Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Anak Kita
Dan wajar saja ia terkejut. Ruang operasi itu dipenuhi para spesialis, dan yang paling mencolok, seorang pria mengenakan pakaian yang pantas untuk berada di ruangan itu namun jelas bukan dokter. Di balik jubah biru itu terlihat setelan jas yang dijahit pas di badan. Aura pria berwibawa itu terasa memenuhi seisi ruangan.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya dr. Adnan. "Ini operasi yang sangat rumit, jadi tolong keluar."
Arkana mengeluarkan sebuah Desert Eagle dari pinggangnya, sebuah pistol semi-otomatis. Matanya terpaku pada Adnan, dan ia mengucapkan beberapa patah kata.
"Pastikan operasi ini berhasil total, atau semua orang di sini akan mati bersamamu."
Adnan paham siapa pria di hadapannya. Ia hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Ini bukan saatnya berdebat, lagi pula ia tak ingin membuat seluruh tim kerjanya gugup.
Alika sedang dalam pengaruh obat, dan berkat itu ia tak menyadari tingkah ayahnya.
Salsabila di luar cemas memikirkan anaknya dan ibunya yang tak kunjung datang. Ia begitu tenggelam dalam pikirannya sampai tak menyadari sepinya orang-orang di tempat itu.
Empat jam berlalu hingga Adnan keluar dari ruang operasi. Salsabila yang duduk di lantai dingin langsung melompat ke arahnya.
"Bagaimana keadaan anakku?"
"Anakmu baik-baik saja. Operasinya berhasil total. Sekarang dia sedang dalam pemulihan."
"Kapan aku bisa melihatnya?"
"Operasinya rumit, kau harus menunggu sampai besok. Aku sarankan kau pulang dan beristirahat. Dia ada di tangan yang tepat."
"Aku tidak akan pergi dari sini sampai melihat anakku. Aku takkan bisa tidur atau istirahat sebelum melihat wajahnya lagi."
"Baiklah, kau boleh menunggu di kamarnya. Tapi tolong usahakan istirahat."
"Terima kasih, Adnan, atas dukunganmu."
Adnan menatap Salsabila dengan mata sedih. Gadis itu dulu punya begitu banyak mimpi, dan kini ia harus terikat dengan pria kaya sekaligus posesif seperti Arkana Baswara.
Salsabila tak menghiraukan tatapan itu dan memutuskan masuk ke kamar yang telah ditetapkan untuk anaknya setelah insiden dengan pria itu.
Kamar itu kosong melompong, dan semua barangnya lenyap. Ia merasa aneh karena tak ada yang memberitahunya soal perubahan rencana. Ia kembali ke kamar lamanya, dan di sanalah semuanya serba ungu. Seluruh ruangan didekorasi dengan pelangi, boneka, dan balon di mana-mana. Ada banyak sekali hadiah, dan semuanya begitu indah.
Ada yang tidak beres, sebab ia tak pernah memesan dekorasi sebanyak ini. Mungkinkah ibunya tak muncul karena sibuk menyiapkan kejutan ini untuk Alika bersama adik-adiknya?
Ia tahu itu kamar anaknya karena di balon-balonnya tertulis nama Alika. Rasa lelah menguasainya, dan ia memutuskan merebahkan tubuh untuk beristirahat sejenak tanpa jauh dari anaknya.
Ia terbangun di tengah mimpi buruknya yang paling sering datang, tentang malam ketika hidupnya berubah. Ia melihat jam, sudah lewat tengah malam. Perutnya keroncongan lapar, jadi ia memutuskan pergi ke kafetaria mencari makanan. Namun begitu tiba, ia menyadari sesuatu, ia sendirian. Ia menoleh dan melihat tak ada seorang pun di sana selain dirinya. Keheningan menjadi tokoh utama, disusul bunyi jangkrik.
