Gemerlap pulau dewata ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang tersorot di balik kemeriahan panggung pop culture dan berbagai event kreatif. Komunitas hobi yang tampak penuh warna ini sering kali diwarnai oleh berbagai kekacauan mendadak, mulai dari drama penyelenggara acara yang bermasalah, oknum penguntit yang meresahkan, hingga gesekan pelik antar-kelompok.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sekelompok orang biasa yang tidak memiliki pengaruh besar harus menjalani hari-hari penuh tantangan. Mereka bukan siapa-siapa di mata publik, melainkan sekadar individu yang berusaha menikmati hobi di tengah himpitan masalah pribadi masing-masing yang silih berganti.
Setiap babak kehidupan mereka berjalan tanpa terikat pada satu tempat atau konflik tunggal, membawa mereka menghadapi berbagai kekacauan on the spot yang tak terduga. Perjalanan ini dipenuhi oleh campuran aksi, drama emosional, dan komedi segar yang menguji cara mereka bertahan di kerasnya dunia komunitas kreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INDKaeda00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Event Medieval
"Disclaimer: Seluruh karakter, organisasi, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Jika ada kemiripan dengan situasi nyata, kisah asmara, atau kasus di dunia cosplay, itu adalah unsur ketidaksengajaan."
Otsuki kembali berdiri di ruang tamu rumah Evelia sambil menatap layar ponsel yang disodorkan sahabatnya itu dengan ekspresi datar tanpa minat.
Ia membaca sekilas informasi acara yang tertera di sana, lalu melirik Evelia yang tampak berdiri penuh semangat di hadapannya. "Event Medieval? Tumben sekali kamu mendadak antusias mau datangi tema kolosal kayak begini. Biasanya juga paling malas kalau nggak ada stan merchandise anime."
Evelia mendengus bangga, dagunya sedikit terangkat dengan senyum lebar terkembang di wajahnya. "Hehe, beda dong! Aku sudah nungguin event ini dari jauh-jauh hari tahu. Asal kamu tahu saja, nanti di sana kita bisa ikut sesi battle pakai properti senjata, lho!"
Otsuki mengerjap perlahan, menatap serius ke arah Evelia dengan alis yang bertaut heran. "Bertarung? Maksudmu... kita bakal suruh pakai senjata sungguhan di tengah mal atau area event gitu? Mau bikin kerusuhan atau tawuran massal versi abad pertengahan?"
Tak!
Sebuah jitakan ringan mendarat telak di dahi Otsuki, membuat wanita berkaos hitam itu sedikit meringis. Evelia menarik tangannya sambil berkacak pinggang dengan ekspresi gemas.
"Makanya, jangan asal mangap kalau ngomong! Ya mana ada event modern ngizinin orang bawa senjata tajam beneran, bisa-bisa langsung dibubarkan polisi!" protes Evelia geleng-geleng kepala. "Senjata yang dipakai itu terbuat dari foam khusus atau bahan empuk yang aman buat properti. Walau tetap bakal terasa agak sakit kalau kena pukul pas lagi battle, jelas nggak bakal sesakit atau separah kalau kena benda padat."
Otsuki mengusap dahinya sekilas, lalu mendengus pelan mendengar penjelasan itu. "Terserah kamu saja. Tapi, kalau dari tadi kamu ngomongin soal event pertempuran pedang ala medieval, kenapa kelihatannya kamu malah pasang muka santai sekarang?"
Mendengar pertanyaan itu, semangat membara di wajah Evelia seketika mengempis. Ia menghela napas panjang sambil menepuk jidatnya sendiri karena menyesal.
"Nah, itu masalah utamanya... Sebenarnya ini bukan event khusus bertema medieval murni sih, tapi event pop-culture biasa yang kebetulan ada mini-kompetisi battle pedang foam di dalamnya," aku Evelia dengan nada lemas. "Dan sialnya... aku kemarin kelamaan rebahan dan kurang update info, jadi pas mau daftar, kuotanya ternyata sudah penuh duluan. Aku terlambat mendaftar!"
Mendengar pengakuan Evelia bahwa kuota pendaftaran battle tersebut sudah penuh, Otsuki secara refleks mengangkat sebelah tangannya, membuat gerakan selebrasi kecil yang nyaris tidak terlihat sambil berbisik pelan, "Yes..."
Evelia, yang indra penglihatannya sangat peka terhadap ekspresi menyebalkan sahabatnya itu, langsung menyipitkan mata tajam. Ia mendengus kesal sambil melipat tangan di dada. "Heh, jangan senang dulu ya! Meskipun aku nggak ikut bertarung karena telat daftar, kita tetap harus datang ke sana buat nonton keseruannya, cuci mata, dan jalan-jalan keliling event!" protes Evelia dengan nada gemas.
Otsuki hanya bisa menghela napas panjang dan mengangguk malas menanggapi paksaan sahabatnya itu. "Iya, iya, terserah tuan putri saja. Yang penting jangan repot-repot minta tolong bawain barang belanjaan yang berlebihan," balas Otsuki datar.
Namun, alih-alih merasa puas, Evelia justru menyeringai licik. Ia berjalan mendekari lemari pakaian di kamarnya, lalu menarik keluar satu set kostum cosplay lengkap dengan propertinya dan melemparkannya begitu saja ke arah Otsuki.
"Mana bisa cuma aku yang pakai kostum sementara kamu datang pakai baju hitam kasual begitu-begitu terus kayak NPC biasa?" ujar Evelia sambil berkacak pinggang menatap Otsuki. "Pokoknya kali ini tidak ada penolakan, kamu harus pakai kostum cosplay milikku yang ada di situ sekalian biar kita serasi jalan di event nanti!"
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Otsuki keluar dengan mengenakan setelan kostum bernuansa medieval milik Evelia. Ia berdiri kaku di tengah ruangan, lalu menatap tajam dan datar ke arah Evelia dengan aura dingin yang khas.
Evelia langsung melongo sesaat, mengamati penampilan sahabatnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Setelah itu, ia mendengus bangga sambil melipat tangan di dada dan mengangguk-angguk puas.
"Nah, kan! Pas banget di badan kamu. Ternyata selera kostumku nggak pernah salah," puji Evelia dengan senyum lebar. Ia lalu mendekati Otsuki dan menepuk bahunya pelan. "Mulai sekarang, untuk event bertema medieval dan lore kita berdua, kamu resmi jadi ksatria pelindungku, paham?"
Otsuki membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah jendela dengan helaan napas malas. "Terserah kamu saja, Tuan Putri..." balas Otsuki datar, lalu menambahkan dengan nada santai, "...Ngomong-ngomong soal lore kerajaan, ksatria ini mau mengingatkan kalau sang Tuan Putri yang mulia di hadapannya ini statusnya ternyata masih jomblo akut."
Mendengar sindiran telak itu, mata Evelia langsung menyipit tajam. Tanpa membuang waktu, ia langsung maju dan mencubit kedua pipi Otsuki dengan gemas hingga kepala wanita bersurai hitam itu sedikit terdongak.
"Udah berani ya kamu ngeledek master-mu sendiri, hah?!" gerutu Evelia gemas sambil terus menarik-narik pipi Otsuki di tengah tawa kecilnya.
Meskipun pipinya masih dicubit dan ditarik-tarik oleh Evelia, Otsuki hanya melirik malas dengan sebelah alis terangkat di balik kacamatanya, sama sekali tidak terlihat kesakitan. Begitu Evelia melepaskan tangannya sambil tertawa kecil, Otsuki mengusap pelan pipinya sekilas lalu melontarkan pertanyaan.
"Ngomong-ngomong, kamu sendiri sebenarnya pakai kostum apa? Dari tadi sibuk nyuruh aku pakai kostum ini-itu, tapi kostummu sendiri belum kelihatan bentukannya," tanya Otsuki dengan nada datar sambil merapikan kerah bajunya.
Evelia justru menyeringai misterius, terkekeh renyah sambil melambaikan tangan di depan wajahnya. "Ah, rahasia dong! Kalau dikasih tahu sekarang, nanti nggak ada kejutan pas kita sampai di venue. Pokoknya lihat saja sendiri nanti di sana, dijamin cocok sama lore ksatria kamu!" balas Evelia penuh percaya diri.
Tidak mau ambil pusing dengan rahasiaan sahabatnya itu, Otsuki akhirnya hanya mengangguk pasrah. Beberapa saat kemudian, persiapan mereka selesai. Evelia langsung mengambil kunci mobil dan mengajak Otsuki untuk segera berangkat menuju lokasi event.
Keduanya berjalan keluar rumah, naik ke dalam mobil, dan meninggalkan halaman rumah untuk memulai perjalanan menuju event pop-culture tersebut.