Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jam yang Berhenti
Tidak ada yang bicara selama hampir satu menit.
Wirabhaya berdiri kaku di dekat pintu. Tarub menggenggam tombaknya erat. Gandra mengintip dari balik tirai bambu dengan mata melebar. Dan di tengah semua itu, Mpu Kalandara duduk di bale dengan gulungan lontar di pangkuannya, menatap kosong ke arah lembah.
Raka, yang sejak tadi menahan napas, akhirnya memberanikan diri.
"Mpu, dia tahu siapa Mpu."
"Ya."
"Dia tahu tentang buku itu."
"Ya."
"Berarti dia dari zaman kita."
"Itu sudah jelas." Mpu Kalandara melipat lontar itu perlahan, gerakannya hati-hati seperti menutup luka. "Yang belum jelas adalah apa maunya."
"Dia mengundang Mpu ke Trowulan," kata Wirabhaya. "Mungkin dia ingin bertemu sesama orang dari tempatnya."
"Atau ingin menjebak." Mpu Kalandara mengangkat wajah. "Perhatikan bunyi suratnya. Dia tidak bertanya apakah aku bersedia datang. Dia memberi tahu tanggalnya. Tiga hari lagi. Dia sudah tahu aku akan datang, dan itu membuatku tak nyaman."
"Kalau begitu jangan datang," kata Sekar tiba-tiba.
Semua orang menoleh. Gadis itu berdiri di ujung serambi, tangan terlipat di dada, jelas sudah mendengar sebagian besar percakapan dari tadi. Gandra di sebelahnya buru-buru menunduk, pura-pura sibuk mengaduk jamu.
"Maaf kalau aku lancang," lanjut Sekar. "Tapi bagiku sederhana. Kalau seseorang tahu lebih banyak tentang kita daripada kita tentang dia, jangan temui dia di tempat yang ia pilih."
Mpu Kalandara menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. "Kau benar, Nak. Dan aku juga benar kalau bilang aku tak punya pilihan."
"Mengapa?"
"Karena kalau aku menolak, dia akan datang ke sini. Atau mengirim orang lain. Dan di sini ada Gandra, ada Raka, ada kau." Ia berhenti. "Aku lebih suka bertemu dengannya di tempat ramai daripada di tempat sepi, di mana tak ada yang bisa menyaksikan apa yang terjadi."
Wirabhaya mengangguk perlahan. "Di Trowulan, Mpu akan berada dalam perlindungan hukum kerajaan. Dia tak bisa berbuat sembarangan di sana."
"Dia sudah berbuat banyak di sana," tukas Raka. "Dia dipanggil Sang Tabib dari Langit. Orang-orang percaya padanya. Mungkin para pejabat juga."
"Kau benar." Mpu Kalandara menghela napas. "Karena itu aku harus pergi, dan harus tahu lebih banyak tentang dia sebelum aku bisa memutuskan apa pun."
Ia berdiri dan berjalan ke tengah halaman. Matahari pagi menimpa rambut putihnya, membuatnya tampak seperti arca tua yang hidup kembali.
"Aku akan berangkat besok pagi," katanya. "Wirabhaya, kau akan mengantarku. Resmi, sebagai pengawal. Itu menambah wibawa."
"Siap, Mpu."
"Dan kau," Mpu Kalandara menoleh pada Raka, "ikut."
Raka tertegun. "Saya? Tapi dia tidak mengundang saya. Dia bahkan tak tahu saya ada."
"Itulah keuntunganmu." Mata sang pertapa berkilat. "Dia mengenalku, tapi tak mengenalmu. Kau akan masuk sebagai muridku, seorang cantrik dari negeri jauh. Kau akan mengamati dari belakang, dan dia tak akan menganggapmu ancaman."
"Kalau dia tahu..."
"Kalau dia tahu, kita akan menghadapinya bersama." Suaranya lembut tapi tegas. "Aku tak akan membiarkanmu sendirian lagi, Raka. Kau sudah cukup sendirian."
Raka tak sanggup menjawab. Tenggorokannya terlalu sesak.
"Aku juga ikut," kata Sekar.
"Tidak," kata Raka dan Wirabhaya serentak.
Sekar mengangkat dagu. "Aku punya kerabat di Trowulan. Aku bisa membantu dari dalam. Aku tahu pasar-pasarnya, tahu siapa yang bisa dipercaya, siapa yang tidak. Dan kalau kalian pikir aku akan duduk manis di desa, kalian tak mengenalku."
"Kami baru mengenalmu tiga minggu," kata Raka.
"Dan dalam tiga minggu itu, siapa yang paling sering menyelamatkanmu?"
Raka membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi. "Kau."
"Kau."