Ia berlari ke arah pintu keluar, dan di sana berdiri sekelompok besar pria yang menjaga gedung. Ada yang ganjil sedang terjadi, dan bila dugaannya benar, anaknya takkan sendirian. Pria itu ada di tempat ini, dan kini ia tak ragu lagi.
Salsabila kembali berlari menyusuri lorong-lorong mencari staf, tapi yang ada hanyalah para pria bersenjata lengkap. Ia mencoba mencari Adnan, tapi dokter itu pun tak ada.
Ia mengumpulkan keberanian dan masuk ke ruang pemulihan. Di sanalah pria itu, pria yang begitu ia benci, sedang membelai lembut wajah putrinya dengan penuh perhatian.
"Sedang apa kau di sini? Pergi."
Arkana berdiri di depan brankar Alika, tangannya mengusap rambut halus anaknya, matanya terpaku pada dada putrinya. Ia memastikan anaknya bernapas, ada rasa takut tersembunyi dalam dirinya bahwa sesuatu terjadi pada anak itu. Ia tak perlu menoleh ke pintu, ia tahu cepat atau lambat wanita itu akan masuk.
"Diamlah. Anak kita baru saja keluar dari operasi besar. Sekarang duduk, atau keluar dari kamar ini."
"Kaulah satu-satunya yang tak dibutuhkan di sini, jadi sebaiknya kau pergi, atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar. Dan singkirkan tangan kotormu dari anakku."
Arkana menoleh mencari tatapan wanita mungil yang mengancamnya tanpa rasa takut di matanya itu.
"Aku tak ingin pertengkaran pertama kita terjadi di depan anak ini. Sekarang, tolong buat aku percaya kau wanita dewasa yang bertubuh kecil."
Salsabila ingin membunuhnya, tapi ini bukan saatnya. Pria itu takkan pernah menguasainya. Ia duduk dan bungkam. Sesekali ia mengamati betapa besar tubuh pria itu, dan membiarkan pikirannya melayang.
Berbeda dengan Arkana yang untuk pertama kali dalam hidupnya merasa gugup. Selama para dokter mengoperasi putrinya, ia mondar-mandir dari satu sudut ke sudut lain. Ia tak sanggup membayangkan kehilangan anak itu bahkan sebelum sempat mengenalnya.
Ia ingin dekat dengan anak itu, ingin tahu semua kesukaannya. Ia tak bisa menyangkal betapa mirip mereka, dan bagaimana anak itu menaklukkannya sejak pandangan pertama.
"Ceritakan tentang dia," pinta Arkana.
Salsabila terperangah. Ia tak percaya apa yang didengar telinganya. Meski begitu, ia tetap menyilangkan kaki, menatap anaknya.
"Apa dia pernah menanyakan aku?"
Salsabila kesal oleh pertanyaan-pertanyaannya. Pria itu tak tahu malu. Apa ia sudah lupa bagaimana ia memerkosanya malam itu? Ia terus mengabaikannya, memejamkan mata setidaknya agar tak perlu melihatnya.
"Kalau kau terus bersikap kekanak-kanakan begini, akan kubawa dia begitu diizinkan pulang, biar aku sendiri yang mengenalnya."
Salsabila merasa perutnya seperti dijungkirbalikkan dan dunia runtuh menimpanya. Wajahnya pucat pasi seperti kertas putih, dan saat ia membuka mata, di sana hanya ada kebencian dan amarah.
"Langkahi dulu mayatku kalau kau mau memisahkan anakku dariku. Dia hanya milikku."
"Kau juga akan ikut dengan kami, suka atau tidak, dan kalian berdua akan jadi milikku."
"Hahaha, teruslah bermimpi."
Arkana memberinya seulas senyum miring lalu meninggalkan tempat itu. Ia sudah lebih tenang soal kesehatan anaknya. Ia pria yang banyak urusan bisnis dan itu butuh perhatiannya. Ia akan memberi wanita itu sedikit ruang agar bisa bersama anaknya, sementara ia keluar merokok sebatang, hal yang hanya ia lakukan saat sedang stres.