sambal :P"
Aku terkekeh pelan membaca pesan itu, jari-jariku dengan cepat membalas:
"Lagi tak eja satu-satu ini di atas sejadah, Maknar. Siap-siap aja kamu kaget pas tak setor hafalannya nanti!"
Balasan darinya masuk tidak sampai semenit:
"Bagus deh kalau beneran dijalani. Selamat berjuang ya, Satria. Jangan lupa istirahat, besok latihan silat sore kan?"
"Siap, Maknar. Selamat tidur juga."
Aku meletakkan kembali HP-ku di meja, lalu kembali duduk bersila di atas sejadah. Aku melanjutkan kembali lantunan hafalanku sampai larut malam.
Di malam yang dingin dan sunyi itu, aku benar-benar meyakini satu hal: perjuangan ini adalah bukti ketulusanku yang paling murni untuk mendapatkan cinta Nara. Aku memulainya dengan keyakinan penuh, tanpa pernah memprediksi sedikit pun bahwa di saat hafalanku hampir sempurna nanti, sebuah kenyataan pahit bernama Riski bakal menghancurkan seluruh harapanku.