Mpu Kalandara mendengus pendek, menahan tawa. "Biarkan dia ikut, Wira. Aku lebih khawatir pada diriku sendiri kalau dia ditinggal. Gadis ini kuat. Tapi dengan syarat." Ia menunjuk tangan Sekar. "Cincin itu."
Sekar menutup tangan kirinya refleks.
"Lepaskan dan simpan di balik kainmu, di dekat kulit. Jangan pernah diperlihatkan di Trowulan. Siapa pun yang melihatnya akan bertanya, dan tak semua pertanyaan baik untukmu."
Sekar ragu sejenak, lalu menghela napas dan melepas cincin itu. Jari-jarinya sedikit gemetar. Ia menyelipkannya ke dalam kain yang melilit dadanya, terikat pada seutas benang halus.
"Sudah," katanya pelan. "Puas?"
"Belum," kata Mpu Kalandara lembut. "Tapi ini cukup untuk sekarang."
Malam itu, Raka tidak bisa tidur lagi. Ia duduk di tangga pondok, memandangi lembah yang gelap. Bulan sabit tipis menggantung di langit seperti goresan kuku. Sebentar lagi gerbang akan membawanya ke jantung Majapahit, dan ke seseorang yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang bisa ia bayangkan.
Langkah kaki pelan terdengar di belakangnya. Mpu Kalandara duduk di samping, mengenakan kain tidur putih, tangan kirinya menggenggam sesuatu.
"Aku tak mau kau pergi tanpa ini," katanya.
Ia membuka telapak tangannya. Di sana tergeletak sebuah arloji tua, Seiko dengan tali kulit retak, jarumnya masih menunjuk tiga lewat sepuluh.
Raka menatapnya. "Mpu, ini milik Mpu. Hadiah dari istri Mpu."
"Karena itu aku memberikannya padamu." Mpu Kalandara menaruhnya di tangan Raka dan melipat jari-jarinya di atasnya. "Dua puluh satu tahun aku menyimpannya, dan tidak sekali pun benda ini menolongku pulang. Tapi mungkin ia lebih berguna di tanganmu."
"Mpu..."
"Bawa saja. Dan kalau suatu hari kau bisa kembali, dan bertemu dengan istriku, anak-anakku, atau cucu-cucuku, atau siapa pun yang tersisa..." Suaranya pecah sedikit. Ia berdeham. "Katakan pada mereka bahwa aku tak pernah berhenti mengingat."
Raka menggenggam arloji itu erat-erat. Ia tidak mengatakan "tentu saja", atau "saya janji", atau kalimat apa pun yang terdengar seperti pidato. Ia hanya mengangguk, sekali, pelan, sambil menahan air mata.
"Sekarang tidurlah," kata Mpu Kalandara. "Besok perjalanan panjang."
Fajar menyingsing dengan langit jingga keemasan. Rombongan kecil itu berkumpul di halaman pertapaan: Mpu Kalandara dengan jubah putih bersih, Wirabhaya dan Tarub berkuda di depan, Raka mengenakan pakaian cantrik sederhana pinjaman Gandra, dan Sekar dengan bungkusan kecil di punggung.
Gandra berdiri di gerbang pondok, menahan tangis dengan gagah.
"Jaga pertapaan," pesan Mpu Kalandara.
"Pasti, Mpu."
"Dan jangan membiarkan siapa pun masuk, kecuali yang membawa tanda dariku."
"Siap."
"Dan jangan lupa menyiram kamboja."
"Itu juga siap, Mpu." Gandra mengusap hidungnya dengan lengan baju. Lalu ia menatap Raka. "Kang Raka. Nanti kalau kembali, ceritakan soal burung besi lagi, ya."
Raka tertawa pelan, mengacak rambut anak itu. "Janji."
Mereka mulai berjalan menuruni jalan setapak. Kabut pagi masih menyelimuti pepohonan, dan suara burung bersahut-sahutan seperti mengucapkan selamat jalan. Raka menoleh sekali ke belakang, melihat pondok kecil itu mengecil di antara kamboja putih, dan sadar bahwa dalam tiga minggu, tempat itu telah menjadi rumah baginya.
Mereka sampai di kaki bukit ketika Wirabhaya tiba-tiba menarik tali kudanya.
"Ada apa?" tanya Tarub.
Wirabhaya tak menjawab. Matanya menyipit ke arah punggung bukit di sebelah timur, tempat sinar matahari memantul pada sesuatu yang berkilat. Hanya sekejap. Lalu hilang.
"Tidak apa-apa," katanya akhirnya, meski suaranya tak terdengar yakin. "Mungkin embun pada daun."
Tetapi Raka melihat tangan Wirabhaya perlahan turun ke gagang keris di punggungnya.
Dan jauh di atas bukit, di balik pepohonan, seseorang menurunkan sebuah benda berkilau dari depan matanya, dan tersenyum.
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