( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 11 }:{secret journey }
Dan akhirnya, Sora memutuskan untuk mengambil langkah yang sangat berat: mengubah semua bangsa menjadi bangsa tak berjiwa.
Sora menatap seluruh bangsa yang berkumpul di hadapannya. Matanya berkaca-kaca, sementara tangannya mengepal erat. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara.
"Maafkan aku. Apa kalian akan menerimanya? Ini sangat berat. Hanya ada satu cara untuk membangun alam ini dengan mudah tanpa ada korban di dalam proses mengembalikan alam ini. Mengubah semua alam semesta ini menjadi tanpa kehidupan, tanpa jiwa."
Tak terduga, seluruh bangsa perlahan mendekat. Tidak ada yang mundur. Tatapan mereka justru menunjukkan bahwa mereka telah menerima keputusan Sora.
"Ketua Sora, kami menerima apa pun itu demi kebaikan kami semua."
Tiba-tiba, seorang anak kecil dari Bangsa Api berlari mendekat dan memeluk Sora.
Tubuh Sora terdiam sejenak. Ia menatap bocah kecil yang memeluknya, lalu perlahan mengusap kepalanya.
"Baik, aku akan lakukan itu."
Energi besar pun keluar dari artefak kuno dan bersatu dengan kekuatan Sora. Cahaya kekuatan itu memenuhi alam.
Langit yang tadinya berwarna hijau dan biru perlahan berubah. Hawa jiwa yang memenuhi alam menjadi dingin dan menusuk. Satu per satu, seluruh bangsa mulai kehilangan kehidupan dalam tubuh mereka hingga menjadi raga tanpa jiwa.
Di detik-detik terakhir, suara mereka terdengar.
"Ketua Sora, kami semua sangat berterima kasih."
Sora menundukkan kepalanya. Ia melihat anak kecil yang masih berada dalam pelukannya perlahan menjadi tanpa jiwa.
"Paman Sora, aku sangat bahagia melihat Paman. Paman berjanji ya, harus jadikan aku murid Paman."
Senyum manis masih terlihat di wajah bocah itu.
Sora menatapnya dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Senyum kecil bocah itu justru membuat hati Sora semakin berat, tetapi juga membuatnya semakin kuat untuk menghadapi semua ini.
Bocah itu pun sepenuhnya menjadi tak berjiwa.
Beberapa detik kemudian, Zeo keluar dari Alam Roh. Ia berhenti dan merasakan hawa dingin yang sangat menusuk masuk ke dalam dirinya.
"Apa yang sudah terjadi? Berapa lama ini terjadi?"
Zeo langsung bergegas ke Negeri Air.
Namun, langkahnya terhenti ketika melihat apa yang ada di hadapannya. Kekosongan dan kehancuran terlihat di mana-mana. Tidak ada lagi kehidupan seperti yang ia kenal.
Zeo mencari Dewi Bunga, istrinya, namun tak ditemukan.
Ia terus mencari hingga akhirnya berteriak keras. Suaranya menggema di seluruh tempat hingga Sora mendengarnya.
Zeo mengepalkan tangannya dan bersumpah,
"Aku bersumpah, siapa pun yang sudah melakukan ini akan menerima akibatnya!"
Di sisi lain, Sora yang sangat senang mendengar suara Zeo langsung menuju ke arah suara tersebut.
Saat mereka bertemu di pertengahan artefak kuno, di perbatasan semua bangsa, Zeo langsung bertanya,
"Apa yang terjadi, Sora?"
Saat Sora akan menjawab, tiba-tiba Iles muncul di dalam artefak kuno.
"Lihat ini, Ketua Zeo! Dia, Sora, telah menghancurkan alam ini semua!"
Iles memperlihatkan kejadian saat Sora menghabisi ayahnya dan Penjaga Sihir dari Asta.
"Lihat ini semua, Ketua Zeo! Dia menghabisimu karena tidak bisa menerima kehilangan Dewi Bulan, dan ia memfitnah ayahmu sebagai pelempar Dewi Bulan. Apa ini benar, Sora?"
