NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: KANCING KEMEJA DAN DUA BAYANGAN

BAB 1: KANCING KEMEJA DAN DUA BAYANGAN

Papan nama berbahan kuningan di depan pintu kaca lantai dua gedung itu masih berkilau tebal, menegaskan identitas yang baru saja berdiri beberapa bulan lalu: Vanguard Private Crime Investigation (VPCI).

Di dalam ruang tengah yang beraroma kopi dan kertas baru, Reno Devano berdiri mengamati papan tulis putih besar yang penuh dengan foto-foto TKP. Ini adalah kasus pembunuhan pertama yang resmi ditangani oleh agensi swasta mereka setelah mendapatkan izin operasional penuh.

Di depan papan tulis, Widya Kusuma kepala tim hukum VPCI mempresentasikan berkas perkara dengan gaya khasnya yang lugas.

"Klien kita adalah pihak keluarga Hartawan, pengusaha properti yang ditemukan tewas di ruang kerja pribadinya kemarin malam," ujar Widya sambil menunjuk foto korban yang tergeletak di samping meja kerja.

"Pihak kepolisian sudah merilis pernyataan resmi bahwa Hartawan tewas akibat serangan jantung wajar. Namun, sang istri merasa ada yang ganjil dan menyewa VPCI sebagai investigator independen untuk melakukan pemeriksaan ulang sebelum jasadnya dikremasi lusa."

Reno menyilangkan tangan di dada, matanya yang tajam meneliti setiap sudut foto TKP. "Kalau polisi sudah menyimpulkan serangan jantung, atas dasar apa istrinya merasa ini pembunuhan?"

"Sederhana," sahut Dion 'Zero' Prasetya dari balik jajaran tiga layar monitornya. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik.

"Hartawan tidak punya riwayat penyakit jantung berat. Selain itu, sistem keamanan siber di rumahnya mengalami glitch atau pemadaman sinyal selama delapan belas menit tepat sebelum korban ditemukan tewas. Seseorang yang sangat ahli telah meretas jaringan CCTV di area koridor belakang."

"Itu belum membuktikan adanya tindak pidana pembunuhan," sela dr. Sara Maheswari yang baru saja masuk ke ruang rapat, lengkap dengan jas laboratorium putihnya. Di belakangnya, Nadia asisten laboratorium yang selalu sigap membawa nampan berisi kantong spesimen barang bukti fisik dari lokasi.

dr. Sara melanjutkan dengan nada dingin berwibawa,

"Secara kasat mata, tidak ada lebam penganiayaan, tidak ada bekas luka tembak, maupun tusukan. Polisi sudah memeriksa luar jasad korban. Jika keluarga ingin membuktikan tuduhan pembunuhan, kita butuh bukti medis yang solid di kamar jenazah, bukan sekadar spekulasi retas siber."

Reno melangkah mendekati nampan yang dibawa Nadia. Di antara beberapa sampel kain dan bekas minuman korban, terdapat sebuah kantong plastik bening berisi satu kancing kemeja logam berlapis krom yang sedikit bengkok.

"Di mana kancing ini ditemukan?" tanya Reno.

"Bara menemukannya tersangkut di serat karpet di bawah meja kerja Hartawan," jawab Nadia lembut. "Saku kemeja sutra yang dikenakan korban saat tewas juga robek sedikit di bagian sudutnya."

Reno memejamkan mata sejenak, mengimbau dirinya sendiri untuk tetap tenang. Di ruangan ini, semua orang bekerja dengan logika dan sains empiris. Widya hanya percaya pada hukum dan pasal pidana, Dion mengandalkan logika biner komputer, sementara dr. Sara adalah ilmuwan medis yang memuja data objektif.

Tak satu pun dari mereka tahu dan tidak boleh ada yang tahu bahwa Reno memiliki kemampuan supranatural psychometry. Jika ia mendadak mengaku bisa melihat masa lalu hanya dengan menyentuh barang bukti, seluruh kredibilitas agensi baru mereka akan hancur seketika.

"Aku butuh memeriksa kancing ini sebentar sebelum otopsi dimulai," kata Reno santai.

Ia membocorkan klip plastik spesimen tersebut, lalu melepaskan sarung tangan kulit hitam yang biasa melindunginya. Dengan jemari bertelanjang kulit, Reno meraup kancing logam kecil yang dingin itu tepat ke tengah telapak tangannya.

Deg.

Dalam hitungan detik, rasa dingin yang janggal langsung merayap dari telapak tangannya, meluncur cepat melewati pembuluh darah di lengannya, dan menghantam pusat kesadarannya di kepala. Pemandangan ruang rapat VPCI yang terang benderang mendadak memudar dramatis.

Cahaya ruangan berganti menjadi kegelapan remang-remang dari sebuah ruang kerja mewah bersuasana malam.

Sensasi kilas balik psychometry itu menghantam kesadarannya tanpa ampun.

Pandangan Reno terkunci, menyatu sepenuhnya dengan sudut pandang korban beberapa menit sebelum helaan napas terakhirnya. Dada Reno terasa amat sesak, seolah-olah parunya mendadak kehabisan pasokan oksigen. Di depannya, berdiri seorang pria berbadan tegap yang mengenakan topeng kain hitam.

Pria itu mencengkeram kerah kemeja sutra Hartawan dengan sangat kuat rebutan kasar itulah yang membuat kancing logam kemejanya terlepas dan merobek sudut saku.

Hartawan dalam ingatannya mencoba memukul, meronta, dan melepaskan diri. Namun, sebelum tangannya berhasil melayangkan perlawanan, dari sudut gelap di belakang kursi kerja, bayangan kedua muncul tanpa suara.

Pelaku kedua yang berpostur lebih pendek bergerak dengan presisi yang mengerikan. Ia melingkarkan lengan berototnya di leher Hartawan, memitingnya dari belakang hingga sang pengusaha tak mampu bergerak sama sekali.

Di saat bersamaan, pelaku pertama yang berada di depan dengan cepat menarik satu buah alat suntik kecil dari balik mantelnya, lalu menusukkan jarum tipis itu dengan cermat ke celah lembut di antara sela jari kaki kanan Hartawan.

Dua orang. Ini bukan pembunuhan tunggal, apalagi serangan jantung wajar. Eksekusi ini dilakukan oleh dua orang pelaku secara terencana.

Visualisasi masa lalu itu mendadak pecah bagaikan cermin yang terhempas ke lantai. Reno terperanjat hebat. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menahan gelombang rasa mual dan pusing dahsyat yang selalu menguras tenaganya setiap kali menyerap kilas balik traumatis dari korban pembunuhan. Dinding-dinding ruang rapat kembali terbentuk di sekelilingnya.

Sensasi berputar di kepalanya perlahan mereda saat ia membuka mata kembali dan mendapati dr. Sara serta Nadia tengah menatapnya dengan dahi berkerut.

"Reno? Kamu tidak apa-apa? Kenapa wajahmu mendadak pucat begitu?" tanya dr. Sara curiga. Sang dokter melipat tangan di dada, memperhatikan tingkah gerak Reno yang tak biasa.

Reno dengan cepat menjatuhkan kembali kancing logam itu ke dalam kantong plastik spesimen, menutup klipnya rapat-rapat, lalu mengusap wajahnya kasar untuk menutupi napasnya yang agak memburu.

"Aku baik-baik saja, Sara. Hanya efek kurang tidur," alih Reno cepat, menyusun raut wajah setenang mungkin. Ia mulai memutar otak, mencari narasi deduktif yang masuk akal agar penglihatan gaibnya tadi bisa diterjemahkan menjadi instruksi medis tanpa memicu kecurigaan sang dokter.

"Sara," panggil Reno dengan suara rendah namun terdengar amat dalam dan penuh penekanan.

"Saat kamu melakukan otopsi nanti, jangan fokus pada organ dada dulu."

"Atas dasar apa?" tanya dr. Sara menaikkan sebelah alisnya, tidak mudah diyakinkan begitu saja.

"Posisi jatuhnya korban sangat identik dengan orang yang mendadak gagal jantung."

"Coba periksa sela jari kakinya," instruksi Reno tajam, matanya menatap lurus tepat ke manik mata dr. Sara.

"Dan periksa kembali area leher belakang dengan lebih teliti di bawah lampu UV. Cari sisa mikroskopis jaringan lebam atau bekas tekanan lengan. Saya punya insting kuat, serangan jantung ini dipicu oleh racun yang disuntikkan secara paksa saat korban dipiting dari belakang."

dr. Sara menatap Reno cukup lama, seolah sedang berusaha membaca celah kebohongan atau spekulasi liar dari raut wajah sang detektif.

"Insting lagi, Ren? Kasus pertama agensi kita ini dipertaruhkan di depan keluarga korban dan polisi. Kita di laboratorium bekerja menggunakan dasar sains dan fakta fisik, bukan tebakan insting."

"Coba saja dulu, Dok," potong Nadia lembut dengan nada menenangkan. Asisten laboratorium berwajah ramah itu dengan sigap menarik nampan sampel.

"Tidak ada ruginya kita melakukan uji sampel jaringan ekstra di sela jari kaki korban sebelum menyusun draf laporan akhir."

dr. Sara menghela napas panjang, akhirnya mengalah pada ketegasan detektif utamanya. "Baiklah. Tapi ingat, kalau prosedur tambahan ini hanya buang-buang waktu dan hasilnya nihil, kamu sendiri yang harus menemui pihak keluarga korban dan polisi untuk menjelaskan keterlambatannya."

Reno mengukir senyum tipis yang sarat arti. Ia melangkah menuju meja kerja Dion. "Dion, fokuskan peretasan CCTV pada dua titik sinyal yang berbeda. Pelakunya bukan satu orang. Cari dua pergerakan mencurigakan yang keluar dari koridor belakang sepuluh menit sebelum korban ditemukan."

Dion mendongak, matanya berbinar tertarik. "Dua orang? Menarik... Baiklah, beri aku waktu dua jam."

Saat dr. Sara dan Nadia melangkah pergi menuju kamar jenazah di lantai bawah, Reno berdiri bersandar di dinding koridor. Ia mengangkat telapak tangan kanannya yang tadi memegang kancing kemeja korban, memandanginya dalam-dalam. Kasus pertama VPCI ini ternyata jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkan.

Penglihatan dari kilas balik tadi sudah sangat pasti: ada dua eksekutor berdarah dingin yang kini berimajinasi bahwa kejahatan mereka akan terkubur rapi bersama jasad Hartawan.

Namun di mata hukum dan di hadapan timnya sendiri, penglihatan supranatural Reno tidak punya nilai sepeser pun.

Tugas terberatnya baru saja dimulai: menggunakan bayangan masa lalu sebagai kompas rahasia untuk memandu tim VPCI menemukan bukti fisik yang nyata sebelum kedua pelaku menyadari bahwa kebohongan sempurna mereka telah terbongkar.

1
Sativa Kyu
👍👍👍
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!