Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Frekuensi
Tiga minggu telah berlalu sejak fajar yang mencekam di ruko Jalan Sutomo.
Kota Medan kembali ke iramanya yang riuh dan hangat. Di kawasan Lapangan Merdeka, lalu lalang kendaraan membelah udara pagi yang cerah. Orang-orang sibuk dengan layar ponsel pintar di genggaman masing-masing—memesan transportasi daring, membalas pesan kerja, atau sekadar menonton video pendek. Bagi jutaan warga kota ini, seluler adalah jendela dunia yang tak pernah tidur. Namun bagi Faris, setiap ketukan nada dering kini selalu membawa ingatan dingin yang menyelinap pelan di tengkuknya.
Pagi itu, Faris duduk di salah satu meja kayu kedai kopi kawasan Kesawan. Di lehernya, bekas memar membeku yang dahulu menghitam kini tinggal guratan halus yang makin samar. Ia menyeruput kopi hitamnya yang panas, menikmati sensasi hangat yang menjalar ke dadanya—sebuah pengingat sederhana bahwa ia masih bernapas dan berpijak di dunia nyata.
Langkah kaki terdengar mendekat. Maya duduk di hadapannya, meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Maya seraya memesan secangkir teh tarik pada pelayan.
"Jauh lebih baik," jawab Faris dengan senyum tipis. "Sudah bisa tidur lebih dari empat jam semalam tanpa terbangun mendengar suara ketukan."
Maya mengangguk lega. Ia membuka map cokelatnya, memperlihatkan beberapa lembar dokumen resmi.
"Ruko di Jalan Sutomo sudah diratakan minggu lalu," kata Maya pelan. "Pemerintah kota menetapkan tanah itu sebagai area hijau fasilitas umum. Sumur tua itu sudah diisi dengan adukan semen padat setinggi lima meter. Tidak akan ada lagi yang bisa menggali atau menyentuh tempat itu."
"Bagaimana dengan Profesor Bahri?"
"Beliau memutuskan pindah ke rumah putrinya di Bandung," Maya tersenyum. "Beliau bilang ingin menghabiskan masa tuanya dengan tenang, jauh dari alat-alat pemancar radio dan kenangan pahit laboratorium masa lalunya."
Faris menatap ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja. Ponsel itu baru, dibeli dua minggu lalu setelah ponsel lamanya dimusnahkan bersama kotak timbal oleh Maya. Tak ada lagi aplikasi tak dikenal, tak ada lagi pendar merah misterius di jam dua pagi.
"Terima kasih, Kak Maya," kata Faris tulus. "Kalau bukan karena Kakak, aku tidak akan ada di sini hari ini."
"Kita saling menyelamatkan, Faris," balas Maya lembut. "Adikku mungkin tidak sempat terselamatkan dua tahun lalu, tapi setidaknya... kita sudah menghentikan lingkaran setan itu. Mantra digital Hendra sudah terputus total."
Mereka hening sejenak, menikmati hiruk-pikuk Kota Medan di sekeliling mereka. Sains dan teknologi diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, namun ketika kesombongan manusia mencoba menembus batas yang dilarang, batas antara kemajuan dan malapetaka menjadi sangat tipis.
jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Faris menghabiskan sisa kopinya, lalu berdiri untuk berpamitan. Kehidupannya harus terus berjalan, pekerjaan dan rutinitas baru menunggunya.
Malam harinya, di sebuah sudut rongsokan barang elektronik di pinggiran kota, seorang pemulung tua sedang membongkar karung berisi tumpukan komponen radio dan ponsel bekas yang ia kumpulkan dari berbagai sudut Kota Medan.
Di bawah remang sinar bohlam lima watt, jemari pemulung itu meraba sebuah papan sirkuit tua berdebu yang sebagian permukaannya terbakar kehitaman. Piringan tembaga kecil berukir garis-garis halus menempel di bagian bawahnya.
Pemulung itu menyapu debu tebal di permukaannya, lalu menghubungkan dua kabel tembaga kecil ke sebuah baterai bekas di atas meja kerjanya.
Klik.
Pendar hijau redup menyala dari sebuah layar monopiksel kecil di samping papan sirkuit tersebut.
Tidak ada suara yang keluar. Hanya empat angka yang perlahan terukir dan berkedip-kedip kaku di kegelapan malam:
0-0-0-0