Saat Sora akan menjawab, Zeo langsung menyerang Sora tanpa henti.
Sora hanya menghindar dari serangan Zeo. Tubuhnya terus bergerak menghindari setiap serangan yang datang.
"Aku mohon, dengarkan aku, Zeo! Iles, dia berbohong!"
Namun Zeo terus menyerang. Tatapannya dipenuhi amarah, seolah tidak ada satu pun kata Sora yang mampu menembus pikirannya.
Akhirnya, salah satu serangan Zeo mengenai Sora.
Tubuh Sora terpental dan terjatuh menghantam tanah yang penuh bebatuan.
Di sisi lain, ketidakjujuran Iles membuat amarah Sora semakin membara. Bukan hanya karena kebohongan itu, tetapi karena Sora tahu Iles masih menyayangi ayahnya.
"Maafkan aku semua. Sora, aku tahu ini sangat salah, tapi aku tak berdaya. Aku sangat sakit melihat kau menghabisi ayahku sekejam itu. Aku tahu itu yang layak bagiku, terima, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya."
Di sisi lain, Sora tidak sadarkan diri.
Zeo dan Iles akhirnya memenjarakan Sora di bawah tanah, di sebuah penjara yang menguras energi dan akal sehat. Penjara itu akan terus memutar kisah-kisah yang pernah terjadi, berulang kali, seperti kematian Dewi Bulan yang terus kembali di hadapan Sora.
Sora tersadar. Napasnya terdengar berat saat ia membuka mata.
"Zeo..."
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya.
"Zeo, dengarkan aku dulu. Zeo, apa kau mendengar aku?"
Tidak ada jawaban.
Hanya kesunyian yang membelenggu Sora di sekelilingnya.
Saat Sora sepenuhnya tersadar, ia hanya melihat hawa dingin dari dalam penjara. Tidak ada siapa pun yang menjawab panggilannya.
"Zeo, apa yang kau lakukan padaku? Kau tidak mendengar aku... aku tak percaya kau begitu tega padaku."
Sora menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal perlahan.
"Dan kau, Iles... kau sudah menjadi dewi, tapi kau memiliki sifat seperti ayahmu."
Air mata yang tersisa di matanya perlahan menghilang, digantikan tatapan penuh dendam.
"Aku, Sora, bersumpah akan membalas semua ini hingga masa yang akan mempertemukan kita."
Di sinilah awal mula Sora menjadi sangat dendam pada Zeo dan Iles.
Beralih pada Sora, di saat Ketua Zeo mengubah seluruh negeri menjadi makhluk tanpa jiwa.
Sora mengeluarkan isi hatinya yang masih tersisa.
"Lihat alam semesta... betapa ketidakadilan mengubahku."
Sora menatap kehancuran yang terbentang di hadapannya.
"Aku yang disalahpahami, dan aku yang harus menerima banyak luka dan derita."
Tangannya mengepal semakin erat.
"Maka semenjak itulah aku akan menghancurkan semuanya, agar hal seperti ini tidak terulang lagi."
Sora terdiam sejenak. Tatapannya terlihat kosong saat mengingat semua yang telah terjadi.
"Kisah cintaku berakhir dengan duka, dan kebohongan Iles dan kau, Zeo... kau tidak mengerti betapa aku sangat terbakar di balik sisi ku saat ini."
Sora kemudian menatap ke arah kejauhan.
"Bicara... kau ingin tahu? Pasukan tengkorak adalah jiwa-jiwa yang sangat menderita."
Sambil Sora menatap Negeri Air, Angin, dan Bumi yang semuanya telah membeku.
"Aku membawa jiwa itu bebas dari takdir yang pahit mereka terima."
Di balik sisi Sora yang terlihat kejam, tersimpan alasan yang jauh lebih dalam. Bagi Sora, pasukan tengkorak bukan sekadar pasukan. Mereka adalah jiwa-jiwa yang pernah menderita dan ingin ia bebaskan dari takdir pahit yang mereka terima.
