NovelToon NovelToon
TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEBELAS

## Bab 11: Dua Peran, Satu Kepala

Selasa pagi itu, Bayu bangun lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum alarm ponselnya berbunyi. Ia berbaring sebentar di kegelapan kamar, mendengarkan suara napas teratur Ayu yang masih tertidur di sampingnya, sebelum akhirnya bangkit pelan-pelan agar tidak membangunkannya.

Di kamar mandi, sambil membasuh wajah, ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin cukup lama. Wajah yang sama seperti empat tahun lalu ketika ia mengucap janji nikah di hadapan Ayu, wajah yang sama seperti dua tahun lalu ketika ia mengucap janji serupa—meski dalam bentuk yang jauh lebih sederhana dan sembunyi-sembunyi—di hadapan Wulan. Dua janji, dua kehidupan, dan satu wajah yang harus terus meyakinkan dua perempuan berbeda bahwa masing-masing dari mereka adalah yang paling berarti.

*Aku ini sebenarnya siapa?* pikirnya, sebuah pertanyaan yang belakangan semakin sering muncul, terutama setiap kali ia harus berpindah peran dari suami yang penuh perhatian di rumah Ayu, menjadi sosok yang sama sekali berbeda—lebih terburu-buru, lebih penuh perhitungan, lebih dipenuhi rasa bersalah—setiap kali menginjakkan kaki di kontrakan Wulan.

Ia mengeringkan wajahnya, mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran berat itu, sebelum akhirnya keluar kamar mandi dan bersiap untuk hari kerja yang, ia tahu, akan sama sulitnya dengan hari-hari sebelumnya.

---

Di kantor, hari itu berjalan cukup padat. Bayu harus menghadiri rapat koordinasi dengan tim proyek, menyusun ulang jadwal pengiriman material yang sempat tertunda, dan menyelesaikan beberapa dokumen penawaran untuk klien baru. Di sela kesibukan itu, pikirannya sesekali melayang—memikirkan cara terbaik menjelaskan pada Wulan soal keterlambatan uang bulan ini, memikirkan bagaimana caranya menghindari pertanyaan lebih lanjut dari tetangga kontrakan yang mulai penasaran, memikirkan apakah ibunya, Bu Sri, benar-benar sudah mencium sesuatu atau hanya sekadar firasat biasa seorang ibu.

"Bay, lo kok akhir-akhir ini kelihatan beda ya," komentar Doni, rekan kerjanya, saat mereka istirahat makan siang bersama di kantin kantor. "Kayak ada beban berat gitu."

"Ah, biasa aja kali, Don. Cuma lagi banyak kerjaan," jawab Bayu, mencoba terdengar santai meski dalam hati ia terkejut komentar itu bisa terlihat sejelas itu dari luar.

"Ya udah kalo gitu. Tapi kalo ada apa-apa, cerita aja. Gue siap dengerin," Doni menepuk pundaknya sekilas sebelum kembali fokus pada makan siangnya.

Bayu tersenyum kecil, menganggukkan kepala tanpa benar-benar berniat menceritakan apa pun. Ia sudah cukup lelah menanggung beban ini sendirian, ditambah dengan sedikit dukungan dari Feri yang, meski setia mendengarkan, juga tidak benar-benar bisa memberikan solusi konkret atas situasi yang semakin hari semakin rumit ini.

---

Sepulang kerja, alih-alih langsung pulang ke rumah Ayu atau berkunjung ke kontrakan Wulan seperti biasa, Bayu memilih untuk mampir sebentar ke sebuah masjid kecil dekat kantornya, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan belakangan ini di tengah kesibukan menjaga dua kehidupan yang berjalan paralel.

Ia duduk sebentar di teras masjid setelah menunaikan salat, mencoba mencari ketenangan yang sudah lama tidak benar-benar ia rasakan. Pikirannya melayang ke berbagai arah—ke Ayu yang selalu tulus dan penuh kepercayaan, ke Wulan yang semakin gelisah dengan ketidakpastian, ke Raka yang tumbuh tanpa pernah bisa diakui secara terbuka sebagai anaknya di hadapan publik, ke ibunya yang mulai menaruh kecurigaan, ke tetangga-tetangga yang semakin banyak bertanya.

*Ya Allah, aku harus gimana,* batinnya, sebuah doa singkat yang lebih terasa seperti keluhan putus asa daripada permohonan yang tulus, mengingat situasi ini sepenuhnya adalah hasil dari pilihan-pilihannya sendiri, bukan sesuatu yang datang tanpa sebab.

Seorang bapak tua yang kebetulan duduk tidak jauh darinya, menyapa ramah. "Habis salat Ashar, Nak?"

"Iya, Pak," jawab Bayu, sedikit terkejut disapa tiba-tiba.

"Kelihatan lagi banyak pikiran ya," kata bapak tua itu, tersenyum bijak. "Kadang manusia itu suka lupa, semakin banyak kebohongan yang dijaga, semakin berat juga hidup yang dijalani. Padahal kejujuran itu, meski pahit di awal, biasanya lebih ringan untuk dipikul dalam jangka panjang."

Kalimat itu terasa seperti tamparan halus bagi Bayu, meski bapak tua itu sama sekali tidak tahu situasi spesifik yang sedang ia alami. Ia hanya mengangguk sopan, tidak menanggapi lebih jauh, sebelum akhirnya berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang, membawa kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya sepanjang jalan.

---

Sesampainya di rumah, Ayu sudah menunggu dengan makan malam yang siap seperti biasa. Malam itu, entah kenapa, Bayu merasa dorongan yang cukup kuat untuk akhirnya jujur—untuk mengakhiri semua kebohongan yang selama ini ia jaga, membiarkan Ayu tahu kebenaran sepenuhnya, apa pun konsekuensinya nanti.

"Yu," panggilnya, duduk di meja makan sambil menatap Ayu yang sedang menyendok nasi untuknya.

"Iya, Mas? Kenapa?" Ayu mendongak, memperhatikan raut wajah Bayu yang tampak lebih serius dari biasanya.

Bayu menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang sudah lama ia pendam. "Aku... ada yang pengen aku omongin sama kamu. Udah lama sebenernya, tapi aku selalu takut buat cerita."

Jantung Ayu berdegup sedikit lebih cepat, meski masih dalam batas kekhawatiran wajar seorang istri yang mendengar suaminya ingin membicarakan sesuatu yang serius. "Cerita aja, Mas. Aku dengerin kok."

Bayu membuka mulutnya, mencoba merangkai kata-kata yang selama ini terus ia latih dalam kepala namun tidak pernah benar-benar berani ia ucapkan. Namun, tepat saat itu, ponsel Ayu berbunyi—sebuah panggilan dari kantor yang, menurut nada suaranya yang tiba-tiba berubah panik, tampaknya cukup mendesak.

"Sebentar, Mas, ini penting dari kantor," kata Ayu, buru-buru mengangkat telepon, meninggalkan Bayu dengan kalimat pengakuan yang tertahan di ujung lidahnya.

Panggilan itu berlangsung cukup lama—rupanya ada masalah mendesak terkait laporan keuangan yang harus segera diselesaikan malam itu juga karena akan dipresentasikan ke direksi keesokan paginya. Ayu tampak sibuk, bolak-balik antara laptop dan ponselnya, sama sekali lupa dengan momen serius yang sempat terjadi beberapa menit sebelumnya.

"Maaf ya, Mas, aku harus kerjain ini dulu malam ini. Kita lanjutin ngobrolnya besok aja ya, aku beneran harus fokus," kata Ayu, tersenyum minta maaf sambil kembali sibuk dengan laptopnya.

"Iya, nggak apa-apa, Yu. Kerjain aja dulu," jawab Bayu, meski di dalam hatinya, ada perasaan campur aduk antara lega dan kecewa pada dirinya sendiri—lega karena momen jujur yang menegangkan itu tertunda, tapi juga kecewa karena menyadari betapa mudahnya ia kembali mengubur niat baiknya begitu ada kesempatan untuk menghindar.

---

Malam itu, sambil menemani Ayu yang sibuk bekerja di ruang kerja kecil mereka, Bayu duduk di sofa ruang tamu, menatap layar televisi tanpa benar-benar menyimak apa yang sedang ditayangkan. Pikirannya masih dipenuhi kalimat-kalimat yang gagal ia ucapkan tadi, bercampur dengan rasa lega yang, jujur saja, terasa memalukan jika ia akui secara terbuka pada dirinya sendiri.

*Mungkin ini pertanda aku belum siap,* pikirnya, mencoba mencari pembenaran atas kegagalannya untuk jujur malam itu. *Atau mungkin aku memang pengecut yang terus mencari alasan untuk menunda.*

Sekitar pukul sebelas malam, Ayu akhirnya menyelesaikan pekerjaannya, keluar dari ruang kerja dengan wajah lelah namun lega. "Selesai juga akhirnya. Maaf ya, Mas, jadi nunda obrolan kita tadi."

"Nggak apa-apa, Yu. Kerjaan emang harus diutamain kalau mendesak," jawab Bayu, tersenyum, meski senyum itu menyembunyikan kekecewaan mendalam pada dirinya sendiri.

"Tadi mau ngomong apa emangnya, Mas? Penting nggak?" tanya Ayu, duduk di sampingnya, memperhatikan dengan penuh perhatian.

Bayu terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ini saat yang tepat untuk melanjutkan pengakuan yang sempat tertunda. Namun, melihat wajah lelah Ayu setelah seharian bekerja keras, ditambah rasa takut yang kembali menguasainya, ia akhirnya memilih jalan yang lebih aman.

"Nggak penting kok, Yu. Cuma mau bilang makasih aja, udah jadi istri yang baik selama ini," jawabnya, sekali lagi memilih kebohongan kecil untuk menutupi niat jujur yang gagal terlaksana.

Ayu tersenyum, menyandarkan kepalanya ke bahu Bayu. "Kamu ini, tumben banget romantis. Tapi makasih ya, Mas. Aku juga bersyukur banget punya kamu."

Kalimat balasan itu terasa seperti pisau yang menyayat hati Bayu perlahan-lahan, mengingat betapa jauhnya kenyataan dari apa yang sedang Ayu rasakan saat ini. Ia memeluk Ayu erat malam itu, sebagian karena rasa sayang yang tulus, sebagian lagi karena rasa bersalah yang terus menumpuk tanpa pernah benar-benar terselesaikan.

Malam itu berakhir dengan kedekatan yang, di permukaan, terlihat begitu hangat dan penuh cinta. Namun di baliknya, tersimpan sebuah kesempatan yang terlewat begitu saja—kesempatan untuk mengakhiri kebohongan yang, jika saja malam itu benar-benar terungkap, mungkin akan menyelamatkan banyak luka yang, cepat atau lambat, tetap akan datang dengan caranya sendiri yang jauh lebih menyakitkan.

---

*Bersambung ke Bab 12*

1
Heny
Sampai disini baca nya blm ketahuan
Thewie
bosan
Thewie
terlalu bertele2 Thor ceritamu, jadi membosankan pembaca🙏
Thewie
oala Bayu Bayu.. masih naek motor aja binik dua. KLO naek mobil gimana lagi lah kau laki2 keparat
Thewie
lanjut thor
Thewie
no coment yu. nunggu kebohongan suamimu terbongkar aja🤭
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭 sabar yaaa
total 1 replies
Thewie
bangkai lama2 y kecium baunya. percayalah wanita yg tersakiti akan jadi wanita paling kejam sejagat raya
Nuna_Pena: bener banget. kalau sudah capek sabar,sekali meledak lelaki menyesal
total 1 replies
Thewie
dr Pulau Natuna mampir ya thor
Nuna_Pena: MasyaAllah. makasi sudah mampir.
total 1 replies
Ma Em
Selidiki Ayu jgn cuma nanya doang sama Bayu jgn bodoh kamu jadi istri percaya banget sama laki apapa tanya Bayu mana ngaku si Bayu sama kamu .
Ma Em
Ayu ini bodoh atau gimana sih masa tdk ada kecurigaan sama sekali sama Bayu terlalu percaya sama laki , nanti setelah Ayu tau kebenaran nya tentang Bayu yg sdh punya istri lagi bahkan sdh punya anak baru mati si Ayu bodoh itu .
Thewie: bodoh mmg Bun si ayu ini
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!