Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Rintangan di Balik Rute Kepulangan
Sinar matahari sore mulai membiaskan warna jingga di atas langit Jakarta. Setelah proses fitting gaun pengantin selesai, Aira melangkah keluar dari butik dengan rona bahagia yang masih terpancar jelas di wajah cantiknya. Namun, Aira yang intuitif dan peka segera menyadari perubahan atmosfer di sekitarnya.
Jumlah personel pengawal berjas hitam yang berdiri di sekitar iring-iringan mobil Aristha Group bertambah dua kali lipat. Mobil sedan armor antipeluru utama ditarik persis ke depan pintu keluar butik, menutup akses pandang dari arah jalan raya.
Reynand membimbing Aira masuk ke dalam kabin penumpang dengan gerakan cepat namun tetap lembut, disusul oleh Nyonya Rosalinda yang dikawal khusus oleh tim keamanan terpisah menuju mobil kedua.
"Reynand... ada apa sebenarnya?" bisik Aira seraya menatap manik mata hitam Reynand yang mengeras. Tangannya menggenggam erat jemari kokoh sang calon suami.
Reynand merengkuh tubuh Aira, membawanya makin rapat ke sisinya dalam dekapan yang hangat dan protektif. Pria itu mengusap lembut punggung tangan Aira dengan ibu jarinya.
"Hanya pengamanan ekstra, Aira," sahut Reynand dengan suara bariton yang menenangkan, meski tatapannya lurus memandang ke luar jendela mobil yang gelap. "Aku tidak ingin ada gangguan sekecil apa pun menjelang hari pernikahan kita."
Mobil Maybach antipeluru yang mereka tumpangi mulai membelah kepadatan lalu lintas ibu kota, dikawal oleh dua mobil SUV hitam di depan dan belakang.
Di dalam van komando keamanan yang berjarak beberapa ratus meter, Arya terus memantau pergerakan radar GPS.
"Rute utama tol dalam kota diblokir sementara oleh tim patroli kita," lapor salah satu pengawal melalui radio komunikasi earphone yang terpasang di telinga Reynand. "Dua kendaraan mencurigakan coba memotong rute dari arah simpang jalan utama, Tuan."
"Lumpuhkan tanpa memicu kepanikan publik," perintah Reynand dingin, suaranya pelan agar tak menakuti Aira.
Di persimpangan jalan layang yang agak lengang, salah satu mobil SUV pengawal Aristha Group melakukan manuver presisi, memotong jalan dan menghimpit mobil sedan hitam tanpa plat nomor yang mencoba membuntut. Dentuman gesekan bodi mobil yang teredam menghentikan pergerakan sedan asing tersebut secara instan di pinggir jalan, sebelum para personel pengawal rahasia turun dan mengamankan pengemudinya dalam hitungan detik.
Seluruh aksi proteksi klandestin itu berlangsung begitu cepat dan bersih, hingga kendaraan yang ditumpangi Reynand dan Aira dapat melintas mulus tanpa hambatan menuju kompleks kediaman utama Aristha.
Malam harinya, di dalam ruang eksekusi keamanan Aristha Tower.
Arya meletakkan sebuah map dokumen tebal di atas meja kerja Reynand. Lampu ruangan yang temaram membiaskan aura dingin membeku dari sang CEO. Aira yang sudah diberitahu secara jujur mengenai situasi tersebut, berdiri setia di samping Reynand.
"Siapa yang mengirim mereka, Arya?" tanya Reynand tajam, suaranya mengancam.
Arya mengangguk tegas. "Hasil interogasi dan pelacakan dana terenkripsi menunjukkan bahwa mereka adalah tentara bayaran lokal yang disewa oleh faksi lama dewan komisaris—sisa-sisa pengikut Devan Aristha yang telah kita depak."
Aira menyipitkan matanya, membaca salinan laporan di meja. "Mereka tahu posisinya sudah hancur total di perusahaan, jadi mereka mencoba menciptakan kekacauan atau penculikan sebelum hari pernikahan untuk memeras Aristha Group?"
"Tepat sekali, Nona Aira," jawab Arya. "Mereka memanfaatkan celah saat fokus perusahaan terbagi pada persiapan pernikahan."
Reynand berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tegap memancarkan wibawa pimpinan yang tak terhentikan. Ia mengepalkan tangannya di atas meja, menatap Arya dengan sorot mata membunuh.
"Bersihkan seluruh sisa-sisa faksi Devan sampai ke akar-akarnya malam ini juga," perintah Reynand mutlak. "Serahkan seluruh bukti tindak pidana dan rencana teror ini ke kepolisian Mabes Polri. Pastikan mereka menghabiskan sisa hidup mereka di balik jeruji besi sebelum fajar menyingsing."
"Siap, Tuan CEO. Segera dilaksanakan," tegas Arya sebelum membungkuk hormat dan keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup rapat, suasana ruangan kembali hening. Reynand berbalik menghadapi Aira. Aura mematikan di wajah tampannya seketika sirna, berganti dengan rasa penyesalan dan kecemasan mendalam.
"Aira... maafkan aku karena belum bisa sepenuhnya menjauhkan bahaya dari sekitarmu," bisik Reynand lirih seraya merengkuh kedua pipi Aira dengan telapak tangannya yang hangat.
Aira menggeleng pelan, menyunggingkan senyum tulus yang memikat. Ia menangkupkan tangannya di atas tangan Reynand.
"Kamu sudah melindungiku dengan sangat sempurna, Reynand," sahut Aira lembut, menatap lurus ke dalam sepasang mata calon suaminya. "Ancaman dari sisa-sisa masa lalu itu tidak akan pernah bisa menggoyahkan kita. Hari pernikahan kita akan menjadi bukti kemenangan cinta dan perjuangan kita."
Reynand menatap Aira penuh keharuan. Pria itu menundukkan wajahnya, memagut bibir Aira dalam ciuman dalam yang sarat akan kerinduan dan janji perlindungan abadi. Semua rintangan terakhir telah berhasil ditumpas, dan pintu menuju hari bahagia mereka kini benar-benar telah terbuka lebar.