Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.
Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?
Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: VIDEO
DORIAN CERVANTES
"Lihat saja apa yang menantimu, bocah," batinku sambil menatap penuh nafsu tubuh membara yang hanya terbalut dua helai kain menggoda itu.
Saat kulepaskan ikatannya, dia yang benar-benar lepas kendali membuatku terkejut. Dia menaiki tubuhku untuk menciumku dengan putus asa sambil menggesek-gesekkan diri padaku, dan berhasil menemukan pelepasannya. Ya Tuhan, dia begitu tak sadarkan diri dan begitu panas sampai gesekan sekecil apa pun membuatnya mndesh dan berteriak karena kenikm*tan.
Kulempar dia ke ranjang dan kurenggut satu-satunya yang memisahkannya dari ketlnjangan sempurna.
Dia menarikku ke tubuhnya dengan penuh hasrat dan menciumku dengan cara yang begitu membara, sambil mengurungku dengan kedua kakinya, memaksa tubuhku menyatu dengan tubuhnya.
"Saat kamu lihat nanti bagaimana tingkahmu, kamu takkan percaya, bocah. Tapi aku sungguh menginginkanmu," batinku.
Kuturunkan mulutku ke bagian intimnya dan mulai kuhntm dia dengan jari-jariku. Yang bisa kudengar hanya teriakannya dan suara jari-jariku yang keluar-masuk tanpa henti dari pusatnya. Dia mencapai pelepasan, dan dalam sekejap mata dia sudah menuntut lebih lewat tingkahnya yang begitu mmbar dan liar.
Kusandarkan kjantnanku di pintu masuknya, dan meski aku berniat menahan diri walau hanya beberapa detik, itu mustahil, sebab dia mengunci kakinya dan mendorongku dengan kuat masuk ke dalam dirinya.
Aku merasa sakit dan dia pun begitu, tapi itu tak menghentikannya membuatku kewalahan, membuatku merasa seperti mainan s*ks berkaki, karena dia mencengkeramku begitu erat dengan lengan dan kakinya sehingga hanya dia yang bergerak dan mengendalikanku, bahkan saat berada di bawahku.
Dia mencapai rgsme berkali-kali, benar-benar tak sadarkan diri. Aku mulai berpikir bahwa sekalipun dia memerasku habis-habisan, aku takkan mampu menenangkan hasrat yang melahapnya dengan begitu kuat dan telah membuatnya hilang akal.
Kukerahkan tenaga dan kucengkeram kedua tangannya di atas kepalanya, lalu mulai bergerak dengan kuat sampai bah zakrku beradu dengan kulitnya, menimbulkan suara.
Sekasar itu justru makin dia nikmati. Teriakannya membuktikannya.
Kubalikkan tubuhnya dan kuangkat bkngnya, kucengkeram kuat-kuat lalu kembali kusatukan tubuh kami. Kuhntm dia dengan ganas, kadang berpegangan pada bahunya dan kadang pada pinggulnya, menenggelamkan jari-jariku ke kulitnya.
Klimaksku tiba dan aku menuntaskannya dengan kuat, memenuhinya dengan diriku dalam prosesnya. Meski begitu, dia tetap tak membiarkanku beristirahat.
Aku berusaha memulihkan napas untuk melanjutkan, karena dia masih sangat panik dan putus asa.
Dia menggesek-gesekkan diri padaku, terus mengoceh tak keruan, dan sementara aku memulihkan diri, kumasukkan lagi jari-jariku ke dalam d*rinya. Dengan cepat aku kembali siap dan kubenamkan diriku tanpa basa-basi ke dalam dirinya.
Kubiarkan dia telungkup di atas perutnya dan kubuka kedua kakinya. Kusandarkan satu tanganku di punggungnya untuk menahannya tetap diam, sementara dengan tangan yang lain kusandarkan kejntnanku di pintu masuknya dan menyatukan kami dengan kuat.
Kutopang kedua kakinya dengan lenganku dan kuangkat, memisahkan perutnya dari ranjang sehingga tubuhnya setengah menggantung, lalu kembali kuhntm dia dengan kuat berulang-ulang.
Aku merasa cukup lelah, sebab bahkan sampai ke dinding pun kutopang dia demi mencoba memuaskan h*srat-nya yang tak terkendali.
Ketika dia sedikit mereda, dia masih bersemangat, dan karena tenagaku sudah menipis barulah kulakukan lebih lambat, tapi membuatnya merasakan setiap inci. Kami berciuman ribuan kali, lalu aku hanya menyaksikannya menikmati setiap menit. Terakhir kali aku menuntaskannya, kukira nyaris tak tersisa lagi dua tetes pun dariku.
* * *
Setelah beberapa ronde dan melakukan segala yang kubisa padanya, akhirnya dia tampak rileks dan tertidur. Aku sampai lupa akan kamera-kamera itu dan ikut tertidur tanpa selimut, sama sepertinya.
Aku terbangun keesokan paginya dan pergi ke kamar mandi untuk berendam. Lengan dan kakiku terasa nyeri, ada rasa perih di leher dan punggungku. Kulihat Valentina menancapkan kuku-kukunya ke tubuhku, tapi itu tak seberapa. Sudah lama sekali aku tak merasa sesenang itu.
Aku harus mengakui, aku penasaran ingin tahu bagaimana rasanya tanpa obat dalam tubuhnya, karena sedemikian tak sadarkan diri saja dia sudah lebih dari sempurna.
Aku kembali ke ranjang, dan beberapa saat kemudian aku merasa selimutku direnggut, disusul teriakan dengan suara yang sangat sengau. Kami melakukannya begitu hebat sampai suaranya habis.
"Kamu memperkosaku." Dia menatapku dengan benci.
"Aku memperkosamu? Kamulah yang memulai semua ini, dan biar kuberi tahu, kalau aku sampai meniduri, itu untuk menyelamatkan nyawamu."
"Sekarang s*ks menyelamatkan nyawa." Dia berusaha mendorongku dari ranjang.
"Cokelat yang kamu makan mengandung obat perangsang. Berapa banyak yang kamu makan? Wanita itu ingin aku tidur dengannya. Kadarnya begitu tinggi sampai penawarnya tak bekerja, dan kalau itu tak terjadi kamu takkan hidup. Tapi kalau kamu ragu, bicaralah dengan dokter, atau kamu bisa lihat videonya."