Dari sanalah tujuan Sora untuk mengakhiri penderitaan sebagian rakyatnya mulai terbentuk.
Sora membawa semua jiwa yang penuh derita dengan caranya sendiri. Bahkan Sora tidak peduli apakah yang ia lakukan salah atau benar. Ia sudah tak percaya lagi dengan alam semesta.
Sora mengangkat wajahnya ke langit. Air matanya mulai mengalir tanpa mampu ia tahan.
"Lihat aku sekarang, alam! Lihat aku saat ini! Apa salahku hingga kau begitu berat menghukumku?"
Tangisan menetes tak terhenti.
"Aku tak mudah mencintai. Aku tak mudah mengatakan cinta. Aku mengatakan aku jatuh cinta. Aku mencintai Dewi Bulan sampai aku menutup mata."
Sora menarik napas panjang. Tatapannya perlahan jatuh pada tempat yang pernah menjadi saksi kebersamaan mereka.
"Di sini kau dan aku pernah menguntai tentang kita. Di sini surga kita, bukan tempat ini."
Bibirnya bergetar.
"Sayangku takkan pernah hilang. Sampai kapan aku menunggu? Datanglah ke alamku. Cinta dia, berikanlah dia hidup. Takkan pernah aku lukai dia. Lakukan hukum aku, tapi kau membawa dia dariku."
Sora kembali menatap langit.
"Dewi Bulan, apa kau masih ingat embun malam ini?"
Suaranya semakin lirih.
"Aku mencintaimu dan akan menunggumu sampai akhir menutup mata."
Ia menatap langit yang gelap, seakan berharap seseorang akan menjawab dari sana.
"Lihat langit di sana yang miskin, sekira doamu pasti lebih indah. Lihat langit di sana, pasti dia tahu kisah kita, Dewi Bulan."
Sora memejamkan matanya sebentar.
"Berdoa dengan pasti lebih baik untukku, aku yakin itu. Kembalilah, kutemukan kamu dari perjalananku sebagai Penjaga Artefak Kuno, sampai akhirnya bertemu denganmu, Bulan."
Sora membuka matanya kembali.
"Aku memang orang yang kaku, tapi aku sangat mencintaimu. Aku hanya mencintai. Aku memang Penjaga Artefak Kuno, tapi aku sangat menyayangi kamu."
Sora terdiam. Dadanya naik turun menahan sesak yang semakin berat.
"Kapan Dewi Bulan akan datang?"
Sora kembali mendongak.
"Lihat aku, Bulan! Hari ini sangat hancur."
Air matanya kembali jatuh.
"Aku sangat jatuh cinta. Cinta-cinta... aku jatuh cinta padamu."
Tangannya perlahan menggenggam erat.
"Aku bahagia bila kamu bahagia. Esok terus akan terulang dan aku hanya jatuh cinta padamu."
Sora menatap langit tanpa berkedip.
"Tak sedikit pun, kurang sedikit pun, jiwa raga ini hanya untukmu, Bulan."
Suaranya mulai melemah.
"Hari demi hari, detik demi detik, aku sabar menunggumu."
Sora mengusap air mata di pipinya, tetapi air mata lainnya kembali mengalir.
"Aku mohon kembali. Jangan pergi sangat lama. Aku tak mampu lagi, Bulan."
Ia menundukkan kepalanya.
"Jangan berikan harapan kosong. Jangan pergi dariku, biar alam ini melihat kau milikku."
Sora menarik napas yang bergetar.
"Aku tak pernah merasakan cinta seperti ini, Bulan."
Ia kembali melihat bulan.
"Aku mencintaimu. Semuanya telah hilang. Alam ini sangat kejam membuat aku kehilangan begitu besar."
Hanya sekejap, akhirnya lutut Sora tak lagi mampu menopang tubuhnya.
Sora jatuh tersungkur ke tanah.
Namun matanya tetap menatap bulan yang kini tidak bersinar lagi.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Hanya air mata yang terus mengalir, sementara langit di atasnya tetap sunyi.
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya